Analysis Eye

Analysis Eye
Lein vs Barqi (3)


__ADS_3

Para pasukan bergegas menuju Lein dengan niat membunuh dan semangat yang membara.


Jika mereka membunuh Lein, maka patriark akan memberikan imbalan yang sangat banyak. Oleh karena itu mereka sangat bersemangat.


"Woah, sangat banyak. Lari dulu." Lein berlari menghindari mereka.


Untuk Isolda, Lein menyuruh nya tetap berada di dalam. Lein berencana untuk membiarkan Isolda menyerang setelah Lein melakukan rencana yang telah ia persiapkan.


Lein berlari-lari di sekitar kebun yang dipenuhi mayat. Sesekali ia menghindari serangan dari belakang kemudian melempar beberapa botol racun.


Meskipun tidak banyak, namun beberapa orang mati dengan mengenaskan karena terkena racun yang korosif itu.


Lein memang tidak menyangka pasukan utama akan datang secepat ini, namun ia juga sudah merencanakan hal ini.


Setelah dirasa sudah cukup, Lein mengubah arah berlari nya. Lein berlari menuju ke dalam kediaman keluarga Barqi.


Lein juga memberi pesan ke Isolda lewat telepati.


// karena Isolda dan Lein udah menjalin kontrak, maka telepati bukanlah hal yang mustahil //


"Isolda, pergilah ke tempat yang dekat dengan jendela di lantai paling atas. Lalu tunggu aba-aba ku." Perintah Lein lewat telepati.


"Ci~!" Isolda mengangguk Lein dan bergerak sesuai perintah Lein.


Setelah Lein berada di dalam, Lein menuju ke arah pintu keluar bagian belakang. Kemudian, Lein berhenti berlari dan berbalik.


Pasukan utama yang mengejar Lein juga secara tidak sadar berhenti. Udara disekitar menjadi tenang, Lein dan pasukan utama saling bertatap mata.


"Yo, pasukan utama yang bahkan tidak bisa menangkap seorang remaja. Hahaha." Lein tertawa mengejek pasukan utama keluarga Barqi


"Sial!"


"Kamu licik!"


"Dasar monster!"


Pasukan utama mengumpat kepada Lein. Mereka kesal karena tidak bisa mengejar, bahkan serangan mereka dihindari oleh Lein.


Sebenarnya sangat muda untuk mengejar dan menyerang Lein. Namun Lein sudah menganalisa rute untuk berlari dan menghindari serangan pasukan utama.


Medan yang dilewati Lein adalah lautan darah dan gunung mayat. Medan itu bisa memengaruhi penglihatan dan psikologis pasukan utama.


Oleh karena itu pasukan utama tidak bisa mengerahkan semua kekuatan nya karena mereka melihat mayat-mayat rekan mereka.


"Apakah mental pasukan utama memang lemah? atau hanya berlaku di keluarga Barqi?" Lein berpikir didalam hatinya.


Lein tidak menyangka rencana yang telah disiapkan berjalan dengan mulus tanpa harus berusaha keras. Semua itu berkat mental pasukan utama keluarga Barqi yang lemah ini.


"Baiklah, langsung saja." Lein mengumpulkan mana di kedua kakinya terutama di telapak kaki.


Setelah dirasa cukup, Lein mengejek pasukan utama dan assassin yang disewa oleh keluarga Barqi. Mereka lalu merasa geram dan lebih banyak mengumpat.


Lein tersenyum, lalu dengan sekuat tenaga pergi keluar dengan melalui pintu belakang. Lein keluar hanya dengan waktu sepersekian detik karena ia sudah mengumpulkan mana di kaki nya.

__ADS_1


Pasukan utama dan assassin yang melihat Lein kabur segera mengejar nya, namun mereka terlambat. Mereka mendengar ledakan dan merasa bahwa pijakan mereka goyah.


"Haha, terlambat. Isolda! Keluar sekarang!" Lein menyalurkan mana ke benang mana yang selalu ia pegang.


Isolda juga menuruti perkataan Lein, ia lalu mengepalkan sayapnya dan terbang keluar melalui jendela ke arah Lein.


*grr grr (suara gemuruh)


Mana yang telah menyebar di lantai bawah tanah paling dasar dan di lantai satu bereaksi dan meledak!


Lein tidak melihat kebelakang, ia dan Isolda menjauhi kediaman keluarga Barqi yang akan runtuh dengan sekuat tenaga.


*BOOM!! (suara ledakan dahsyat)


Ledakan demi ledakan bergema dari lantai bawah tanah. Setelah itu, ledakan juga terjadi di lantai satu tempat dimana pasukan utama dan assassin berada.


