
Pertarungan yang membosankan terus berlanjut. Mengapa membosankan? karena ditahap ini orang-orang kuat tidak menunjukkan kekuatan nya.
Mereka hanya mengeluarkan sedikit kekuatan lalu menang. Karena mereka tidak ingin lawan mereka nanti mengetahui kekuatan mereka.
Semua orang dari kelas S tahun pertama juga mengikuti kompetisi ini dan tentu saja semua nya lolos ke tahap dua. Lein juga melihat Kiva di arena, namun sepertinya ada yang berubah dari Kiva.
Yah, meskipun Lein tidak memperdulikan nya. Karena ia dari awal memang tidak peduli dengan Kiva.
"Wah, pertarungan yang menarik dari tahun pertama dan kedua!" Erwin mengatur suasana agar tidak membosankan.
"Benar sekali. Sepertinya para mahasiswa sangat bersemangat ya." Sabina juga ikut mengatur suasana.
"Karena tahun kedua sudah selesai, maka mari kita mulai pertandingan tahun ketiga!" Erwin berbicara.
"Ayo!" Sabina bersorak.
...----------------...
"Giliran mu?" Lein bertanya kepada perempuan itu.
"Ya." Perempuan itu berdiri dan berjalan menuju arena.
"Ah-" Perempuan itu berhenti dan menoleh.
"Namaku Enya. Senang berkenalan, Lein." Enya memperkenalkan diri lalu ia kembali berjalan.
Lein tidak membalas karena Enya sudah menghilang dari pandangan. Lein juga penasaran seperti apa kekuatan Enya itu.
"Ngomong-ngomong, analisa Enya." Lein lupa ia belum menganalisa Enya.
[ analisa berlangsung ]
[ Enya Lauren
level : ?? (perlindungan artefak)
skill : ?? (perlindungan artefak) ]
"Jadi dia perempuan kaya ya, memakai artefak untuk menyembunyikan informasi nya." Lein berpikir kalau Enya adalah perempuan kaya.
"Eh, Lauren? bukankah..." Lein melihat nama yang familiar.
"Aku tidak bisa memastikan nya, namun aku yakin mereka berdua memiliki hubungan." Lein menggeleng-gelengkan kepalanya.
Lein lalu fokus ke pertarungan Enya, tidak terlalu memikirkan hubungan Enya dengan guru itu.
...----------------...
Enya sama seperti Lein, hanya berdiri di arena dengan muka datar dan tidak melakukan kuda-kuda atau persiapan apapun.
"Mulai!" Wasit memberikan aba-aba.
"Fire Field." Enya mengucapkan sesuatu.
Seketika, arena 1 menjadi medan yang dipenuhi oleh api berwarna merah. Peserta yang berada di arena 1 merasakan panas yang membara.
Mereka yang tidak bisa menahan langsung menyerah dan mereka yang bisa bertahan berusaha sekuat mungkin untuk menahan panas api Enya.
__ADS_1
"Pe-pemenang nya sudah ditentukan! Area 1 selesai!" Wasit mengakhiri pertarungan yang bahkan tidak bisa disebut pertarungan.
Para penonton sangat terkejut dengan serangan Enya yang langsung menyerang lawan-lawannya menggunakan serangan area.
Enya membatalkan skill nya dan langsung menghilang dari pandangan penonton.
...----------------...
Enya kembali ke tempat duduk di sebelah Lein. Seperti biasa Enya tidak bersuara saat datang. Tiba-tiba saja ia sudah duduk.
"Enya." Lein memanggil Enya.
"Ya?" Enya menjawab.
"Serangan tadi bukan skill bukan?" Len bertanya.
"...Bagaimana kamu tahu?" Enya menoleh ke arah Lein.
"Yah, elemen asli dengan elemen yang dibuat oleh mana terasa berbeda." Lein menjawab dengan jujur.
Memang, elemen asli akan terasa lebih kuat dan lebih murni dibandingkan dengan elemen yang dibuat menggunakan mana.
Kebanyakan skill elemen adalah menggunakan elemen yang dibuat dengan mana. Karena jika dengan elemen asli, kamu hanya harus mengendalikan nya.
"Benar, itu adalah elemen asli ku." Enya menjawab.
"Tapi, mengapa kamu menyembunyikan itu?" Lein bertanya.
"Apa maksudmu? aku tidak menyembunyikan kekuatan ku." Enya bertanya dengan bingung.
"Bukan kekuatan mu, yang aku maksud adalah sesuatu di dalam dirimu." Lein menatap mata Enya.
