Analysis Eye

Analysis Eye
Kompetisi Bertarung (4)


__ADS_3

Arena 3.


Lein berdiri dengan menaruh kedua tangan nya di saku celana nya. Lein bersikap sangat santai seolah-olah ia tidak peduli dengan pertarungan.


Lawan-lawannya ternyata tahun kedua semua, mereka menatap Lein dengan kesal karena Lein tidak menganggap serius pertarungan ini.


"Mulai!" Wasit memulai pertarungan.


"Oh! Orang itu lagi! Semuanya, lihat ke arena 3!" Erwin berteriak dengan semangat.


"Woah, apakah mereka akan bekerja sama untuk menghadapi tahun pertama!?" Sabina terkejut.


Para penonton segera melihat ke arah arena 3 dimana para tahun kedua bekerja sama menyerang Lein, tahun pertama.


"Hm?" Lein mengangkat alis nya.


"Yah terserah lah." Lein mengangkat bahu nya.


Kemudian Lein menggunakan teknik yang sama saat ia melawan Jayme dan Jayma. Lein mengangkat satu tangan nya untuk mengeluarkan mana.


"Dorong." Ucap Lein.


Tiba-tiba saja, mahasiswa tahun kedua yang melawan Lein merasa tubuh mereka terdorong oleh sesuatu yang tak kasat mata.


"Tarik." Ucap Lein.


Kemudian lawan-lawan Lein merasa tubuh mereka ditarik oleh sesuatu. Lein mengeluarkan beberapa pisau dan menggunakan mana untuk membuat semua pisau melayang.


Lawan lawan Lein merinding saat mereka melihat pisau ada didepan mereka. Mereka mengeluarkan keringat dingin karena pisau itu.


Mereka melakukan segala cara untuk membebaskan diri dari tarikan yang menarik mereka, namun usaha mereka sia-sia.


"Ahh!!" Mereka semua berteriak ketakutan saat mereka semakin dekat dengan pisau.


Wajah Lein tetap datar dan tenang, ia tidak mengubah wajahnya bahkan jika tindakan nya bisa saja membunuh lawan lawan nya.


"Berhenti!!" Wasit menyuruh Lein untuk menghentikan teknik aneh nya.


Lein tentu saja tidak melawan perkataan wasit, ia lalu menghentikan tindakan nya. Kemudian lawan-lawan Lein jatuh dan Lein menyimpan kembali pisau nya.


Lein kembali memasukan tangan nya ke dalam saku celana nya. Lein melihat lawan-lawan yang jatuh di tanah dengan mata tenang.


Namun mereka menganggap tindakan Lein seperti merendahkan mereka. Mereka tidak terima lalu mereka kembali menyerang Lein.


"Kalah ya kalah!" Lein mengangkat tangan nya lalu menurunkan tangan nya.


Lein menggunakan mana untuk menekan mereka, mereka lalu jatuh dan berlutut. Mereka merasa seolah-olah sedang membawa sesuatu yang sangat berat.


Mereka tidak bisa menahan tekanan nya dan pada akhirnya mereka pingsan. Mereka kalah melawan tahun pertama bahkan kekalahan mereka sangat memalukan.


"Ah, maaf." Lein meminta maaf namun wajah nya tidak merasa bersalah sama sekali.


"A-ah, tidak apa-apa." Wasit memaafkannya.

__ADS_1


...----------------...


"Mental mereka lemah." Lein kembali duduk di posisi awal.


"Yah, kebanyakan manusia memang seperti itu." Ucap Enya.


"Huh... Mereka membanggakan kekuatan nya didepan orang lemah dan menjadi pengecut didepan orang yang lebih kuat." Lein menghela napas.


"Mengapa ucapan mu selalu seperti orang dewasa?" Enya menoleh dan bertanya.


"Haha, hanya tubuh ku yang belum dewasa." Lein tertawa.


"..." Enya bisa melihat ada sebuah cerita saat ia melihat mata Lein. Namun Enya tetap diam dan tidak mencampuri urusan Lein.


...----------------...


"Apakah itu ada hubungan nya dengan kontrol mana?" Presiden Brynn bertanya kepada Liza setelah ia melihat pertarungan Lein.


"Ya, ada." Liza mengangguk lalu kembali memakan apel.


...----------------...


"Giliran ku." Enya bangkit dan akan pergi namun Lein memegang tangan nya.


"...Apa ada sesuatu?" Enya melihat Lein.


"Jangan 'memakai' api, tapi 'pinjam'. Karena api mu itu berasal dari sesuatu yang ada di dalam dirimu, dan itu memiliki kesadaran." Lein memberikan saran.


