
"!!" Olave tiba-tiba berdiri.
"Ada apa, Paus Olave?" Lein bingung mengapa Olave tiba-tiba berdiri.
"Lein, terimakasih. Berkatmu, Dewi Ariel menambahkan kapasitas Divine Power di tubuh ku." Olave meneteskan air mata.
"...Mengapa Dewi Ariel memberimu imbalan sedangkan aku tidak." Lein memprotes.
"Haha, tolong tenang. Dewi Ariel berkata kalau tidak ada yang bisa diberikan lagi untukmu." Olave tersenyum canggung.
Karena ia tidak menyangka kalau Lein tidak bersikap hormat kepada Dewi Ariel dan malah bersikap biasa saja seolah-olah Dewi Ariel adalah teman nya.
Dan yang lebih mengejutkan nya lagi adalah Dewi Ariel tidak mempermasalahkan sikap Lein yang seperti itu.
"Hm, yah.. itu memang benar." Lein menyentuh dagunya dan menganggukkan kepala nya.
Lein berpikir kalau yang ia lakukan hanyalah perbuatan kecil karena itu sangat mudah bagi dirinya. Tidak seperti Olave yang dapat imbalan karena dia berusaha dengan keras.
"Karena sudah selesai dimurnikan, aku serahkan dua barang tidak berguna itu kepada gereja. Sampai jumpa." Lein berdiri dan keluar dari ruangan.
Olave memandangi Lentera dan Cawan yang sudah menjadi barang biasa. Ia berpikir akan ditaruh dimana kedua barang tersebut.
Karena meskipun kedua barang itu sudah menjadi barang biasa, tapi tetap saja sebelumnya kedua barang itu adalah barang yang bisa menyimpan jiwa-jiwa makhluk hidup.
Oleh karena itu Olave berpikir untuk menyimpan kedua barang itu sebagai tanda penghormatan untuk jiwa-jiwa makhluk hidup yang terkurung di dalam sana.
...----------------...
"Oh ngomong-ngomong, aku harus pergi kemana jika aku ingin memberikan uang?" Tanya Lein kepada priestess kecil di sebelah nya.
Sepertinya priestess kecil itu adalah anak yatim piatu dan diadopsi oleh gereja. Karena gereja biasanya memang membantu anak-anak yang kehilangan orang tua nya.
Gereja akan mendidik mereka menjadi priest dan priestess atau sesuatu yang lain dan gereja akan memberikan sekolah dan tempat tinggal gratis bagi mereka.
Ini sangat berguna bagi mereka dibandingkan hanya membantu dengan materi atau yang lain karena pada akhirnya uang atau bantuan lain akan habis.
Saat kecil, menjadi priest dan priestess hanya dianggap sebagai membantu. Namun jika sudah cukup umur, itu adalah pekerjaan dan mereka akan digaji.
"Memberikan uang?" Priestess kecil itu memiringkan kepalanya.
__ADS_1
"Ah, maaf. Maksudku itu menyumbang atau beramal." Lein mengoreksi kata-kata nya sendiri.
"Ah itu! Biasanya tidak apa-apa jika tuan langsung memberikan nya kepada priestess atau priest. Namun karena aku masih muda, jadi mari aku antar ke area itu." Jawab priestess kecil dengan nada ceria.
"Haha bagus. Tolong antar aku kesana." Lein sedikit terhibur dengan keceriaan priestess kecil.
Lein menyusuri lorong yang panjang dan sampai di sebuah tempat yang luas dimana di dalam nya ada beberapa priestess dan priest yang memakai pakaian tertutup.
Lalu ada beberapa orang yang sedang berbicara dengan mereka dan ada juga yang pergi ke sebuah bilik kecil di pojok ruangan.
"Mungkin tuan belum paham. Namun ada arti nya mengapa mereka mengenakan pakaian yang tertutup seperti itu." Ucap priestess kecil.
"Oh ya? Ternyata ada arti nya ya. Bolehkah aku tahu?" Lein menjadi penasaran setelah mendengar ucapan priestess kecil.
"Itu memiliki arti kalau Dewi Ariel tidak akan membeda-bedakan siapapun yang menyumbang dan berapapun jumlah nya."
"Jadi meskipun ada orang kaya yang menyumbang jutaan dan orang miskin yang menyumbang ratusan, Dewi Ariel tetap menganggap mereka setara."
