
Setelah penyambutan yang meriah dari semua orang, para peserta menghela napas lega dan akhirnya mereka bisa beristirahat dengan tenang.
Karena saat mereka berada di Hutan Oxtara mereka dalam kondisi hampir selalu tegang dan waspada, bahkan harus menemukan tempat yang tersembunyi untuk beristirahat.
Karena mereka adalah manusia normal tidak seperti Lein yang abnormal yang bisa beristirahat dengan tenang tanpa mengkhawatirkan apapun.
Lein bisa dengan bebas berkeliaran di Hutan Oxtara karena kekuatan nya berada di tingkatan yang lebih tinggi dibandingkan dengan para mahasiswa.
Lein juga bisa menggunakan semua jenis elemen yang bisa membuat nya melawan segala jenis musuh yang berbeda elemen.
Sekarang, setelah ucapan sederhana dari Innas, para peserta dipersilakan untuk beristirahat di hotel yang sebelumnya.
Innas juga mengumumkan bahwa para peserta akan menghitung poin dan menentukan siapa pemenang nya besok malam.
Karena Innas tahu bahwa para peserta membutuhkan istirahat tubuh dan pikiran. Oleh karena itu Innas memberikan mereka waktu istirahat satu hari.
"Oh Lein, kita akan berpisah disini." Ucap Eira.
"Aku tahu. Mari kita bertukar nomor telepon." Ucap Lein mengeluarkan telepon nya.
"Tentu saja." Enzo dan Eira juga mengeluarkan telepon nya dan mereka saling bertukar nomor.
"Sampai jumpa!" Teriak Enzo kemudian mereka berdua pergi.
"Kerja bagus kalian semua!" Ucap Presiden Brynn senang.
"Terimakasih Pres!" Lein dan yang Lein menjawab dengan senyuman.
"Lein!" Sapa Liza.
"Liza? kapan kamu datang?" Tanya Lein.
"Hari ketiga! Sebelum sesaat siaran langsung mu mati." Jawab Liza.
"Ah saat itu." Lein menganggukkan kepalanya.
"Jadi? Kenapa siaran langsung nya mati?" Tanya Presiden Brynn mendengar percakapan mereka berdua.
"Akan aku beritahu nanti Pres... Bisakah aku istirahat dulu? Yah meskipun aku tidak membutuhkan nya..." Ucap Lein.
"Baiklah, kemana kamu akan pergi? Hotel atau penginapan sebelum nya?" Presiden Brynn mengangguk tahu ini bukanlah waktu dan tempat yang cocok.
"Penginapan sebelum nya, aku memiliki urusan disana." Jawab Lein bersiap untuk pergi.
"Baiklah." Angguk Presiden Brynn memperbolehkan.
"Tunggu! Aku ikut dengan mu!" Ucap Liza mengejar Lein dan Octiorb.
"Presiden? Kemana Lein pergi?" Tanya Enya.
__ADS_1
"Ah ke penginapan tempat Lein menginap sebelum nya." Jawab Presiden Brynn.
"Sudahlah ayo kita kembali ke hotel untuk beristirahat." Ucap Presiden Brynn pergi.
"Baik Pres." Enya dan yang Lein berjalan mengikuti Presiden Brynn.
...----------------...
"Kemana kamu akan pergi Lein?" Tanya Liza.
"Ah aku akan pergi ke sebuah penginapan. Aku akan menjelaskan nya secara detail disana." Jawab Lein.
"Baiklah." Angguk Liza.
Lein kemudian menghentikan taksi kemudian mereka bertiga memasuki taksi dan segera menuju penginapan sebelum nya.
"Halo tuan Lein." Pelayang yang sama menyambut Lein saat mereka memasuki penginapan.
"Oh halo." Balas Lein.
"Apakah sama seperti sebelumnya atau anda ingin memesan kamar tambahan?" Tanya pelayan itu karena ia melihat Liza.
"Kamar tambahan, tentu saja dilantai tiga. Ah untuk laman ini saja." Jawab Lein mengeluarkan kartu identitas dan kartu bank nya.
"Baik tuan, mohon tunggu sebentar." Pelayan itu menerima kartu identitas dan kartu bank milik Lein kemudian berjalan menuju resepsionis.
Setelah resepsionis memesankan kamar dan selesai mendata, pelayan itu menghampiri Lein dan mengembalikan kartu identitas dan kartu bank nya.
"Tentu." Angguk Lein.
Mereka bertiga mengikuti pelayan itu menuju kamar yang sama seperti yang Lein pesan sebelum nya dan kamar tambahan nya ada di sebelah nya persis.
