Analysis Eye

Analysis Eye
Kompetisi Bertarung (6)


__ADS_3

Anna tidak menyangka bahwa Darla memiliki kemampuan yang sama seperti dirinya, yaitu kemampuan ruang.


Ia mengira bahwa kemampuan ruang adalah kemampuan yang sangat langka, dan ia merasa bangga pada dirinya sendiri karena bisa mendapatkan nya.


Darla yang melihat Anna sedang bingung kemudian ia memanfaatkan kondisi Anna dengan maju ke depan dan menyerang Anna.


Anna kembali sadar dan ingat bahwa sekarang ia sedang berada di tengah-tengah pertarungan.


"Jangan biarkan emosi dan perasaan mengendalikan mu, apalagi saat pertarungan." Darla memberi Anna nasihat.


Darla menyerang Anna dari segala arah menggunakan dua pedang pendek nya. Pedang pendek biasanya lebih efektif jika digunakan untuk kecepatan.


Serangan Darla juga sanga cepat, namun serangan nya juga mengandung kekuatan yang sanga besar. Anna heran bagaimana Darla menyerang seperti ini secara bertubi-tubi.


"Analisa gerakan lawan mu, jangan diam saja." Darla sekali lagi memberikan Anna nasihat.


"Aku tahu!" Anna menjawab.


Namun Anna hanya bisa menangkis serangan Darla, bukan karena Anna lemah, namun karena Anna tidak melihat adanya celah diantara serangan Darla.


Darla sedikit kecewa dengan Anna, ia kemudian menghentikan serangan nya dan mundur untuk menjaga jarak.


"Mengapa kamu menghentikan nya!?" Anna bingung dengan tindakan Darla.


"Apakah kamu tidak memiliki teknik berpedang?" Darla bertanya.


"Untuk apa? selama kemampuan dan tubuh ku kuat, maka aku bisa menggunakan skill yang hebat juga. Teknik apapun itu tidak ada guna nya." Anna mengerutkan kening nya.


Setelah mendengarkan ucapan Anna, wajah Darla menjadi suram. Ia tidak menyangka Anna akan menyepelekan teknik bertarung.


"Padahal aku berharap banyak kepadamu karena kamu adalah peringkat pertama di ujian masuk, dan kamu juga berasal dari keluarga berpengaruh." Darla berkata dengan nada kecewa.


"Kalau begitu... sudah tidak ada gunanya aku melakukan pertarungan ini, akan aku selesaikan dengan cepat." Darla berdiri tegak.


"Hah? Apa maksudmu?" Anna tidak mengerti ucapan Darla.


"Bukankah ini adalah pertarungan yang menyenangkan!? Kita juga memiliki kemampuan yang sama." Anna berteriak.


Darla mengabaikan teriakan Anna, ia menarik napas dalam-dalam dan menyimpan nya tanpa mengeluarkan nya.


"Void Domain : Empty." Darla menyebutkan nama teknik nya di dalam hatinya.


Lalu seketika sebuah kubus muncul di arena yang menyelimuti Darla dan Anna di dalamnya.


"Hm? Apa-" Anna tidak bisa menyelesaikan ucapan nya karena ia tidak bisa bernapas.


"Mengapa aku tidak bisa bernapas!? Apakah ini perbuatan Darla!?" Anna berpikir didalam hatinya.


Anna masih memikirkan mengapa ia tidak bisa bernapas sampai lupa bahwa ia sedang berada di dalam pertarungan.


Lama-kelamaan tubuh Anna menjadi lemas karena tidak bisa menghirup oksigen, kemudian Anna terjatuh dan hampir pingsan.


Darla yang melihat Anna terjatuh segera membatalkan teknik nya, kubus yang menyelimuti mereka berdua seketika menghilang.


Darla berjalan mendekati Anna, ia mendekatkan kedua pedang pendek nya di leher Anna.


"Kamu kalah." Ucap Darla dengan mata tenang.


"Bagaimana...bisa..." Ucap Anna sebelum akhirnya ia pingsan.

__ADS_1


"Itu mudah, karena kamu hanya berlatih kemampuan mu tanpa tau apa makna dan konsep kemampuan mu itu." Darla berkata meskipun ia tahu Anna tidak bisa mendengar nya karena pingsan.


"Pemenang nya, Darla Vermeer!" Wasit mengumumkan pemenang nya.


...----------------...


Ruang VIP.


"Apa! Bagaimana bisa putriku kalah!" Edvart berdiri karena tidak percaya Anna kalah.


"Tidak, aku harus pergi kesana!" Edvart akan beranjak dari ruang VIP namun dihentikan oleh sekretaris nya.


"Tuan, orang-orang akan mempertanyakan keluarga Courbet jika anda melakukan hal itu." Ucap sekretaris nya.


"Sial! Kalau begitu aku akan menunggu Anna di ruang medis." Edvart mengumpat kesal.


...----------------...


Kursi penonton.


"Sayang sekali..." Ucap Lein dengan nada datar.


"Kamu tidak merasa kasihan? dia kan teman mu." Enya bingung mengapa reaksi Lein biasa saja.


"Yah, Anna kalah karena ia menyepelekan teknik bertarung dan menganggap kemampuan adalah segalanya." Lein dengan jujur menjawab Enya.