"Baiklah, aku mempercayai mu kali ini." Enya mengangguk dan menerima saran Lein.


"Aku tidak memerlukan keberuntungan untuk menang." Enya menghilang setelah mengucapkan beberapa kata.


Lein hanya menggeleng-gelengkan kepala nya.


...----------------...


Lalu Enya datang di arena 3, arena yang sama dengan Lein tadi.


"Meminjam ya... Akan aku coba." Enya berusaha berkomunikasi dengan sesuatu yang ada didalam dirinya.


Setelah mencoba, Enya mendapatkan jawaban dari 'sesuatu' itu. Bersamaan dengan itu, wasit memulai pertarungan.


"Ini..." Enya tidak percaya api nya akan menjadi lebih kuat.


Enya merasa ia bisa mengendalikan api nya dengan bebas, tidak seperti sebelumnya. Sebelumnya, Enya hanya menggunakan api nya menggunakan perintah.


Namun sekarang, api ini seperti memiliki kesadaran, saat Enya berpikir sesuatu api itu akan bergerak sesuai pikiran Enya.


"Aku harus berterima kasih kepada Lein." Enya tersenyum.


"Mengapa kamu tersenyum, Enya!" Seorang pria menggunakan pedang nya untuk menebas Enya.


"Entahlah." Enya membuat tinju api dan meninju pria itu.

__ADS_1


"Ugh!" Pria itu merasa sakit sekaligus panas, lalu ia terlempar ke luar arena.


"Baiklah, aku harus mencoba sesuatu." Enya mencoba memikirkan sesuatu yang bagus.


"Ah!" Enya kepikiran sesuatu yang menarik.


"Fire Ball : Helios." Enya mengangkat kedua tangan nya.


Lalu seketika banyak elemen api berkumpul di atas tangan Enya. Elemen api itu membentuk sebuah bola yang sangat besar.


Semua orang bahkan penonton bisa merasakan panas dari bola api tersebut. Mereka merasa seolah-olah apa yang ada didepan nya adalah tiruan dari matahari.


Benar, Enya membuat teknik dengan meniru matahari. Karena matahari memiliki api yang paling panas didunia, para ilmuwan juga belum menemukan apa yang lebih panas dari api matahari.


Meskipun panas nya tidak mencapai panas api matahari, tetap saja matahari tiruan yang Enya buat sangat berbahaya.


"Perempuan gila!" Lawan-lawan Enya berpikir seperti itu.


Bahkan para penonton sangat terkejut dengan kekuatan Enya. Mereka tidak menyangka bahwa mahasiswa tahun ketiga akan sungguh mengerikan.


Mereka tidak bisa berpikir Enya akan menjadi 'monster' macam apa di masa depan saat ia sudah dewasa.


...----------------...


Ruangan Guru Linda.


"Bagaimana bisa dia memiliki kekuatan seperti itu!?" Linda berdiri karena terkejut dengan kekuatan yang dikeluarkan oleh Enya.


"Apapun itu, aku senang dia bertambah kuat." Linda kembali duduk.


"Selain itu, aku juga senang melihat Enya bahagia. Sangat jarang bagi Enya untuk menunjukkan emosi nya." Linda tersenyum tulus.


...----------------...


"Perasaan ini... sungguh berbeda!" Enya merasa bahagia dengan kekuatan nya sekarang.


Sebelum nya Enya jarang menunjukkan emosi nya dan selalu menutup diri. Enya sendiri tidak tahu mengapa ia kurang tertarik dengan hubungan sosial.


Namun sekarang setelah mengikuti saran yang Lein berikan, Enya merasa semua emosi yang telah lama ia pendam keluar.


Enya sekarang seperti sedang merasakan kebebasan, seperti burung yang bisa terbang setelah jatuh dan gagal berkali-kali.


...----------------...


"Mahasiswa Enya!! Hentikan teknik yang kamu gunakan!" Wasit berteriak menyuruh Enya berhenti.


"Ah!" Enya tersadar, lalu ia menarik kembali elemen api nya.


"Maafkan aku wasit." Enya meminta maaf namun ia merasa tidak bersalah.


"Hah..." Wasit menghela napas.


"Tidak apa-apa, kamu juga tidak salah, hanya saja kamu terlalu berlebihan." Wasit menasihati Enya.

__ADS_1


"Terimakasih wasit." Enya tersenyum.


Kemudian wasit mengumumkan pemenang dari arena 3 dengan sorak-sorai penonton yang kagum dengan kekuatan Enya.


__ADS_2