
"Lein, bagaimana tindakan kita selanjutnya?" Tanya Liza.
"Langsung menyelamatkan Daerol, kita tidak tahu bagaimana kondisi nya." Lein berdiri.
"Willie, dimana lokasi markas bandit itu?" Tanya Lein.
"Ah, nama kelompok bandit itu adalah Blood Pig, mereka ada di..." Willie memberitahu lokasi markas bandit Blood Pig.
"Blood Pig? Apakah tidak ada nama yang keren? Baiklah. Willie, kembalilah. Kami akan langsung pergi." Ucap Lein kepada Willie.
"Baik, mohon berhati-hatilah Tuan Lein, Nona Liza." Willie kemudian kembali ke tempat istri dan kedua anak nya.
"Aku tahu kamu ingin membantu Desa Nadir, tetapi sudah kukatakan bukan? Prioritas kita adalah mencari Daerol." Ucap Lein kepada Liza.
Lein tahu bahwa Liza sangat ingin membantu Desa Nadir, Lein juga ingin, namun masih ada yang lebih penting daripada itu.
"Aku tahu Lein, maaf." Ucap Liza.
"Tidak apa-apa." Lein menepuk-nepuk kepala Liza.
"Ayo pergi, saatnya untuk bertarung." Lein menjadi serius.
"Ya!" Angguk Liza dengan serius juga.
Mereka berdua segera pergi menuju lokasi Markas Bandit Blood Pig yang berada di Utara Desa Nadir sekitar 15 kilometer jauhnya.
15 kilometer memang jauh bagi orang biasa namun bagi Lein dan Liza yang mempelajari teknik kaki, mereka bisa sampai ke sana dalam waktu 20 menit saja.
"Liza, aku ingin bertanya sesuatu." Ucap Lein.
"Tentu, silakan." Angguk Liza.
"Mengapa roh alam tidak membantu Desa Nadir? Padahal roh alam menyuruh kita untuk membantu pedagang." Tanya Lein yang penasaran.
"Aku juga penasaran, oleh karena itu tadi aku menanyakan hal itu kepada mereka."
"Mereka menjawab itu karena Desa Nadir bukan di sekitar hutan, dan roh alam biasanya berada di hutan, gua, atau lokasi alam asli."
"Oleh karena itu roh alam tidak bisa membantu, atau meminta kita untuk membantu Desa Nadir karena lokasi desa berada di luar lingkup wilayah roh alam."
Liza menjawab dan menjelaskan alasan mengapa roh alam tidak meminta Lein dan Liza untuk membantu Desa Nadir.
"Jadi begitu, yah mereka kan roh alam, tentu saja akan membantu jika ada kaitan nya dengan alam ya." Ucap Lein.
"Seperti itulah, tetapi roh alam juga tidak akan membantu semua masalah, tergantung apakah mereka sanggup atau tidak." Balas Liza.
"Baiklah, sekarang aku paham." Lein menganggukkan kepala nya.
__ADS_1
...----------------...
Di Desa Nadir.
"Mereka tidak ada?" Enver mencari Lein dan Liza namun tidak menemukan nya.
"Itu karena mereka takut." Ucap Zayn.
Enver tidak menghiraukan ucapan Zayn yang mengandung sarkasme. Enver juga sudah lelah dengan sifat Zayn yang seperti itu.
"Permisi, apakah kalian melihat satu orang dan satu elf?" Enver bertanya kepada Willie sambil menunjukkan identitas SID nya.
"...Tidak." Willie menggeleng-gelengkan kepala nya.
"Baiklah. Terimakasih." Angguk Enver kemudian pergi.
"Guru, apakah guru melihat selimut mereka putih bersih dan ada bekas makanan sepertinya baru saja dimakan disana?" Hasley bertanya secara curiga.
"Aku juga melihat nya. Itu semua pasti perbuatan Lein dan elf itu." Jawab Enver.
"Lalu mengapa mereka tidak memberitahu keberadaan mereka!?" Teriak Zayn.
"Entahlah..." Balas Enver.
Sebenarnya Enver sudah bisa menebak alasan mengapa Willie menolak untuk memberitahu kebenaran Lein dan Liza kepada mereka.
"Sepertinya aku harus mendisiplinkan Zayn lagi. Kapan ia bisa memiliki sifat yang tenang dan berpikir dengan kepala dingin seperti Lein."
