
Lein dan Jonas kembali ke universitas dan melanjutkan aktivitas mereka seperti biasanya.
Lein memutuskan untuk mengurus lentera jiwa nanti saja karena ia terlalu malas untuk berurusan dengan Anarchy Order lagi.
Dan ia berniat untuk menyerahkan lentera jiwa kepada Gereja Ariel agar jiwa-jiwa manusia di dalam lentera itu bisa di keluarkan.
Karena menurut hasil analisa dari Analysis Eye, untuk mengeluarkan jiwa-jiwa dari lentera dibutuhkan sebuah doa khusus.
Lein tentu saja tidak bisa melakukan hal itu karena ia tidak berdoa kepada dewa atau dewi. Karena untuk berdoa, kamu harus menganut kepada siapa yang kamu percayai.
Lein hanya bisa menggunakan sihir suci atau divine power namun itu akan memusnahkan lentera jiwa beserta jiwa-jiwa di dalam nya.
...----------------...
Lein saat ini sedang berkeliling Kota Dragon Tide sendirian. Ia melakukan hal ini karena ia sangat jarang menikmati waktu sendirian.
"Sudah berapa lama aku bersantai seperti ini? Sebelum membangkitkan kemampuan, bersantai-santai seperti ini adalah kemewahan bagiku." Lein menatap langit yang cerah.
"Hm, aku jadi bingung mau kemana..." Lein menyentuh dagunya sambil melihat ke sekeliling.
"Hm? anak kecil?" Lein melihat ada anak laki-laki dan perempuan yang sedang kebingungan.
Lein berjalan mendekati mereka, namun kedua anak kecil itu nampak ketakutan saat melihat Lein mendekati mereka.
"Ah, aku bukan penjahat. Lihat ini, aku adalah seorang mahasiswa." Lein mengeluarkan kartu identitas nya agar kedua anak kecil itu tidak takut.
Dan benar saja, ketakutan mereka mereda saat membaca kartu identitas Lein dan wajah di kartu tersebut sama dengan wajah Lein.
"Akan bahaya jika kalian berdua di trotoar seperti ini. Ayo kita ke sana." Lein menunjuk ke sebuah area kecil untuk orang-orang duduk.
"Um." Kedua anak kecil itu mengangguk.
"Jadi, apakah kalian berdua terpisah dari orang tua kalian?" Setelah mereka duduk, Lein segera bertanya.
"Tidak." Mereka berdua menggeleng-gelengkan kepala mereka.
"Eh, bukan? Lalu?" Lein memiringkan kepala nya.
"Kami bersama bibi kami." Jawab kedua anak itu secara bersamaan.
"Oh~ Lalu, apakah kalian memiliki sesuatu agar aku bisa menghubungi bibi kalian?" Tanya Lein dengan ramah.
"Um, kakak sepertinya bibi memberikan kita kartu bukan?" Tanya si perempuan yang sepertinya adalah sang adik.
"Oh benar." Sang kakak merogoh saku baju nya dan mengambil sebuah kartu kecil.
__ADS_1
"Ini." Anak itu menyerahkan kartu nya kepada Lein.
"Bagus." Lein mengambil kartu tersebut.
Kartu tersebut berisikan nama dan nomor telepon yang sepertinya adalah bibi dari mereka berdua.
"Tunggu sebentar ya, aku akan menelepon bibi kalian." Lein mengelus-elus kepala mereka.
"Baik." Kedua anak itu mengangguk-anggukkan kepala mereka.
Lein mengeluarkan ponsel nya dan mengetik nomor telepon yang tertera di kartu yang diberikan oleh anak laki-laki barusan.
"Oh tersambung. Halo, saat ini aku bersama dengan dua anak kembar. Sepertinya mereka tersesat." Ucap Lein.
"Benarkah! Wah terimakasih banyak!" Balas seorang wanita dengan nada gembira dan sepertinya dia sedang menangis barusan.
"Jangan khawatir, anak-anak baik-baik saja bersamaku. Saat ini aku sedang berada di sebuah area untuk orang-orang duduk."
"Um, ada di dekat Bank Easthold. Dari bank, kamu menyebrangi jalan dan berjalan ke arah kiri lalu lurus saja." Ucap Lein.
"Baik! Baik! Mohon tunggu sebentar! Aku akan segera kesana!" Wanita itu kemudian menutup telepon.
"Sebentar lagi bibi kalian akan datang. Apakah kalian mau kue?" Lein mengeluarkan satu kemasan kue kering dari inventory nya.
