Analysis Eye

Analysis Eye
Kompetisi antar Negara : Suara Misterius


__ADS_3

Hari ketiga kompetisi dimulai.


Lein bangun dari tidur nya dan sarapan sederhana berupa sisa makan malam kemarin.


Saat Lein akan memulai eksplorasi nya, ia tiba-tiba diserang oleh sesuatu.


"Sial, serangan diam-diam lagi!?" Pikir Lein kesal.


Lein menangkis serangan itu dan melihat siapa yang menyerang nya secara diam-diam lagi.


"Hm? Burung?" Lein melihat ada burung di dahan Pohon Oxtara.


"Analisa." Lein menganalisa burung itu.


[ analisa berlangsung ]


[ Regis Bird


level : 88


skill : Tembakan bulu


Seekor monster burung yang bisa membuat bulunya menjadi sangat tajam ]


"Kapan terakhir kali aku melawan monster terbang?" Lein menyentuh dagunya.


"Ah sudahlah." Lein menginjak tanah dan terbang menuju Regis Bird.


"Quack!" Regis Bird berteriak.


Regis Bird kemudian mengepakkan sayap kirinya dan banyak bulu tajam beterbangan mengarah ke Lein.


"Sangat cepat!?" Pikir Lein.


"Dragon Dance : Gravity Wall." Lein membuat dinding gravitasi di depan nya.


Dinding gravitasi berhasil menangkis serangan bulu tajam Regis Bird. Saat Lein mendekati nya, Regis Bird berteriak kemudian ia terbang.


"Tidak akan kubiarkan!" Lein mengejar Regis Bird dengan kecepatan tinggi.


Pertempuran terjadi di udara antara Lein dan Regis Bird. Saat Regis Bird mengepakkan kedua sayapnya, bulu-bulu tajam menyerang Lein.


Lein menangkis nya dengan dinding gravitasi dan sesekali ia membelokkan serangan bulu-bulu tajam dengan sihir angin.


Lein merapatkan kedua telapak tangan nya dan melapisi nya dengan mana agar berfungsi seperti pedang tajam.


"Ayo!" Lein mendekati Regis Bird dan menyerang nya.


"Quack!" Bulu Regis Bird ternyata bisa untuk bertahan.


Regis Bird menangkis serangan Lein dengan bulu tajam nya dengan mudah.


"Ck." Lein mendecakkan lidah nya.


Lein kemudian mengincar tubuh Regis Bird yang tidak tertutup oleh bulu nya yaitu kedua kakinya, paruh, dan kedua matanya.


Lein menambah kecepatan nya agar Regis Bird tidak bereaksi dan ia mengincar kedua kaki Regis Bird terlebih dahulu.


Lein kemudian dengan mudahnya memotong kedua kamu Regis Bird dengan kedua tangan nya yang sudah dilapisi oleh mana.


"Quack..!!!" Regis Bird berteriak kesakitan karena kedua kakinya terpotong.


Regis Bird kemudian mengepakkan kedua sayapnya dengan cepat dan kali ini ada banyak sekali bulu-bulu tajam yang keluar dan menyerang Lein.

__ADS_1


"Dragon Dance : Gravity Slash." Lein menebas ke arah udara dengan tangan nya.


Tebasan Gravitasi berhasil membuat semua bulu-bulu tajam yang mengarah ke Lein berbelok ke arah samping kanan dan kiri.


"Bulu mu tinggal sedikit bukan?" Lein melihat Regis Bird yang saat ini hanya tersisa sedikit bulu.


Karena Regis Bird hanya bisa membuat bulu yang ada di tubuhnya tajam, bukan menciptakan sebuah bulu tajam.


Jadi saat ia menyerang dengan bulu tajam nya, otomatis bulu ditubuh nya akan berukurang sedikit demi sedikit.


"Quack..!!" Regis Bird berteriak lalu ia terbang menjauh dari Lein.


"Mau kabur kah?" Lein membuka kedua telapak tangan nya.


"Dragon Dance : Mana Ball." Lein memunculkan beberapa bola mana di atas kedua telapak tangan nya.


"Terima ini! Hahaha!" Lein melempar bola mana seperti melempar bola kasti.


Lein sengaja membuat beberapa serangan meleset agar Regis Bird merasakan ketakutan dan menjadi panik.


...****************...


"Bukankah dia psikopat?"


"Benar, dia psikopat."


"Sungguh kejam."


"Sekarang aku merasa kasihan kepada Regis Bird itu."


"Mari berduka."


...****************...


