
"Aku tidak menyangka itu kamu." Lein melihat seseorang yang ia kenal
"Kamu hebat juga bisa menghindari serangan itu." Sebuah suara yang dingin membalas Lein
Mereka semua akhirnya menampakkan diri. Ada sekitar 50 orang mengepung Lein yang seorang diri. Mereka juga sudah siap dengan senjata mereka.
"Pertama, ambil token hitam dari nya terlebih dahulu. Setelah itu kalian bebas melakukan apa yang kalian mau." Suara dingin tadi memerintah rekan-rekan nya.
"Laksanakan, tuan muda." Mereka tersenyum sinis kepada Lein.
Lein kembali berdiri. Ia mengeluarkan katana nya dan racun yang sudah ia buat dari leaf Snake. Tatapan Lein bukanlah kemarahan, tetapi ketenangan.
"Mengapa kamu melakukan ini, Kiva Barqi." Ternyata yang melakukan semua ini adalah Kiva, orang berambut putih yang bersama Anna.
"Mengapa? Kamu mengganggu rencana ku." Kiva menjawab dengan sinis
"Rencana... kah." Lein tidak tahu detail nya namun ia bertemu Kiva saat bersama Anna.
yang itu artinya rencana Kiva ada kaitannya dengan Anna atau keluarga nya. Yang jelas itu bukanlah hal yang baik.
"Yah, itu tidak ada hubungannya dengan ku kurasa." Lein mengambil botol racun dari kantung nya dan melemparkan nya ke arah musuh
Lein tau bahwa racun itu akan membunuh orang yang terkena nya. Namun Lein mengerti bahwa untuk keluar dari situasi ini, Lein harus membunuh.
Mereka sudah menunjukkan niat membunuh mereka kepada Lein. Lein tidak akan tinggal diam diperlakukan seperti mangsa. Ini juga bukan pertama kali Lein membunuh manusia.
*swoosh (suara benda terlempar)
Beberapa botol racun mengenai orang yang terdekat dengan Lein. Mereka yang terkena berteriak kesakitan. Kulit mereka terasa panas, lalu perlahan-lahan mulai meleleh karena sifat korosif.
Musuh yang tidak terkena racun menjadi kaget dengan efek racun itu. Lein memanfaatkan kelengahan mereka dengan menyerang dengan katana.
*slash
Lein memenggal kepala musuh dan ia menyerang yang lain juga. Lein menggunakan dragon dance dengan kekuatan penuh karena yang ia hadapi adalah 50 orang yang berlevel 30.
Lein fokus untuk membunuh dalam sekali serang dengan menyerang titik lemah mereka. Selama pertempuran Lein juga terus menerus menggunakan analysis eye untuk menganalisa mereka.
[ analisa berlangsung ]
[ analisa berlangsung ]
[ analisa berlangsung ]
__ADS_1
Lein terus-menerus menganalisa skill mereka, kelemahan mereka, dan pergerakan mereka. Jika ia tidak bisa membunuh dalam sekali serang maka ia akan memotong tangan atau kaki mereka.
Lein dengan kekuatan penuh nya sanggup menghabisi 10-15 orang dengan sekali serang.
"Apa-apaan ini! Cepat ambil token hitam nya!" Kiva yang melihat situasi menjadi tidak baik memerintahkan mereka untuk mengambil token hitam Lein
Lein masih fokus dalam pertempuran dan ia tidak menyadari bahwa ada sebuah tangan yang mengambil token hitam nya.
Token hitam dan putih tidak bisa disimpan dalam inventory. Universitas mengaturnya karena mereka ingin para peserta bersaing.
Jika peserta menyimpan di dalam inventory, maka tidak ada yang namanya perebutan atau konflik. Bukannya pihak universitas ingin peserta nya saling berkonflik.
Namun mereka harus melakukan hal itu karena di pertempuran yang sesungguhnya, mereka bisa mengatasinya seperti menyelesaikan konflik yang ada di ujian praktek.
Token hitam Lein diambil oleh sebuah tangan. Lein tidak menyadari nya karena itu bukan tangan manusia, tetapi sebuah skill yang berhubungan dengan bayangan.
Pengguna skill itu lalu menyerahkan token hitam Lein kepada Kiva. Kiva menerima dan memeriksa nya.
