
Sekitar tiga hari kemudian, Lein tidak mengunggah bukti apapun lagi karena ia memang sudah tidak memiliki bukti lagi.
Mungkin ada satu, yaitu rekaman suara pembunuh yang memberitahu kalau Hagas menyewa mereka semua untuk membunuh Lein.
Namun Lein sengaja tidak mengunggah nya, karena Lein berencana untuk membunuh Hagas lalu Lein menunjukkan rekaman suara itu.
Jadi tindakan Lein adalah membela diri bukan balas dendam karena Hagas yang menyewa Pembunuh untuk membunuh Lein.
Jadi wajar saja kalau Lein membela diri, Lein bisa mengatakan kalau Hagas sudah keterlaluan jadi ia membunuh nya.
...----------------...
"Bagaimana? Apakah kamu akan bergerak sekarang?" Tanya Octiorb yang melihat Lein sedang bersiap-siap.
"Ya, aku sudah tidak bisa menahan emosi ini." Angguk Lein tanpa menoleh.
"Lalu bagaimana rencana mu? Kamu tidak akan membunuh Hagas secara langsung bukan?" Octiorb duduk bersandar di sofa.
"Tentu saja tidak. Aku akan menuntun nya untuk pergi ke hutan dan saat sampai disana, aku akan memancing emosi nya."
"Di kondisi nya saat ini, Hagas tidak akan bisa mengendalikan emosi nya, jadi bisa ku pastikan kalau Hagas akan terpancing." Lein menjelaskan rencana nya.
"Hm, tidak buruk juga. Baiklah, apakah aku perlu membantu mu?" Octiorb menawarkan bantuan.
"Apa ya, mungkin kamu bisa menggunakan akun anonim itu untuk mengarahkan emosi masyarakat ke SID." Ucap Lein.
"Baiklah, serahkan itu kepadaku. Aku sangat ahli jika mengarahkan emosi manusia yang tidak jelas, hahaha." Octiorb tertawa lepas.
"..." Lein hanya tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepala nya.
Saat ini adalah pagi hari, Lein sudah selesai bersiap-siap. Lein pamit dan segera pergi ke rumah Hagas di area perumahan mewah.
Lein memasuki area perumahan mewah dengan mudah karena orang yang berjaga paling kuat berlevel 90 dan sisanya adalah level 70 kebawah.
Lein juga bisa dengan mudah menemukan rumah milik Hagas karena rumah nya sudah masuk berita selama beberapa hari terakhir.
Lein saat ini tidak menggunakan sihir tidak terlihat atau sihir terbang, karena Lein sudah memeriksa nya kalau tidak ada orang kuat di perumahan mewah saat ini.
Lein melompati pagar rumah Hagas dan berjalan menuju halaman belakang nya. Lein lalu membuat tanah di bawah rumah Hagas bergetar dengan sihir tanah.
__ADS_1
Hagas dan yang lain merasakan getaran itu, mereka berpikir kalau ada gempa di Kota Elm dan mereka segera keluar dari rumah.
Namun saat mereka keluar dari rumah mereka tidak merasakan getaran pada saat mereka berada di dalam rumah.
"Apa-apaan ini?" Hagas mengerutkan kening nya.
"Apakah ini hanyalah gejala nya saja? Mungkin tanah akan bergetar lagi setelah beberapa saat." Ucap Elin yang sedikit khawatir.
Hagas dan Elwin setuju dengan pemikiran Elin, lalu bahas menyuruh Elin dan Elwin untuk mengemasi barang-barang untuk pergi.
Karena jika ada gempa lagi, mungkin getaran nya akan lebih besar dan karena diantara mereka bertiga, tidak ada yang memiliki kemampuan yang berguna saat gempa.
Saat mereka berjalan kembali ke rumah, tiba-tiba tanah di bawah mereka bergetar hebat yang menyebabkan tanah nya retak.
"Sial, apakah gempa nya sudah dimulai? Elin! Elwin! Lupakan barang-barang nya. Mari kita pergi ke lapangan terbuka!" Teriak Hagas.
"Ya!" Elin dan Elwin menjawab..
Mereka mengubah arah menjadi ke arah lapangan, namun mereka sudah terlambat. Tanah di bawah mereka ambruk dan mereka terjatuh ke bawah.
