Analysis Eye

Analysis Eye
Arben Atvo


__ADS_3

Arben yang melihat bahwa aura nya bisa ditangkis menjadi geram, ia mengeluarkan lebih banyak aura yang lebih mengerikan juga.


Lein disisi lain juga mengeluarkan aura nya lebih mencekam, Jonas dan Enya menggunakan mana mereka untuk melindungi diri.


Lein melihat bahwa Arben tidak menyerang, ia berpikir bahwa Arben adalah tipe orang yang senang membuat lawan nya takut.


Namun Lein bukanlah orang yang mudah takut, bahkan jika ia takut ia akan dengan cepat mengatasi rasa takut itu.


Lein memanfaatkan kesempatan ini dengan mengeluarkan sihir untuk menyerang Arben.


"Dragon Dance : Mana Bomb." Lein membuat bola kecil lalu melempar nya ke arah Arben.


"Enya!" Kemudian Lein memanggil nama Enya.


"Aku mengerti!" Enya membalas.


"Fire Magic : Fireball Rain." Enya mengangkat kedua tangan nya ke atas dan muncul lah banyak sekali Fireball.


Serangan demi serangan mengenai Arben yang masih mengeluarkan aura nya, Lein menyipitkan matanya karena ia masih merasakan bahwa Arben tidak terluka.


Dan benar saja, saat asap menghilang Arben masih berdiri dengan tegak tanpa tergores sedikit pun. Kulitnya berubah menjadi gelap seperti baja.


"Analisa..." Lein menganalisa.


[ analisa berlangsung ]


[ Arben menggunakan kemampuan nya untuk mengubah tubuh nya menjadi baja ]


"Sudah kuduga..." Lein tersenyum tipis.


"Baja lemah terhadap gaya tekan, korosif, dan api dengan suhu panas! Enya, tingkatkan suhu api mu! Jonas, Tetap pertahankan posisi mu!" Lein menginstruksi mereka berdua.


"Isolda, tolong bantu aku untuk memperlambat pergerakan Arben." Lein bertelepati dengan Isolda.


"Baik" Jawab Isolda.


Enya menarik napas dalam-dalam dan menghembuskan nya dengan perlahan-lahan.


"Lein, apakah tidak apa-apa jika semuanya terbakar?" Enya bertanya.


"Hanya desa, jangan bukit nya." Lein menjawab pertanyaan Enya.


"Itu saja sudah cukup." Enya menyeringai.


a"Bagus, rencana pertama, serang tanpa rencana." Lein memberi instruksi.


"Ugh, sialan!" Enya kesal dengan perintah Lein sedangkan Jonas hanya bisa terdiam.


"Fire Magic : Fire Missile." Enya membuat sebuah misil api yang sangat besar.


"Terima ini dasar manusia baja!" Enya mengarahkan misil api ke arah Arben.

__ADS_1


"Sial." Akhirnya Arben mengeluarkan suara meskipun itu adalah kata umpatan.


Arben mengeraskan kulit nya sampai maksimal, meskipun ia tahu ia tidak akan mati jika terkena misil api namun tetap saja itu pasti akan sakit.


"Dragon Dance : Oxygen." Lein menggunakan mana untuk mengumpulkan oksigen di sekitar Arben.


Oksigen adalah elemen dalam pembentukan api, dan saat oksigen yang banyak terkena percikan api, maka bisa dipastikan bahwa oksigen akan terbakar dan terjadi lah kebakaran.


Sama seperti yang dialami Arben saat ini, karena oksigen yang Lein kumpulkan dan misil api milik Enya, maka terjadilah kebakaran yang dahsyat.


"Argh!!" Arben berteriak kesakitan karena api itu melukai nya.


"Dragon Dance : Gravity Dome." Lein membuat sebuah kubah Gravitasi yang menutupi Arben.


Kubah Gravitasi itu berfungsi agar api kebakaran nya tidak menyebar dan tetap di sekitar Arben. Ini sama saja seperti Arben berada di penjara api.


"Sial!!!" Arben berusaha mati-matian memukul kubah Gravitasi untuk keluar dari sana.


"Bukankah dia level 93? mengapa terlihat sangat mudah?" Jonas heran.


"Yah, itu karena elemen. Sekuat apapun orang nya kalau jantung nya ditusuk pasti akan mati." Lein menjelaskan alasan nya.


