
"Baguslah. Sebenarnya aku ingin menyumbangkan ini." Lein mengeluarkan beberapa barang.
"...Kamu serius?" Nana terdiam saat melihat barang yang Lein keluarkan.
"Ya, aku serius." Lein tersenyum dan mengangguk.
Nana melihat tumpukan barang di depan nya yang dikeluarkan oleh Lein lalu melihat ke arah Lein selama beberapa kali.
Di depan Nana ada berbagai macam barang. Ada pakaian lengkap, aksesoris tambahan, barang sehari-hari, makanan, dan masih banyak lagi.
"Ini bisa disumbangkan bukan?" Lein tersenyum lebar.
"Yah, ini memang bisa." Nana juga tersenyum.
Nana kira Lein akan menyumbang beberapa barang yang berharga untuk menggantikan uang, namun ia tidak menyangka Lein akan menyumbang banyak barang.
Apalagi barang-barang tersebut adalah barang kebutuhan primer yang sangat dibutuhkan oleh orang-orang yang membutuhkan.
"Tunggu sebentar, aku akan memanggil beberapa petugas lain." Nana keluar dari bilik dan kembali setelah beberapa saat bersama tiga orang.
"Kalian semua tolong bawa barang-barang ini ke tempat penyimpanan yang akan digunakan untuk diberikan kepada orang-orang." Nana memberikan instruksi.
"Baik!" Ketiga orang itu mengangguk dan membawa setengah jumlah nya langsung.
"Ah, aku lupa. Apakah aku bisa menyumbang daging monster? Maaf, masalahnya hampir semua daging yang aku punya adalah daging monster." Lein menggaruk-garuk bagian belakang kepala nya.
"Tentu saja boleh asalkan daging itu bisa dimakan. Apapun daging nya selama ini bisa dimakan akan sangat berguna bagi mereka yang membutuhkan." Nana mengangguk.
"Baguslah." Lein kemudian mengeluarkan beberapa tubuh monster yang belum dipotong.
Kebanyakan monster yang Lein sumbang adalah monster banteng yang daging nya bisa dimakan dan rasanya juga mirip dengan daging sapi.
Namun setelah melihat jumlah nya, Nana menyuruh Lein untuk memasukan kembali monster-monster yang sudah Lein keluarkan.
Nana menuntun Lein menuju gudang penyimpanan yang kosong dan menyuruhnya untuk mengeluarkan monster-monster nya disana.
Lein mengangguk dan mengeluarkan monster banteng yang belum dipotong dan beberapa kilogram daging monster yang sudah dipotong.
"Terimakasih Lein. Bantuan mu ini akan sangat membantu bagi banyak orang." Nana berterimakasih dengan tulus.
"Sama-sama. Aku juga tidak tahu harus bagaimana dengan monster-monster itu selain dijual." Lein membalas dengan rendah hati.
"Ah sebentar." Lein berjalan ke sudut gudang untuk menjawab telepon.
"Halo? Ah, begitu, bagus, ya baiklah, aku akan segera kesana." Lein menutup telepon dengan cepat.
__ADS_1
"Maaf, aku harus pergi sekarang." Ucap Lein kepada Nana.
"Tidak apa-apa, karena kamu juga menyumbang secara anonim jadi tidak ada prosedur apapun." Nana mengangguk.
"Baiklah, sampai jumpa dilain waktu." Lein keluar dari gudang.
"Ya, sampai jumpa." Nana melambai-lambaikan tangan nya.
...----------------...
Setelah keluar dari Gereja, Lein langsung menggunakan sihir terbang dan terbang menuju Universitas Dragon Heart tepat nya menuju kantor Presiden Brynn.
Sesampainya depan gedung, Lein segera masuk dan menggunakan lift untuk naik ke lantai paling atas dimana itu adalah letak kantor nya.
*tok tok tok
Lein segera mengetuk pintu kantor setelah sampai di lantai paling atas dan berada di depan pintu kantor Presiden Brynn.
"Masuk." Suara Brynn terdengar dari dalam kantor.
Leon membuka pintu dan melihat ada beberapa orang di dalam kantor. Selain Brynn, ada Walikota Holbein dan beberapa petugas SID.
"Duduklah." Brynn menyuruh Lein duduk di sebelah nya.
"Baik." Lein mengangguk dan duduk di sebelah Brynn.
Ternyata, apa yang akan dibicarakan oleh mereka adalah mengenai Anarchy Order yang sudah dituntaskan oleh orang-orang.