"Dan sekarang sedang bekerja sebagai anggota SID. Bagaimana bisa Zayn membawa dendam pribadi nya dalam pekerjaan nya."
"Dan Lein, sepertinya ia masih membenci SID ya. Bukannya kebencian nya berkurang, justru malah bertambah."
"Mengapa SID yang sekarang memiliki anggota yang buruk? Aku rindu masa-masa SID di zaman ku yang selalu memprioritaskan warga." Batin Enver.
...----------------...
"Suamiku, mengapa kamu tidak memberitahu keberadaan Tuan Lein dan Nona Liza kepada mereka?" Tanya si istri.
"Mina, bukankah kamu dengar ucapan pria yang dibelakang pria paruh baya itu tadi? Pria itu mengata-ngatai Tuan Lein dan Nona Liza." Jawab Willie.
"Benar. Tapi mengapa pria itu membenci Tuan Lein dan Nona Liza? Bukankah pria itu adalah anggota SID?" Mina tidak paham.
"Aku juga tidak tahu. Mungkin karena Tuan Lein dan Nona Liza orang jahat? Tapi itu tidak mungkin karena mereka bersedia membantu kami."
"Yang berarti pria tadi memang membenci Tuan Lein dan Nona Liza. Padahal dia adalah anggota SID, namun membawa dendam pribadi nya saat bekerja."
Willie menggeleng-gelengkan kepala nya cukup kecewa dengan sikap Zayn yang tidak profesional dalam pekerjaan nya.
__ADS_1
"Masuk akal, memang benar bahwa Tuan Lein dan Nona Liza adalah orang yang baik." Angguk Mina.
...----------------...
20 menit kemudian.
Lein dan Liza saat ini sudah berada di dekat Markas Bandit Blood Pig. Markas mereka ada di tengah-tengah hutan dan dikelilingi oleh pohon-pohon yang rimbun.
Jika bukan karena Willie yang memberitahu lokasi nya secara spesifik, Lein mungkin harus menggunakan Analysis Eye nya.
Memang bisa menemukan markas bandit jika dengan Analysis Eye, namun akan lebih cepat dan efisien jika dengan lokasi yang spesifik.
"Jika Daerol dan pasukan nya tidak disandera, aku akan langsung membakar markas mereka sampai terbakar habis" Ucap Lein.
"Fufu, roh alam tidak akan membiarkan kamu membakar hutan." Liza tertawa kecil.
"Itu mudah, bukankah kamu tahu aku ini bisa menggunakan semua elemen? Aku akan memadamkan api dengan sihir air dan menumbuhkan pohon-pohon dengan sihir tanaman." Ucap Lein.
"Benar juga ya. Kamu ini memang tidak bisa disamakan dengan orang normal." Liza menggeleng-gelengkan kepala nya.
"Haha." Lein tertawa.
"Analisa berapa orang yang berada di dalam markas bandit.' Lein menganalisa.
[ analisa berlangsung ]
[ 231 orang ]
"Hm, bedakan mana yang bandit dan mana yang Daerol dan pasukan nya." Gumam Lein.
[ 1 titik berwarna hitam adalah bos bandit ]
[ 145 titik berwarna merah adalah anggota bandit ]
[ 1 titik berwarna putih adalah Daerol Myrant ]
[ 84 titik berwarna hijau adalah pasukan Daerol Myrant ]
"Liza, sepertinya ini akan mudah. Karena para bandit saat ini sedang berkumpul di satu tempat." Ucap Lein.
"Baguslah kalau begitu, kita jadi bisa langsung mengeluarkan sihir area. Bagaimana dengan Daerol dan pasukan nya?" Tanya Liza.
"Daerol dan pasukan nya sedang berada di bawah tanah, sepertinya mereka dipenjara. Hanya ada beberapa bandit yang berjaga disana." Jawab Lein.
"Bagus, pertama kita akan menyelamatkan Daerol dan pasukan nya kan?" Ucap Liza.
"Benar. Kita harus menyelamatkan mereka terlebih dahulu agar kita bisa dengan bebas membunuh para bandit, kekeke." Lein menyeringai.
__ADS_1
"Fufufu~" Liza juga tersenyum menyeramkan.