Analysis Eye

Analysis Eye
Alasan Lein Membenci SID


__ADS_3

Jalan kota, di sebuah mobil.


"Guru, mengapa guru tidak menghentikan serangan Lein!" Hasley yang duduk di kursi depan berkata kepada Enver.


"Seharusnya kalian bisa lebih rasional." Ucap Enver yang sedang mengemudi.


"Apa maksudmu guru?" Hasley tidak mengerti.


"Bukankah aku sudah memberi kalian informasi mengenai Lein? Apakah kalian tidak membaca nya?" Enver mengerutkan kening.


"Aku membacanya!" Hasley berteriak.


"Lalu bagaimana dengan mu Zayn?" Enver melihat Zayn yang duduk di belakang.


"Aku..." Zayn hanya menundukkan kepalanya.


"Jadi kamu tidak membacanya..." Ucap Enver dengan nada tenang.


"Tapi guru -" Zayn ingin berbicara namun dipotong.


"Cukup. Apakah seseorang yang membela diri adalah orang yang bersalah?" Enver bertanya kepada dua muridnya.


"Juga, kita ini datang sebagai petugas SID. Bersikaplah sebagaimana mestinya." Tambah Enver.


"Umur kalian lebih dewasa dibandingkan Lein, namun mengapa sifat kalian tidak dewasa? Ingat kata gurumu ini, saat bertugas, bersikaplah rasional." Enver memberikan nasihat.


"Baik guru..." Hasley dan Zayn menjawab.


...----------------...


Universitas Dragon Heart, Rumah milik Lein.


"Lein! Jonas mengabari ku bahwa tadi ada petugas SID yang datang?" Enya datang ke rumah Lein.


"Ya, mereka datang." Lein mengangguk.


"Apa tujuan mereka kesini?" Enya memakan makanan ringan yang ada di meja.


"Niat mereka adalah memberikan hadiah untuk kita." Lein juga memakan makanan ringan.


"Lalu mana hadiah nya?" Mata Enya berbinar-binar.


"Tidak ada." Lein membuat mata Enya tidak jadi berbinar-binar.


"Kenapa!?" Enya bertanya dengan sedih.


"Salah satu anggota nya menyerang ku, meskipun tidak ada niat membunuh didalam nya." Jelas Lein.


"Menyerang!?" Enya terkejut.


"Ya, tanya saja Jonas." Lein menunjuk Jonas yang sedang menonton televisi.

__ADS_1


Enya melihat ke arah Jonas dan Jonas mengangguk tanda bahwa ucapan Lein memang benar.


"Hah...." Enya menghela napas.


"Tapi Lein... Mengapa kamu sepertinya membenci SID?" Enya bertanya sesuatu yang sangat ingin dia tahu.


Jonas juga penasaran mengapa bos nya bersikap seperti memusuhi SID.


"...." Lein mengambil makanan ringan.


"Itu karena masa lalu..." Lein memakan makanan ringan.


"Singkat cerita, kakek dan nenek ku tewas tertabrak mobil oleh anak orang kaya, dan orang tua anak itu adalah salah satu petinggi SID." Lein mulai menceritakan alasan nya.


"Aku yang saat itu masih sangat muda, sekitar 8 tahun mungkin? Bertanya kepada tetangga ku, siapa yang melakukan hal itu." Lein mencoba mengingat berapa usia nya saat itu.


"Saat aku tahu bahwa anak petinggi SID, aku berteriak tidak percaya. Karena bagi seorang anak kecil, SID adalah organisasi pahlawan."


"Kemudian aku didatangi oleh petugas SID, dan petugas itu hanya memberikan ku kompensasi berupa pendidikan gratis dan uang yang banyak."


"Saat itu aku sadar, bahwa apa yang dikatakan tetangga ku benar. Sejak saat lah itu aku mulai membenci SID."


"Dan begitu lah alasan mengapa aku membenci SID." Lein tersenyum seolah-olah cerita tadi tidak mempengaruhi nya.


"..." Enya dan jonas tidak menyangka Lein akan mengalami kejadian seperti itu saat umurnya masih 8 tahun.


"Aku mengerti... Aku turut berdukacita" Enya mengeluarkan air mata karena ia sedih dengan cerita masa lalu Lein.


"Haha, terimakasih kalian berdua..." Lein tersenyum.


"Tapi mengapa kamu masih membenci nya sampai sekarang? Bukankah SID juga menyelamatkan banyak orang?" Enya menghapus air matanya dan bertanya.