"Wahh!!" Mereka bertugas berteriak dengan panik.
"Untung saja lubang nya tidak dalam... Elwin, naiklah ke bahu ku lalu kami tarik Elin dari atas." Ucap Hagas kepada Elwin.
"Baik ayah." Elwin mengangguk.
Hagas sedikit membungkuk, lalu Elwin menaiki bahu Hagas sampai tangan nya mencapai permukaan tanah lalu Elwin memanjat nya.
Setelah itu giliran Elin yang menaiki bahu Hagas dan ditarik oleh Elwin dari atas permukaan tanah.
Elin dan Elwin mencari sesuatu yang bisa menarik Hagas, mereka tidak merasakan getaran lagi jadi mereka memasuki rumah berusaha mencari tali.
"Bagaimana perasaan mu di bawah sana, Hagas." Lein berjongkok di pinggir lubang dan melihat ke bawah.
"Lein!? Apa yang kamu lakukan disini!?" Hagas terkejut Leon tiba-tiba berada di sana.
"Kamu seharusnya bisa tahu mengapa aku ada disini dengan otak pintar mu itu." Lein tersenyum kecil.
"!! - Jangan-jangan, kamu yang melakukan hal ini? Dan getaran karena gempa itu tidak ada?" Hagas menyipitkan mata nya.
__ADS_1
"Tepat sekali, coba bayangkan saja jika terjadi getaran maka semua penghuni perumahan mewah ini akan keluar dari rumah mereka."
"Karena kamu beranggapan kalau getaran ini terjadi karena akan terjadi gempa, kamu jadi tidak memperhatikan kalau tidak ada penghuni lain."
"Kasihan sekali.. Ups mereka berdua kembali." Lein segera bersembunyi dibalik tembok.
Elwin mengikat tali ke batang pohon di halaman dengan kencang. Elin melemparkan bagian tali yang lain ke dalam lubang.
Hagas memegang tali dengan erat lalu ia perlahan-lahan memanjat. Setelah berada di permukaan tanah, Hagas segara melihat ke sekeliling.
"Itu dia! Kalian berdua kembalilah ke rumah, ini bukanlah gempa bumi melainkan perbuatan Lein. Aku akan mengejar nya!" Hagas melihat Lein yang akan kabur.
"Lein!? Lein yang waktu itu kita temui di ruangan nya Tuan Gran!?" Teriak Elwin namun Hagas sudah berlari jauh.
"Elwin, ayo kita gunakan koneksi kita untuk membantu Hagas. Jika Lein dibiarkan saja, dia akan selalu membuat hidup kita kacau." Ucap Elin.
"Baik Bu, aku setuju dengan mu." Angguk Elwin.
Mereka berdua kemudian masuk ke dalam rumah dan mengabaikan lubang di halaman depan yang masih belum ditutup.
Elin dan Elwin menelepon orang-orang koneksi mereka untuk membantu melakukan sesuatu untuk mengatasi Lein entah bagaimana caranya.
...----------------...
"Berhenti! Dasar pengecut!!" Teriak Hagas yang sedang mengejar Lein.
"Hahaha, pengecut? Aku tidak menyangka akan mendengar kata itu dari seseorang yang selalu berada di balik kekuasaan nya!" Lein tertawa terbahak-bahak.
"Sialan!!" Hagas sangat marah.
Ia mengeluarkan ramuan dari inventory dan meminum nya. Kemudian tiba-tiba kecepatan lari Hagas bertambah cepat bahkan akan menyamai kecepatan Lein.
"Oh! Ramuan penambah kecepatan!" Lein kagum karena ia baru pertama kali melihat ramuan itu secara langsung dengan kedua mata nya.
"Kalau begitu, haruskah aku mempercepat nya?" Lein menyeringai dan mempercepat kecepatan lari nya.
Lein menuntun Hagas untuk pergi ke hutan di luar kota. Lein mengambil jalan terpencil yang tidak ada orang di sekitar jalan agar tidak menarik perhatian.
Lalu sekitar 15 menit kemudian, mereka berdua sudah tiba di pinggiran hutan di luar tembok kota yang suasananya sunyi.
__ADS_1