Setelah beberapa saat melempari bola mana, Lein akhirnya membunuh Regis Bird dengan satu serangan. Regis Bird mati dan ia terjatuh ke dalam hutan.


Saat Lein terbang di udara, Isolda tiba-tiba mengatakan sesuatu.


"Lein, tunggu." Ucap Isolda lewat transmisi suara.


"Isolda? Ada apa?" Lein segera mendarat di salah satu Pohon Oxtara.


"Aku merasakan aura yang familiar namun juga terasa asing.." Jawab Isolda.


"Familiar namun asing? Apa maksudmu Isolda?" Lein bingung.


"Ini... Adalah aura naga." Balas Isolda.


"Aura naga!?" Lein melebarkan matanya karena terkejut.


"Aku familiar karena ini sepertinya aura naga yang pernah aku temui. Namun terasa asing karena ini juga berbeda dari naga yang aku temui." Ucap Isolda.


"Ah, maksudmu aura ini berasal dari naga dengan kemampuan yang sama dengan naga yang pernah kamu temui?" Lein paham.


"Iya, seperti itu!" Jawab Isolda.


"Hm, bagaimana bisa ada naga disini. Aku jadi penasaran..." Lein menyentuh dagunya.


"Arahkan aku." Ucap Lein kepada Isolda.


"Baik! Dari arah mu saat ini, pergilah ke arah jam 10, lalu lurus terus." Balas Isolda.


"Diterima." Angguk Lein.

__ADS_1


Lein kemudian terbang ke arah jam 10 dari posisinya dengan kecepatan tinggi sesuai dengan arahan Isolda.


Setelah beberapa menit, Isolda menyuruh Lein untuk berhenti.


"Apakah disini?" Tanya Lein kepada Isolda.


"Didekat sini, tetapi auranya seperti terhalang oleh sesuatu sehingga aku tidak bisa mendeteksi lokasi pasti nya." Jawab Isolda.


"Hm, baiklah mari kita cari." Lein mulai mengambil langkah.


"Tolong aku..." Suara misterius terdengar.


"!!" Lein segera berhenti dan menjadi waspada.


"Isolda, apakah kamu mendengar suara itu?" Tanya Lein.


"Suara? Aku tidak mendengar apapun Lein." Jawab Isolda yang sepertinya tidak mendengar suara misterius itu.


"Tolong aku..." Suara itu terdengar lagi.


"!! - Suara ini ada di benakku." Pikir Lein.


"Katakan, dimana kamu?" Lein mencoba berkomunikasi dengan suara misterius itu.


"Ikuti cahaya biru itu...." Jawab suara misterius.


"Cahaya biru?" Lein melihat sekeliling.


Lein kemudian melihat ada cahaya biru di arah kanan nya.


"Ah itu." Lein berjalan mengikuti cahaya biru sesuai dengan ucapan suara misterius itu.


"Lein? Kamu mau kemana?" Tanya Isolda.


"Apakah kamu juga tidak bisa melihat cahaya biru ini?" Tanya Lein.


"Cahaya biru? Tidak..." Jawab Isolda.


"Hm, jadi hanya aku yang bisa mendengar suara misterius itu dan juga hanya aku yang bisa melihat cahaya biru ini ya..." Pikir Lein.


"Jadi begini, barusan aku..." Lein menjelaskan kepada Isolda.


"Ah, mungkin itu adalah suara dari naga yang kita cari..." Ucap Isolda.


"Sepertinya, mari kita ikuti cahaya biru ini dulu..." Balas Lein mengangguk.


Lein terus mengikuti cahaya biru ini dan ia penasaran kemana cahaya biru ini akan menuntun nya.


Setelah beberapa saat melewati tempat yang sepertinya tidak terjamah oleh makhluk hidup, cahaya biru itu berhenti di dedaunan pohon yang rimbun.


"Dedaunan?" Lein berjalan dan menyentuh dedaunan itu.


"!! - Sebuah gua..." Ucap Lein.


Saat Lein menyentuh dedaunan itu, tangan Lein masih bisa mendorong nya lebih jauh. Dan ternyata dedaunan ini menutupi sebuah pintu gua yang berukuran satu manusia.


"Analisa." Lein tidak segera masuk kedalam gua melainkan melakukan analisa terlebih dahulu.


[ analisa berlangsung ]


[ analisa gagal ]


"Gagal?" Lein menyipitkan matanya.

__ADS_1


"Sepertinya memang ada sesuatu ya..."


"Hm... Baiklah, aku akan memasuki gua ini."


__ADS_2