Analysis Eye

Analysis Eye
Misi Selesai dan Kembali ke Kota


__ADS_3

Tiga hari kemudian, semua rumah warga sudah dibangun ulang dan bahkan lumbung padi desa di tambah yang dulu ada dua kini menjadi lima.


Kemudian para warga juga membuat taman sederhana yang bisa digunakan untuk anak-anak bermain bersama teman-teman mereka.


Sawah dan ladang yang hangus sudah di bersihkan dan kini tampak seperti baru, hanya tinggal ditanami benih tanaman saja.


Desa Nadir kini tampak sangat berbeda dibandingkan dengan Desa Nadir yang dulu, semuanya tampak baru dan bahkan ada lebih banyak bangunan.


Semua ini berkat bahan dan material yang Lein dan Liza bantu, bahkan masih ada beberapa sisa material yang sekarang disimpan.


...----------------...


Di Rumah Kepala Desa.


"Tuan Lein, Nona Liza, saya sebagai kepala desa berterima kasih kepada kalian berdua atas nama seluruh warga Desa Nadir." Ucap Shurt, Kepala Desa Nadir.


"Sama-sama, kami juga senang bahwa Desa Nadir berhasil di rekonstruksi menjadi lebih bagus dari sebelumnya." Jawab Lein.


"Apa yang dikatakan Lein benar, kepala desa. Kami ikut bahagia saat melihat para warga tersenyum dengan bebas." Tambah Liza.


"Kalau begitu, kami akan pergi dulu kepala desa." Lein dan Liza berdiri.


"Oh sudah waktunya ya, baiklah, akan aku antar." Ucap kepala desa.


...----------------...


Lein dan Liza keluar dari rumah kepala desa diikuti oleh Shurt.


"Oh?" Lein dan Liza terkejut karena semua warga sedang berkumpul di depan rumah kepala desa.


"Tuan Lein! Nona Liza!" Teriak semua orang dengan senyuman.


"Halo semuanya. Maaf sekali, tetapi kami harus pergi sekarang." Ucap Lein.


Lein dan Liza kemudian berjalan melewati para warga dan menuju ke ara gerbang desa.


"Tuan Lein! Tolong ambil ini!" Salah satu anak kecil perempuan menyerahkan sepasang gelang dari bunga.


"Nona Liza! Ambil ini juga!" Seorang wanita menyerahkan sebuah kantong yang berisi apel.


"Ini juga!"


"Ambil ini!"


"Tuan Lein! Nona Liza!"


Para warga menyerahkan sesuatu entah itu barang, buah, makanan, dan yang lainnya kepada Lein dan Liza sampai tangan mereka berdua penuh.


"Terimakasih kalian semua..." Lein tersenyum.


"Terimakasih! Aku akan memakan buah nya!" Liza juga bahagia.


"Daerol, akan aku kirim kamu dan pasukan mu ke Kota Laville. Kami akan langsung ke Kota Dragon Tide, di negara kami." Ucap Liza kepada Daerol.


"Apakah kalian tidak pergi bersama kami?" Tanya Daerol.


"Tidak, kami ingin istirahat." Jawab Liza.

__ADS_1


"Baiklah, aku juga tidak bisa memaksa kalian." Balas Daerol.


"Kalau begitu, sampai jumpa semuanya!" Teriak Lein dan Liza juga melambaikan tangan nya.


"Sampai jumpa Tuan Lein! Nona Liza! Tuan Daerol!" Teriak para warga.


Kemudian Liza mengaktifkan rune nya dan mereka menghilang. Daerol dan pasukan nya kembali ke Kota Laville sedangkan Lein dan Liza ke Kota Dragon Tide.


...----------------...


Kota Laville.


Setelah Daerol dan pasukan nya tiba di gerbang Kota Laville, mereka segera menunjukan identitas mereka dan kembali ke Kamar Dagang Myrant.


Saat mereka sampai, orang-orang yang bekerja di Kamar Dagang Myrant sangat terkejut dan segera melaporkan nya ke manajer.


Sang manajer turun dan menghampiri Daerol kemudian mereka berdua naik ke lantai paling atas menuju ruangan milik ketua.


"Ketua sudah dihubungi dan sekarang ia sedang berada di perjalanan, tuan muda." Ucap sang manajer.


"Ya. Terimakasih manajer." Angguk Daerol.


"Tidak masalah, kalau begitu saya undur diri terlebih dahulu." Manajer kemudian meninggalkan ruangan.


Setelah beberapa saat, pintu terbuka dan muncullah tiga orang. Sepasang suami istri dan satu wanita muda.


"Daerol!!" Teriak sepasang suami istri itu.


