Analysis Eye

Analysis Eye
Kembali ke Universitas Dragon Heart


__ADS_3

Keesokan harinya, pagi hari.


Saat ini Lein, Liza dan Jonas sedang berada di Mamise Forest Kota Els. Mereka disini karena mereka akan kembali ke ibukota.


"Lein, mengapa kesini?" Tanya Liza bingung.


"Benar bos. Bukankah seharusnya kita pergi ke portal?" Jonas menggaruk-garuk kepalanya.


"Kalian... apakah pernah merasakan terbang diatas punggung naga?" Tanya Lein tiba-tiba.


"Hah?" Liza dan Jonas terkejut dengan pertanyaan yang Lein ajukan kepada mereka.


"Tunggu dulu... Maksudmu..." Liza tidak perlu menyelesaikan ucapan nya.


"Benar." Lein tersenyum dan mengangguk.


"Isolda...." Lein menyuruh Isolda untuk merubah wujudnya menjadi naga.


"Isolda saat ini sudah bisa mengubah wujudnya menjadi besar. Oleh karena itu kita akan pergi ke ibukota dengan cara terbang!" Ucap Lein gembira.


"Benar!" Isolda juga berteriak.


Isolda kemudian mengubah ukuran wujudnya menjadi sedikit lebih besar hingga bisa dinaiki oleh tiga orang dewasa.


Karena jika Isolda mengubah ukuran nya sampai maksimal maka orang-orang akan menyadari keberadaan Isolda.


"Ayo!" Lein yang bernama menaiki punggung Isolda diikuti oleh Liza kemudian Jonas.


"Apakah kalian siap?" Isolda bertanya kepada mereka bertiga.


"Tentu saja siap!" Ucap mereka bertiga bersamaan.


"Baiklah." Isolda mengepakkan sayapnya.


Isolda terbang jauh ke atas agar ia tidak bisa dilihat oleh orang-orang. Kemudian isolda terbang dengan kecepatan sedang menuju ibukota.


Lein mengaktifkan pelindung di sekitar nya yang menyelimuti dirinya, Liza, dan Jonas agar mereka tidak terhempas oleh angin.


"Bagaimana rasanya?" Tanya Lein kepada Liza dan Jonas.


"Menyenangkan!" Liza berteriak.


"Tapi bos, apakah kita tidak menyapa walikota dan jenderal Marcus terlebih dahulu?" Tanya Jonas.


"Aku ingin, namun mereka berdua sibuk mengurus sampai pertempuran. Jadi aku hanya bisa menyapa mereka lewat pesan." Jawab Lein.


"Jadi begitu. Kalau begitu tidak apa-apa." Angguk Jonas.


"Ngomong-ngomong aku penasaran dengan latihan Enya." Ucap Lein.


"Aku juga. Aku ingin berlatih tanding dengan nya." Jonas bersemangat tidak sabar untuk berlatih tanding dengan Enya.


"Haha. Oh ya, kamu sudah tahu dengan Enya bukan?" Lein bertanya kepada Liza yang sedang memakan makanan ringan dan menikmati pemandangan langit.


"Tahu. Keluarga Lauren." Angguk Liza tanpa menoleh.


"Baiklah..." Jawab Lein.


Mereka berbincang-bincang mengenai banyak hal, dan terkadang Isolda juga ikut bergabung dengan obrolan.

__ADS_1


Namun disepanjang perjalanan menuju ibukota, Lein dan yang lainnya tidak menemukan satupun monster yang menyerang.


"Isolda! Apakah ini perbuatan mu?" Tanya Lein kepada Isolda.


"Benar. Mereka takut dengan hawa keberadaan naga." Jawab Isolda.


Hawa keberadaan naga memang menakutkan tidak hanya untuk monster tetapi juga semua ras yang ada di dunia.


Bahkan jika naga hanya berdiam diri, tekanan auranya mampu membuat orang kuat berlutut atau bahkan bersujud karena tidak bisa menahannya.


...----------------...


Isolda menambah kecepatan nya, dan setelah setengah hari berlalu, mereka sampai di Kota Dragon Tide.


Saat berada didekat kota, lein menyuruh Isolda untuk berhenti dan mendarat di lokasi terbuka di hutan.


Karena ada banyak sekali orang-orang kuat di ibukota. Lein tidak ingin mereka tahu bahwa ada keberadaan naga di kota ini.


Setelah Isolda mendarat dan berubah wujud menjadi kalung, Liza kemudian menggunakan rune teleportasi untuk berpindah langsung ke universitas.


Mereka bertiga muncul di ruang tamu rumah milik Lein. Setelah sampai, Liza langsung pergi karena ia ingin melaporkan situasi pertempuran kepada Presiden Brynn.


Dan Jonas juga meminta izin untuk pergi ke ruang latihan milik presiden di gedung latihan. Karena sebelumnya, Jonas bertanya kepada Enya dimana is berada.


Enya menjawab bahwa ia sedang latihan di ruangan latihan milik presiden di gedung latihan sama seperti sebelumnya.