"Silakan.." Lein membuka kemasan kue dan menyerahkan nya kepada kedua anak itu.
"Terimakasih!" Kedua anak itu menerima kemasan kue dan berteriak berterimakasih.
"Haha, sama-sama." Lein tertawa kecil.
"Anak-anak yang lucu. Aku jadi iri dengan mereka... Ah, jangan memikirkan nya Lein, itu adalah masa lalu." Batin Lein.
"Anak-anak!" Teriak seorang wanita dari arah belakang Lein.
Lein menoleh dan ternyata itu adalah seorang wanita dewasa berambut pendek dan berkacamata yang mengenakan pakaian kerja.
Saat wanita dewasa itu berteriak, anak-anak yang sedang memakan kue segera menaruh kemasan kue di kursi dan berlari ke arah wanita itu.
Wanita dewasa itu berjongkok dan merentangkan kedua tangannya. Kemudian anak-anak berlari ke arah pelukan wanita dewasa itu.
"Maafkan bibi. Kalian jadi tersesat." Ucap wanita dewasa itu sambil menangis.
"Tidak apa-apa bibi. Kakak itu sudah menolong kami." Balas kedua anak itu.
"Ah iya. Terimakasih karena telah menelepon...ku..." Wanita dewasa itu tidak melihat seorang pun di depan nya.
__ADS_1
"Eh, anak-anak. Dimana orang yang membantu kalian?" Tanya wanita itu.
"Apa yang bibi ucapkan? Kakak baik itu ada disana...Eh, tidak ada?" Kedua anak itu juga kebingungan.
Sebenarnya, Lein memang langsung pergi saat mereka bertiga sedang berpelukan. Tidak ada alasan khusus, Lein hanya tidak ingin mengganggu mereka.
"Ah, hari yang damai..." Lein melanjutkan jalan-jalan nya.
Lein membeli makanan dan minuman dari kafe, membeli beberapa hiasan dinding untuk rumah nya yang tidak ada apa-apa.
Lein juga membeli bahan-bahan untuk memasak di supermarket yang besar yang menjual banyak sekali bahan-bahan.
Lein kemudian keluar dari supermarket dan berencana untuk pergi ke toko bumbu yang jarak nya lumayan jauh dari supermarket.
"Hm?" Lein tiba-tiba berhenti.
Lein menoleh ke arah gang di sebelah kirinya. Ia merasakan ada sesuatu yang sangat familiar di dalam gang tersebut.
"Apa ini, mengapa ada aura suci di dalam gang yang gelap itu..." Pikir Lein.
Ternyata sesuatu yang sangat familiar adalah sebuah aura suci. Memang, akan aneh jika ada aura suci di sebuah gang yang gelap gulita.
"Apakah ada seseorang disana? Yah, pertama-tama, analisa mengapa ada aura suci di gang ini." Batin Lein.
[ analisa berlangsung ]
[ aura suci yang host rasakan adalah aura suci yang sangat murni. Aura suci ini biasanya dimiliki oleh pendeta tertinggi, malaikat, serta dewa dan dewi ]
"Tunggu dulu, anggap saja aura suci ini milik seorang pendeta tertinggi. Lalu untuk apa dia memasuki gang yang gelap gulita!?" Lein melebarkan matanya.
Tidak masuk akal untuk seorang pendeta tertinggi sedang berada di sebuah gang kecil dan sempit di tengah-tengah kota yang padat.
Dan biasanya pendeta tertinggi memiliki jadwal yang sangat sibuk dan sering berpindah tempat karena ia biasanya mengobati seseorang.
"Seorang pendeta tertinggi saja sudah tidak masuk akal, apalagi jika yang ada di dalam adalah seorang malaikat atau dewa dan dewi." Batin Lein.
Tiba-tiba ada sebuah titik cahaya yang muncul dari gang yang gelap itu. Lein menyipitkan matanya untuk melihat apa yang berada di dalam nya.
Namun tiba-tiba saja, Lein merasakan ada bahaya dari depan sana. Lein bersiap untuk menghindar namun ia terlambat satu langkah.
Leher Lein dipegang oleh seseorang dengan erat kemudian orang itu membawa Lein terbang tinggi ke atas langit.
Kecepatan orang itu sangat cepat sampai-sampai Lein tidak bisa bereaksi dan tiba-tiba saja leher nya dipegang dengan erat.
Orang-orang di sekitar bisa melihat nya, bahwa ada seseorang yang memiliki sayap putih sedang membawa orang berpakaian hitam.
__ADS_1