Analysis Eye

Analysis Eye
Pemberian dari Abelia untuk Lein


__ADS_3

"Sudah selesai?" Tanya Abelia melihat Lein datang.


"Ya." Jawab Lein sambil merenggangkan tubuh nya.


"Bagaimana perasaan mu?" Tanya Abelia.


"Hm, jantung naga ku menjadi lebih cepat dalam menyerap elemen dan mana. Kemudian kapasitas mana nya juga bertambah." Lein menyentuh dagunya.


"Bagus." Angguk Abelia.


"Hm..." Abelia berdiri.


Abelia mengubah tangan kanan nya menjadi cakar naga dan menggores jari telunjuk di tangan kirinya sampai berdarah.


Kemudian Abelia mengubah tangan kanan nya menjadi tangan manusia lagi dan menggerakkan tangan kirinya ke arah Lein.


"Hisap darah ku." Ucap Abelia.


"Uh, mengapa?" Tanya Lein tidak mengerti.


"Minum saja." Abelia menatap mata Lein dengan tenang.


"Baiklah, baiklah..." Lein pasrah.


Lein memegang tangan kiri Abelia dan memasukan jari telunjuk Abelia ke dalam mulut nya untuk dihisap darah nya sesuai ucapan Abelia.


"Cukup." Setelah beberapa detik, Abelia menyuruh Lein berhenti.


Lein mengeluarkan jari telunjuk Abelia dan melepaskan tangan kiri nya.


"Sekarang, coba rasakan apakah ada sesuatu di dalam jantung naga mu." Ucap Abelia.


"Baiklah, tunggu sebentar." Lein menutup mata dan mencoba merasakan nya.


Setelah beberapa saat merasakan, Lein kemudian sadar ada sesuatu yang berbeda namun ia tidak tahu apa yang berbeda.


"Ada sesuatu yang berbeda, namun aku tidak tahu apa itu." Lein membuka mata nya dan memberitahu kan kepada Abelia.


"Sekarang kamu bisa menggunakan elemen ruang dengan lebih efisien." Ucap Abelia.


"Elemen ruang? Apakah ini karena aku menghisap darah mu?" Tanya Lein sadar ini karena ia menghisap darah Abelia.


"Benar, karena aku memasukan kekuatan ruang ke dalam darah ku yang kamu hisap barusan." Jawab Abelia menganggukkan kepala nya.


"!! - Aku sungguh berterima kasih." Lein membungkukkan badan nya kepada Abelia.


"Tidak apa-apa." Balas Abelia singkat.


"Aku memang sangat berterima kasih, tetapi mengapa anda memberikan bantuan sebesar ini? Alasan nya pasti bukan karena aku adalah pemilik naga bukan?" Ucap Lein.


Karena Lein paham tidak ada makan siang gratis di dunia ini. Jika Abelia memberikan kekuatan untuk Lein, pasti ada alasan nya.

__ADS_1


"Benar." Angguk Abelia.


"Lalu mengapa?" Tanya Lein.


"Beberapa hari lagi, aku akan pergi ke Benua Dwarf. Aku ingin kamu ikut dengan ku." Jawab Abelia.


"Benua Dwarf? Hm, baiklah, aku bisa." Lein menjawab.


"Kamu tidak bertanya apa urusan ku?" Tanya Abelia.


"Aku penasaran tapi aku tidak memiliki hak untuk itu bukan?" Lein tersenyum membalas ucapan Abelia.


"Tidak apa-apa, namun akan aku beritahu saat akan berangkat." Balas Abelia.


"Baiklah." Jawab Lein mengangguk.


"Bagus, akan aku hubungi kamu saat waktu nya tiba. Mari bertukar nomor sistem dan ponsel." Ucap Abelia.


Karena Abelia adalah ras naga yang memiliki kecerdasan tinggi, maka ia juga memiliki sistem sama seperti yang lain.


Yang tidak memiliki sistem adalah makhluk yang tidak memiliki kecerdasan tinggi atau bahkan tidak memiliki kecerdasan sama sekali, seperti monster.


"Tentu." Jawab Lein mengangguk.


Setelah itu mereka berbincang-bincang sambil menunggu Isolda selesai. Octiorb juga bangun namun karena ia tidak tahu harus melakukan apa jad ia tidur lagi.


Lein dan Abelia juga bosan, mereka berdua kemudian melakukan meditasi untuk melewati waktu yang membosankan itu.


