
Di tempat Lein.
"Jave, bunuh dia. Aku akan membantu mu...." Perintah Althea.
"Baik, nyonya. Akan saya bawa kepala orang itu kehadapan anda..." Jave mengangguk dan berjalan maju.
Jave melepas pakaian nya dan menjadi telanjang dada. Ia menarik napas dalam-dalam dan berteriak dengan keras lalu ia berlari ke arah Lein.
Di belakang nya, Althea mengeluarkan sesuatu dari inventory nya dan menghancurkan nya.
"!!" Lein melebarkan matanya karena merasakan kekuatan nya seperti tersegel.
"Analisa!" Lein dengan cepat menganalisa apa yang sedang terjadi dengan tubuh nya.
[ analisa berlangsung ]
[ host tidak bisa menggunakan mana atau divine power selama 10 menit dikarenakan ada sesuatu yang menggangu tubuh host ]
"Sial, jadi aku harus menghadapi nya hanya dengan tubuh ku saja!?" Bukannya takut, Lein justru menyeringai dan menjadi bersemangat.
"Maju!" Lein juga berlari maju ke arah Jave.
Jave mengepalkan tangan kanan nya dan meninju secara lurus ke arah wajah Lein. Lein menggerakkan tubuh nya ke kanan dan meninju pipi kiri Jave.
Jave mundur beberapa langkah karena Lein meninju nya dengan keras. Namun Lein sudah berada di depan Jave dan meninju hidung nya.
Jave mundur selangkah dan Lein terus-menerus menuju Jave entah itu di wajah, bahu, dada, atau perut karena Lein tahu bahwa ia tidak bisa menggunakan mana sementara Jave bisa.
Lein berpikir untuk menyelesaikan pertarungan ini secepat mungkin karena ia harus menghadapi Althea yang masih berdiri dengan tenang mengamati pertarungan nya.
"!!" Tiba-tiba kedua tangan Lein dipegang oleh Jave.
"Ini belum seberapa..." Jave menyeringai seperti orang yang berbeda dibandingkan dengan sebelumnya yang tenang.
"..." Lein menarik tangan nya agar tubuh Jave condong ke depan kemudian ia menyerang perut Jave dengan lutut kaki kanan nya.
"Ugh!" Jave bisa merasakan sakit di perut nya.
Jave melepaskan kedua tangan Lein dan terjatuh ke tanah. Saat ia akan bangkit, Lein berada di depan nya dan menendang wajah nya.
"Sial! Nyonya Althea sedang melihat ku bertarung! Aku tidak bisa mengecewakan nya!" Pikir Jave.
Jave berdiri dan melihat tinju Lein sedang datang ke arah wajah nya. Namun kali ini Jave tidak bergerak satu milimeter pun.
"!!" Lein terkejut karena Jave tidak bergerak.
__ADS_1
"Haha, sudah kukatakan ini masih belum seberapa.." Jave memegang tangan kanan Lein dan membanting nya ke tanah.
"Ugh!" Lein batuk saat terbanting ke tanah dengan keras.
Lein melihat bahwa kaki Jave berada tepat di atas wajah nya dan akan menginjak nya. Lein segera berguling-guling untuk menghindari nya.
Saat Lein akan bangkit, Jave sudah berada di depan nya dan memukul wajah nya dengan keras sampai ia mengeluarkan darah dari hidung nya.
"...Tubuh ku yang sudah setara dengan level 100 bisa terluka karena pukulan nya? Seberapa kuat pukulan nya jika aku tidak memiliki tubuh level 100 ini..." Lein tidak bisa membayangkan nya.
Saat Lein sedang berpikir, Jave memutar tubuh nya 360 derajat dan menendang perut Lein dengan telapak kaki nya sampai Lein mundur beberapa langkah.
"Sialan, ini sangat sakit..." Batin Lein.
Jave memegang kepala Lein dan membenturkan nya ke tanah berulang-ulang sampai kepala Lein berdarah-darah. Kemudian Jave melempar Lein sampai terguling-guling.
"Hah...Hah.." Napas Lein sedikit terengah-engah.
"Untung saja inventory ku masih bisa digunakan..." Lein mengeluarkan banyak sekali obat yang dibuat oleh Octiorb dan menelan nya sekaligus.
Lein menelan, penambah kekuatan, penambah stamina, dan obat lain nya yang bisa membantu Lein dalam pertarungan.
"Meskipun ini sangat sakit, tapi berkat kemampuan regenerasi, aku bisa mengalahkan nya..." Pikir Lein.
