
Keesokan harinya, saat pagi hari. Lein dan Octiorb sudah bangun dan mandi, mereka keluar dari kamar menuju ruang makan penginapan untuk sarapan.
Saat mereka datang, mereka melihat ada banyak pengunjung yang sudah duduk juga. Kebanyakan dari mereka adalah pasangan muda.
"Sialan, aku ingin menikmati makanan yang dibuat oleh penginapan, mengapa aku harus melihat cinta dari pasangan-pasangan ini!!" Octiorb menggertakkan gigi nya.
"Sabar, kamu tidak boleh mengusir mereka." Lein menepuk bahu Octiorb dan berkata dengan nada kasian.
"Dasar bocah!" Octiorb tambah kesal, ia memutar tubuh nya dan menendang Lein.
"Woah, santai." Lein mundur selangkah untuk menghindari tendangan Octiorb.
Lein kemudian duduk di kursi yang masih kosong disusul oleh Octiorb. Setelah menunggu beberapa saat, wanita yang kemarin datang membawa troli makanan bersama seorang pria.
"Oh, siapa nama wanita itu? Aku lupa bertanya." Ucap Lein.
"Namanya Mita, pria di samping nya adalah suaminya, Ale." Jawab Octiorb.
"Bagaimana kamu bisa tahu?" Lein bertanya-tanya bagaimana Octiorb bisa tahu padahal ia sama dengan dirinya yang selalu dikamar.
"Kekeke, tentu saja, siapa dulu!" Octiorb membusungkan dada nya dengan bangga.
"Ya sudahlah." Lein tidak peduli Octiorb tahu dari mana.
"Halo, Lein dan Octiorb kan? Sepertinya kalian benar-benar menunggu sarapan nya ya.." Mita datang ke meja Lein.
"Tentu saja nyonya." Jawab Lein dan Octiorb.
"Bagus, ini menu sarapan hari ini. Nasi ayam kuah sapi." Mita mengambil dua mangkuk dan menaruh nya di atas meja.
"Nama nya yang unik." Ucap Octiorb setelah mendengar nama makanan nya.
"Haha benar! Kuah ini dibuat dengan rempah-rempah alami yang tumbuh di area hutan di sekitar kota ini lalu direbus bersama dengan tulang sapi."
"Lalu untuk ayam nya, daging nya di rebus sebentar sampai setengah matang lalu di masukkan ke dalam kuah yang sudah dibuat."
"Nasi nya juga tidak dimasak secara biasa, beras nya direndam dengan dicampur dengan minyak asin dan gula pasir sedikit."
"Nah, sekarang, silakan dicoba." Mita selesai menjelaskan mengenai hidangan nya kemudian ia pergi ke meja pengunjung lain.
__ADS_1
"Makan?" Lein melihat Octiorb.
"Makan." Angguk Octiorb.
Mereka berdua mengambil sendok dan pertama-tama mereka mencicipi kuah nya.
"Ini sangat enak." Octiorb sedikit terkejut kalau makanan lokal kota ini sangat enak.
"Benar, rasa rempah-rempah nya sangat terasa apalagi dengan bau kaldu sapi nya." Lein mencium aroma kuah yang sangat harum.
Setelah mencicipi kuah nya, mereka mengambil daging ayam yang sudah di potong-potong dan memakannya bersama dengan nasi.
"Sepertinya mereka menggunakan ayam asli, maksud ku tidak menggunakan ayam yang diternakkan dengan makanan buahan." Ucap Octiorb setelah memakan nya.
Maksud ayam asli yang dikatakan Octiorb adalah ayam yang diberi makan dengan makanan organik dan dibebaskan di suatu lahan.
Tidak seperti ayam yang biasanya yang memakan makanan dengan campuran sesuatu dan hanya dibesarkan di kandang saja.
"Benar, entah penginapan ini yang menggunakan ayam asli sesuatu keinginan mereka atau memang resep makanan ini harus menggunakan ayam asli." Ucap Lein.
Mereka berdua lalu memakan nasi ayam kuah sapi itu dengan lahap karena makanan itu benar-benar nikmat apalagi untuk sarapan.
