
*Swoosh!
Lein menginjak tanah dengan kaki kirinya sebagai tumpuan lalu ia melompat dan berputar untuk menghindari serangan yang datang.
"Siapa?" Lein mendarat dan melihat sekeliling namun tidak mendapatkan respon.
Lein menyipitkan matanya dan ia segera menemukan seorang yang menyerangnya di arah jam 2 dari posisinya.
"Ketemu!" Lein menginjak tanah dan segera berlari dengan kecepatan tinggi menuju orang yang menyerang Lein barusan.
Namun saat Lein melihat bayangan orang itu, tiba-tiba ada bayangan lain yang muncul dari samping kiri Lein.
*Brak!
Lein terlempar karena bayangan yang muncul itu memukul Lein dan Lein tidak sempat menangkisnya.
"Dua orang?" Pikir Lein.
Lein berdiri dan membersihkan pakaian nya dari debu yang menempel. Ia melihat seorang pria berotot dan seorang wanita cantik.
Namun Lein terfokus kepada wanita itu karena ia memakai payung dan karena warna wanita itu yang sangat mencolok, yaitu putih bersih.
Dari rambut, bulu mata, alis, kulit, pakaian, semuanya berwarna putih. Pupil mata nya berwarna biru muda seperti kristal es.
"Pria itu berotot, jadi yang menyerang ku barusan adalah wanita mencolok dibelakang nya." Pikir Lein.
"Karena kalian menyerang ku, itu artinya kalian juga siap untuk diserang bukan?" Ucap Lein.
"Orang ini kuat, Eira." Pria berotot melihat tinjunya yang sakit.
"Seberapa kuat, Enzo?" Wanita bernama Eira bertanya.
"Entahlah, tapi biar kuberi tahu. Tubuh orang itu sangat keras sampai tinjuku sakit." Jawab pria berotot yang bernama Enzo.
"Analisa." Gumam Lein.
[ analisa berlangsung ]
[ Enzo Jasper
level : 79
kemampuan ?? ]
[ Eira Dementria
Level : 81
kemampuan : ?? ]
"Kalian dari universitas mana?" Tanya Lein.
"Universitas Ocean Blue." Jawab Eira.
"Ocean Blue? Ah universitas itu." Lein ingat.
Universitas Ocean Blue terletak di wilayah paling barat benua manusia yang berada di perbatasan antara benua manusia dan laut tengah.
Universitas Ocean Blue memiliki mahasiswa yang unik dan berbeda. Tidak hanya ada manusia saja, tetapi ada berbagai ras yang belajar disana.
__ADS_1
Itu karena negara tempat Universitas Ocean Blue berada, Oceanseal adalah negara kecil yang makmur karena memiliki sektor pelabuhan.
Berbagai ras yang berdagang atau mengunjungi benua manusia kebanyakan akan melewati Pelabuhan Oceanseal.
Dan karena banyak ras asing yang datang dan menetap, Universitas Ocean Blue juga menerima ras asing itu, bukan hanya manusia saja.
"Pantas saja tampilan kalian unik." Ucap Lein.
"Apa maksudmu 'kalian'? Katakan saja bahwa yang unik hanya Eira." Balas Enzo
"Tidak. Enzo bukan? Aku tahu bahwa kamu ini juga unik." Lein menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Kalau begitu katakan apa keunikan ku?" Ucap Enzo mendengus.
"Kamu manusia tapi bukan manusia." Jawab Lein tidak jelas.
"Hah? Apa maksudmu?" Enzo bingung.
"Kamu... Barbarian bukan?" Tanya Lein.
"!! - Bagaimana kamu tahu!?" Enzo melebarkan matanya.
"Banyak membaca." Jawab Lein singkat.
Tapi memang apa yang Lein katakan benar. Lein tahu Enzo dari ras barbarian bukan karena ia menganalisa menggunakan Analysis Eye.
Tetapi karena Lein memang sudah membaca buku yah berisi mengenai seluruh ras di dunia beserta ciri-ciri mereka.
Ras barbarian adalah manusia tapi bukan juga manusia. Mereka memang memiliki fisik seperti manusia, namun kekuatan dan ketahanan mereka seperti ras raksasa.
Ras barbarian adalah ras yang menjunjung tinggi pertempuran. Bagi mereka, mati dalam pertempuran adalah mati yang terhormat.
Jumlah ras barbarian tidaklah sebanyak lima ras utama lainnya. Ras barbarian hanya memiliki satu negara saja yang terletak di Benua Dwarf.
"Tidak ada alasan khusus, hanya bosan." Jawab Enzo.
"Benar." Eira juga mengangguk.
"Bosan?" Tanpa basa-basi Lein berlari menuju mereka sambil mengucapkan sesuatu.
"Yang kuat mengalahkan lawannya, yang perkasa menghancurkannya..." Ucap Lein.
"Apa yang dia katakan?" Eira tidak paham mengapa Lein mengatakan hal aneh.
