
Tiga hari kemudian, Lein sudah berada di Universitas Dragon Heart. Saat pulang dari Dungeon Tundra Desert, Presiden Brynn menanyakan banyak sekali pertanyaan.
Lein menjawab pertanyaan nya satu per satu dengan sabar karena ia tahu kalau Presiden Brynn sangat khawatir dengan mereka.
Sedangkan Liza, pada saat Lein menjawab pertanyaan Presiden Brynn, dia malah bersantai-santai sambil memakan camilan.
Selama tiga hari itu, Liza masih belum bisa menggunakan mana. Jadi dia terus-menerus memakan makanan karena dia tidak ada kegiatan.
Untuk Octiorb, dia juga langsung pergi ke rumah dan tidur karena meskipun dia tidak untu bertarung, otak nya sudah sangat lelah karena membantu di area medis.
...----------------...
Di kantor Presiden Brynn.
"Ada apa? Apakah kamu tidak ingin beristirahat?" Presiden Brynn bertanya kepada Lein yang datang ke kantor nya.
Presiden Brynn saat ini sedang melepas jubah nya. Ia mengenakan pakaian kantor seperti wanita kantoran pada umumnya.
Karena dengan mana nya, ia bisa tahu kalau ada seseorang yang datang dan orang itu adalah Lein. Jadi ia tidak memakai jubah nya dan bersikap santai.
"Aku ingin, tapi tubuh ku sudah pulih sepenuhnya." Lein menjawab dan duduk di sofa.
"Baguslah. Lalu, apa yang ingin kamu katakan?" Presiden Brynn duduk di sofa seberang Lein.
"Begini Pres..." Lein menjelaskan mengenai kerja sama nya dengan Negara Tundra mengenai Kunci Dungeon Tundra Desert.
Lein menjelaskan semua nya dengan jujur tanpa menyembunyikan satu hal pun karena kerja sama ini sangatlah penting.
"Hm, jadi begitu." Presiden Brynn menganggukkan kepala nya.
"Ya, ini memang kerja sama pribadi. Namun aku pikir lebih baik kalau dunia luar mengetahui kalau ini adalah dungeon yang presiden atau universitas temukan."
"Jika kita melakukan hal itu, maka orang-orang akan percaya akan keaslian nya dibandingkan jika seorang mahasiswa yang menemukan dungeon ini."
"Tentu saja, ini hanya nama di atas kertas. Untuk kepemilikan nya akan menjadi milikku dan presiden." Lein mengutarakan pendapat nya.
"Memang benar. Kalau begitu, akan ku atas namakan saja diriku. Jika kita menggunakan universitas, maka jika biaya masuk nya tidak ada di pembendaharaan universitas, mereka akan curiga."
"Jika menggunakan nama ku, maka semua keuntungan nya akan masuk ke dalam rekening ku dan kita bisa memilah bagian kita." Presiden Brynn setuju dengan pendapat Lein.
"Ah iya, itu masuk akal. Lalu, itu artinya presiden setuju dengan ini?" Lein bertanya dengan senyuman penuh harap.
"Tentu saja. Mana mungkin aku menolak keuntungan yang datang secara tiba-tiba." Presiden Brynn tersenyum dan mengangguk.
__ADS_1
"Bagus! Sebenarnya, aku juga sangat ingin kerja sama ini berjalan dengan lancar. Namun aku tahu kalau aku tidak bisa melakukan apapun."
"Aku memang kuat, namun aku tidak memiliki uang apalagi koneksi. Itulah mengapa aku meminta bantuan mu, Pres." Lein tersenyum bahagia.
"Haha, santai saja. Aku juga senang karena kamu memberikan ku bisnis. Kamu tahu, aku ini punya banyak uang dari gaji seorang presiden dan dari monster yang aku buru."
"Manusia pasti akan ada hari tua dan saat itu kekuatan kita pasti menurun. Aku ingin memiliki sebuah bisnis yang bisa mendapat untung saat aku tidak melakukan apapun." Presiden Brynn tersenyum.
Mereka berdua kemudian berbincang-bincang membahas mengenai rencana mereka untuk membangun jalur dua dunia.
Pertama, mereka menentukan tempat dimana membangun pintu dungeon nya. Mereka memutuskan untuk membeli desa kecil dan menempatkan pintu dungeon di sana.
Kedua, mereka perlu mendapatkan izin. Presiden Brynn mengatakan kalau urusan ini diserahkan saja kepada nya karena ini sedikit rumit.
Ketiga, promosi. Setelah mendapatkan izin dan membangun pintu dungeon, mereka perlu mempromosikan dungeon nya agar banyak orang yang datang.
Mereka berbincang-bincang sampai malam hari, mereka bahkan memesan makanan untuk makan malam dan mereka makan di kantor Presiden Brynn.
...----------------...
Keesokan harinya, pada saat Lein sedang olahraga pagi di taman universitas. Lein kedatangan seorang tamu tak diundang yang sangat ia ingin temui.
"Lein Sanzio." Ucap tamu itu menghampiri Lein yang sedang duduk di bangku taman.
