Analysis Eye

Analysis Eye
Menyewa Speedboat Mewah


__ADS_3

Pagi harinya, Liza bangun dan mendapati dirinya sedang dipeluk dengan sangat erat oleh Bianca seperti gurita.


Liza membebaskan diri dari pelukan Bianca dan berjalan menuju kamar mandi untuk membasuh muka dan menggosok gigi.


Liza pergi ke dapur untuk membuat sarapan untuk dirinya dan yang lain karena ia tiba-tiba ingin membuat sarapan setelah melihat video tadi malam.


Liza mengeluarkan beras dari inventory nya dan memasukan nya ke dalam wadah yang kemudian ia rendam dengan air.


Liza mengambil wadah lain dan mengeluarkan beberapa telur. Kemudian ia memecahkan semua telur nya dan memasukan nya ke dalam wadah.


Liza mengaduk nya dengan kencang sampai semua telur tercampur dengan rata. Ia membuka kulkas dan mengambil daging kepiting yang sudah mereka beli kemarin.


Daging kepiting Liza potong-potong menjadi ukuran kecil. Lalu ia memasukan daging kepiting yang sudah dipotong ke dalam wadah yang berisi telur.


Garam dan lada Liza masukkan kedalam wadah telur dan ia mengaduk nya lagi agar telur, kepiting, dan garam bercampur rata.


Liza membuang air rendaman beras ke wastafel dan memasukan sekitar dua gelas air hangat ke dalam wadah beras.


Kemudian ia memasak beras agar menjadi nasi di atas kompor dengan api kecil sekitar 10 menit.


"Oh sudah bangun? Cuci muka dan tolong bangunkan yang lain, sebentar lagi sarapan nya siap." Liza melihat Lein keluar dari kamar nya.


"Ya..." Lein menguap dan berjalan menuju kamar mandi untuk membasuh muka dan menggosok gigi.


Kemudian Lein berjalan menuju kamar Octiorb dan membangunkan Octiorb yang sepertinya sedang bermimpi indah.


"Hey, bangun." Lein menggoyang-goyangkan tubuh Octiorb namun tidak berhasil.


"Hehe.." Lein menyeringai kepikiran suatu ide.


Lein melompat dan jatuh di kasur sebelah Octiorb dengan keras sampai memantulkan Octiorb dan membuat nya jatuh ke lantai.


"Hahaha!! Rasakan itu!" Lein tertawa terbahak-bahak.


"Sialan kamu bocah!!" Octiorb mengelus-elus pinggang nya yang sakit karena terjatuh.


"Bangunlah, Liza sedang menyiapkan sarapan..." Lein keluar dari kamar dan menuju ke kamar Bianca.


"Ya.." Octiorb berjalan menuju ruang makan.


"Bianca, bangun..." Lein menepuk-nepuk tangan Bianca.


"Hm?" Bianca membuka mata nya.


"Sudah pagi, bangunlah, Liza sedang menyiapkan sarapan.." Ucap Lein.


"Eh, sebentar lagi..." Bianca mengubah posisi tidur nya.

__ADS_1


"...Bangunlah." Lein menarik paksa selimut nya.


"Tidak.." Bianca memegang selimut dengan erat.


Lein menyipitkan matanya, ia membungkus tubuh Bianca dengan selimut dan mengangkat nya kemudian ia bawa Bianca menuju ruang keluarga.


 


Nasi sudah matang, Liza mengambil nasi dan menaruh nya di empat piring untuk mereka makan.


Kemudian Liza mengambil wajan datar dan menggoreng telur. Liza mengaduk-aduk telur di wajan dan memasak nya setengah matang.


Liza mengangkat wajan dan menaruh telur setengah matang itu ke atas nasi. Lalu Liza kembali menggoreng telur lagi.


"Oct! Bantu aku menaruh nya di meja makan..." Ucap Liza.


"Ya!!" Octiorb membantu Liza.


"Eh?" Saat Liza menaruh piring di meja makan, ia melihat Lein sedang membawa selimut.


"Untuk apa kamu membawa selimut dari kamar ku? Apakah selimut nya kotor? Dan dimana Bianca?" Liza bertanya tiga pertanyaan berturut-turut.


"Ini." Lein melempar Bianca ke sofa.


"...Bianca, kamu seperti biasa ya.. Sulit untuk bangun pagi..." Ucap Liza yang tidak bereaksi banyak.


"Aduh.." Bianca mengelus-elus kepala nya.


"Baiklah..." Bianca menurut.


