Analysis Eye

Analysis Eye
Masalah Tidak Terduga yang Mengganggu


__ADS_3

"Kalau begitu nyonya, mari kita membahas mengenai kerja sama yang sudah kita bahas sedikit sebelum nya..." Ucap Bovug.


"Ya.." Angguk Abelia.


Setelah mereka berdua makan siang, Bovug memanggil pelayan untuk membawa minuman yang menyegarkan dan juga untuk membereskan peralatan makan mereka.


Setelah minuman yang Bovug pesan sudah datang, mereka berdua mulai membahas mengenai kerja sama yang akan mereka lakukan.


"Nyonya, kita berdua yakin bahwa kita pasti akan bekerja sama karena kita memang saling membutuhkan."


"Jadi tanpa basa-basi, mari kita tentukan bagaimana kerja sama kita akan seimbang dan tidak merugikan salah satu pihak." Ucap Bovug.


"Ya, aku tahu." Abelia mengangguk setuju.


Ternyata Negara Filaria juga membutuhkan Kayu Pohon Oxtara dari Hutan Kuno Oxtara yang berada di Kota Laville.


Kayu Pohon Oxtara memang tidak bisa digunakan secara sembarangan karena itu merupakan kayu yang sudah ada dari zaman kuno.


Namun jika ini untuk kepentingan Kota Laville dan bisa menguntungkan atau menyejahterakan rakyat nya, maka tidak apa-apa.


Tentu saja asalkan pihak Kota Laville tidak menebang sembarangan dan melakukan sistem tebang pilih lalu melakukan reboisasi.


Jika hanya berpikir untuk keuntungan dan terus menebang tanpa reboisasi maka Hutan Oxtara lama kelamaan akan rusak.


Namun, saat Bovug akan mengatakan sesuatu, terdengarlah suara ledakan yang sangat keras dari luar restoran.


*BOOM!!!


"!!" Bovug dan yang lain terkejut dengan suara keras tersebut yang sampai membuat tanah dan gedung bergetar.


"Ada apa!?" Teriak Bovug.


"Tuan! Ada masalah!" Pengawal Bovug menerima laporan lewat ponsel nya barusan.


"Katakan ada apa!?" Bovug khawatir akan terjadi sesuatu.


"Tuan Unim berulah lagi!" Jawab pengawal Bovug dengan nada panik.


"Apa!? Dia lagi!?" Bovug memegangi kepala nya.


" 'lagi'? Apakah orang yang anda sebut Unim itu selalu berulah?" Abelia mengerutkan kening nya.


"Ah itu, biar aku jelaskan secara singkat." Bovug menghembuskan napas nya.


"Ya." Angguk Abelia.


"Unim Warbuster, adalah seorang dwarf yang terobsesi dengan cerita masa lalu, ia melihat dunia masih sama seperti zaman dulu."


"Karena ia memiliki hubungan dengan Presiden Filaria, ia menganggap dirinya adalah seorang bangsawan yang berhak berbuat semau nya."


"Oleh karena itu dia selalu berbuat ulah dimana-mana. Ia selalu marah-marah dan terkadang ia merusak barang milik orang lain."


"Presiden selalu menegurnya namun tidak pernah mengambil tindakan karena Tuan Unim selalu membayar kompensasi."

__ADS_1


"Dan juga karena Tuan Unim memang tidak pernah melukai atau bahkan membunuh warga sipil."


Bovug menjelaskan siapa yang bernama Unim itu dan mengapa ia membuat ulah.


"Aku tahu kalau aku tidak berhak untuk ikut campur, tapi bukankah jika Tuan Unim ini tidak ditindaklanjuti akan menganggu kerja sama kita?" Abelia menyipitkan matanya.


"...Benar." Bahkan Bovug juga sepemikiran dengan Abelia.


"Kalau begitu apakah tidak ada cara untuk menindaklanjuti Tuan Unim ini?" Tanya Abelia.


"Mungkin ada, tapi tidak ada yang berani karena dia merupakan saudara jauh Presiden Filaria." Ucap Bovug dengan nada pahit.


"Lein." Panggil Abelia.


"Ya, nyonya." Lein maju.


"Apakah kamu ada cara untuk mengatasi masalah ini?" Tanya Abelia dengan nada tenang.


"Jawab, ada satu hal yang ada di pikiran ku nyonya." Jawab Lein.


"Katakan." Ucap Abelia.


"Saat Tuan Unim sedang berulah, suruh semua orang untuk merekam nya dengan ponsel mereka atau dengan alat lain nya."


"Setelah itu sebarkan berita ini, dan petugas berwenang akan menangani masalah ini sampai selesai." Lein mengatakan pikiran nya.