Lein dan Abelia menggunakan mana mereka untuk membuat sebuah perisai agar air dari tubuh Isolda tidak terciprat ke arah mereka.


"Wah apa ini!" Teriak Octiorb.


Ternyata Octiorb yang masih tidur langsung bangun terkena cipratan air dari tubuh Isolda sampai seluruh tubuh nya basah kuyup.


"Hahaha!!!" Lein tertawa terbahak-bahak.


"Sialan kamu Isolda..." Umpat Octiorb.


"Maaf, Oct." Balas Isolda namun ia juga menahan tawa.


"Hahaha, baiklah ayo kita berganti pakaian dulu." Ucap Lein yang masih tertawa.


Lein masih bertelanjang dada dan belum berhenti pakaian setelah ia keluar dari kolam tadi. Lein dan Octiorb kemudian mengganti pakaian mereka dengan cepat.


"Baiklah itu saja, Ayo kita kembali." Ucap Abelia keluar dari ruangan.


"Ya..." Balas Lein.


Lein menyuruh Isolda untuk merubah wujudnya menjadi kalung. Kemudian Lein dan Octiorb berjalan mengikuti Abelia.


Setelah keluar dari ruangan, Abelia mengulurkan tangan nya ke arah pintu dan mengucapkan bahasa naga yang kemudian pintu secara otomatis tertutup.

__ADS_1


Mereka bertiga kemudian berjala menaiki tangga dan setelah beberapa saat mereka sudah berada di luar rumah tua.


"Ini sudah hampir pagi." Ucap Lein saat ia melihat jam di ponsel nya.


"Akan aku kirim kalian kembali ke hotel." Ucap Abelia.


"Baik, maaf merepotkan nyonya...." Ucap Lein.


"Tidak perlu meminta maaf, karena aku yang mengundang kalian." Abelia menggeleng-gelengkan kepala nya.


Abelia kemudian menjentikkan jari nya dan muncullah sebuah pusaran ruang yang kemudian berubah menjadi portal.


"Kalau begitu kami pamit kembali ke hotel." Ucap Lein.


"Ya." Angguk Abelia.


Lein dan Octiorb kemudian melangkah memasuki portal dan mereka berada di kamar hotel mereka yang sebelumnya.


Setelah itu Octiorb segera melompat ke arah kasur dan langsung tertidur sementara Lein duduk bersila di karpet untuk bermeditasi.


"Astaga, sepertinya sekarang dia memiliki hobi tidur." Lein menggeleng-gelengkan kepala nya saat melihat Octiorb.


"Karena ini menjelang pagi dan terlalu singkat untuk tidur, maka aku akan bermeditasi saja." Lein menutupi mata.


...----------------...


Sekitar pukul 5 pagi.


Lein membuka mata nya dan menghentikan meditasi nya karena ia diingatkan oleh Isolda bahwa ia harus memilih buku skill.


"Hm, buku skill macam apa yang aku perlukan ya..." Pikir Lein.


"Aku sudah memikirkan sesuatu tapi itu tergantung apakah mereka memiliki nya atau tidak." Lein berdiri dan mengganti pakaian nya


Setelah itu Lein keluar dari kamar nya dan turun ke bawah dengan menggunakan lift kemudian Lein berjalan menghampiri resepsionis yang sedang bertugas dan bertanya.


"Halo, apakah taman hotel bisa digunakan untuk olahraga?" Tanya Lein.


"Oh halo, bisa tuan, anda bisa dengan bebas berolahraga disana asalkan tidak menganggu pengunjung lain." Jawab resepsionis yang sedikit terkejut.


Karena resepsionis tidak mendengar suara langkah kaki dan saat ini memang masih sangat pagi untuk seorang pengunjung keluar.


Resepsionis juga terkejut karena melihat bahwa Lein masih muda dan bangun pagi-pagi sekali untuk berolahraga yang mana jarang dilakukan oleh anak muda zaman sekarang.


"Baiklah terimakasih." Lein kemudian pergi ke taman hotel.


Lein berjalan-jalan kemudian mempercepat langkah nya menjadi jalan cepat dan lama-kelamaan Lein mulai melakukan joging.


Tidak ada alasan khusus mengapa Lein ingin berolahraga, ia hanya perlu menggerakkan tubuh nya yang kaku karena meditasi.


"Sudah kuduga olahraga pagi memang yang paling enak ditambah dengan udara yang sejuk." Pikir Lein.

__ADS_1


__ADS_2