
Mereka berdua kembali ke kota Els dan menyewa satu kamar namun dua tempat tidur, karena Liza harus merawat Lein yang kelelahan.
...----------------...
Keesokan harinya, pagi hari.
Lein dan Liza sedang sarapan di lantai pertama hotel yang merupakan restoran. Mereka sarapan dengan tenang dan damai.
Tubuh Lein sudah sembuh karena kemampuan regenerasi nya. Meskipun mana dan divine power nya belum pulih sepenuhnya.
"Permisi tuan Lein." Seorang pria berseragam prajurit Kota Els datang menghampiri Lein dan Liza yang sedang makan.
"Hm?" Lein menoleh.
"Maaf mengganggu waktu sarapan anda. Saya disini untuk mengantarkan surat undangan perjamuan makan malam yang akan diadakan nanti malam di kediaman Walikota Rollen." Ucap prajurit menyerahkan undangan.
"Surat undangan?" Lein menerima surat undangan yang diberikan.
"Apakah aku boleh membawa teman?" Tanya Lein.
"Boleh tuan. Anda bisa membawa satu atau dua orang teman." Angguk prajurit.
"Baiklah, terimakasih." Lein menyimpan surat undangan.
"Kalau begitu saya permisi dulu tuan." Prajurit membungkukkan badannya sedikit lalu undur diri.
"Apakah kamu akan mengajak ku?" Liza bertanya sambil tersenyum karena ia tahu teman yang dimaksud adalah dia dan Jonas.
"Benar." Lein mengangguk.
Lein memang ingin mengajak Liza. Karena ia tidak pernah menghadiri sebuah perjamuan. Dan karena Lein tidak memiliki kenalan di Kota Els.
"Haruskah kita berbelanja?" Tanya Lein.
"Tentu!" Liza berdiri dan berkata dengan mata berbinar-binar.
Lalu Liza memegang tangan Lein dan menariknya. Liza berlari keluar restoran sambil menarik tangan Lein.
"Hey, hey... Kita belum membayar makanan kita!" Lein menghentikan Liza.
"Ah, maaf..." Liza menggaruk-garuk kepalanya dengan canggung.
Mereka kembali ke restoran, disana mereka melihat manajer restoran sedang melihat mereka dengan wajah tersenyum namun tidak tersenyum.
"Ah..." Lein dan Liza meminta maaf kemudian Lein membayar makanan yang belum ia bayar.
...----------------...
"Kemana kita akan pergi Liza?" Lein bertanya kepada Liza yang sedang melihat-lihat.
Mereka saat ini sedang berada di Mall Kota Els. Mereka ingin berbelanja membeli pakaian untuk mereka pakai saat perjamuan makan malam nanti.
"Hm, aku juga tidak tahu. Semua toko menjual pakaian yang bagus." Liza juga bingung.
"Yah kalau begitu kita ke toko ini dulu saja untuk melihat-lihat." Lein menunjuk ke arah suatu toko pakaian.
__ADS_1
"Hm...Baiklah." Liza setuju.
Mereka segera berjalan menuju ke toko yang ditunjuk oleh Lein barusan. Saat mereka masuk, mereka disambut oleh pegawai wanita.
"Halo, selamat datang, panggil saja saya Emi. Apakah ada yang bisa saya bantu?" Ucap Emi dengan senyuman.
"Hm, tolong tunjukkan kami pakaian untuk perjamuan." Jawab Lein.
"Baik, silakan ikuti saya." Emi mengangguk dan menuntun mereka.
"Apakah ada referensi khusus untuk pakaian nya tuan?" Tanya Emi saat Mereke bertiga sudah sampai di area pakaian perjamuan.
"Hm, warna gelap dan pakaian nya jangan yang mencolok." Ucap Lein.
"Bagaimana, Liza?" Tanya Lein meminta pendapat Liza.
"Aku setuju, Lein." Liza mengangguk.
"Baiklah, begitu." Ucap Lein kepada Emi.
"Kalau begitu silakan kesini tuan dan nona." Emi berjalan ke area yang pakaian nya berwarna gelap.
"Wah, ada banyak sekali. Lein, kamu duduk saja." Ucap Liza dengan mata berbinar-binar.
"Ah, baiklah." Lein hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya.
Lein lalu mencari kursi dan duduk disana sambil membaca majalah yang tersedia.
"Lein, menurutmu aku memakai short dress atau long dress?" Sebelum memilih, Liza bertanya kepada Lein.
"Sudah kuduga kamu akan menjawab itu." Liza tersenyum lalu kembali memilih pakaian.
