
Di kafe dekat area kuliner.
"Hm, tidak ada orang. Apakah anda memesan seluruh kafe ini?" Tanya Lein kepada pria itu.
"Hoho, tentu saja. Ini agar kita bisa berbincang dengan tenang." Jawab pria itu.
Mereka semua kemudian diantarkan oleh pelayan ke lantai tiga. Lantai dua adalah tempat untuk ruang pribadi dan suasananya sungguh tenang.
Kemudian pelayan mengantarkan mereka menuju ruangan pribadi yang paling luas dan dengan dekorasi yang paling elegan.
Mereka berempat duduk di kursi. Lein duduk di seberang Gran lalu Jonas dan Octiorb duduk di sebelah Lein.
Mereka kemudian memesan minuman dan beberapa makanan ringan untuk menemani perbincangan yang akan dilakukan.
"Sebelum memulai pembicaraan kita, kurasa aku harus memperkenalkan diri dulu bukan?" Ucap pria itu.
"Tentu. Aku juga bosan memanggil mu pak tua." Angguk Lein.
"Baiklah. Namaku adalah Gran, tidak memiliki nama keluarga." Ucap Gran memperkenalkan diri nya secara singkat.
"...Pak tua Gran." Balas Lein.
"...Bukankah kamu bosan memanggil ku pak tua?" Tanya Gran dengan nada datar.
"Tidak jadi. Panggilan pak tua cocok untuk mu." Jawab Lein.
"Hah, terserah.." Gran hanya bisa menghembuskan napas nya.
"Ngomong-ngomong, mengapa kamu ingin berbincang dengan ku pak tua?" Lein langsung menanyakan inti nya.
"Hoho, tanpa basa-basi ya, tapi baiklah." Gran mengelus-elus janggut panjang nya.
"Bagaimana kamu yang masih berusia muda bisa mengeluarkan niat membunuh yang pekat saat itu?" Gran menyipitkan matanya.
"Niat membunuh kah... Tentu saja itu karena aku sudah membunuh manusia." Jawab Lein ringan.
"Mengapa nada bicara mu sangat ringan seperti membunuh semut?" Tanya Gran heran.
"Hm? Mereka memang semut bukan? Karena mereka lemah..." Lein menyeringai.
"....Kamu..." Gran tidak tahu harus mengatakan apa.
Memang wajar mereka mati karena lebih lemah dari Lein. Tapi Lein dengan santai nya mengatakan bahwa mereka adalah semut.
"Kalau begitu, mengapa kamu mengeluarkan niat membunuh mu? Bukankah kamu bisa menyelesaikan masalah nya dengan damai?" Tanya Gran.
"Pak tua, pikirkanlah jika aku menyelesaikan dengan damai apakah akan cepat selesai? Apakah mereka juga mau dengan damai? Apakah bisa dipastikan mereka tidak akan menyerang?" Lein menanyakan tiga pertanyaan sekaligus.
"Uh itu..." Gran tidak bisa menjawab nya.
Lein benar, tidak semua masalah bisa diselesaikan dengan damai. Jika ada salah satu pihak yang tidak ingin, maka pada akhirnya masalah akan selesai dengan kekerasan atau cara lain nya.
"Dan bisa kamu liat, saat aku mengeluarkan niat membunuh ku, seketika mereka semua terdiam." Balas Lein dengan senyum tipis.
Pelayan mengetuk pintu dan masuk dengan membawa troli yang berisikan minuman dan makanan ringan yang mereka pesan.
"Oh, terimakasih." Ucap Lein.
__ADS_1
Ada banyak sekali makanan ringan di sisi meja Lein. Itu semua karena Octiorb yang memesan nya untuk dirinya sendiri.
Setelah menaruh semua pesanan di meja, pelayan undur diri dan mereka bisa melanjutkan perbincangan.
"Pertanyaan lagi. Saat itu, apakah kamu serius untuk membunuh mahasiswa dari Universitas Black Turtle?" Gran mengambil minuman nya.
"Ya dan tidak. Itu semua tergantung tindakan Black Turtle selanjutnya..." Jawab Lein.
"Apakah kamu tidak takut dengan masalah yang akan datang?" Gran mengerutkan kening nya.
"Masalah? Haha. Aku memang tidak ingin terlibat dalam masalah karena itu akan sangat merepotkan."
"Tapi bukan berarti aku takut. Jika ada orang yang membuat masalah dengan ku, dengan senang hati aku akan 'menyelesaikan' nya." Jawab Lein.
