Analysis Eye

Analysis Eye
Pergi ke Gereja Ariel untuk Pemurnian


__ADS_3

Setelah setengah jam menunggu, Holton keluar dari ruangan dan langsung memeluk Octiorb dan Lein sambil menangis tersedu-sedu.


"Tolong lepaskan, aku ini pria lurus." Ucap Lein dengan nada jijik.


"Haha, maaf, aku terlalu terbawa emosi." Air mata sedih Holton berubah menjadi air mata gembira.


Holton dan Octiorb kemudian berbicara mengenai banyak hal terkait dengan kesembuhan Ava sedangkan Lein sudah pergi dari sana.


...----------------...


"Hm, aku sangat bosan.. eh? siapa yang menelpon ku?" Lein mengambil ponsel nya dan melihat panggilan dari nomor tidak dikenal.


"Halo, Lein disini." Lein menjawab telepon itu.


"Halo Tuam Lein, saya Syra, sekretaris Tuan Holton. Laporan mengenai orang yang anda tangkap sudah selesai. Apakah anda ingin mengambil nya atau diantar ke rumah anda?" Terdengar suara wanita dari telepon.


"Aku akan mengambil nya. Ada di kantor pemerintah bukan?" Lein langsung menggunakan sihir terbang.


"Ya tuan. Saya akan menunggu anda di lobi." Jawab Syra.


"Baiklah." Lein menutup telepon kemudian terbang menuju kantor pemerintah.


Sesampainya disana, Lein mendarat di depan gedung dan segera memasuki gedung. Lein melihat ke sekeliling mencoba mencari Syra.


"Tuan Lein." Terdengar suara wanita di sebelah kanan Lein.


"Ah, Nona Syra?" Lein menoleh dan melihat ada wanita berambut pendek berpakaian formal dengan kacamata hitam.


"Ya, itu saja. Ini adalah dokumen laporan nya, dan juga, ini adalah Cawan Penyimpan Jiwa." Syra menyerahkan sebuah dokumen yang sedikit tebal dan Cawan Penyimpan Jiwa.


"Mengapa dikembalikan kepada ku?" Lein menerima kedua barang itu dan bertanya.


"Karena kami juga tidak bisa berbuat apapun dengan cawan ini. Jadi, keputusan terbaik adalah mengembalikan nya kepada Tuan Lein." Jawab Syra.


"Jadi begitu, baiklah." Lein langsung menyimpan Cawan Penyimpan Jiwa ke dalam inventory nya.


Kemudian setelah berbicara sebentar, Syra undur diri karena ia masih memiliki banyak hal yang harus diselesaikan karena Holton tidak hadir.


Lein duduk di kursi yang ada di lobi dan membuka dokumen itu. Kemudian ia membaca laporan yang sudah dibuat oleh petugas terkait.


"Hm, jadi orang itu adalah bawahan langsung Kadin dan memiliki tugas untuk menghidupkan kembali Organisasi Anarchy Order jika terjadi sesuatu."

__ADS_1


"Lalu jika Kadin mati, orang itu memiliki tugas sebagai pemimpin baru dan mengembalikan Anarchy Order seperti semula."


"Jadi, jiwa-jiwa yang ada di cawan itu akan digunakan sebagai sumber kekuatan ya..." Lein menafsirkan inti dari laporan tersebut.


Setelah selesai membaca semua laporan nya, Lein melihat kalau tidak ada sesuatu yang perlu diingat di dalam laporan itu.


Jadi ia menggunakan sihir api untuk membakar laporan itu sampai menjadi abu. Lein beranjak dari kursi dan menepuk-nepuk pakaian nya.


Kemudian ia berjalan keluar dari gedung dan memanggil taksi karena ia sedikit bosan terbang dan ingin menikmati sedikit pemandangan jalan.


...----------------...


"Sudah sampai, tuan." Ucap sopir taksi.


"Ya, terimakasih." Setelah membayar biaya taksi, Lein keluar dari mobil.


Di depan Lein saat ini adalah sebuah bangunan yang memiliki desain kuno namun megah dan memiliki luas yang sangat lebar.


"Aku penasaran dari mana saja Gereja Ariel mendapatkan dana sampai bisa membangun bangunan yang sangat megah." Batin Lein.


Benar, di depan Lein saat ini adalah Gereja Ariel. Ia memutuskan untuk ke sini karena ingin memurnikan Lentera dan Cawan Penyimpan Jiwa.