Joris Myrant, adalah ayah dari Daerol dan sekarang menjabat sebagai Ketua Kamar Dagang Myrant sekaligus pemilik nya.


Lalu, wanita satunya adalah Shana Vein. Shana adalah tunangan Daerol yang berasal dari Keluarga Vein di Kota Laville ini.


"Ayah! Ibu!" Mereka bertiga kemudian berpelukan.


"Shana, kamu juga datang." Daerol dan Shana berpelukan.


"Tentu saja." Shana menangis bahagia karena Daerol kembali dengan selamat.


"Kamu.. Tidak datang bersama penyelamat mu?" Tanya Joris.


"Tidak, mereka mengatakan bahwa mereka ingin istirahat." Daerol menggeleng-gelengkan kepala nya.


"Yah, tidak apa-apa. Aku akan memberikan mereka imbalan nanti. Yang penting sekarang kamu sudah kembali dengan selamat." Ucap Joris.


"Haha, bukan hanya aku dan pasukan ku, ayah. Warga Desa Nadir juga berhasil diselamatkan dari kelaparan karena para bandit menjarah makanan mereka."


"Juga, mereka berdua membantu kami merekonstruksi Desa Nadir. Apalagi mereka menyediakan bahan dan material yang sangat banyak."


"Yah, intinya mereka berdua sangat membantu kami." Daerol tertawa.


"Oh, padahal aku hanya memberi misi untuk mencari mu. Tetapi mereka menyelamatkan mu dan juga bahkan membantu rekonstruksi Desa Nadir ya..."


"Sepertinya aku harus memberikan hadiah yang lebih banyak. Mereka berdua itu orang yang sangat baik.." Ucap Joris.


"Kalian berdua! Nanti saja bicara tentang misi atau apapun itu. Sekarang yang lebih penting kita harus merawat Daerol!" Teriak Valeri.


"Tapi Bu, aku ini tidak terluka..." Ucap Daerol.

__ADS_1


"Diamlah! Pelayan! Panggilan dokter!" Ucap Valeri.


"Baik." Pelayan membuka pintu dan menerima perintah Valeri.


"..." Joris tertawa melihat ekspresi Daerol yang pasrah.


"Tidak apa-apa, Daerol. Ibu mertua nanya mengkhawatirkan mu." Ucap Shana.


"Baiklah..." Jawab Daerol pasrah.


...----------------...


Kantor Presiden Brynn.


"Selamat datang kembali." Ucap Presiden Brynn.


"Kami kembali!" Liza langsung berbaring di sofa.


"Halo Pres." Lein duduk dan menuangkan minuman untuk dirinya sendiri.


"Aku tahu misinya berhasil. Bagaimana perasaan kalian?" Tanya Presiden Brynn.


"Menyenangkan!" Jawab Lein dan Liza secara bersamaan.


"Menyenangkan? Alasan nya?" Presiden Brynn menanyakan alasan mereka berdua.


"Karena kami membantai semua bandit!" Jawab Liza.


"Bagi kalian membantai bandit adalah hal yang menyenangkan ya...." Presiden Brynn hanya bisa menghela napas tak berdaya.


"Bukan itu Liza!" Bantah Lein.


"Eh? Bukan membantai bandit?" Liza memiringkan kepala nya.


"Hm? Tidak, aku merasakan sesuatu yang buruk." Pikir Presiden Brynn.


"Yang menyenangkan adalah menjarah barang-barang dan menjatah penyimpanan mereka!" Ucap Lein.


"Oh! Benar juga." Liza mengangguk-anggukkan kepala nya.


"Sudah kuduga..." Presiden Brynn menghela napas tak berdaya lagi.


Kemudian Presiden Brynn melanjutkan pekerjaan nya. Liza dan Lein mengeluarkan monopoli dari penyimpanan Lein yang seperti toko serba ada.


Lein memang suka menyimpan barang yang unik atau lebih condong ke aneh. Bahkan didalam penyimpanan nya ada kerikil dan pasir.


Karena Lein berpikir bahwa kerikil dan pasir bisa dijadikan senjata saat bertarung melawan musuh, atau lebih tepatnya membuat pandangan musuh tertutup.


"Sial! Aku bangkrut!" Teriak Liza putus asa.


"Hahahaha!!!" Lein tertawa puas.


"Sekali lagi! Aku tidak percaya kamu bisa menang!" Liza menantang Lein lagi.


"Aku terima tantangan mu." Lein menyeringai.


Mereka berdua kemudian bermain monopoli lagi dan sesekali berteriak meskipun mereka pada akhirnya dimarahi oleh Presiden Brynn karena terlalu berisik.

__ADS_1


__ADS_2