Analysis Eye

Analysis Eye
Liza Memberitahu Kemampuan nya


__ADS_3

"Kemampuan ku adalah sensitivitas roh, yang membuat aku lebih bisa merasakan roh yang ada di sekitar ku. Kemampuan itu adalah satu rank diatas mu." Ucap Liza memberitahu kemampuan nya.


"Rank E ya.." Ucap Lein.


"Benar, rendah bukan?" Liza menertawakan dirinya sendiri.


"Alasan mengapa aku dipanggil jenius karena aku adalah elf. Aku lahir di keluarga yang ahli dalam merasakan roh alam."


"Ditambah dengan kemampuan ku yang sensitif dengan roh di sekitar membuat orang-orang menyebut ku jenius padahal tidak."


"Elf memiliki metode yang berbeda dibandingkan dengan manusia mengenai kebangkitan kemampuan seseorang."


"Di wilayah elf, hanya akan diperlihatkan nama kemampuan nya dan tidak akan diperlihatkan rank kemampuan yang dibangkitkan."


"Oleh karena itu hanya aku yang tahu bahwa kemampuan ku adalah rank E. Yang lain hanya tahu mengenai kemampuan ku saja." Liza menjelaskan.


"Hm, jadi begitu ya..." Lein mengangguk paham dengan penjelasan Liza.


"Ya, dan dua hari setelah hari kebangkitan aku membuat kontrak dengan Leviarves." Ucap Liza.


"Dan itu yang membuat mu diusir dari wilayah mu dan nama keluargamu di coret bukan?" Ucap Lein.


"Benar begitu..." Balas Liza dengan nada sedikit sedih.


"Hey tenang saja. Jangan terjebak dalam masa lalu mu, hadapilah." Lein menggenggam erat tangan Liza.


"Ya..." Liza tersenyum kembali.


"Dan kamu tahu, aku ini memiliki gelar! Meskipun bukan gelar yang bagus." Ucap Liza.


"Ho.. Gelar kah..." Lein menjadi tertarik.


"Iya, gelar ku adalah 'Jenius yang Tersesat' Hahaha..." Liz tertawa terbahak-bahak.


"Pfft-" Lein juga tertawa.


"Jenius yang Tersesat kah... Gelar yang menarik." Ucap Lein.


"Tersesat karena aku membuat kontrak dengan Leviarves." Angguk Liza.


"Tapi Liza, karena kamu memiliki kemampuan yang sensitif terhadap roh, lalu mengapa kamu tidak membuat kontrak dengan roh?" Tanya Lein.


"Ah itu, itu karena para roh tidak mau membuat kontrak dengan ku." Jawab Liza.


"Karena kamu membuat kontrak dengan Leviarves?" Tanya Lein.


"Iya, mereka takut dan tidak mau hidup berdampingan dengan energi Leviarves." Angguk Liza.


"Jadi begitu..." Lein menganggukkan kepala nya.


"Ah tapi aku masih bisa berbicara dengan roh. Jika hanya berbicara atau bermain dengan roh, mereka tidak apa-apa."

__ADS_1


"Mereka juga terkadang meminjamkan kekuatan mereka jika mereka meminta tolong kepadaku." Tambah Liza.


"Ah jadi begitu. Kamu jadi masih bisa berinteraksi dengan mereka ya." Angguk Lein.


"Benar!" Balas Liza.


"Baiklah, ayo kita bersantai disini terlebih dahulu. Karena besok kita akan langsung berangkat menuju timur benua." Ucap Lein.


"Tentu." Angguk Liza.


Mereka berdua kemudian pindah tempat ke bawah pohon besar yang rindang. Mereka duduk disana sambil menikmati udara yang sejuk.


"Suasana sekarang cocok untuk berpiknik." Liza menutup matanya menikmati udara sejuk.


"Benar, udara yang sejuk, pemandangan yang asri, sangat cocok untuk berpiknik." Lein mengangguk setuju dengan ucapan Liza.


"Apakah kamu lapar?" Tanya Lein.


"Hm, sedikit." Liza menyentuh perut nya.


"Sedikit lapar mu sama dengan lapar nya orang normal." Ucap Lein.


"Hehehe, itu benar." Liza menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya.


"Baiklah, ayo makan disini." Lein kemudian mengeluarkan daging sapi mentah dan bumbu-bumbu nya.


"Mentah? Apakah kamu ingin membuat nya disini?" Liza penasaran.