Tangan kanan Jave memegang siku tangan kanan Lein dan tangan kiri nya memegang pergelangan tangan kanan Lein.
Kemudian Jave menurunkan tangan kanan Lein dan menyerang nya dengan lutut kaki kanan nya dengan keras sampai berbunyi klik.
Bunyi itu tanda bahwa tangan kanan Lein patah dan Jave mematahkan nya sampai tangan kanan Lein bengkok ke arah lain.
"!!" Meskipun Lein merasakan sakit yang parah, ia tidak berteriak.
Lein memegang tangan kanan yang patah dengan tangan kirinya dan mencoba untuk membetulkan posisi nya yang bengkok.
Lalu perlahan-lahan, tangan kanan Lein yang patah bisa ia gerakan lagi berkat kemampuan regenerasi nya yang sangat cepat.
"!! - Sial, monster macam apa dirimu?" Jave tidak bisa mempercayai nya bahwa tangan kanan Lein langsung sembuh.
"Kekeke, monster yang akan membunuh mu!" Teriak Lein.
Lein menerjang ke arah depan, ia memeluk tubuh Jave dan membuat nya terjatuh. Kemudian Lein duduk di atas nya sambil memukul-mukul wajah Jave dengan keras.
Jave melindungi wajah nya dengan menutupi nya menggunakan kedua tangan nya.
Lein berdiri dan memegang kedua tangan Jave kemudian ia melempar Jave. Saat Jave sedang terguling-guling, Lein berlari mengejar nya.
__ADS_1
Lein melompat dan menginjak perut kaki kanan Jave sampai patah. Kemudian Lein pegang kaki kanan Jave yang patah dan menarik nya dengan keras.
"Argh!!" Jave berteriak kesakitan.
Lein menarik kaki Jave dengan keras sampai kaki nya lepas dari tubuh Jave. Lein melakukan hal itu tanpa bekas kasihan dan ia menyeringai seperti psikopat.
"Kekeke.." Lein tertawa dengan keras.
Lein melempar kaki kanan Jave yang sudah lepas itu ke sembarang arah. Lein kemudian memegang kepala Jave dan membenturkan nya ke tanah.
Lein membenturkan kepala Jave berulang kali bahkan Jave berteriak lebih keras daripada sebelumnya.
Saat Jave hampir pingsan kekurangan darah, Lein memegang kedua pergelangan tangan Jave dan menariknya dengan keras.
Kedua tangan Jave bernasib sama seperti kaki kanan nya, Lein melepas kedua tangan Jave sambil tertawa menyeramkan.
Jave yang sudah merasakan rasa sakit yang belum pernah ia rasakan dan sudah kehilangan banyak sekali darah kehilangan kesadaran nya dan mati.
"Bahkan ini belum 10 menit..." Ucap Lein dengan nada sinis.
Barusan Lein memang sedikit kejam, namun ia memang harus melakukan hal itu karena ia tidak bisa menggunakan mana nya.
Jadi ia harus membunuh Jave secara manual, dan tidak menggunakan katana nya karena ia menikmati pertarungan tangan ke tangan.
Lein sama sekali tidak merasakan emosi apapun saat membunuh Jave dengan kejam, karena ia sudah menganggap kalau Jave adalah orang yang harus dibunuh karena merupakan bawahan Althea.
"Sekarang... Tersisa dirimu, Althea..." Lein menoleh ke arah Althea dan menyeringai.
"..." Althea masih bersikap tenang namun di dalam nya ia sedikit panik.
"Sial, bagaimana bisa tubuh nya bisa menahan kekuatan Jave!? Juga, apa-apaan dengan pemulihan tubuh nya yang sangat cepat!?"
"Jika aku tidak membunuh Lein saat ini, ia akan menjadi ancaman dan pasti akan mengacaukan rencana yang sudah kami buat."
"Namun meskipun aku gagal membunuh nya, aku juga tidak boleh mati disini karena rencana yang sudah kami buat membutuhkan kemampuan ku."
Meskipun dari luar terlihat tenang, sebenarnya saat ini Althea sedang memikirkan banyak hal.
"Kamu masih bisa bersikap tenang, apakah kamu tidak merasakan apapun saat melihat bawahan mu mati?" Lein bertanya dengan nada sinis.
"Mereka mati karena mereka lemah." Jawab Althea dengan singkat.
"Kekeke, mengapa sifatmu berubah seperti ini? Oh, aku salah, ini adalah sifat asli mu ya.." Lein menyeringai.
"..." Althea tidak menjawab dan hanya menatap Lein dengan tajam.
__ADS_1