Lein masuk ke dalam gereja dan tanpa basa-basi, ia segera memberitahu kepada priestess mengenai tujuan kedatangan nya.


Ia segera menuntun Lein ke suatu ruangan dan menyuruh nya untuk duduk di dalam sementara dirinya akan memanggil seseorang.


"Bahkan dekorasi nya juga tampak mahal, apakah gereja boleh berpenampilan mahal seperti ini?" Lein menyentuh dagunya.


Karena gereja adalah tempat orang berdoa dan kurang pantas jika mendekorasi bangunan atau ruangan dengan sesuatu yang terlihat mahal.


Kemudian pintu ruangan terbuka dan datang seorang pria paruh baya yang sedikit botak dan rambut-rambut nya berwarna putih.


"Um..Paus Olave?" Lein mencoba mengingat nama orang di depan nya.


"Ya, anda benar Tuan Lein." Olave mengangguk.


"Eh, jangan panggil aku dengan sebutan formal. Panggil saja aku dengan nama ku tanpa tambahan apapun." Ucap Lein.


"Baiklah kalau begitu, Lein." Balas Olave.


Olave kemudian duduk di seberang Lein dan mereka berbasa-basi sebentar mengenai masa lalu dimana mereka hanya bertemu secara singkat.

__ADS_1


"Lalu, Paus Olave, ini adalah dua barang yang akan dimurnikan." Lein mengeluarkan Lentera dan Cawan Penyimpan Jiwa.


"!! - Ini..." Olave melebarkan matanya saat melihat kedua barang di depan nya.


Karena Olave bisa merasakan aura yang sangat jahat dari kedua barang tersebut bahkan dirinya yang merupakan Paus merasa sedikit terancam.


"Aura jaha yang dipancarkan adalah karena mantra jahat yang ditanamkan. Namun, jiwa-jiwa yang terkurung bukanlah jiwa jahat." Jelas Lein.


"Syukurlah... Akan sulit jika jiwa-jiwa yang ada di dalam merupakan jiwa jahat." Olave menghela napas lega.


Olave berdiri dan meletakan kedua tangan nya di udara di atas Lentera dan Cawan Penyimpan Jiwa lalu ia mulai membacakan mantra yang Lein tidak pahami.


Titik-titik berwarna emas bermunculan di seluruh ruangan, kemudian titik-titik itu berkumpul di kedua telapak tangan Olave membentuk dua bola cahaya emas.


Setelah beberapa saat, dua bola cahaya tersebut berubah bentuk lagi menjadi tidak beraturan dan mulai menyelimuti Lentera dan Cawan Penyimpan Jiwa.


"Jadi begini proses pemurnian sesuatu..." Lein kagum dengan cara Olave memurnikan nya.


Olave mulai mengeluarkan keringat karena ia mengeluarkan banyak sekali Divine Power untuk memurnikan kedua benda tersebut.


"Maaf Lein, sepertinya aku tidak bisa memurnikan nya karena aku kekurangan Divine Power..." Cahaya di kedua tangan Olave mulai meredup.


"Jangan khawatir." Lein yang mendengar ucapan Olave segera berdiri dan berjalan ke belakang Olave.


Lein menempelkan telapak tangan kanan nya di punggung Olave dan menyalurkan Divine Power milik nya ke tubuh Olave.


"Divine Power!?" Olave terkejut Lein memiliki Divine Power.


"Ini imbalan dari Dewi Ariel saat aku merebut Staff of Sapience dari tangan Anarchy Order." Jawab Lein.


"Oh! Puja Dewi Ariel." Olave segera berterimakasih kepada Dewi Ariel.


Cahaya di kedua telapak tangan Olave yang tadinya redup kini menjadi bercahaya lagi bahkan kali ini lebih menyilaukan dibandingkan dengan sebelumnya.


Proses pemurnian nya berlangsung selama 10 menit. Setelah selesai, Olave langsung duduk bersandar di kursi karena tubuh nya sudah lemah.


Sedangan Lein, tubuh nya sama seperti biasa tanpa perubahan apapun. Lein juga duduk kembali di kursi nya di seberang Olave.


"Lein, bagaimana bisa kamu tidak kelelahan setelah mengeluarkan banyak sekali Divine Power..." Olave heran dengan Lein.


"Karena aku masih muda." Lein menjawab nya dengan asal-asalan.

__ADS_1


"Yah... Sepertinya itu benar..." Olave juga tidak mempermasalahkan jawaban Lein.


__ADS_2