Mereka berusaha kabur dari situasi ini, mereka berlarian dan saling menabrak satu sama lain karena mereka panik.


Jika ledakan nya hanya ada di lantai satu, mereka mungkin bisa kabur. Namun ledakan juga terjadi di lantai bawah tanah.


Ledakan di lantai bawah tanah menyebabkan tanah disekitar nya retak dan hancur. Oleh karena itu Kediaman keluarga Barqi juga akan hancur dengan cepat.


Lein dan Isolda kini sedang berada di hutan yang jauh dari kediaman. Mereka berdua melihat ledakan yang terus bergema dari arah kediaman.


"Yah, pemandangan yang sangat indah." Lein kagum dengan 'mahakarya' nya.


"Ci~" Isolda juga setuju.


...----------------...


"Sial!!" Mathis mengumpat setelah melihat Kediaman keluarga Barqi hancur tak tersisa.


"Bagaimana mungkin bocah itu merencanakan ini!" Tubuh Mathis gemetar.


Mathis tidak menyangka bahwa pasukan yang telah dibawa nya dan assassin yang disewa akan mati begitu saja karena rencana seorang remaja.


"Lein Sanzio!!!" Mathis berteriak memanggil nama Lein.


Teriakan Mathis bergema di seluruh kediaman bahkan Lein bisa mendengar teriakan nya.


...----------------...


Tempat Lein.


"Woah, pak tua itu kelihatan nya sangat marah." Lein melihat Mathis dari jauh.


"Yah, ayo kita selesaikan masalah ini dengan cepat." Lein berdiri.


"Ayo, Isolda." Lein menepuk kepala Isolda.


"Ci~!" Isolda mengangguk dengan serius.


...----------------...

__ADS_1


*slash (suara tebasan pedang)


"!!" Mathis merasakan bahaya dan menghindari serangan itu.


"Siapa!?" Mathis berteriak.


"Siapa lagi kalau bukan aku, pak tua." Lein datang dan menyerang lagi.


*slash (suara tebasan pedang)


Mathis menghindari serangan Lein lagi. Mathis lalu mengeluarkan senjata nya. Senjata Mathis adalah sebuah gauntlet (sarung tangan).


"Ho? Petarung?" Lein mengira Mathis adalah seorang pengguna busur atau assassin karena ia sangat cepat saat kabur dari ledakan tadi.


"Yah, apapun it- !!" Lein tiba-tiba berguling kearah kanan.


*Boom (suara ledakan)


Tempat Lein berdiri barusan meledak dan berubah menjadi sebuah lubang yang dalam.


Mata Lein menyipit dan melihat siapa yang telah menyerang nya. Ia mengecualikan Mathis, karena Mathis tidak melakukan apapun.


*tap tap tap (suara langkah kaki)


"Kalian..." Mathis menoleh dan terkejut siapa yang datang.


"Tetua Jayme dan Tetua Jayma!" Mathis terkejut melihat tetua keluarga Barqi datang.


"Tetua?" Lein melihat ke arah dua orang itu.


Kedua tetua itu berwajah mirip yang sepertinya mereka adalah kembar. Yang membedakan dari penampilan nya adalah rambut nya.


Tetua Jayme berambut hitam dengan sedikit berwarna putih di bagian depan nya. Tetua Jayma berambut putih dengan sedikit berwarna hitam di bagian depan nya.


"Patriark menyuruh kami untuk memantau situasi jika terjadi sesuatu. Namun kami tidak menyangka akan seburuk ini." Jayme berkata.


"Benar, kak." Jayma setuju.


"Maafkan saya kedua tetua!" Mathis segera membungkukkan badan nya.


"Minta maaf lah pada patriark nanti. Sekarang... Kita harus membunuh bocah itu." Jayme melihat kearah Lein.


Senjata Jayme adalah sebuah pedang besar dua tangan. Sedangkan senjata Jayma adalah sebuah palu besar dua tangan.


"Kekeke, sampai mengirimkan dua tetua untuk membunuh seorang remaja... Keluarga Barqi nampaknya... sangat lemah!?" Lein mengejek keluarga Barqi.


Wajah mereka bertiga menjadi suram setelah mendengar ucapan Lein yang mengejek keluarga Barqi mereka.


"Isolda... Kamu kan menghadapi-" Ucapan Lein terhenti setelah melihat mata Isolda yang penuh dengan niat membunuh.


"Sepertinya kamu telah memutuskan ya..." Lein tersenyum.


Lein akan menghadapi tetua kembar, dan Isolda akan menghadapi Mathis. Mereka semua bertatap mata dan... bergerak!

__ADS_1


__ADS_2