"Karena orang yang menabrak kakek nenek ku dan ayah nya yang merupakan petinggi SID masih ada." Ucap Lein.


"Jadi selama mereka berdua masih berhubungan dengan SID, aku juga akan terus membenci SID." Lein mengangkat bahu nya.


"Apapun itu aku tetap mendukung mu, sekarang rasa penasaran ku sudah terpenuhi." Enya kembali tersenyum.


Kemudian mereka bertiga berbincang-bincang sebentar dan Enya pergi karena ia memang harus latihan agar terbiasa dengan api Fiama.


Jonas juga meminta izin untuk berlatih dengan Isolda, Lein menyetujui nya dan membiarkan Isolda berlatih dengan Jonas.


Dan Lein sendiri bermeditasi, ia menyerap elemen dan di sekitar sekaligus menjernihkan pikiran nya karena cerita masa lalu nya membuat nya mengingat kenangan pahit.


...----------------...


Pusat Kota, Gedung pencakar langit, SID.


Di sebuah ruangan.


"Bagaimana dengan tugas mu?" Seorang pria paruh baya berkata kepada Enver.

__ADS_1


Pria paruh baya itu bernama Alder Remus, ia adalah atasan Enver, ia memiliki aura yang kuat dan terasa sangat berwibawa.


"Gagal, kebencian akan masa lalu nya masih tersimpan hingga saat ini." Enver duduk dan menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Begitu, aku paham." Alder mengangguk.


"Apakah ia mengucapkan sesuatu mengenai SID?" Alder bertanya.


"Ia mengatakan bahwa selama 'mereka' masih di SID, maka Lein juga akan tetap membenci SID. Begitulah..." Enver mengatakan apa yang Lein ucapan tadi.


"Hah... Itu bukan sesuatu yang bisa kita urus." Alder menghela napas.


"Meskipun kita tidak bisa membuat nya berpihak kepada SID atau berhubungan baik, setidaknya jangan membuat nya menjadi musuh kita." Ucap Alder.


"Baik, aku juga paham tuan." Enver mengangguk.


Karena kekuatan Lein juga sangat kuat untuk orang seusia nya, ia menunjukkan potensi yang sangat mengejutkan.


SID telah memeriksa level Lein saat ini, namun kekuatan nya tidak cocok untuk orang berlevel itu. Oleh karena itu kekuatan Lein tidak bisa diprediksi.


Dan dengan kepintaran Lein yang bahkan bisa mengalahkan Arben dengan mudah, Lein menjadi orang yang diinginkan SID.


Jika Lein menjadi musuh SID, maka itu akan gawat. Karena dengan kekuatan dan kepintaran nya, Lein bisa menjadi orang yang sangat berbahaya.


Mungkin saat ini SID bisa menangani nya, namun bagaimana dengan masa depan? SID tidak bisa membayangkan nya.


...----------------...


Di suatu tempat.


"Bagaimana bisa SID yang selalu pasif menjadi aktif menyerang markas kami!" Pria berjubah hijau memukul meja.


"Bukankah kamu seharusnya sudah tahu? Ini karena mahasiswa Dragon Heart itu." Wanita berbaju merah darah berkata sambil meminum sesuatu yang berwarna merah.


"Dan karena pemerintah menyiarkan nya langsung, mereka jadi terkenal dan mendapatkan dukungan publik." Seorang pria kekar berkata sambil memamerkan otot nya.


"Cukup. Mari tetap lanjutkan misi kita." Ucap seorang pria paruh baya yang menggunakan penutup mata di mata kirinya.


"Maya, bereskan mereka." Perintah Pria paruh baya kepada wanita berbaju merah darah.


"Baiklah pemimpin." Maya mengangguk menerima perintah pemimpin nya.


Mereka semua adalah para petinggi Anarchy Order, mereka sedang berkumpul di suatu tempat untuk membahas masalah yang terjadi di ibukota.


Mereka juga tidak menyangka bahwa SID yang selalu diam aja bergerak, meskipun mereka juga bisa memahami nya.


Karena publik meminta SID untuk memberantas markas Anarchy Order sama seperti yang dilakukan oleh ketiga mahasiswa itu.


"Kalau begitu, pertemuan kali ini selesai." Kemudian pemimpin itu menghilang.


Para petinggi yang lain juga menghilang, hanya tersisa Maya yang masih meminum sesuatu di ruangan itu.

__ADS_1


__ADS_2