
Selama satu minggu, Lein dan yang lain memberantas markas-markas kecil Anarchy Order di Ibukota.
Dan entah ini kebetulan atau tidak, saat mereka selesai memberantas, mereka selalu saja bertemu dengan petugas SID dan reporter.
SID tidak pernah melakukan pemberantasan skala besar, Lein juga bingung mengapa SID baru melakukan pemberantasan sekarang.
Namun Lein berpikir, mungkin karena ia dan yang lain yang masih seorang mahasiswa memberantas markas dan saat itu di siarkan langsung.
Yang mana itu membuat publik bersemangat dan mereka meminta untuk pemberantasan markas-markas lainnya, dan tidak mungkin SID akan menolak.
Jika SID menolak, maka reputasi SID akan menurun dan publik akan menjadi kurang percaya dengan SID, oleh karena itu mereka melakukan nya sekarang.
...----------------...
Universitas Dragon Heart, Rumah milik Lein.
Lein mematikan televisi dengan remote.
"Masih ada beberapa tempat persembunyian Anarchy Order, namun sekarang bukan aku yang akan melakukan nya." gumam Lein.
"Oh dewa dewi, bukankah aku ini hebat? Aku membuat orang lain yang bekerja di 'drama' yang kalian buat." Ucap Lein dengan ekspresi bangga.
"Namun lengan kanan ku masih belum bisa disembuhkan, bahkan dengan divine power sekalipun..." Ekspresi Lein berubah menjadi tenang.
"Yang artinya, orang itu menggunakan divine power yang lebih kuat untuk memotong lengan kanan ku." Lein menghela napas.
Lein tidak kesal atau marah mengenai lengannya yang dipotong, itu wajar dalam situasi pertarungan dimana pasti akan mendapatkan luka.
Lein juga tidak terlalu berusaha untuk mengembalikan lengan nya ke keadaan semula, karena bahkan dengan satu tangan ia masih bisa bertarung.
Lein hanya kesal mengapa pria itu bergabung dengan Anarchy Order, Lein sempat berpikir juga apakah 'ibu' nya juga ada di Anarchy Order.
Bahkan meskipun mereka berdua anggota Anarchy Order, Lein tidak peduli, ia hanya penasaran. Lagipula memang Lein dan mereka berdua tidak memiliki hubungan apapun.
"Bos, ada seseorang yang ingin bertemu." Jonas datang.
"Aku tahu, hawa keberadaan mereka sangat besar." Lein mengangguk.
"Tolong antarkan mereka ke ruang tamu." Lein berdiri dan berjalan ke arah ruang tamu.
"Baik bos." Jonas mengangguk dan berjalan ke pintu.
...----------------...
"Bos, mereka disini." Lapor Jonas.
Mereka yang dimaksud Jonas ada tiga orang. Yang pertama adalah seorang pria paruh baya, lalu seorang pria dan seorang wanita.
"SID." Lein bisa menebak bahwa mereka dari SID.
"Benar sekali, Lein." Pria paruh baya tersenyum dang mengangguk.
"Jonas, duduk disamping ku, dan bersiap lah untuk menahan ku jika aku kehilangan kendali atas emosiku." Lein berkata kepada Jonas.
"Ya, bos." Jonas kemudian duduk di sebelah Lein.
"...." pria dan wanita dari SID bingung dengan ucapan Lein, sedangkan pria paruh baya hanya diam.
"Jadi? Apa tujuan kalian." Lein berkata kepada pria paruh baya.
__ADS_1
"Maaf sebelumnya, tapi bisakah kami memperkenalkan diri kami terlebih dahulu?" Ucap pria paruh baya sopan.
"Lakukan sesukamu." Lein tidak terlalu peduli.
"Baiklah, namaku adalah Enver Glastin." Enver si pria paruh baya memperkenalkan diri.
"Yang pria adalah Zayn Carolus dan yang wanita adalah Hasley Emerilda." Ucap Enver memperkenalkan pria dan wanita yang ada di sebelah nya.
"Lein." Ucap Lein singkat.
"Jonas." Jonas juga memperkenalkan diri secara singkat.
"Kamu! Bukankah kalian tidak sopan dengan SID!" Zayn tiba-tiba saja berteriak.
"Seorang tamu tidak sepantasnya berteriak kepada tuan rumah." Lein menatap Zayn dengan tajam.
"Uhh..." Zayn terdiam.
"Analisa mereka." Gumam Lein.
[ analisa berlangsung ]
[ Enver Glastin
level : 67
kemampuan : ?? ]
[ Zayn Carolus
level : 53
kemampuan : Racun ]
level : 55
kemampuan : Air ]
"Tunggu, sebelumnya Analysis Eye tidak bisa menganalisa kemampuan seseorang, dan sekarang bisa?" Lein menyadari bahwa ada yang berbeda dengan Analysis Eye.
