Analysis Eye

Analysis Eye
Dewi Ariel


__ADS_3

"!!' Octiorb dan Isolda terkejut.


Meskipun mereka belum mengetahui masa lalu Lein, namun mereka tahu bahwa Lein selalu hidup sendiri.


Mereka tidak mengira bahwa Lein akan bertemu dengan ayah nya dan itu adalah jenis pertemuan yang sangat buruk.


"Kalian terkejut bukan? Aku juga..." Lein membuka matanya.


"Aku terkejut bahwa orang itu adalah petinggi Anarchy Order, organisasi jahat yang berusaha menghancurkan dunia." Ucap Lein dengan nada tenang.


"Bocah... Apakah kamu baik-baik saja?" Octiorb bertanya dengan nada khawatir.


"Hm? Aku baik-baik saja, aku hanya terkejut." Lein berkata dengan senyum.


"Yah, lagipula kami sudah tidak ada hubungan apapun." Lein mengangkat bahu nya.


"Ugh!" Kepala Lein sakit.


"Baiklah-baiklah..." Lein berteriak.


"Ada apa?" Octiorb bertanya mengapa Lein berbicara sendiri.


"Dewi ingin berbicara dengan ku." Lein pergi keluar dari kamar.


Isolda berubah wujud menjadi kalung dan Octiorb menghilang kembali ke tubuh Lein.


...----------------...


"Priestess, dimana patung Dewi Ariel?" Lein bertanya kepada Priestess yang lewat.


"Oh tuan Lein. Anda hanya perlu lurus ke depan lalu belok kanan, pintu paling besar adalah ruangan dimana patung Dewi Ariel berada." Priestess memberitahu Lein.


"Baiklah, terimakasih Priestess." Lein mengangguk lalu berjalan sesuai arahan priestess.


...----------------...


"Dewi? Keluarlah." Lein berdiri di di depan patung Dewi Ariel.


"Kamu sangat tidak sopan..." Sebuah suara wanita yang agung terdengar.


Kemudian patung nya bersinar dan muncul lah sesosok wanita yang mengenakan armor tubuh yang heroik dengan sayap putih dibelakang nya.


Sosok itu adalah Dewi Ariel, Armor heroik itu melambangkan bahwa ia adalah Dewi Keberanian.


Dan Sayap putih yang indah itu melambangkan bahwa ia adalah malaikat tertinggi.


Dewi Ariel melepas armor kepala nya dan terlihat lah wajah yang sangat cantik, kecantikan ini tidak bisa dibandingkan dengan kecantikan fana.


Rambut emas nya juga sangat indah seperti emas murni, dan rambut nya berkilauan seperti bintang-bintang.


"Terimakasih atas pujian nya." Lein berterima kasih.


"...." Dewi Ariel hanya bisa terdiam dengan sikap Lein yang sembrono.

__ADS_1


Makhluk fana bahkan akan bereaksi berlebihan seperti bersujud jika mereka mendengar suara dewa-dewi, apalagi jika mereka melihat sosok nya.


Namun Lein disisi lain bersikap biasa saja atau lebih condong ke ketidakpedulian.


"Dewi, aku harus berbuat apa dengan Staff of Sapience ini." Lein menunjukkan Staff of Sapience di depan Dewi Ariel.


"Bawa Staff itu ke Gereja Ariel di Ibukota, dan serahkan kepada Paus disana." Dewi Ariel menjawab.


"Hm, baiklah." Lein kemudian menyimpan staff of Sapience ke dalam inventory nya.


"Lalu Dewi, bagaimana dengan imbalan ku?" Lein menyeringai.


"....Tugas mu saja belum selesai." Ucap Dewi Ariel dengan mata kosong karena kelakuan Lein.


"Permintaan mu hanya merebut kembali Staff of Sapience dari tangan penjahat, jadi bisa dikatakan aku telah menyelesaikan tugas ini." Ucap Lein dengan nada polos.


"Ugh!" Dewi Ariel memegangi kepalanya tidak tahu harus berbuat apa dengan Lein.


"Baiklah, terima lah ini." Dewi Ariel mengangkat tangan nya.


Kemudian sebuah kekuatan asing memasuki tubuh Lein dengan sangat cepat dari tangan Dewi Ariel.


"Jadi ini... Divine power..." Lein merasakan kekuatan asing itu.


"Berterima kasih lah." Dewi Ariel menurunkan tangan nya.


"Terimakasih." Kali ini Lein berterima kasih dengan sungguh-sungguh.


"Tapi Dewi..."