"Kami sudah memeriksa nya sampai tiga kali, sekarang infomasi ini sudah valid. Anarchy Order.... sudah musnah." Holbein mencoba untuk tetap tenang.
"..." Lein berdiri dan menarik napas dalam-dalam kemudian menghembuskan nya secara perlahan-lahan.
Brynn juga memiliki ekspresi gembira yang tidak bisa disembunyikan setelah mendengar informasi dari mulut Holbein.
"Tapi, kami akan menyebarkan berita ini kepada publik tiga hari lagi." Ucap Holbein dengan tiba-tiba.
"Mengapa?" Lein dan Brynn bertanya secara bersamaan.
"Meskipun kita tahu kalau Anarchy Order sudah musnah, tapi aku takut ada seseorang yang akan melakukan hal yang sama dengan mereka."
"Selama tiga hari itu, kita akan menunggu apakah ada orang atau kelompok yang mengacau seperti yang Anarchy Order lakukan."
"Itulah mengapa aku membuat keputusan ini." Jelas Holbein.
"Oh! Keputusan yang bagus walikota." Lein menganggukkan kepala nya setuju dengan keputusan Holbein.
__ADS_1
"Benar, aku terlalu gembira dengan informasi ini sampai-sampai tidak memikirkan hal yang lain." Brynn juga setuju dengan keputusan Holbein.
Mereka kemudian melanjutkan pembicaraan mereka membahas mengenai hal-hal terkait dengan informasi itu dan bagaimana dampaknya.
Mereka juga sudah membuat rencana jika ada orang atau kelompok yang mengacau dalam tiga hari atau setelah berita ini disebarkan.
Meskipun mereka tahu kalau kemungkinan hal itu terjadi sangat kecil, namun mereka tetap membuat rencana untuk berjaga-jaga.
Lebih baik rencana yang mereka buat menjadi tidak berguna daripada ada orang atau kelompok yang mengacau namun mereka tidak memiliki rencana untuk mengatasi hal itu.
Setelah satu jam pembicaraan, Holbein dan petugas SID lain pamit undur diri. Brynn dan Lein mengantar mereka sampai ke lobi gedung.
"Akhirnya selesai." Ucap Brynn sambil melihat ke langit yang cerah.
"Ya, Benua Manusia akan memasuki waktu damai." Lein juga merasakan hal yang melegakan.
Saat mereka berdua berjalan menuju lift sambil berbicara beberapa hal acak, ponsel milik Brynn berdering ada panggilan masuk.
"Nomor tidak dikenal?" Pikir Brynn saat melihat kalau panggilan itu berasal dari nomor telepon tidak dikenal.
"Halo, siapa ini?" Brynn memutuskan untuk menjawab nya.
"Halo Tuan Brynn, aku Jenderal Holton." Terdengar suara Holton dari balik telepon.
"Jenderal Holton? Apakah anda memerlukan sesuatu dari ku?" Brynn penasaran mengapa Holton menelepon nya padahal mereka berdua tidak saling kenal.
"Sebenarnya Lein sudah menyembuhkan putri ku, Ava. Dia ingin aku menemui mu sebagai bayaran nya." Jelas Holton.
"Karena dia adalah jenderal, apakah Lein meminta bantuan nya mengenai Dungeon Tundra Desert?" Pikir Brynn.
"Hm baiklah bisakah anda menemui ku di kantor ku di Universitas Dragon Heart?" Tanya Brynn.
"Tentu, apakah sekarang kamu memiliki waktu luang?" Holton tidak keberatan.
"Ya, aku sedang luang sekarang." Angguk Brynn.
"Baiklah, aku akan menuju ke sana setelah beberapa saat persiapan." Ucap Holton kemudian ia menutup telepon nya.
"Lein." Brynn memanggil Lein.
"Seperti yang kamu pikirkan Pres. Dengan bantuan Jenderal Holton, urusan Dungeon Tundra Desert akan menjadi mudah." Jelas Lein.
"Tapi apakah dia tidak akan menanyakan dari mana asal Dungeon Tundra Desert ini?" Brynn sedikit khawatir.
"Jangan khawatir, dia melakukan ini sebagai bayaran bahwa aku telah menyembuhkan putri nya. Jadi dia tidak akan bertanya yang tidak perlu." Lein menenangkan Brynn.
__ADS_1
"Baiklah, aku percaya padamu. Dan kamu benar, jika Jenderal Holton membantu, maka urusan nya akan menjadi mudah." Brynn menjadi sedikit lebih tenang.