Lein menggunakan sihir tanah untuk membuat sebuah lubang yang berukuran kecil. Kemudian ia pergi mengambil beberapa ranting di sekitar.


Setelah terkumpul, Lein memasukan setengah ranting yang ia kumpulkan ke dalam lubang itu.


"Liza..." Panggil Lein.


"Ya, aku tahu." Liza mengangguk.


Liza kemudian menggunakan Api Leviarves untuk menyalakan api di ranting-ranting di dalam lubang kecil.


Sementara Liza menyiapkan api, Lein memotong-motong daging sapi itu menjadi potongan kecil dan mencampurkan nya dengan bumbu.


"Kita akan memasak menggunakan apa?" Tanya Liza.


"Tentu saja dengan wajan penggorengan." Lein mengeluarkan wajan yang melengkung.


Lein menaruh wajan itu diatas api dan menuangkan banyak minyak goreng ke dalam wajan nya.


Lein mengambil daging ayam yang sudah dibumbui dan sudah dibaluti dengan tepung dan memasukkan nya ke dalam wajan yang sudah panas.


"Woah, aku sudah bisa mencium aroma nya..." Liza sampai meneteskan air liur nya karena tergoda dengan aroma ayam tepung.


"Haha, sabar. Tunggu sebentar lagi..." Lein menggunakan spatula untuk membalik ayam nya.

__ADS_1


Setelah beberapa waktu, Lein sudah menggoreng banyak ayam yang beberapa diantaranya sudah dimakan oleh Liza karena tidak sabar.


Lein hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat perilaku Liza yang diam-diam mencuri ayam seperti kucing nakal.


Lein tahu Liza diam-diam mencuri ayam namun Lein biarkan karena Lein juga terhibur dengan perilaku Liza yang imut.


"Baiklah, semuanya sudah matang. Mari kita makan!" Ucap Lein.


"Tunggu dulu!" Teriak Liza mengentikan Lein yang akan mengambil ayam.


"Ada apa?" Tanya Lein bingung.


"Dimana saus nya!?" Teriak Liza.


"Oh iya! Aku melupakan nya!" Lein menepuk dahi nya.


Kemudian Lein segera mengeluarkan satu botol saus tomat dan satu botol saus cabai yang pedas dan mereka menuangkan saus di mangkuk kecil.


"Selamat makan!" Ucap Lein dan Liza bersamaan.


Mereka berdua menikmati makanan mereka dengan gembira dan juga dengan lahap apalagi Liza yang memegang satu ayam di masing-masing tangan nya.


Bahkan ada beberapa mahasiswa yang sedang berada di taman tergiur saat mereka melihat Lein dan Liza makan dengan bahagia.


Para mahasiswa segera beranjak dan berlari pergi menuju restoran terdekat karena tidak tahan godaan makanan Lein dan Liza.


Dan Lein dan Liza tidak tahu hal itu karena mereka terlalu fokus pada makanan di depan mereka dan tidak peduli keadaan sekitar.


"Seperti biasa makanan yang kamu buat sangat enak, Lein!" Liza tersenyum bahagia.


"Senang mendengar nya. Oh iya, setelah misi kita selesai, aku akan membuatkan mu hidangan dengan bahan Star Llama." Ucap Lein.


"Star Llama!? Daging yang sangat enak itu!?" Liza bertanya dengan mata berbinar-binar.


"Benar, yang pernah kita makan saat kita kencan." Angguk Lein.


"Wah! Kamu sudah mendapatkan daging nya!?" Liza sanga antusias.


"Sudah. Oleh karena itu setelah misi kita akan makan daging Star Llama!" Jawab Lein.


"Bagus!" Liza tertawa dengan puas.


"Sekarang, ayo kita kembali. Kita perlu mencari informasi yang terkait dengan misi kita." Ucap Lein.


"Ya!" Angguk Liza.


Mereka berdua kemudian membereskan peralatan makan dan masak nya. Kemudian mereka juga membersihkan sampah-sampah.


Setelah itu mereka berdua segera pergi ke rumah Lein. Karena mereka akan mencari dan membaca informasi yang terkait dengan misi mereka.


Mereka melakukan nya dengan serius karena ini adalah petualangan mereka yang kedua dan ada alasan lain.

__ADS_1


Yaitu karena Liza ingin cepat menyelesaikan misi ini karena ia tidak sabar untuk menikmati hidangan yang akan Lein masak dengan bahan Star Llama.


__ADS_2