"Kalian para dewa dan dewi menyetujui untuk memberikan divine power padaku karena kalian tahu kan bahwa ayahku akan datang." Lein menyipitkan matanya.


"..." Wajah Dewi Ariel berubah menjadi serius


"Bagaimana kamu tahu?" Dewi Ariel mengeluarkan sihir di ruangan ini agar suara pembicaraan mereka tidak terdengar di dunia luar.


"Meskipun aku makhluk fana, bukan berarti aku bodoh." Lein duduk di kursi.


"Baiklah, kamu benar." Dewi Ariel menjentikkan jarinya dan sebuah kursi yang megah muncul, kemudian ia duduk di kursi itu.


"Apakah dewa dan dewi diatas sana ingin melihat ku 'bereuni' dengan keluarga ku?" Lein bertanya dengan senyum sembrono.


"Benar, mereka termasuk aku ingin melihat bagaimana kamu akan bereaksi." Dewi Ariel tidak membantah.


"Hahaha, aku tidak menyangka aku akan terlibat dalam 'naskah' yang dewa dan dewi buat." Lein tertawa keras.


"Apakah aku adalah 'protagonis' nya?" Lein bertanya.


"Benar, hanya kamu." Dewi Ariel mengangguk.


"Baiklah aku akan mengikuti 'drama' ini, aku akan membuat kalian para dewa dan dewi puas." Len menyeringai.


"Namun.... Apa imbalan ku?" Wajah Lein berubah menjadi tenang.

__ADS_1


"Apa yang kamu mau?" Dewi Ariel bertanya balik.


"Divine power yang setara dengan dewa dan "Dragon Language'." Ucap Lein.


"Kami hanya bisa memberikan divine power yang setara dengan demigod (setengah dewa)." Dewi Ariel menolak permintaan Lein.


"Kalau begitu maaf, aku tidak akan mengikuti 'drama' kalian." Lein mengangkat bahu.


"....Biarkan aku mendiskusikan ini dengan yang lain." Dewi Ariel menghilang.


"Bocah, apakah kamu yakin dengan keputusan mu?" Octiorb muncul dan bertanya dengan serius.


"Aku yakin, dan aku membutuhkan kedua kekuatan itu untuk bertambah kuat." Lein yakin dengan keputusan nya.


"Baiklah jika itu keputusan mu, aku akan tetap mendukung mu." Octiorb tersenyum lalu menghilang.


"Aku juga!" Ucap Isolda.


"Terimakasih kalian berdua..." Lein tersenyum berterima kasih.


"Kami telah mendiskusikan nya." Dewi Ariel muncul.


"Bagaimana?" Tanya Lein


"Kami akan memberikan divine power yang setara dengan demigod dan 'Dragon Language' yang akan kami segel setengah kemampuan nya."


"Setuju..." Lein menyeringai bahagia.


"Baiklah, terima lah." Dewi Ariel mengangkat kedua tangan nya.


Kemudian muncul lingkaran sihir berwarna emas di bawa kaki Lein. Dewi Ariel membacakan beberapa mantra sihir dan kekuatan yang meluap-luap keluar dari tubuh Lein.


"Perasaan ini... Sungguh menyenangkan." Lein merasakan kekuatan yang sangat kuat berada di dalam tubuh nya.


"Tepati lah janji mu." Dewi Ariel menghilang bersamaan dengan hilangnya penghalang suara.


"Kekeke, tunggu lah kalian semua." Lein melihat ke atas.


Kemudian Lein keluar dari ruangan dan kembali ke kamar nya, Lein lalu menganalisa kekuatan yang diberikan oleh dewa dan dewi.


[ analisa berlangsung ]


[ divine power (Setara dengan Demigod)


Sebuah energi yang mirip seperti mana namun lebih kuat karena energi ini dipakai oleh para dewa dan dewi serta makhluk tertinggi ]


[ Dragon Language (Setengah Kekuatan)


Sebuah kekuatan yang pengguna nya bisa menggunakan bahasa naga, bahasa naga digunakan saat menggunakan mantra sihir terlarang atau mantra sihir kuno ]


"Jika aku menggunakan divine power, maka aku akan setara dengan level 70." Lein memperkirakan.


"Meskipun divine power ku setara dengan demigod bukan berarti aku sudah menjadi Demigod itu sendiri." Pikir Lein

__ADS_1


"Yang dimaksud dengan setara dengan demigod adalah kekuatan divine power nya." Pikir Lein mencoba merasakan divine power.


"Sebelum aku kembali ke Kota Dragon Tide, mari kita bangkitkan potensi Jonas." Lein kemudian pergi ke lapangan Gereja dimana Jonas sedang berlatih disana.


__ADS_2