"Itu adalah arti yang dikatakan oleh pengurus kamu!" Priestess kecil menjawab dengan nada ceria.
"Oh~ Itu adalah sebuah arti yang sangat bagus. Lalu mengapa ada orang yang pergi ke bilik kecil disana?" Lein mengajukan pertanyaan.
"Heh... Jadi begitu. Ini ambilah, bagikan dengan teman-teman mu." Lein memberikan Priestess kecil itu beberapa bingkisan yang berisi makanan manis.
"Eh tuan! Kami tidak bisa menerima pemberian dari orang luar!" Priestess kecil menolak namun matanya terlihat sangat menginginkan nya.
"Haha jangan khawatir. Kamu tadi melihat kalau aku keluar dari ruangan yang didalamnya juga ada Paus Olave bukan? Aku mengenal nya, jadi ambilah." Lein tertawa melihat kepolosan priestess kecil.
"Woah! Baik! Terimakasih tuan! Aku akan membagikan nya dengan teman-teman ku yang lain! Aku juga akan mengatakan kalau tuan sangat tampan!" Priestess kecil segera berlari sambil membawa banyak bingkisan.
Lein hanya menggeleng-gelengkan kepala nya dan tersenyum melihat tingkah laku priestess kecil yang polos dan lucu itu.
Setelah melihat ke sekeliling ruangan sebentar, Lein melihat seorang priestess yang ia kenal sedang berbicara dengan priestess lainnya.
"Nana!" Lein datang menghampiri priestess itu.
Ternyata itu adalah Nana, seorang priestess yang menukar air suci dengan pil dengan Lein beberapa waktu sebelumnya.
"Eh, Tuan Lein!" Nana menoleh ke arah Lein yang memanggil nama nya.
__ADS_1
"Yo! Ngomong-ngomong, panggil saja aku dengan namaku." Lein menyapa Nana.
"Baiklah. Apakah ada sesuatu yang kamu butuhkan disini?" Tanya Nana.
"Ya, aku ingin menyumbang sesuatu untuk gereja ini." Jawab Lein.
"Kalau begitu biarkan aku yang melayani mu, aku juga sedang membantu disini." Ucap Nana.
"Boleh, aku juga menjadi nyaman jika itu adalah orang yang aku kenal." Tanpa pikir panjang Lein menyetujui nya.
Kemudian Lein menunggu sebentar karena Nana sedang berbicara dengan priestess yang lain membahas beberapa ha.
Setelah itu mereka berdua pergi ke bilik kecil di pojok ruangan karena Lein ingin berbicara dengan suasana yang tenang.
Itu juga karena Lein baru pernah melakukan hal ini, jad ia sedikit khawatir jika ia berbuat kesalahan dan dilihat orang lain.
Meskipun ia tidak terlalu peduli dengan tatapan dan pikiran orang lain terhadap dirinya, namun yang ia khawatirkan adalah jika orang-orang berpikir buruk terhadap Nana.
"Apakah aku hanya mengeluarkan apa yang akan aku sumbang atau ada beberapa hal yang perlu diperhatikan?" Lein segera bertanya serakah mereka berdua memasuki bilik.
Bilik itu memiliki ukuran yang sangat kecil, di dalam nya hanya terdapat satu meja seukuran meja makan normal dan tiga kursi.
Diatas meja juga ada sebuah kotak kayu yang isinya menyimpan banyak kertas dan beberapa pena di dalam nya.
"Bebas. Kamu bisa mengisi formulir jika ingin identitas mu diketahui. Kamu juga bisa tidak mengisi formulir itu jika kamu ingin anonim." Jawab Nana.
"Hm, kalau begitu aku ingin anonim saja." Lein berpikir sebentar sebelum memutuskan.
"Baiklah. Lalu, berapa banyak yang ingin kamu sumbang?" Nana mengangguk dan bertanya kepada Lein.
"Sebelum itu, apakah sumbangan nya harus berupa uang?" Lein bertanya sebelum menyumbang.
"Tidak juga. Bisa dengan emas, barang berharga, beras, atau makanan lainnya. Karena sebagian sumbangan ini akan diberikan kepada orang yang membutuhkan." Jelas Nana.
"Baguslah. Sebenarnya aku ingin menyumbangkan ini." Lein mengeluarkan beberapa barang.
"...Kamu serius?" Nana terdiam saat melihat barang yang Lein keluarkan.
"Ya, aku serius." Lein tersenyum dan mengangguk.
__ADS_1