
Lein menyingkirkan dedaunan yang menghalangi jalan dan berjalan memasuki gua itu.
...****************...
"Mengapa siaran langsung nya mati?"
"Tidak, bukan mati. Hanya saja layarnya gelap."
"Bukan, ruang siaran langsung nya memang mati."
"Ada apa?"
...****************...
Siaran langsung nya mati setelah Lein menginjakkan kakinya di dalam gua. Lein tidak mengetahui hal itu, bahkan jika ia tahu, ia tidak peduli.
Lein berjalan perlahan-lahan karena tidak ada penerangan di dalam gua, hanya ada satu titik cahaya di ujung gua.
Lein berjalan di pinggir dinding gua sambil meraba-raba dinding nya. Lein semakin mendekati cahaya dan setelah beberapa saat ia sampai.
"Ini..." Lein terkejut dengan apa yang ia lihat di depannya.
Yang Lein lihat adalah sebuah cekungan yang berisi air yang sangat jernih. Diatas cekungan itu terdapat sebuah batu yang bersinar.
Namun bukan itu yang membuat Lein terkejut, melainkan sesuatu yang berada di samping cekungan air.
Yang Lein lihat adalah, naga.
Lebih tepatnya, sisa jiwa yang ditinggalkan oleh naga.
"Apakah...Kamu yang memanggil ku?" Lein mencoba berkomunikasi dengan jiwa naga.
"Benar..." Jawab jiwa naga.
"Tidak perlu perkenalan karena waktuku tidak banyak. Ambil kotak kayu yang berada disana dan pakailah untuk mu dan naga mu itu." Ucap jiwa naga.
"Kamu tahu aku memiliki naga!?" Lein terkejut.
"Tentu saja, para naga bisa merasakan aura sesama naga. Bukankah kamu kesini karena naga mu itu?" Balas jiwa naga.
"Lalu apakah kamu meminta tolong agar aku mengambil kotak kayu yang kamu maksud?" Tanya Lein.
"Ah, tidak. Itu hanya tipuan agar kamu bisa lebih cepat ke sini." Jawab Jiwa Naga.
"Sudahlah, lakukan apa yang ku katakan barusan. Selamat tinggal..." Jiwa naga perlahan-lahan memudar dan menghilang.
"Tunggu!" Lein berteriak namun tidak ada gunanya.
"Sial, dasar naga. Dia meminta tolong, aku kira ada apa!" Lein mengumpat kesal.
Lein kemudian melihat ke arah pojok gua dan ia menemukan kotak kayu yang dikatakan oleh jiwa naga barusan.
Lein berjalan dan mengambil kotak kayu itu. Ia membukanya dan apa yaga ada didalamnya adalah sebuah botol bersisi cairan berwarna ungu.
"Analisa." Lein menganalisa cairan itu.
[ analisa berlangsung ]
[ Esensi Jiwa Naga ??
rank : -
Sebuah esensi dari jiwa naga ?? yang efeknya membuat orang yang meminumnya memiliki tubuh yang sangat kuat secara instan ]
"Esensi Jiwa naga..." Gumam Lein.
"Jiwa naga barusan mengatakan bahwa untuk memakai cairan ini untukku dan Isolda bukan? Isolda, keluar." Ucap Lein kepada Isolda.
"Baik." Isolda berubah wujud menjadi naga.
__ADS_1
"Kalau begitu mari kita minum ini setengah-setengah." Lein meminum nya terlebih dahulu lalu membiarkan Isolda minum.
"Hm? Apakah tidak terjadi apa- kugh..!!" Lein melebarkan matanya.
Lein merasakan tubuhnya sangat sakit seperti akan hancur. Tulang dan sendi nya berbunyi, darahnya mengalir dengan cepat, dan jantung nya juga berdetak kencang.
Lein menggigit bibir bawahnya agar tidak berteriak namun rasa sakit yang ia rasakan sangat parah sampai ia tidak bisa menahan nya.
Kesadaran Lein perlahan-lahan kabur dan lama-kelamaan Lein jatuh dan tidak sadarkan diri. Isolda lebih baik, ia menutup matanya seperti sedang tidur.
...----------------...
"Mengapa siaran langsung Lein mati?" Liza baru saja datang ke Kota Laville dan sekarang berada di sebelah Presiden Brynn.
"Aku tidak tahu." Presiden Brynn menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Octiorb, apakah kamu tahu?" Presiden Brynn bertanya kepada Octiorb.
"...Aku tahu. Tapi untuk masalah ini biarkan Lein yang menjelaskan. Tidak apa-apa, dia tidak terluka." Jawab Octiorb.
"Baiklah, kami akan menunggu." Angguk Liza dan Presiden Brynn.
"...Kamu mendapatkan harta bagus bocah." Meskipun wajah Octiorb tenang tapi hatinya sedang gembira.
Karena ia tahu dengan esensi Jiwa naga itu, tubuh Lein akan berada di tingkatan yang jauh berbeda dibandingkan dengan sebelumnya.
...----------------...
Jari Lein bergerak, lalu ia membuka matanya.
Lein bangun dan melihat bahwa Isolda masih berada disebelah nya dan masih menutup mata nya.
