Analysis Eye

Analysis Eye
Obat Selesai Dibuat dan Kesembuhan Ava


__ADS_3

Keesokan harinya, saat ini Lein sedang berada di depan rumah sakit kota. Ia dipaksa kesini oleh Octiorb karena obat nya sudah jadi dan langsung diberikan kepada Ava hari ini.


Lein sebenarnya tidak terlalu peduli karena ia tahu kalau obat yang dibuat oleh Octiorb pasti akan berhasil menyembuhkan Ava.


Namun Octiorb mendesak Lein untuk hadir karena Lein berkontribusi dalam pembuatan obat ini karena ia yang memberikan bahan utama nya.


"Malas sekali... Aku lebih baik bertarung seharian daripada hadir dalam situasi seperti ini." Lein menguap kemudian ia berjalan memasuki rumah sakit.


Lein menggunakan lift untuk pergi ke lantai 6. Sesampainya di lantai 6, Lein segera berjalan menuju ruangan tempat Ava berada yaitu ruangan 619.


"Permisi." Lein membuka pintu secara pelan-pelan.


"Bagus, kamu tepat waktu.'' Ucap Octiorb.


"Apakah itu?" Lein melihat botol kaca yang berisi cairan berwarna merah muda terang di tangan Octiorb.


"Ya, ini obat nya." Angguk Octiorb sambil menunjukkan obat cair itu kepada Lein.


Kemudian Holton dan Emma mencoba menenangkan Ava yang terlihat khawatir saat melihat obat yang ada di tangan Octiorb.


Namun usaha Holton dan Emma tidak membuat Ava tenang. Bahkan Zayla yang dekat dengan Ava juga tidak berhasil.


Bukannya kekhawatiran Ava mereda, justru malah menjadi lebih parah. Ava menutup matanya dan menenggelamkan dirinya ke dalam selimut.


"Aku tidak mau!" Teriak Ava.


"Ava..." Holton dan Emma terlihat sedih.


" Oi bocah, berhenti khawatir dan menyusahkan orang tua mu. Cepat minum obat nya." Lein menarik selimut.


"Lein!" Holton dan Emma mengerutkan kening mereka.


Sedangkan Octiorb hanya diam saja karena ia tahu kalau Lein bukanlah orang yang akan kasar terhadap anak kecil apalagi Ava sedang sakit.


"Aku.. Aku takut.." Ucap Ava dengan lirih.


"Apa yang kamu takutkan? Coba beritahu aku." Lein duduk di sebelah Ava.


"Aku..Aku takut berubah menjadi monster jika aku meminum obat itu." Ava menampakkan diri dari balik selimut dan mengatakan sesuatu yang lucu.


"Hahaha..!!" Lein tertawa terbahak-bahak setelah mendengar alasan Ava takut.

__ADS_1


"Jangan khawatir, temanku itu sangat ahli dalam membuat obat atau ramuan. Dia tidak akan pernah gagal dalam membuat sesuatu seperti itu."


"Dan juga, aku ini kuat bahkan lebih kuat dari ayahmu. Jika kamu berubah menjadi monster, aku akan mengubah mu kembali menjadi manusia." Lein tersenyum.


"Benarkah?" Tanya Ava dengan ragu-ragu.


"Tentu saja, kamu juga lihat kalau aku bisa terbang kemarin. Aku juga bisa melakukan sesuatu yang lebih hebat." Balas Lein dengan nada percaya diri.


"Janji?" Ava mengulurkan jari kelingking nya.


"Oho? Janji." Lein juga mengulurkan jari kelingking nya.


Kemudian Lein dan Ava saling mengaitkan jari kelingking sebagai tanda perjanjian mereka berdua yang biasanya dilakukan oleh anak-anak.


Setelah itu, Ava menjadi tenang dan matanya berubah menjadi tegas. Lein menganggukkan kepala nya kepada Octiorb.


Octiorb juga membalas dengan anggukan kepala, kemudian ia berjalan mendekati Ava dan membantu nya untuk meminum obat itu.


Lein melambaikan tangan nya ke udara, kemudian muncul sebuah kubah setengah lingkaran yang menyelimuti Lein, Octiorb dan Ava.


