Analysis Eye

Analysis Eye
Rencana Berlibur di Negara Tundra


__ADS_3

Esok hari nya, Lein bangun dan melihat kalau Brynn masih tertidur dengan lelap. Ia mencium kening nya dan mengenakan pakaian nya.


Kemudian ia pergi ke kamar mandi untuk membasuh muka dan menggosok gigi kemudian ia pergi ke dapur untuk membuat sarapan.


"Lein..." Pintu kamar Liza terbuka dan muncul Liza yang sedang menguap.


"Liza, basuh muka dan gosok gigi terlebih dahulu." Ucap Lein kemudian ia melanjutkan memasak.


"Baik..." Liza mengangguk dan pergi ke kamar mandi.


Setelah itu Liza pergi ke dapur, ia mengambil gelas dan membuat teh hangat untuk dirinya minum karena tenggorokan nya kering.


"Ah~ Ini sangat enak." Liza menyentuh tenggorokan nya yang hangat.


"Hm, entah kenapa aku merasakan sesuatu yang aneh dari dirimu." Liza menyipitkan matanya saat melihat Lein.


"Apa maksudmu? Ini masih pagi, dan jangan berkata yang aneh-aneh." Lein memutar matanya.


"!! - Oho." Liza tersenyum licik.


"... Apa-apaan senyum itu." Lein tidak menghiraukan Liza.


Liza tidak terlalu peduli, ia menaruh gelas teh di atas meja dan berlari menuju kamera Brynn. Liza melihat kalau Brynn masih tidur dan kamar nya berantakan.


"...Sudah kuduga." Liza tertawa.


Tawa Liza membuat Brynn membuka matanya, ia mengusap-usap matanya dan duduk namun yang ia lihat adalah Liza yang sedang tertawa tidak jelas.


"Apa yang kamu lakukan disini dan mengapa kamu tertawa tidak jelas?" Brynn menguap dan bertanya kepada Liza.


"Fufufu, kenakan pakaian mu terlebih dahulu." Liza tersenyum.


"Apa maksud- Ahh!!" Brynn melihat ke tubuh nya yang tidak mengenakkan pakaian dan langsung berteriak.


"Ada apa?" Lein masuk ke dalam kamar dan melihat situasi yang seharusnya tidak ia lihat.


"Keluar!" Brynn melemparkan bantal ke arah Lein.


"Ups." Lein menangkap bantal itu dan menaruh nya di lantai kemudian ia keluar dari kamar dengan senyum canggung.


"Kamu juga!" Brynn menatap Liza.


"Eh~ Mengapa aku harus keluar? Aku sudah beberapa kali melihat tubuh mu, tidak perlu malu" Liza memutar matanya.

__ADS_1


"Abaikan hal itu, bagaimana semalam? Apakah kamu-" Ucapan Liza terpotong.


"Diam!" Brynn berteriak kemudian ia mengenakan pakaian nya.


Liza melihat sekeliling mengambil kursi dan duduk dengan diam sambil melihat Brynn yang sedang mengenakan pakaian nya.


"Jadi, sekarang kita ini berbagai pria yang sama." Ucap Liza secara tiba-tiba.


"..." Brynn tidak membalas karena ia terlalu malu untuk berbicara.


"Baiklah, mari akhiri bercanda nya. Kali ini aku serius, kamu tidak menyesali nya bukan?" Liza mengubah wajahnya menjadi serius.


"...Ya. Aku sangat serius." Brynn tahu kalau Liza sedang serius dan ia juga menjawab dengan serius.


"Bagus. Aku juga tidak ingin berpisah dari mu~" Liza kembali ke mode ceria.


"Basuh muka dan gosok gigi, aku akan menunggu mu di ruang makan." Liza berdiri dan keluar dari kamar Brynn.


...----------------...


"Hm~ Hm~" Lein menyenandungkan irama dengan gembira.


Ia mengambil sarapan yang berupa mie kuah yang dibuat sendiri dengan tepung bukan mie instan dan menaruh nya di atas meja makan.


Kemudian ia mengambil dua gelas yang berisi teh dan kopi lalu ia juga mengambil gelas teh milik Liza dan menaruh semuanya di atas meja makan.


"... Sepertinya sudah selesai ya." Lein melepas celemek dan menggantung nya di tempat nya.


"Ya!" Liza mengangguk dengan gembira.