"Sama saja seperti sekarang, elemen baja tidak akan bisa menahan api yang sangat panas, ditambah dengan kubah Gravitasi yang membuat penjara api." Tambah Lein.


"Ah, jadi seperti itu." Jonas tersadar.


"Jadi, level memang penting tapi bukan segala nya ya..." Ucap Enya.


"Benar." Lein mengangguk.


...----------------...


Di dekat desa.


"Apa-apaan itu..." Mereka semua sangat terkejut dengan pertarungan di depan nya.


Mereka melihat bahwa tiga orang muda yang sepertinya adalah mahasiswa mengeluarkan sihir yang sangat besar untuk menghadapi musuh nya.


"Tidak mungkin! Bagaimana bisa!" Petugas Zaff mundur selangkah.


Ella melihat reaksi aneh dari petugas Zaff, ia memanfaatkan situasi ini dengan menghampiri petugas Zaff.


"Petugas Zaff, apakah anda mengetahui sesuatu dengan pertarungan di depan sana?" Ella bertanya.


"Aku tidak tahu siapa ketiga anak muda itu... Namun aku tahu siapa yang sedang mereka hadapi..." Petugas Zaff berusaha menenangkan diri.


...****************...


"Apakah ada musuh yang kuat di depan sana?"


"Mungkin buronan?"

__ADS_1


"Siapa tahu ada pemimpin Anarchy Order."


"Ketiga anak muda itu sangat hebat."


...****************...


Para penonton siaran langsung juga penasaran dengan identitas musuh sampai-sampai Petugas Zaff bereaksi seperti itu.


"Orang itu adalah... Salah satu petinggi Anarchy Order, Arben Atvo, level 93." Ucap petugas Zaff.


"!!" Semua orang entah itu di tempat atau penonton siaran langsung, terkejut dengan identitas musuh.


Salah satu petinggi Anarchy Order ada di depan dan sedang bertarung dengan tiga anak muda. Mereka bertiga juga bisa memojokkan Arben.


Namun para petugas SID menjadi panik, mereka tidak mendapatkan informasi bahwa akan ada petinggi Anarchy Order di sini.


Mereka juga sedang berpikir keras bagaimana tindakan selanjutnya. Maju? Maju sama saja mati, Mundur? Mundur akan mencoreng nama baik SID.


Oleh karena itu mereka memutuskan untuk tetap diam ditempat dan mengamati situasi pertarungan di depan sana.


"Reporter Ella, pertarungan di depan sana sangat bahaya. Mari kita tetap disini dan mengamati situasi nya." Petugas Zaff berkata.


"Baik petugas, aku juga paham." Ella mengangguk mengerti.


Para penonton juga memahami situasi saat ini, petugas SID yang disana tidak bisa bergabung kedalam pertarungan di depan.


Mungkin petugas Zaff bisa, namun ia perlu melindungi petugas lainnya dan orang-orang dari Dragon Tide News.


...----------------...


"Datang." Ucap Lein saat melihat kubah Gravitasi nya mulai menghilang.


Arben muncul dan tubuh nya penuh dengan luka bakar. Arben dalam kondisi yang sangat memalukan saat ini.


Arben bahkan belum sempat melancarkan serangan, namun ia sudah kalah duluan, apalagi kalah melawan tiga anak muda.


Sekarang Arben tidak bisa bergerak, ia hanya bisa menopang tubuh nya.


"Hm, dia belum mati. Enya, buat bola api yang kecil namun dengan suhu maksimal." Ucap Lein.


"Aku akan mencoba nya." Enya membuat bola api biasa.


Kemudian ia meningkatkan suhu bola api itu sampai batas kemampuannya, namun sepertinya itu kurang panas untuk melelehkan baja Arben.


"Maaf Lein, aku hanya bisa sampai suhu ini saja." Enya merasa bersalah.


"Untuk apa kamu meminta maaf? Biar aku bantu." Lein mengulurkan tangan nya dan mengarahkan nya ke bola api di tangan Enya.


Kemudian Lein memasukkan divine power ke dalam bola api untuk meningkatkan suhu nya sampai batas maksimum.


"Lemparkan ke arah Arben." Ucap Lein tersenyum jahat.

__ADS_1


"Diterima." Enya juga tersenyum jahat.


"...." Jonas sekali lagi terdiam dengan sifat Lein, sekarang Enya juga sama.


__ADS_2