"Oct, bisakah kamu mendengar ku? Berapa lama aku pingsan?" Tanya Lein kepada Octiorb.
"Satu hari penuh bocah." Jawab Octiorb lewat transmisi suara.
"Satu hari!?" Lein melebarkan matanya.
"Lein?" Isolda memanggil.
"Ah kamu sudah bangun, bagaimana?" Tanya Lein.
"Sepertinya tubuh ku menjadi semakin kuat..." Jawab Isolda.
"Ya, aku juga."
"Analisa seberapa kuat tubuh ku sekarang." Ucap Lein.
[ analisa berlangsung ]
[ tubuh host saat ini setara dengan level 90 ]
"Hanya tubuhku saja sudah setara dengan level 90!?" Lein tidak menyangka esensi Jiwa naga akan meningkatkan tubuhnya sebesar itu.
"Isolda, berubah lah." Lein berdiri dan merenggangkan tubuh nya.
"Tentu." Isolda berubah wujud menjadi kalung.
"Aku harus membunuh banyak monster agar Universitas Dragon Heart menjadi nomor satu." Pikir Lein.
"Aku tidak tahu bagaimana dengan yang lain..."
...----------------...
Di area rawa-rawa di Hutan Oxtara.
"Kamu lelah?" Enya bertanya kepada Jonas.
"Tentu saja, namun ini menyenangkan." Jonas tersenyum.
__ADS_1
"Benar. Berkat pelatihan yang Lein ajarkan, kekuatan kita menjadi semakin kuat." Angguk Enya.
Jonas saat ini sedang duduk di atas tubuh buaya raksasa yang menempati rawa-rawa yang sudah mereka kalahkan barusan.
Jonas juga menerima berbagai luka karena serangan buaya raksasa itu sangat kuat bahkan sampai bisa menggores Diamond Rhino nya.
Enya juga terlihat kelelahan karena menggunakan api Fiama secara terus-menerus karena daya tahan buaya raksasa itu sangat hebat.
...----------------...
Di area bagian lain Hutan Oxtara.
"Kamu mendapatkan tas penyimpanan nya?" Tanya Anna.
"Tentu saja, lumayan." Jawab John sambil melempar-lempar tas penyimpanan.
Mereka berdua baru saja bertemu dengan peserta lain dan bertarung sengit.
Anna dan John berhasil memenangkan pertarungan dan mereka mengambil tas penyimpanan lawan mereka sebelum menghilang.
...----------------...
"Ayo keluar dari sini..." Lein berjalan keluar dari gua.
Saat Lein sudah keluar dari gua, ruang siaran langsung kembali menyala dan para penonton masih bingung mengapa siaran langsung Lein mati.
Lein juga tidak mengatakan apa-apa dan hanya berfokus untuk mencari monster-monster karena ia ingin mencoba tubuh nya yang sudah ditingkatkan.
"Analisa arah mana yang memiliki monster kuat." Pikir Lein.
[ analisa berlangsung ]
[ silakan pergi ke arah kiri 21 kilometer lurus ke depan ]
"Sial, itu terlalu jauh." Lein mengumpat.
"Analisa arah mana yang memiliki banyak monster." Lein mengganti objek analisa.
[ analisa berlangsung ]
[ silakan pergi ke arah jam 1 3 kilometer lurus ke depan ]
"Bagus." Lein segera menuju ke arah jam 1 sesuai arahan Analysis Eye.
Beberapa menit kemudian Lein menemukan kawanan Horn Wolf lagi tapi lebih lemah dari Horn Wolf yang Lein lawan sebelumnya.
Lein dengan mudahnya mengalahkan mereka dengan pedang namun tanpa teknik dan tanpa skill tambahan. Lein murni menggunakan kekuatan tubuhnya tanpa mana.
"Ah, ini membosankan..." Keluh Lein.
"Hm?" Lein mengeluarkan giok hitam yang digunakan untuk berkomunikasi dengan Althea.
"Halo?" Ucap Lein.
"Lein, aku mendapat informasi bahwa Harac ada didekat mu. Sekarang ia berada di 5 kilometer arah jam 3. Tolong pergi ke arah yang berlawanan."
"Karena kemampuan Harac sangat cocok dengan hutan. Dia bisa menggunakan hutan ini sebagai radar untuk menemukan mu."
Althea menghubungi Lein untuk memberitahu bahwa Harac, orang yang akan membunuh Lein, berada didekat nya.
"Baiklah, terimakasih." Lein menyimpan kembali giok hitam itu.
"Oct, kamu mendengar nya bukan?" Tanya Lein.
"Ya, bagaimana tindakan mu?" Balas Octiorb.
"Aku tidak mempercayai nya. Aku bisa yakin bahwa arah yang berlawanan yaitu arah jam 9 adalah tempat dimana Harac berada." Jawab Lein.
"Lalu?" Tanya Octiorb.
__ADS_1
"Tentu saja aku akan mengikuti ucapan nya! Aku akan membunuh Harac!" Lein menyeringai menyeramkan.
"Bagus!" Disisi lain, Octiorb juga menyeringai.