"Ngomong-ngomong, kamu harus membahagiakan kita!" Teriak Liza.


"Baik, baik, jangan berteriak begitu." Lein memutar matanya.


Saat mereka berdua berbicara, Brynn keluar dari kamar nya namun ia menjadi tidak berani dan malah menghindari saat menatap mata Lein.


Lein hanya tersenyum dengan reaksi imut itu, mereka bertiga kemudian sarapan dengan gembira sambil berbincang-bincang ria.


Setelah selesai sarapan dan mandi, Lein langsung pergi menuju Dungeon Tundra Desert dan menyuruh Brynn untuk tetap tinggal di rumah.


Brynn menolak nya dan berkata kalau dia akan ikut juga namun Liza juga menyuruh Brynn untuk beristirahat di rumah.


Liza membujuk Brynn untuk beristirahat dan pada akhirnya karena paksaan Liza, Brynn beristirahat dirumah dengan pasrah.

__ADS_1


...----------------...


"Bagaimana kerja sama nya dengan keluarga-keluarga berpengaruh?" Lein bertanya kepada Alder.


Lein saat ini sedang berada di kantor milik Alder dan di dalam kantor ada dirinya, Alder, dan Sefa yang sedang membuat teh untuk mereka.


"Hm, lancar-lancar saja. Tidak ada kendala satupun karena mereka juga memiliki niat kerja sama yang murni." Jawab Alder dengan napas lega.


"Itu bagus. Aku sedikit khawatir jika mereka melakukan sesuatu yang melanggar aturan dan jika iya maka kita akan sedikit kesulitan untuk mengatasi nya dengan damai." Lein juga menghela napas lega.


"Kami juga berterimakasih kepada Tuan Brynn yang memilih keluarga berpengaruh dan pengusaha yang bisa dipercaya." Sefa menaruh teh di atas meja.


"Oh itu benar, dia menyeleksi semua orang yang akan bekerja sama dengan kita dengan sungguh-sungguh." Alder menganggukkan kepala nya.


"Haha, dia memang pekerja keras. Aku sudah meminta dirinya untuk beristirahat namun ia menolak dan tetap bekerja." Lein tertawa kecil.


"Oh kalau begitu kami akan memberikan hadiah untuk Tuan Brynn. Bagaimana dengan itu, suamiku?" Sefa menoleh ke arah Alder.


"Aku setuju. Meskipun Tuan Brynn juga bekerja, namun dia bekerja dengan tulus dan sangat membantu kami." Alder setuju dengan ucapan Sefa.


"Apakah kamu tahu apa yang Tuan Brynn sukai?" Sefa bertanya kepada Lein.


"Teh." Lein langsung menjawab nya.


"Teh ya, apakah tidak ada yang lain? Seperti yang kamu tahu kalau ini adalah gurun pasir dan teh disini tidak terlalu enak." Alder menyentuh dagunya.


"Hm, kalau begitu berikan saja sesuatu yang bisa membuat nya tenang. Dia suka berada di tempat yang tenang." Lein menjawab setelah berpikir sebentar.


"Ah! Kalau begitu kami akan memberikan dia rumah disini." Ucap Alder.


"Pfft-" Lein menyemburkan teh yang ia minum.


"Rumah!? Bukankah itu terlalu berlebihan!?" Lein melebarkan matanya.


"Haha, untuk satu orang memang berlebihan. Namun kamu juga perlu diberi hadiah. Jadi kami akan memberikan satu rumah untuk kalian berdua jika kalian ingin bersantai disini." Jelas Alder.


"...Itu boleh juga. Aku juga akan mengajak Liza kesini." Lein menganggukkan kepala nya.


"Oh, Elf wanita itu ya?" Tanya Sefa.


"Ya. Aku juga memiliki teman yang merupakan ahli medis. Dia dan Liza memiliki kemiripan, yaitu sangat menyukai kuliner." Yang Lein maksud adalah Liza dan Octiorb.


"Haha, teman-teman mu sungguh menyenangkan. Ajak saja mereka kesini kapanpun yang kamu mau!" Alder tertawa.

__ADS_1


"Baiklah. Aku akan memilih waktu untuk berlibur disini." Lein juga tertawa.


Setelah itu mereka bertiga membahas banyak hal mengenai orang-orang luar, kerja sama dengan keluarga berpengaruh dan pengusaha, keuntungan yang didapatkan, dan masih banyak lagi.


__ADS_2