"Itu adalah tantangan untuk bertarung dalam Ras Barbarian." Enzo juga berlari menuju Lein.
"Yang lihai mengecohnya, yang pengecut bersembunyi darinya, dan yang tercerahkan melampauinya..." Lanjut Enzo.
"Bertarung!" Enzo dan Lein berteriak bersamaan.
Mereka berdua mengangkat tangan kanan mereka dan mengepalkan nya. Saat sudah dekat, mereka berdua saling beradu tinju.
Gelombang yang dahsyat terjadi dan menghempaskan sekitar nya saat mereka berdua saling beradu tinju.
"Anak itu bisa menandingi Enzo!?" Eira melebarkan matanya tidak percaya.
Lein memegang tangan Enzo dengan tangan kirinya lalu ia akan menendang perut Enzo namun ditangkis dengan mudah oleh Enzo.
Mereka saling melepaskan dan mundur untuk menjaga jarak. Mereka berdua juga sama sama memiliki ekspresi yang sama, mereka menyeringai.
__ADS_1
"Katakan namamu!" Teriak Enzo.
"Lein, Lein Sanzio." Jawab Lein.
"Lein! Nama yang bagus! Ayo kita Lanjutkan!" Enzo berlari maju.
Lein berlari dan melompat, kemudian Lein memutar tubuhnya diudara agar bisa menendang kepala Enzo.
Enzo mengangkat dan menempatkan kedua tangan kanan nya diatas kepala nya untuk menangkis tendangan Lein.
Kemudian Enzo menangkap kaki Lein dan segera membanting Lein ke tanah.
Lein menggerakkan tubuhnya sampai ia bisa memegang tangan Enzo. Lein kemudian juga memegangi kepala Enzo dan akan memukulnya.
Enzo yang tidak bisa menghindar terpaksa harus melepaskan kaki Lein.
Len terbebas dan mendarat namun segera melancarkan serangan lagi yaitu menendang lutut kana Enzo.
Enzo bergerak kesamping sedikit dan memukul pinggang Lein dengan kekuatan penuh nya sampai Lein terhempas jauh menabrak batu dan menghasilkan banyak asap.
"Apakah dia kalah!?" Tanya Eira.
"...." Enzo tidak menjawabnya.
"Ah, seperti yang diharapkan dari Ras Barbarian." Suara Lein terdengar.
Kemudian saat asap menghilang, Lein terlihat sudah berdiri sambil menepuk-nepuk pakaian nya untuk menghilangkan debu.
"Bagaimana... Bagaimana mungkin kamu tidak terluka!?" Enzo melebarkan matanya.
Ia hanya melihat bahwa pakaian yang terkena pukulan nya robek, namun kulit Lein tidak terluka bahkan tidak tergores.
"Kamu memang sangat kuat... Tapi kekuatan tubuhmu tidak akan sanggup membuatku terluka." Balas Lein.
Lein berjalan mendekati Enzo dan mengulurkan tangan kanannya.
"Hah... Aku kalah." Enzo menghela napas dan berjabat tangan dengan Lein.
"Kamu sungguh menarik. Bahkan senior di universitas kita terluka saat menerima pukulan Enzo." Eira mendekati mereka berdua.
"Benarkah? Yah, itu karena aku spesial." Balas Lein bangga.
Lein kemudian mengganti pakaian nya dengan sangat cepat bahkan Enzo dan Eira tidak bisa mengikuti kecepatan nya.
"Biar aku memperkenalkan diriku dengan cara yang benar."
"Namaku Lein Sanzio, dari Negara Easthold lebih tepatnya Universitas Dragon Heart." Ucap Lein dengan sopan.
"Eira Dementria, dari Negara Oceanseal, Universitas Ocean Blue." Ucap Eira memperkenalkan diri nya.
"Enzo Jasper, dari Negara Oceanseal, Universitas Ocean Blue." Ucap Enzo memperkenalkan diri juga.
Mereka bertiga lalu duduk dan mengobrol sebentar. Lein juga tahu bahwa mereka berdua adalah tahun pertama sama seperti dirinya.
Dan soal Eira, dia memberi tahu sendiri mengenai warna tubuhnya meskipun ia tidak memberi tahu semuanya kepada Lein.
Warna tubuh eira saat lahir adalah sama seperti manusia normal. Namun ia lahir di wilayah dingin, dan keluarga nya memiliki kemampuan bersuhu dingin juga.
Oleh karena itu warna tubuh Eira lama-kelamaan berubah menjadi putih. Yang tidak berubah hanya warna pupil matanya saja yang biru muda.
__ADS_1
Mereka berdua mengatakan bahwa universitas mereka tidak mengincar posisi nomor satu dalam Kompetisi antar Negara.
Tujuan yang sebenarnya dari universitas mereka adalah mencari teman dan koneksi yang berguna untuk masa mendatang.