Karena Lein bosan, ia kemudian berdiri dan melihat-lihat pakaian yang ada di dalam toko.
"Hm, kapan terakhir kali aku ke toko pakaian ya.." Lein sedikit bernostalgia.
Karena Lein tidak memiliki waktu untuk berbelanja. Meskipun Lein diberikan kompensasi dari SID saat kematian kakek dan neneknya.
Tapi kompensasi itu tidak cukup untuk menghidupi Lein sampai remaja. Oleh karena itu Lein bersekolah dan juga bekerja paruh waktu.
Kerja paruh waktu tentu saja tidak menghasilkan banyak uang. Namun itu sudah cukup untuk biaya hidup sehari-hari.
Oleh karena itu Lein hampir tidak pernah berbelanja. Bahkan memasuki mall atau toko saja tidak pernah. Karena ia tidak memiliki uang untuk berbelanja.
"Lein!" Liza memanggil Lein.
"Ya!" Lein menjawab dan menghampiri Liza.
"Bagaimana dengan ini?" Liza menunjukkan sebuah pakaian.
"Coba saja dulu..." Lein tidak menjawab namun menyuruh Liza untuk memakai nya.
"Baik!" Liza mengangguk.
Liza membawa pakaian yang ia pilih ke kamar ganti. Setelah beberapa saat, Liza keluar dengan memakai pakaian itu.
__ADS_1
"Bagaimana?" Liza bertanya dengan nada malu-malu.
Liza memakai dress rok panjang berwarna abu-abu gelap yang tidak memiliki lengan, jadi hanya sampai di bagian ketiak.
Lalu dengan dress itu sampai ke leher Liza dengan memasang sebuah lingkaran di leher nya.
// maaf tidak bisa mendeskripsikan pakaian nya. Jika penasaran, cari saja kata kunci High-Neck PromGirl Prom Dress with Pockets //
"Tidak perlu ditanya lagi, kamu sungguh cantik." Lein menjawab dengan tulus.
Liza memang sangat cantik dengan dress yang ia pakai. Karena dress nya tidak menggunakan banyak aksesoris yang bertabrakan.
Ditambah Liza adalah seorang elf. Elf selalu memakai pakaian ras nya sendiri dan sekarang ada seorang elf yang memakai pakaian manusia.
Itu menjadi nilai tambah dalam kecantikan Liza. Lein benar-benar terpesona dengan penampilan Liza saat ini.
"Begitu kah?" Liza menyelipkan rambut ke belakang telinga nya.
"Ya, benar...." Lein tersenyum tulus.
"Kalau begitu... Aku ambil ini saja." Liza kembali ke kamar ganti untuk berganti pakaian.
"Permisi." Lein memanggil Emi yang sedang memilih pakaian.
"Ah, iya tuan?" Emi menghampiri Lein dan bertanya.
"Aku memilih dress yang Liza kenakan barusan." Ucap Lein.
"Dan juga tolong pilihkan aku pakaian yang cocok dengan itu." Tambah Lein.
"Baik tuan. Segera saya pilihkan." Angguk Emi.
Setelah beberapa saat, Liza keluar dari kamar ganti dan membawa dress nya. Lalu mereka berdua duduk dan berbincang-bincang sambil menunggu pakaian yang Emi pilihkan untuk Lein.
Lalu Emi datang dengan membawa jas dengan warna yang sama yaitu abu-abu gelap dengan sedikit corak berwarna hitam.
Lalu dengan celana panjang berwarna sama yaitu abu-abu gelap dan bercorak hitam. Untuk sepatu nya berwarna hitam pekat.
"Apakah tuan menyukai setelan ini?" Emi menunjukkan setelan yang ia bawa.
"Aku suka, itu cocok dengan dress Liza." Lein mengangguk.
"Kalau begitu kami ambil dress ini dan setelan itu." Lein berdiri.
"Baik tuan!" Emi tersenyum cerah.
Emi mengambil dress yang dipilih oleh Liza. Lalu mereka bertiga berjalan ke kasir untuk membayar pakaian yang Lein dan Liza pilih.
Lein membayar dengan kartu bank tanpa nama. Perasaan Lein saat membayar pakaian yang mereka beli adalah senang.
Mungkin karena Lein tidak pernah berbelanja. Dan membayar pakaian seorang wanita yang disukai juga membuat dirinya bahagia.
Mereka berdua mengambil pakaian dan menyimpan didalam inventory mereka masing-masing, lalu mereka keluar dari toko.
Mereka menghabiskan waktu yang tersisa dengan makan siang, bermain, berjalan di taman kota, dan lainnya.
__ADS_1