"Lalu-" Ucapan Gran terpotong.
"Ngomong-ngomong..." Lein memotong ucapan Gran.
"Jonas." Panggil Lein.
"Ya, bos?" Jawab Jonas.
"Selain kita berempat, ada berapa orang lagi yang kamu rasakan didalam ruangan ini?" Lein mengambil makana ringan nya.
"!!" Gran terkejut.
"Apakah dia menyadari nya!? Orang yang bersembunyi menggunakan teknik penyembunyian yang hebat, bagaimana bisa dia menyadari nya!?" Pikir Gran.
"Hm... Ada 3 orang di ruangan ini selain kita bos." Jonas menjawab.
"Apakah kamu tahu lokasi nya?" Lein bertanya lokasi mereka.
"Sebutkan." Balas Lein.
"Satu, berdiri di dekat pintu. Dua, berjongkok di balik meja di sudut ruangan. Tiga, berjongkok di langit-langit ruangan." Jonas menyebutkan semua lokasi nya.
Meskipun ini adalah kafe, tetapi memiliki struktur bangunan kuno. Oleh karena itu langit-langit ruangan adalah kayu-kayu.
"Sial, mereka benar menyadari nya. Tapi untung saja mereka tidak menyadari semua nya!?" Gran terkejut.
"Hm, kamu benar semuanya." Lein menganggukkan kepalanya.
"Haha, terimakasih bos." Jonas senang.
"Kamu memang benar dalam menyebutkan lokasi mereka, tetapi... kamu ketinggalan satu orang." Ucap Lein.
"Eh? Apakah ada satu orang lagi bos?" Tanya Jonas bingung.
"Ada." Lein melihat ke arah Gran, atau lebih tepatnya ke arah belakang nya.
"Seorang wanita muda, sedang berdiri dan memegang kedua pedang nya di belakang pak tua Gran." Lein menyeringai.
"!! - Sialan...." Gran benar-benar terkejut kali ini.
"Hah...Jadi kamu tahu ya..." Gra menghela napas.
"Tentu saja." Lein tersenyum.
__ADS_1
"Britta, keluarlah." Ucap Gran.
"Baik guru." Terdengar suara wanita di belakang Gran.
Kemudian terlihat kah seorang wanita yang berpenampilan heroik. Memakai pakaian kasual namun dilengkapi dengan perlengkapan tempur sederhana.
Wanita itu berambut panjang berwarna perak dan memiliki warna mata biru muda yang sangat indah seperti kristal murni.
Kedua pedang yang ada di pinggang kiri nya juga terlihat seperti pedang yang berkualitas.
"Ternyata benar bos." Ucap Jonas.
"Tentu saja aku benar. Aku ini bos mu." Balas Lein.
"Duduklah." Ucap Gran.
"Baik." Wanita itu kemudian duduk di sebelah Gran.
"Analisa." Lein menganalisa wanita itu.
[ analisa berlangsung ]
[ Britta Morais
level : ?? (artefak)
kemampuan : ?? (artefak)
Seorang wanita yang merupakan anak dari walikota Laville ]
"Britta Morais..." Ucap Lein.
"Kamu tahu?" Tanya Gran.
"... Meskipun aku berasal dari luar, aku tahu mengenai keluarga Morais." Jawab Lein.
"Baguslah. Perkenalkan, dia ini adalah murid ku, murid satu-satunya." Ucap Gran dengan nada bangga.
"Oh..." Lein merespon dengan singkat.
"Ngomong-ngomong soal guru dan murid. Dekan Hido hanya mengajarkan ku mengenai pertarungan tubuh menggunakan mana."
"Dia tidak pernah mengajari ku teknik atau memberikan ku sebuah buku skill. Karena aku adalah murid nya, itu artinya aku bisa menjaga sesuatu kan?" Pikir Lein.
...----------------...
Di Universitas Dragon Heart, kantor Dekan Hido.
*Hachoo
"Ah, siapa yang sedang membicarakan ku." Dekan Hido mengusap-usap hidung nya.
"Aku merasa bersalah pada muridku karena tidak pernah memberikan nya sesuatu, tapi tenang saja! Aku akan memberikan ini kepadamu saat kita bertemu!" Ucap Dekan Hido.
Apa yang dipegang Dekan Hido saat ini adalah sebuah buku yang terlihat usang dan di sampul nya tertulis sebuah huruf yang sulit untuk dibaca.
Karena huruf yang digunakan adalah...
__ADS_1
Huruf Kuno.