Analysis Eye

Analysis Eye
Makan Malam dan Linda yang Bergerak


__ADS_3

"Barbeque?" Brynn memiringkan kepala nya.


"Ya. Kita akan membuat barbeque untuk makan malam kita." Lein mengangguk.


Ia mengeluarkan cutter dari inventory nya yang seperti toko serba ada dan membuka isolasi kardus-kardus yang ada di tanah.


Kemudian ia memberitakan semua isi nya yang merupakan bumbu-bumbu membuat barbeque mulai dari bawang, garam, saus, dan yang lain.


"Kalian semua datanglah ke dapur terbuka di halaman, kita akan membuat barbeque untuk makan malam." Lein menyebarkan suaranya dengan mana.


Mereka yang mendengar suara Lein segera keluar dari kamar bahkan Liza langsung terbangun setelah mendengar kata barbeque.


"Wah, sudah lama aku tidak makan barbeque." Liza mengusap air liur nya.


"Uh, para wanita tolong potong daging-daging ini sesuai dengan ukuran yang tepat." Lein mengeluarkan banyak sekali daging sapi kualitas terbaik.


"Baik!" Para wanita segera mengambil celemek dan memakai nya.


Kemudian mereka mengambil talenan dan pisau lalu memotong-motong daging sapi itu dengan ukuran yang bisa dimakan dengan sekali lahap.


"Lalu para pria tolong buat bumbu-bumbu nya." Lein menunjuk bumbu-bumbu yang baru ia keluarkan.


Octiorb mengambil bawang putih dan bawang bombay kemudian ia memotong-motong nya menjadi kecil dan menghaluskan nya dengan alat.


Jonas mengambil kecap dan cabai lalu ia mencampurkan nya sesuai takaran untuk membuat saus barbeque yang lezat.


Sedangkan John ia menghaluskan bumbu-bumbu lainnya dan memotong-motong selada menjadi ukuran yang tepat untuk dimakan.


"Pres, bantu aku menyiapkan panggangan nya." Ucap Lein.


"Tentu." Brynn mengangguk karena ia juga bingung tidak tahu harus melakukan apa.


Lein mengeluarkan arang yang sudah ia beli dan menaruh nya di tempat pemanggangan lalu ia meratakan nya dengan sarung tangan.


Setelah itu Lein menggunakan elemen api untuk membakar arang-arang itu dan dibantu dengan Brynn yang mengendalikan api nya agar tidak terlalu besar.


"Lein! Daging sapi nya sudah kami potong!" Liza menaruh daging sapi terakhir ke dalam wadah besar.


"Bagus! Tolong masukan bumbu-bumbu nya ke dalam wadah dan aduk hingga meresap ke dalam daging sapi nya!" Teriak Lein.


"Baik!" Liza membalas.


Octiorb memasukan semua bawang putih dan bawang bombay yang sudah ia haluskan dengan alat ke dalam wadah.


Jonas juga memasukan saus yang sudah ia buat ke dalam wadah lalu ia menggunakan sarung tangan plastik untuk mengaduk nya.

__ADS_1


Karena menggunakan sendok akan sulit karena daging sapi nya sangat banyak dan akan berat untuk mengaduknya dengan sendok.


"Apinya sudah siap." Ucap Brynn.


"Bagus." Lein mengambil wadah yang berisi daging sapi yang sudah siap untuk dimasak.


Kemudian ia menggunakan capitan untuk mengambil potongan daging satu per satu dan menaruh nya di atas panggangan.


Daging yang sedang dipanggang mengeluarkan aroma yang sangat harum yang membuat mereka semua menjadi lapar.


"Ah, tolong ambilkan bir dan minuman lainnya di kulkas." Lein ingat kalau ia belum menyiapkan minuman.


"Ya. Jonas, John, ayo pergi." Octiorb mengangguk dan masuk ke dalam vila diikuti oleh Jonas dan John.


Selang beberapa waktu, mereka membawa banyak sekali bir kalengan dan minuman bersoda dingin lainnya yang terlihat menyegarkan.


Mereka semua bergantian untuk memanggang daging sapi nya karena mereka juga tidak memiliki kegiatan lain yang Lein dilakukan.


Setelah hampir satu jam menunggu karena daging nya yang sangat banyak, semua daging sapi nya telah dipanggang dan sudah siap untuk dimakan.


"Tenang saja, Presiden Brynn menggunakan sesuatu agar suhu daging yang dipanggang di awal tidak hilang dan masih tetap panas." Lein menaruh piring terakhir.