Lein yang sendirian tidak tahu harus melakukan apa. Saat Lein ingin tidur, ia mendapatkan sebuah pesan dari sistem.


Ternyata yang mengirimkan pesan adalah Linda. Linda bertanya apakah Lein memiliki waktu luang, dan Lein menjawab ada.


Linda : Bisakah aku ke rumah mu sekarang?


Linda : Baiklah, akan ku berikan alamat nya.


Linda kemudian memberikan alamat rumah milik nya. Rumah milik guru dan dekan ada di satu area yang sama.


Dan semua bentuk dan desain rumah mereka sama. Oleh karena itu Linda memberikan alamat nya agar Lein tidak tersesat.


Dan alasan Lein menolak Linda untuk pergi ke rumah nya bukan karena alasan khusus. Lein hanya ingin berjalan-jalan di universitas.


Sebenarnya Lein memang belum jalan-jalan menelusuri universitas dragon heart semenjak dia menjadi mahasiswa disini.


Oleh karena itu Lein akan pergi ke rumah Linda sambil berjalan-jalan menelusuri universitas dragon heart ini.


...----------------...


*Tok tok.


Lein sampai di depan rumah Linda dan ia mengetuk pintu rumah. Linda membukakan pintu dan menyuruh Lein masuk.


"Jadi... ada apa guru memanggil ku?" Lein duduk di sofa ruang tamu dan bertanya.


"Tidak ada alasan khusus." Ucap Linda menuangkan teh untuk Lein.


"Lalu?" Lein mengambil gelas teh.


"Sebenarnya aku penasaran..." Ucap Linda.


"Mengenai apa?" Tanya Lein meminum teh nya

__ADS_1


"Apa tipe wanita yang kamu suka?" Linda menanyakan pertanyaan yang aneh.


"Pfft-" Lein menyemburkan teh nya karena terkejut.


"Ah!" Linda segera mengambil tisu dan menyeka pakaian Lein yang basah.


"Tunggu-tunggu! Berhenti!" Lein menghentikan Linda yang akan memberikan pakaian nya.


"Mengapa?" Linda segera berhenti dan memiringkan kepala nya lalu bertanya.


"Aku bisa sendiri." Lein mengambil tisu dari tangan Linda dan menyeka pakaian nya yang basah.


"Baiklah." Linda kembali duduk di sofa.


"Jangan bercanda guru, katakan saja apa yang kamu inginkan." Ucap Lein setelah menyeka pakaian nya.


"Sebenarnya..." Ekspresi Linda berubah menjadi sedikit sedih.


"Aku akan segera dijodohkan oleh seorang pria dari keluarga lain oleh kakek ku."


"Aku segera menolak usulan tersebut namun kakekku bisa menerima tolakan ku jika aku sudah memiliki pacar atau setidaknya calon." Ucap Linda menjelaskan.


"Lalu apa hubungannya dengan ku?" Tanya Lein.


"Tunggu, jangan-jangan..." Lein menyadari mengapa guru Linda memanggil nya.


"Benar. Tolong berpura-pura menjadi pacarku..." Ucap Linda dengan mata memohon.


"Sial. Baru kemarin aku berkencan dengan Liza, sekarang aku mendapatkan wanita baru!?" Pikir Lein.


"Tidak ada untungnya aku membantu mu guru..." Lein menghela napas.


"Aku tahu kamu akan mengatakan itu. Oleh karena itu aku akan memberimu imbalan, bagaimana?" Ucap Linda.


"Akan ku lihat terlebih dahulu." Ucap Lein.


"Baiklah..." Linda mengeluarkan sesuatu dari inventory nya.


"Ini adalah buku kuno yang aku temukan. Aku tidak tahu apa isinya, jika kamu tertarik ambil saja dan jika kamu tidak tertarik akan ku ganti imbalan nya." Linda mengeluarkan buku yang terlihat usang.


"Bocah! Entah apakah ini karena kamu sudah beberapa kali bertemu dengan Dewi Ariel, tapi keberuntungan mu sangat bagus!" Octiorb muncul dan berteriak kepada Lein.


"Kamu tahu buku itu?" Tanya Lein dengan transmisi suara.


"Buku ini berisi cara membuat dan mengendalikan boneka tempur. Akan ku jelaskan detailnya nanti, terima saja tawaran wanita ini." Ucap Octiorb.


"Baiklah, aku akan mengikuti ucapan mu." Jawab Lein.


"Aku akan menerima tawaran mu, guru." Lein mengambil buku itu dan menyimpan nya di inventory.


"Bagus!" Linda tersenyum cerah.


"Akan ada makan malam nanti di kediaman keluarga ku! Kamu harus menemani ku." Ucap Linda.


"Baik guru." Angguk Lein.


"Jangan panggil aku guru jika kita berdua atau jika dihadapan keluarga ku." Ucap Linda.


"Ah, Baiklah. Aku paham." Lein mengerti.

__ADS_1


__ADS_2