"Juga, karena pertarungan itu tidak ada kecurangan apapun, murni adil." Tambah Lein.


"Ah, jadi begitu." Enya mengangguk.


...----------------...


"Selanjutnya aku." Enya bangkit dan pergi ke arena


"Sama seperti sebelumnya..." Lein mengingatkan.


"Aku tahu, aku bukan anak kecil." Enya menjawab dengan kesal.


...----------------...


Arena.


Lawan Enya adalah seorang pria yang berpenampilan lembut. Ia seperti seorang mahasiswa teladan dengan penampilan rapi dan sopan.


Meskipun lawan nya berpenampilan begitu, Enya tidak meremehkan nya dan tetap menganggap serius pertarungan ini.


"Ah, air? atau es?" Enya menyadari kemampuan lawan nya adalah antara air atau es karena ia merasa bahwa lawan nya menjengkelkan.


Memang sudah sifat alami bahwa api dan air tidak bisa bersama dan selalu berselisih.


"Halo, Enya. Namaku Yonam, tahun keempat, mari bertarung dengan adil." Yonam berbicara dengan lembut.


"Tidak usah basa-basi." Enya berkata dengan nada sembrono.


"..." Yonam hanya tersenyum canggung.


"Bersiap...Mulai." Wasit memulai pertarungan.


Yonam melakukan langkah pertama, ia mundur untuk menjaga jarak dari Enya. Kemudian ia melancarkan sebuah serangan.

__ADS_1


"Geiser ***." Yonam mengucapkan nama skill serangan nya.


Lalu ada getaran dari tempat Enya berdiri dan disekitar nya. Kemudian ada banyak semburan air panas yang muncul dari bawah tanah.


Enya sudah mengantisipasinya, ia membuka jalan menggunakan api nya dan menjauh dari area serangan Yonam.


"Geiser ***." Yonam menyerang menggunakan skill yang sama.


Enya sedikit terlambat dan tidak bisa menghindari nya, namun Enya tidak panik, ia hanya perlu menyelimuti tubuhnya dengan api.


Lalu geiser milk Yonam dan api milik Enya saling bertabrakan. Disaat itu, Yonam mengarahkan kedua tangan nya ke arah Enya dan melakukan serangan lagi.


"Water Canon : Schot." Yonam menembakan meriam air dari tangan nya.


Kemudian Enya harus menahan serangan dari dua arah sekaligus, Yonam yakin ia bisa menang melihat situasi sekarang.


Namun yang ia tidak ketahui, Enya sudah tidak ada lagi di dalam api itu. Enya sekarang berada di belakang nya dan bersiap menyerang.


"Fire ball : Kugle." Enya membentuk tangan kanannya seperti bentuk pistol.


Kemudian sebuah bola api yang berukuran kecil seperti peluru pistol keluar dari ujung jari telunjuk Enya.


Peluru itu menyerang dengan kecepatan yang sangat tinggi. Yonam yang masih berbahagia merasakan bahaya yang datang dari belakang.


" Water Shield." Yonam membentuk sebuah perisai air di belakang tubuh nya.


"Mengapa dia ada di belakang ku!?" Yonam mencoba berpikir.


"Fokus!" Enya sudah berada di samping nya dan melakukan tendangan ke arah Yonam.


Yonam terkejut dengan kecepatan Enya, ia tidak mengantisipasi gerakan Enya dan terkena tendangan Enya di bagian dada nya.


*Brak! (suara menabrak)


Yonam terbang dengan kecepatan tinggi dan menabrak tembok yang membuat tembok arena hancur.


Yonam terkejut namun ia segera bangkit kembali, ia mencari lokasi Enya namun ia tidak menemukan Enya di arena.


"Kamu mencari ku?" Suara Enya datang di telinga kanan Yonam.


Yonam terkejut dan memukul ke arah samping kanan nya, namun Enya berada di sebelah kiri Yonam, bukan kanan nya.


Enya mengepalkan tinju kanan nya dan mencoba menyerang Yonam. Enya menggunakan api nya untuk mempercepat kecepatan tinju nya.


Enya menggunakan api nya seperti knalpot kendaraan yang membuat kendaraan melaju kencang secepat kilat.


Pukulan Enya adalah pukulan biasa saja, namun karena sudah dipercepat menggunakan api nya, itu bukan lagi pukulan biasa.


"Sial!" Yonam yang berpenampilan kutu buku mengumpat dengan wajah terkejut.


Enya memukul Yonam di wajah, tepatnya di bagian hidung nya. Karena bagian hidung merupakan bagian yang paling rentan di wajah manusia.


Yonam sekali lagi terlempar dengan kecepatan penuh dan menabrak tembok sampai hancur. Namun bedanya, kali ini Yonam tidak bangkit kembali.


Karena ia dipukul di bagian hidung dengan serangan secepat kilat yang membuat ia tidak sadarkan diri seketika.


"Pe-pemenang nya adalah Enya!" Wasit mengumumkan pemenang pertarungan.


"Wooo!" para penonton bersorak

__ADS_1


Mereka tidak menyangka pertarungan antara Enya dan Yonam akan berakhir dengan cepat, karena mereka memang langsung menyerang lawan nya tanpa basa-basi.


__ADS_2