"Hm, ide bagus. Bagaimana dengan ide pengawal ku, Tuan Bovug?" Abelia meminta pendapat Bovug.


"Apakah kamu sudah memikirkan hal itu?" Abelia bertanya kepada Lein.


"Sebenarnya, masyarakat akan merasa senang karena pemerintah akhirnya bisa menangani masalah Tuan Unim ini."


"Justru masyarakat mungkin akan membenci pemerintah jika masalah Tuan Unim dibiarkan dan Tuan Unim bisa berbuat ulah dengan bebas."


"Dan jika Tuan Unim masih membuat ulah maka masyarakat akan mempertanyakan kredibilitas pemerintah."


"Bisa dikatakan ide ku itu hanya sebagai pemicu saja. Pada akhirnya semuanya tergantung bagaimana cara pemerintah menangani masalah ini."


Lein sudah memikirkan pro dan kontra nya mengenai ide yang ia ajukan untuk menangani masalah Tuan Unim.


"Menurut ku ini ide yang sempurna, semua nya sudah Lein pikirkan. Namun keputusan ada di tangan anda Tuan Bovug." Ucap Abelia.


"Aku setuju dan Presiden juga mungkin akan setuju dengan ide pengawal anda." Bovug mengangguk.


"Tapi seperti yang sudah aku bilang tadi, tidak ada yang berani berurusan dengan Tuan Unim." Lanjut Bovug.


"Itu mudah. Biarkan kedua pengawal ku yang melakukan nya." Ucap Abelia.


"Kedua pengawal anda? Apakah anda yakin?" Bovug bertanya untuk memastikan ucapan Abelia.


"Lein, Octiorb, apakah kalian berdua bisa melakukan nya?" Tanya Abelia.


"Kami yakin, nyonya." Lein dan Octiorb menjawab.

__ADS_1


"Bagus, aku tidak akan menyuruh menyelesaikan nya secara cepat, tapi efisien." Ucap Abelia.


"Kami terima perintah anda." Lein dan Octiorb menerima perintah dari Abelia.


"Sekarang, pergilah." Abelia melambaikan tangan nya.


"Ya!" Lein dan Octiorb menghilang.


"Tapi sepertinya kita tidak bisa melanjutkan pembicaraan kita ya. Kalau begitu mari kita lihat saja kedua pengawal ku menangani masalah ini." Ucap Abelia.


"Baiklah..." Bovug juga tidak bisa melakukan apapun.


Mereka berdua kemudian pindah dan duduk di kursi yang dekat dengan jendela sambil melihat ke arah lokasi Unim yang sedang berbuat ulah.


"Semoga ide yang pengawal itu katakan bisa menyelesaikan masalah ini." Pikir Bovug.


...----------------...


Di gang


Lein dan Octiorb saat ini sudah mengganti pakaian mereka. Mereka mengenakan pakaian yang biasa seperti warga normal.


Namun mereka menggunakan rambut palsu. Tidak hanya itu mereka juga mengenakan masker dan kacamata agar orang-orang tidak mengenali mereka.


Seperti yang sudah diucapkan oleh Abelia. Lein dan Octiorb juga ingin menyelesaikan masalah ini dengan efisien tanpa menimbulkan masalah baru.


"Bagaimana perasaan mu menjadi pengawal Nyonya Abelia?" Tanya Lein kepada Octiorb.


"Hm, bagaimana mengatakan nya. Aku merasa sedikit senang, karena ini juga merupakan pengalaman baru." Jawab Octiorb.


"Bagaimana dengan mu bocah?" Octiorb balik bertanya kepada Lein.


"Sama, aku juga senang. Selain pengalaman baru, kita juga bisa pergi ke Benua Dwarf dan tahu bagaimana kehidupan disini." Jawab Lein.


"Benar, kita selama ini hanya mengenal Tuan Thogal." Angguk Octiorb.


"Ya, sekarang aku penasaran bagaimana keadaan nya." Ucap Lein.


...----------------...


*Hachoo!!


"Ah, siapa yang membicarakan ku?" Thogal melihat ke sekeliling.


"Ah sudahlah." Thogal kembali mengambil palu nya dan terus menempa sesuatu melanjutkan pekerjaan nya.


...----------------...


"Baiklah, sudah cukup bicara nya." Ucap Octiorb.


"Ya, ayo kita segera selesai ini dengan efisien." Angguk Lein.


Mereka berdua saling melihat dan mengangguk satu sama lain. Kemudian mereka keluar dari gang dan berjalan menuju Unim.

__ADS_1


__ADS_2