Enya lalu menatap mana Lein dan mengeluarkan aura yang mengerikan. Lein tidak terpengaruh oleh aura Enya, is tetap diam menatap mata Enya.
"Bagaimana kamu tahu!" Enya bertanya dengan muka serius dan perasaan waspada.
"Tenang, aku tidak memusuhi mu." Lein menyuruh Enya untuk tenang terlebih dahulu.
Enya kemudian menuruti perkataan Lein dan menarik kembali aura nya.
"Aku bisa tahu karena aku sensitif dengan elemen. Aku tidak tahu apa yang ada didalam dirimu, namun aku tahu itu berkaitan dengan elemen api dengan tingkatan tinggi." Lein menjawab dengan jujur.
Karena Lein memiliki jantung naga waktu yang mana itu sangat sensitif terhadap segala elemen yang ada didunia.
Lein memang tidak tahu apa yang ada di dalam diri Enya, namun ia tahu 'sesuatu itu' berkaitan dengan api tingkat sangat tinggi.
"Baiklah, kita akan berbicara setelah kompetisi selesai." Enya berkata.
"Tentu." Lein mengangguk.
...----------------...
"Hah?" Lein melihat sesuatu yang menarik di suatu tempat.
Lein melihat John dan Anna sedang bergandengan tangan dan mengobrol dengan canda tawa.
"Apakah kemajuan mereka secepat itu!?" Lein terkejut dengan kemajuan hubungan mereka.
__ADS_1
"Sial, kurasa aku juga harus mencari pacar." Lein bergumam iri.
Enya mendengar gumaman Lein dan ia menoleh ke arah yang Lein lihat. Enya seperti memikirkan sesuatu lalu ia menyenderkan kepala nya ke bahu kiri Lein.
"??" Tanda tanya muncul di atas kepala Lein.
Lein ingin bertanya mengapa Enya melakukan hal ini, namun ia merasa jika ia bertanya ia akan kehilangan momen ini.
Jadi, Lein memutuskan untuk diam tidak bertanya dan menikmati momen ini.
...----------------...
"Oh? Apakah Lein mempunyai perempuan baru? Siapa perempuan itu, Brynn?" Liza bertanya kepada presiden Brynn.
"Ah dia adalah Enya Lauren, mahasiswa tahun ketiga." Presiden Brynn melihat perempuan yang Liza tunjuk dan menjawab pertanyaan Liza.
"Kurasa perempuan yang didekat Lein cantik semua ya.." Liza tertawa.
"Kenapa? apakah kamu cemburu?" Presiden Brynn menggoda Liza.
"Hah? Tentu saja tidak." Wajah Liza menunjukkan ekspresi jijik.
...----------------...
Di ruangan lain.
"Mengapa dia dekat dengan Lein?" Guru Linda heran dengan hubungan Lein dan Enya.
...----------------...
Di ruangan lain.
"Hoho, seperti yang diharapkan dari murid ku" Dekan Hido mengelus janggut nya.
Ia senang dengan muridnya yang dekat dengan mahasiswa perempuan yang cantik. Ia bahkan tertawa keras sampai-sampai dekan lainnya bertanya-tanya.
...----------------...
"Ngomong-ngomong, bagaimana kamu bisa sangat kuat?" Enya bertanya kepada Lein.
"Berlatih." Lein menjawab dengan jujur.
"...Apa rank kemampuan mu? Jangan jawab jika kamu merasa terganggu." Enya bertanya rank kemampuan Lein.
"Tidak apa-apa, rank kemampuan ku adalah rank F." Lein menjawab dengan jujur.
"...." Setelah Enya mendengar jawaban Lein, ia menjadi terdiam.
"Tidak mungkin bukan? Akan sangat sulit bagi rank F untuk mencapai level Universitas Dragon Heart." Enya tidak percaya.
"Tentu saja sulit, namun sulit bukan berarti mustahil." Lein menjawab dengan percaya diri.
"...Kamu orang yang menarik." Enya tersenyum menyukai jawaban yang Lein berikan.
"Terimakasih kurasa?" Lein berterima kasih.
Setelah itu mereka berdua melihat pertandingan tahun ketiga dengan damai.
__ADS_1
Mereka juga melihat pertarungan tahun keempat yang paling seru. Kebanyakan tahun keempat tidak menggunakan skill mereka.
Mereka semua menggunakan seni beladiri untuk bertarung satu sama lain. Oleh karena itu pertarungan tahun keempat sangat seru untuk di tonton.