"Semuanya! Token hitam sudah didapatkan. Mengamuk lah sepuas kalian!" Kiva memerintahkan mereka untuk mengeluarkan semua kemampuan mereka.
Lein yang mendengar perkataan Kiva lalu segera memeriksa kantung nya. Benar saja, token hitam miliknya hilang
"Ini gawat." Lein berpikir seperti itu.
"Jika aku selamat dari sini, aku harus berlatih lebih banyak skill." Lein sedikit menyesal bahwa ia tidak berlatih banyak skill sebelum ujian
"Dan sekarang tambah gawat." Meskipun begitu, Lein tidak putus asa
"gaya pertama : tebasan gelombang sungai."
"gaya kedua : tebasan gelombang laut."
"gaya ketiga : tebasan gelombang tsunami."
Lein menggunakan teknik dual sword secara berturut-turut. Ini bukan waktunya untuk menahan diri. Lein harus mengerahkan segala yang dia punya untuk memenangkan pertempuran.
...----------------...
Disisi lain, disisi Kiva.
"Itulah akibatnya jika menganggu rencana ku." Kiva melihat pertempuran yang berat sebelah
"Aku harus segera pergi, Anna mungkin akan curiga jika aku terlalu lama berpisah dengan mereka." Kiva lalu pergi tanpa memedulikan pertempuran
__ADS_1
...----------------...
Lein tidak melihat Kiva pergi, atau lebih tepatnya tidak bisa. Karena ia harus fokus menghadapi musuh-musuh.
Meskipun Lein sudah mengeluarkan semua kekuatan nya, ia tetap saja menerima luka. Karena musuh ini bukan musuh yang sama seperti sebelumnya, mereka seperti kelompok yang sudah terlatih.
Jika Lein ingin menyerang, itu ditahan oleh tanker dan penyerang menyerang Lein dari arah lain. Penyerang jarak jauh juga menyerang titik buta Lein.
Octiorb juga membantu mengawasi musuh yang akan menyerang Lein. Meskipun begitu, itu tidaklah cukup.
Lein yang terus-terusan menerima luka menjadi semakin lemah. Bahkan pijakannya goyah dsn tidak mampu menopang lagi tubuhnya.
Waktu berlalu, lambat laun Lein sudah tidak bisa menyerang lagi. Ia menderita banyak sekali luka dan ia juga kehabisan mana.
Ia ingin menyerang namun ia kehabisan mana. Ia ingin menyerap mana namun ia diserang. Kedua kondisi itu membuat Lein terpojok.
Hingga akhirnya...
*jleb (suara tusukan)
Dada Lein tertusuk. Orang yang menusuk dada Lein menarik pedang nya dengan paksa.
Lein bahkan belum sempat berteriak, ia sudah muntah darah duluan. Lein bisa merasakan sakit yang parah di dadanya.
Tusukan tadi tidak mengenai jantung Lein, namun berada didekat jantung dan melukai jantung nya.
Lein berlutut karena tidak mampu bergerak lagi. Lein hanya bisa memegangi dadanya menahan kesakitan. Lein juga mengigit bibirnya agar tidak berteriak.
"Misi selesai." Orang yang menusuk Lein puas melihat Lein tak berdaya.
Yang lain juga menghentikan serangan mereka. Mereka semua menatap Lein seperti lelucon. Lein merasakan tatapan yang diarahkan kepada nya.
Lein mendongak dan yang ia lihat adalah tatapan cemoohan, lelucon, sinis, dan masih banyak lagi.
"Ayo kita pergi, urusan kita sudah selesai." Ucap seseorang
"Apakah kita tidak mengambil poin nya?" Seseorang bertanya
"Hm... tuan muda hanya memerintahkan untuk menghabisi orang itu. Jadi tidak usah." seseorang menjawab
Mereka yang tersisa 25 orang pergi meninggalkan Lein dan mayat rekan-rekan mereka. Meskipun pada akhirnya Lein kalah, namun ia juga sangat hebat.
Lein mampu menghabisi 25 orang dengan level yang setara dengan nya. Lein hanya kurang persiapan untuk membunuh mereka.
__ADS_1
Lein berbaring tidak berdaya meratapi apakah ia akan mati.
"apakah aku akan mati? mungkin saja..." kesadaran Lein mulai kabur dan perlahan-lahan ia menutup mata nya