"Meskipun tidak bisa menganalisa secara rinci, namun ini masih sangat berguna." Pikir Lein.
"Yah, ini pasti perbuatan Szem. Karena aku hanya memberantas markas Anarchy Order, selain itu, aku tidak melakukan apapun." Lein tidak terlalu peduli.
"Tenanglah, Zayn." Enver menatap Zayn.
"Maaf, guru." Zayn diam.
"Perkenalkan sudah selesai, katakan tujuan kalian." Ucap Lein.
"Kami SID sudah mengetahui bahwa kalian berdua dengan teman kalian satunya, sudah banyak memberantas markas Anarchy Order." Enver menatap Lein.
"Kedatangan kami disini atas nama SID, SID bermaksud untuk memberikan kalian bertiga hadiah terkait dengan kontribusi kalian."
"...Berikan pada Enya dan Jonas, aku tidak perlu." Lein tidak mau menerima hadiah dari SID.
"Maaf, Lein. Kami ditugaskan oleh atasan untuk memberikan kalian bertiga hadiah, bukan satu atau dua orang." Enver meminta maaf.
"Aku tahu atasan kalian pasti telah memeriksa kehidupan ku, dan kalian pasti diberikan informasi nya." Lein melihat ke arah mereka bertiga.
__ADS_1
"Dan aku juga tahu 'hadiah' hanyalah sebuah alasan saja, kalian hanya ingin aku berada di pihak SID." Lein menatap tajam Enver.
"...." Enver terkejut dengan ucapan Lein.
Ia tidak menyangka apa yang dikatakan Lein sangat tepat dengan ucapan dan rencana atasan SID untuk membuat Lein berada di pihak SID.
"Bahkan jika aku tidak berpihak pada SID, kalian ingin membuat hubungan baik dengan ku." Ucap Lein.
"Tapi karena kalian telah mengetahui kehidupan ku, bukankah seharusnya kalian para SID tahu apa yang telah terjadi sampai-sampai aku bersikap seperti ini...." Lein menyipitkan matanya.
"....Benar, kami tahu." Enver mengangguk.
"Selama orang itu masih ada di SID, aku akan selalu memusuhi SID." Ucap Lein dengan nada tenang
"Ah aku tidak tahan lagi!" Zayn berdiri dan berteriak.
Zayn mengeluarkan senjata nya yaitu tombak, lalu ia akan menggunakan tombak itu untuk menyerang Lein.
Zayn kemudian menaruh racun di ujung tombak nya dan menyerang Lein dengan serangan cepat.
Namun....
*Cling! (suara benda berbenturan)
Jonas hanya mengulurkan tangan nya ke samping, tepat nya di depan Lein dan menggunakan Diamond Rhino nya untuk memblokir serangan.
"Bagaiman bisa!" Zayn terkejut serangan nya ditangkis.
"Zayn!!!" Hasley yang diam dari tadi berteriak kepada Zayn.
"!!" Mereka bertiga merinding merasakan aura Lein.
Sebenarnya Lein tidak mengeluarkan aura apapun, ia hanya duduk dengan tenang di sofa dan hanya menatap mereka bertiga.
Namun ketenangan mutlak nya lah yang membuat Lein terasa menyeramkan di mata mereka bertiga.
"Kami minta maaf." Enver berdiri dan membungkukkan badan nya meminta maaf.
Lein tidak menjawab, ia mengangkat tangan kiri nya dan jari telunjuk nya menunjuk ke arah Zayn.
"Argh!!!" Zayn berteriak kesakitan memegangi lutut kaki kiri nya.
"Zayn!" Hasley berteriak dan melihat kondisi Zayn.
"Mengapa kamu melakukan itu!" Hasley berteriak marah kepada Lein.
"Kamu kira aku orang naif? Dia sudah berusaha menyerang ku, aku hanya membalas nya." Lein mengatakan fakta.
"Uhh..." Hasley terdiam karena Lein benar.
"Pergilah..." Lein berdiri dan berjalan meninggalkan ruang tamu.
"Jonas, tolong antarkan tamu kita." Perintah Lein ke Jonas.
"Baik!" Jonas mengangguk dan berdiri.
"Silakan, para tamu." Ucap Jonas kepada mereka bertiga.
"..." Enver menatap punggung Lein dengan mata tenang.
__ADS_1
"Ayo." Kemudian Enver dan mereka berdua pergi.
Zayn sudah meminum potion penyembuh, namun ia masih merasakan sakit yang parah di lutut kaki kiri nya dan ia dibantu berjalan oleh Hasley.