Pokoknya, sarapan di penginapan itu benar-benar menenangkan, pengunjung yang lain juga mengobrol namun tidak berisik.
Karena mereka juga sedang menikmati udara yang sejuk dan segar dari pohon-pohon yang ada di sekitar area penginapan ini.
...----------------...
"Halo nyonya." Lein berjalan menghampiri Mita yang langsung bekerja setelah menjalani sarapan.
"Oh, Lein. Ada apa?" Tanya Mita.
"Tidak ada masalah, hanya saja apakah aku boleh meminta resep makanan yang dihidangkan untuk sarapan tadi?" Ucap Lein.
"Tentu saja boleh, bahkan di internet juga ada resep nya. Namun, aku akan memberikan mu resep milikku yang sudah aku ubah sedikit." Ucap Mita.
"Benarkah? Kalau begitu aku sangat berterimakasih." Lein tersenyum.
"Tentu, tunggu sebentar." Mita mengambil secarik kertas di meja dan menuliskan bahan-bahan apa saja yang dibutuhkan.
__ADS_1
Mita juga menuliskan bagaimana cara mengolah nya seperti merebus dengan api sedang, jangan sampai terlalu lembek atau keras, dan yang lain nya.
"Ini dia." Mita selesai menulis dan menyerahkan nya kepada Lein yang sudah menunggu.
"Wah, terimakasih nyonya!" Lein menerima kertas itu dan berterimakasih kepada Mita dengan sangat tulus.
"Sama-sama, aku juga bahagia kalau masakan ku ini bisa membuat orang lain bahagia juga!" Mita tersenyum.
"Benar, yang paling penting dari memasak untuk seseorang adalah respon nya saat memakan makanan yang kita buat." Ucap Lein.
"Benar sekali, meskipun makanan yang kita buat sangat enak, namun jika tidak cocok di lidah orang yang akan memakan nya, maka kita juga akan sedih." Mita mengangguk-anggukkan kepala nya.
Lein dan Mita kemudian berbincang-bincang hal-hal mengenai kegiatan memasak dan masakan apa saja yang enak.
Lalu pengunjung datang ke penginapan dan mereka berdua harus mengakhiri obrolan mereka karena Mita juga bagus bekerja.
"Maaf mengganggu pekerjaan mu Mita." Lein meminta maaf.
"Tidak apa-apa, tadi juga merupakan obrolan yang asik!" Mita menggeleng-gelengkan kepala nya..
"Haha bagus kalau begitu, aku pergi dulu." Ucap Lein.
"Ya!" Balas Mita.
Lein kembali ke kamar nya di lantai dua dan mendapati kalau Octiorb sedang tidur lelap namun dengan posisi berantakan.
Lein menggunakan mana nya untuk mengangkat Octiorb dan membetulkan posisi tidur nya kemudian Lein membaringkan Octiorb di lantai.
Lein duduk di kursi lantai dan membaca dan mempelajari dengan serius apa saja bahan-bahan yang dituliskan oleh Mita tadi.
"Hm, apakah jika aku menggunakan daging monster akan sama rasa nya?" Lein menyentuh dagunya memikirkan ide yang menarik.
"Aku tidak tahu bagaimana rasa nya, namun itu pantas untuk dicoba. Aku akan membiarkan Octiorb dan Liza mencoba nya karena mereka sangat ahli menilai suatu makanan." Batin Lein.
Lein kemudian menyimak kertas resep itu ke dalam inventory nya. Lein menyalakan kipas angin di atap kamar dan berbaring di lantai.
Lalu lama-kelamaan Lein sama seperti Octiorb yaitu tertidur dengan lelap. Karena Lein jarang sekali mendapatkan waktu luang, saat ini Lein memutuskan untuk tidur sepuas-puasnya.
Karena ia juga sedang malas untuk berjalan-jalan atau bermain, ia memutuskan untuk bersantai saja dengan membaca komik atau tidur.
__ADS_1
Namun melihat Octiorb tidur, Lein jadi ingin tidur juga. Oleh karena itu Lein mengesampingkan semua pikiran yang mengganggu dan berbaring di sebelah Octiorb lalu tertidur.