Ternyata, tamu yang datang adalah Frederic. Lein tidak tahu mengapa Frederic datang menghampiri nya, namun ia tahu kalau ini tidak akan berakhir dengan mudah.
Frederic saat ini mengenakan pakaian serba hitam, namun berbeda dengan pakaian anggota Anarchy Order lain nya, pakaian Frederic lebih megah.
Lein bisa melihat kalau itu bukanlah pakaian biasa karena ada mana yang menyelimuti nya dan Lein juga bisa tahu kalau pakaian itu mahal.
"Sepertinya kamu tidak terkejut aku datang." Frederic duduk di sebelah Lein.
"Aku terkejut. Hanya saja aku tidak menunjukkan nya." Jawab Lein.
"...Kakek mu yang menyuruh kami untuk membuang mu." Frederic tiba-tiba membahas mengenai dirinya dan Althea yang membuang Lein.
"Pemimpin Anarchy Order? Bolehkah aku tahu alasan mengapa dia menyuruh kalian melakukan hal itu?" Lein mengepalkan tangannya agar emosi nya tidak meluap.
"Dia memiliki kemampuan yang bisa melihat potensi seseorang." Frederic tidak menjelaskan lebih lanjut karena ia tahu kalau Lein pasti mengerti.
"Jadi begitu ya, namun, apa yang dia katakan saat dia melihat potensi ku? Aku sedikit penasaran." Lein penasaran potensi dirinya yang Kakek nya lihat.
"Ngomong-ngomong, aku lupa nama dia, tolong beritahu aku." Lein lupa nama kakek nya.
__ADS_1
"...Dia adalah ayah Althea, bukan ayahku. Namanya adalah Kadin Evanthe. Untuk pertanyaan mu, apa yang ia katakan adalah 'cacing'." Frederic menjawab pertanyaan Lein.
"Cacing? Hahaha!!!" Lein tertawa terbahak-bahak karena itu memang lucu.
"Aku kira dia akan mengatakan rendah, sampah, atau tidak memiliki potensi, namun cacing? Hahaha!" Lein benar-benar tertawa dengan keras.
"Bagaimana bisa kamu tertawa? Bukankah kamu seharusnya marah atau sedih mengetahui kalau kakek mu sendiri yang membuang mu?" Frederic tidak bisa memahami Lein.
"Yah, itu karena aku sudah tidak memiliki ikatan apapun dengan kalian semua. Sekarang, hubungan kita adalah musuh." Lein berhenti tertawa.
"...Kamu ada benarnya." Frederic berpikir itu masuk akal.
Mereka kemudian diam dan tidak mengatakan apapun lagi. Lein membuka sistem dan mengirimkan pesan kepada Liza tentang situasi nya.
Lein menjelaskan nya secara singkat dan jelas agar Liza tidak bertanya. Karena Lein tahu setelah ini, salah satu diantara drinya dan Frederic akan mati.
Lein mengeluarkan kunci silinder yang merupakan kunci Dungeon Tundra Desert dan menggunakan nya untuk memindahkan dirinya dan Frederic ke Gurun Tundra.
"Ini kan..." Frederic tahu tempat ini.
"Ya, dungeon yang kalian eksploitasi." Jawab Lein.
Lein sudah bertanya kepada Ger bagaimana Anarchy Order bisa masuk ke dalam Dungeon Tundra Desert. Ger mengatakan kalau mereka masuk melalui distorsi ruang.
Dungeon memang seperti itu, setiap beberapa waktu akan terjadi distorsi ruang. Distorsi ruang bisa saja membawa makhluk luar atau tidak menyebabkan apapun.
Lalu untuk bagaimana Lein dan yang lain masuk ke Dungeon Tundra Desert, Ger tidak tahu karena ia mengatakan kalau mereka bertiga tidak berpindah karena distorsi ruang alami.
Mendengar jawaban Ger, Lein bisa tahu kalau Anarchy Order memiliki sebua artefak untuk memindahkan orang karena Althea sudah tidak ada.
"Bisakah aku menanyakan dua pertanyaan sebelum kita memulai nya?" Lein ingin mengajukan pertanyaan kepada Frederic.
"Silakan, aku akan menjawab pertanyaan yang kamu ajukan. Lagipula, kamu akan segera mati." Ucap Frederic.
"Dingin sekali sikap mu. Pertanyaan pertama, apa kemampuan mu? Pertanyaan kedua apa rank kemampuan mu?" Lein langsung mengajukan dua pertanyaan.
"Kemampuan ku adalah Pedang rank S. Kalimat nya memang hanya ada satu kata dan kata itu juga sangat sederhana."
"Namun ini kemampuan yang bisa membuatku mendapatkan bakat terkait dengan pedang yang sangat mengerikan." Jawab Frederic.
"Sial, kedua orang tua ku ternyata adalah S rank." Lein menghela napas.
Kemudian mereka berdua terdiam lagi. Frederic mengeluarkan pedang dari inventory nya lalu Lein juga mengeluarkan kedua katana nya.
__ADS_1