"Benarkah!? Kalau begitu ini bagus! Aku sedikit sedih karena tahu kalau daging yang dipanggang di awal akan menjadi dingin." Ucap Liza yang terlihat bersemangat.


Mereka semua duduk di kursi masing-masing dan mulai memakan daging sapi panggang nya ditemani oleh bir dan minuman bersoda lain nya.


"Ah! Ini sangat enak!" Lein merasakan kalau tenggorokan nya dingin setelah meminum bir.


"Brynn! Apakah kamu menggunakan sesuatu itu agar selada nya tetap segar!?" Liza memakan daging sapi panggang yang diselimuti dengan selada.


"Ya. Bagaimana? Itu enak bukan?" Brynn tersenyum dibalik topeng nya.


Topeng Brynn juga sangat ajaib, makanan atau minuman nya bisa menembus topeng di bagian mulut nya jadi ia tidak perlu melepaskan topeng nya untuk makan atau minum.


"Ini sangat enak!" Liza sangat gembira.


"Semuanya! Lihatlah ke langit." Lein mendongak ke atas.


Yang lain nya juga mengikuti ucapan Lein dan melihat kalau ada banyak sekali bintang-bintang yang bersinar terang di langit yang gelap.


"Bagaimana mungkin? Padahal disini banyak gedung pencakar langit." Ucap Octiorb dengan nada tidak percaya dan yang lain juga mengangguk.


"Karena tidak ada polusi udara. Meskipun banyak gedung pencakar langit, hampir tidak ada energi kotor yang dihasilkan."


"Karena hampir semua teknologi memiliki energi dari listrik yang ramah lingkungan." Lein menjelaskan nya kepada mereka.

__ADS_1


"Jadi begitu." Mereka mengangguk.


Memang benar, biasanya bintang jarang terlihat di kota-kota besar karena banyak polusi yang menutupi langit menjadi gelap dan samar.


Oleh karena itu biasanya bintang-bintang akan terlihat di wilayah pedesaan atau alam yang tidak tersentuh oleh polusi udara.


Setelah menikmati makan malam nya, mereka semua membereskan peralatan makan dan mencuci nya lalu membersihkan meja.


Semuanya sudah selesai dan mereka kembali ke kamar masing-masing karena mereka kekenyangan yang membuat mereka mengantuk.


"Lein, bisakah kita berbicara?" Linda berbisik kepada Lein karena takut didengar oleh yang lain nya.


"Hm? Tentu saja." Lein kemudian duduk di kursi sebelah kolam renang.


Linda yang melihat Lein menepuk-nepuk tempat di sebelah nya langsung duduk di sebelah Lein dan menatap langit yang dipenuhi dengan bintang-bintang.


"Apakah kamu masing ingat kalau kita pernah tidur satu kasur?" Linda berbicara tentang Lein yang menginap di rumah keluarganya


"Tentu saja, bagaimana bisa aku melupakan momen berharga itu." Lein tertawa kecil.


"...Karena momen itu, aku rasa... tumbuh sesuatu di dalam hati ku..." Ucap Linda dengan nada pelan.


"...Linda." Lein menoleh ke arah Linda.


"Ya?" Linda menoleh juga dan mereka berdua saling bertatapan.


"Maafkan aku. Aku... sudah memiliki dua wanita." Lein langsung berbicara ke inti nya karena ia tahu apa yang dimaksud Linda.


"Dua? Aku kira kamu dengan Liza." Linda memiringkan kepala nya dan nampak tidak terlalu terkejut.


"...Dan mengapa kamu tidak terkejut." Lein tidak mengira kalau Linda tidak bereaksi banyak.


"Karena aku sudah tahu. Kamu yang sangat kuat dan terkenal tidak akan mungkin hanya dengan satu wanita saja." Linda kembali menatap langit.


"...Lalu, bagaimana keputusan mu?" Lein juga menatap langit.


"Tentu saja aku tidak apa-apa. Namun aku penasaran dengan wanita yang satunya." Linda sedikit penasaran.


"...Itu masih rahasia. Yah, mereka berdua juga sepertinya tidak keberatan dengan ini." Lein memutuskan untuk tidak memberitahu kalau wanita satunya adalah Brynn saat ini.


"Kalau begitu... bawa aku." Linda menyentuh wajah Lein dan menatap nya dengan tatapan penuh kasih.


"..." Lein menatap Linda kemudian ia mencium bibir nya.


Lalu, Lein dan Linda menghilang dari tempat mereka dan terdengar suara aneh dari kamar Lein yang tadinya kosong dan sunyi.

__ADS_1


__ADS_2