"Kita sampai tuan." Ucap pelayan itu.
"Terimakasih, ngomong-ngomong siapa namamu? Aku tidak tahu harus memanggil mu apa." Tanya Lein.
"Ah nama saya Alannia tuan." Jawab pelayan itu yang bernama Alannia.
"Alannia? Nama yang bagus, bisakah aku memanggil mu Nia?" Ucap Lein.
"Tidak apa-apa, panggil saya sesuka hati tuan." Balas Nia tersenyum.
"Bagus, kalau begitu Nia, tolong bawakan aku ini ya." Ucap Lein menyerahkan kertas dan sebuah amplop sama seperti sebelumnya.
"Tentu saja, saya akan membawakan nya. Apakah ada yang tuan perlukan lagi?" Tanya Nia.
"Hm, bawakan saja 3 set sarapan baru ini, kami belum makan." Jawab Lein.
"Baiklah, mohon ditunggu." Ucap Nia undur diri.
__ADS_1
"Lein, untuk aoa-" Ucapan Liza terpotong.
"Aku tahu kamu akan menanyakan hal itu, tapi biarkan Octiorb yang menjawab, aku akan mandi sebentar." Ucap Lein memasuki kamar nya.
"Oct..." Liza melihat Octiorb.
"Baiklah...Ayo masuk dulu..." Balas Octiorb memasuki kamar dan Liza mengikuti nya.
"Dari mana aku akan menceritakan nya, ah sudahlah dari awal saja. Jadi begini..." Octiorb menjelaskan semua bak tentang penginapan ini kepada Liza.
"Hm jadi begitu, aku tidak menyangka. Kalau begitu apa yang Lein serahkan tadi adalah..." Ucap Liza paham dengan cerita Octiorb.
"Benar, kertas nya berisikan informasi yang Lein perlukan dan amplop itu berisi uang untuk uang muka." Jawab Octiorb mengangguk.
Lein selesai mandi dan berpakaian, kemudian mereka bertiga berbincang-bincang sebentar dan sarapan mereka datang.
"Mohon maaf tuan, 'sesuatu' yang tuan inginkan akan memerlukan sedikit waktu." Ucap Nia meminta maaf.
"Tidak apa-apa, aku juga sudah menduga nya. Karena apa yang aku mau juga termasuk sulit didapatkan." Balas Lein.
"Terimakasih atas pengertian nya tuan, kalau begitu saya undur diri." Ucap Nia kemudian ia undur diri.
"Mari kita tunda dulu apa yang ingin kita bahas. Untuk sekarang, makan!" Lein mengambil makanan nya.
Liza juga mengambil makanan nya dan makan dengan sangat lahap karena makanan yang dibuat oleh penginapan sangat lezat.
"Seperti sebelumnya ini sangat lezat..." Ucap Octiorb.
Octiorb dalam wujud roh tidak bisa menyentuh apapun kecuali Lein. Octiorb harus menggunakan mana nya untuk menyentuh suatu objek.
Namun sekarang karena Octiorb dalam wujud humanoid, Octiorb bisa bergerak layaknya manusia dan ia juga bisa menikmati makanan.
"Ini kurang, tetapi tenang saja, aku selalu menyediakan makanan di dalam inventory ku!" Ucap Liza.
Liza kemudian mengeluarkan banyak sekali makanan dan minuman entah itu makanan ringan, camilan, makanan pokok, dan yang lainnya.
"Haha! Kerja bagus Liza!" Octiorb juga senang.
"... Sepertinya Octiorb juga tertular nafsu makan Liza ya..." Pikir Lein melihat roh dan elf di depan nya yang makan dengan rakus.
"Namun... sial nya aku juga tertular!" Lein kemudian bergabung dengan mereka
Setelah setengah jam mereka menghabiskan semua makanan dan minuman nya, mereka beristirahat sejenak sambil mencoba mencerna.
Kemudian mereka memberikan sampah-sampah dan menaruh nya di kantung plastik khusus sampah dan menaruh nya di dekat pintu agar bisa dibuang nanti.
"Bagus, sebelum informasi nya datang, aku akan menceritakan sesuatu kepada mu Liza." Ucap Lein dengan nada serius.
"Apa itu?" Liza jadi penasaran karena Lein jarang sekali membicarakan sesuatu dengan serius.
__ADS_1
"Ini mengenai Frederic dan Althea. Keduanya adalah nama ayah dan ibu ku." Jawab Lein.
"!!" Liza sedikit terkejut.