Saat Bianca berjalan melewati Lein, ia memukul punggung Lein dengan keras lalu kabur ke kamar mandi.


"Aduh! Dasar!" Teriak Lein.


Setelah itu mereka berempat sarapan bersama dan menikmati makanan yang sangat lezat yang dibuat oleh Liza.


"Kemana kita akan pergi hari ini?" Tanya Octiorb kepada Lein yang sedang berbaring malas.


"Pergi ke laut dengan kapal yang akan kita sewa nanti. Lalu kita akan berenang dan menyelam di sana." Jawab Lein dengan nada malas.


"Kalau begitu ayo pergi dasar bocah! Jika kita pergi saat siang, maka akan sangat panas!" Octiorb memegang kerah pakaian Lein dan membuat nya berdiri.


"Eh, benar juga." Lein tersadar.


"Baik. Semuanya siapkan barang-barang kalian! Kita akan pergi menuju pelabuhan untuk pergi ke laut!" Teriak Lein dengan semangat berbeda dengan suasana malas satu detik sebelumnya.


"Oh!!!" Mereka bertiga juga bersorak.

__ADS_1


Lalu dengan cepat mereka mengemas barang mereka ke dalam tas kecil biasa karena mereka akan berwisata dan tidak perlu membawa banyak barang.


Jika ada barang lebih bisa disimpan di dalam inventory agar tidak memberatkan tas dan juga agar tidak sulit untuk memegang tas nya.


Lalu mereka turun dari hotel dan menggunakan mobil hotel untuk pergi ke tempat wisata nya.


Karena Lein memesan kamar yang paling mahal tentu saja sesuatu seperti mobil akan disediakan oleh hotel secara gratis.


Kecuali jika Lein memang memesan kamar yang biasa saja, ia harus membayar sejumlah uang untuk menggunakan mobil hotel.


Setelah beberapa menit mengemudi, mereka sudah sampai di tempat wisata nya. Tidak ada gedung tinggi disini, paling tinggi hanya sekitar 3 lantai.


Itu karena untuk menjaga pemandangan laut dan agar angin laut berhembus ke kota yang membuat udara menjadi sejuk.


"Tempat ini tidak memiliki nama resmi, namun orang-orang menyebut nya Laut Osimir." Ucap Lein saat mobil sudah diparkir.


Tempat wisata ini gratis tanpa biaya apapun, hanya saja pengunjung harus membayar jika ingin menggunakan kapal atau perahu.


Lein segera mencari perahu yang bagus untuk pergi ke laut. Ia menemukan ada seorang kakek tua yang sedang duduk termenung.


"Hm? Kakek, mengapa anda duduk dengan sedih?" Tanya Lein.


"Oh anak muda. Tidak apa, hanya saja perahu kakek tidak ada yang menyewa nya." Jawab kakek itu.


"Oh kakek menyewakan perahu? Bisakah anda menunjukkan nya kepada ku? Kebetulan aku sedang membutuhkan perahu untuk pergi ke laut." Ucap Lein.


"Oh tentu saja bisa." Kakek itu segera berdiri dan berjalan diikuti oleh Lein.



"Oh tentu saja tidak ada yang menyewa nya, ini adalah speedboat mewah dan tentu nya akan merogoh banyak uang untuk menyewa nya." Batin Lein setelah melihat perahu motor milik kakek itu.


"Bagaimana?" Ucap kakek itu dengan nada berharap.


"Hm, bisakah aku tahu harganya terlebih dahulu?" Lein bertanya tentang harga untuk menyewa nya.


"20.000 FEZ per jam." Jawab kakek itu dengan jujur.


"20.000? Ini harga yang terbilang murah untuk speedboat mewah. Sekarang jam 9 pagi, mungkin aku akan menyewa nya selama 6 jam?" Pikir Lein.


"Baiklah, aku akan menyewa nya selama 6 jam. Bisakah anda menurunkan harganya menjadi 100.000 FEZ?" Lein tersenyum kecil.


"100.000? Um, jika kamu langsung membayar nya maka itu tidak apa-apa." Angguk kakek tua itu.


"100.000 juga sudah lumayan, sudah dah berhari-hari tidak ada yang menyewa speedboat milik ku." Batin kakek tua itu.


"Tentu saja." Balas Lein.

__ADS_1


Lein segera mentransfer uang ke rekening kakek tua itu sesuai dengan pembayaran dan kakek tua itu menyerahkan kunci speedboat nya.


Lein menaiki speedboat dan menyalakan nya. Kemudian ia mengemudikan nya menuju ke tempat Bianca dan yang lainnya berada.


__ADS_2