Ava yang melihat kubah transparan itu berpikir kalau Lein akan menepati janji nya karena ia tau Lein menciptakan sebuah kubah untuk melindungi orang tua dan bibi nya.


"Lein, tolong gunakan mana mu agar obat nya tidak menyebar ke bagian tubuh lain selain kepala Ava." Ucap Octiorb setelah melihat Ava meminum semua obat nya.


"Baik." Lein mengangguk.


Lein menggerakkan tangan kanan nya di atas kepala Ava kemudian ia menggunakan mana untuk membuat obat yang ada di dalam tubuh Ava tidak menyebar ke tempat lain.


Holton, Emma, dan Zayla melihat tindakan mereka berdua dengan tenang meskipun di dalam diri mereka sangat khawatir.


Namun mereka juga tahu kalau tidak boleh berisik apalagi mengganggu proses pengobatan Ava karena akan berdampak buruk.


Holton melipat kedua tangan nya di depan dada dan bersandar di dinding sedangan Emma dan Zayla saling memegang tangan.


Mereka semua menunggu selama setengah jam. Lein tidak menggerakkan tangan kanan nya satu milimeter pun selama setengah jam itu.


Octiorb juga selalu memeriksa kondisi tubuh Ava dengan mesin medis atau dengan cara menyentuh nadi di tangan nya.


Setelah setengah jam itu, Ava mengerutkan kening nya lalu membuka matanya secara perlahan-lahan dan mencoba untuk berbicara.


"Ayah...Ibu...Bibi..." Ucap Ava dengan nada lirih.

__ADS_1


Holton dan yang lain segera mendekati Ava setelah mendengar panggilan Ava. Mereka duduk di sebelah Ava dan mengelus-elus kepala nya.


"Kami disini, sayangku..." Emma mencium kening Ava.


"Ya. Berhasil." Ucap Octiorb setelah memeriksa ulang.


"Bagus.." Holton dan yang lain segera memeluk Ava dan mereka juga menangis mendengar ucapan Octiorb.


"Kakak... Aku... tidak berubah.. kan?" Ava menoleh ke arah Lein.


"Haha, sebenarnya kamu akan berubah. Namun aku mengendalikan sesuatu di dalam tubuh mu agar dirimu tidak berubah." Lein bercanda dengan Ava.


"Bagus..." Ava tersenyum lega mendengar nya.


Lein menoleh ke arah Octiorb dan dibalas anggukan kepala oleh dia. Kemudian mereka berdua meninggalkan ruangan secara diam-diam.


"Candaan yang bagus." Ucap Octiorb setelah mereka keluar dari ruangan.


"Bagus bukan? Meskipun itu bohong, tetapi itu sangat efektif untuk menenangkan seorang anak kecil." Lein tertawa kecil.


"Ya, kamu benar. Terkadang, kita harus mengikuti apa yang anak kecil pikirkan agar mereka paham ucapan kita dengan mudah."


"Meskipun terkadang jalur pikiran anak kecil itu unik, maksudku pikiran mereka itu berisi fantasi yang tidak terbatas."


"Namun, kita sebagai orang dewasa tidak perlu melakukan apapun dan mengikuti jalur pikiran anak kecil itu agar mereka juga nyaman dengan kita." Ucap Octiorb.


"Tepat sekali..." Lein setuju dengan ucapan Octiorb.


Mereka berdua duduk di kursi yang ada di lorong. Octiorb melipat kedua tangannya di depan dada dan bersandar di kursi sambil menutup matanya.


Sedangkan Lein, ia menonton video pendek di ponsel nya dengan aplikasi tertentu yang menyediakan banyak sekali video pendek yang sangat beragam.


"Oh, wanita ini sungguh seksi. Ah sial, ini dirumah sakit, jangan melihat sesuatu yang seperti ini." Lein segera mengganti video yang lain.


"Jika Liza melihat aku menonton video wanita maka bisa dipastikan aku akan babak belur." Batin Lein yang merasakan tubuh nya sedikit merinding.


...----------------...


"Entah mengapa aku tiba-tiba kesal." Ucap Liza yang sedang memotong apel.


"Jangan berbicara seperti itu saat kamu memegang sebuah pisau." Balas Brynn yang melihat Liza memegang pisau seperti akan memotong orang.

__ADS_1


__ADS_2