
Hari kedua kompetisi dimulai, hari ini adalah tahap kedua kompetisi, yaitu adalah pertarungan 8 orang diarena sampai menyisakan 2 orang yang bertahan.
Lein kembali duduk di tempat yang sama seperti kemarin, namun sepertinya Enya sedang ada urusan karena ia tidak ada di sebelah Lein.
Atau hanya Enya memang tidak mau duduk di sana lagi dan saat ini sedang duduk di tempat lain diantara penonton.
...----------------...
"Halo para penonton sekalian!!" Erwin membuka acara kali ini.
"Tahap kedua dari kompetisi akan segera dimulai!" Sabina juga ikut membuka acara.
"Nah silakan dilihat di ruang VIP penonton! Ada beberapa perwakilan keluarga yang hadir untuk menonton!" Erwin menunjuk ke arah ruangan VIP.
Para penonton melihat ke arah ruang VIP sesuai apa yang dikatakan erwin. Benar saja, mereka melihat ada beberapa orang yang menempati ruang VIP itu.
"Untuk tahap kedua kali ini, ada yang berbeda dengan tahap pertama yaitu..." Erwin membacakan perbedaan tahap pertama dan tahap kedua.
Tahap pertama para peserta akan bertarung sesuai tahun mereka, seperti tahun pertama melawan tahun pertama dan seterusnya.
Di tahap kedua kali ini, tahun pertama dan tahun kedua akan bertarung bersama di satu arena. Tahun ketiga dan tahun keempat juga akan bertarung di satu arena.
Oleh karena itu pertarungan tahap kedua akan lebih seru dibandingkan dengan pertarungan tahap pertama kemarin.
...----------------...
"Ah, semoga aku tidak bertarung dengan Kiva." Lein tidak mau bertarung dengan Kiva.
Bukan karena Lein takut atau pengecut, namun karena Lein ingin bertarung dengan Kiva di tahap ketiga, yaitu 1 vs 1.
Karena Lein ingin membalaskan dendam nya saat Kiva menyerang di ujian praktek saat itu.
Oleh karena itu Lein ingin bertarung 1 vs 1 dengan Kiva, selain ingin membalas dendam nya, Lein juga penasaran dengan kekuatan Kiva.
...----------------...
Di suatu tempat di area penonton.
"Apakah orang itu?" Seorang pria berjubah bertanya kepada anak muda di sebelah nya.
"Ya guru." Anak muda itu mengangguk.
"Baiklah, makan pil ini." pria berjubah memberikan sebuah botol kepada anak muda.
"Apa ini guru?" Anak muda itu menerima botol itu dan bertanya kepada pria berjubah.
"Pil ini akan meningkatkan mana dan kekuatan mu berkali-kali lipat sesuai yang bisa kamu tahan." Pria berjubah menjawab pertanyaan anak muda.
"Jadi jika aku hanya bisa menahan sedikit, mana dan kekuatan ku akan meningkat sedikit juga?" Anak muda itu mengonfirmasi pikiran nya.
__ADS_1
"Benar, tepat seperti itu." Pria berjubah itu mengandung
"Tunggulah aku, Lein!" Anak mud itu melihat ke arah Lein.
Ternyata anak muda itu adalah Kiva, dan pria berjubah itu adalah gurunya, yaitu Ketua dari Jurusan Sihir Hitam, Dekan Lou.
Mereka sedang merencanakan sesuatu untuk mengalahkan Lein di pertarungan nanti.
...----------------...
*hachoo (suara bersin)
"Siapa yang sedang membicarakan ku?" Lein mengusap hidung nya.
"Mengapa kamu bergumam?" Suara Enya datang dari belakang.
"Oh Enya? Tidak apa-apa hanya bersin." Lein menoleh.
"Ya. Aku ada sedikit urusan tadi." Enya duduk disebelah Lein seperti kemarin.
"Santai saja." Lein tersenyum tipis.
...----------------...
Gelombang pertama adalah tahun pertama dan tahun kedua.
Anna berdiri dan memegang pedang miliknya. Anna melihat-lihat lawan nya mencoba menganalisa kekuatan lawan-lawannya.
"Mulai!" Wasit memberi aba-aba tanda dimulainya pertarungan.
Anna dengan gesit pergi ke arah lawan nya yang berada di samping kanan. Anna langsung menyerang lawan nya dengan serangan langsung.
Lawan nya terkejut dengan tindakan Anna, ia berusaha menahan serangan Anna yang sederhana namun mengandung kekuatan yang besar.
Anna melihat bahwa lawan nya bisa menahan serangan nya, kemudian ia mempercepat kecepatan serangan nya.
Lawan Anna kewalahan dengan serangan cepat Anna, ia berusaha menahan nya meskipun pada akhirnya ia tidak bisa menahan serangan Anna.
Setelah itu Anna mencari lawan lagi dan menggunakan cara yang sama. Anna hanya menyerang dengan kekuatan kasar, tidak menggunakan mana atau skill.
Pada akhirnya, pemenang dari arena 1 adalah Anna dan seorang pria dari tahun kedua, Anna tidak mengenal pria itu.
...----------------...
Beberapa waktu sebelumnya, di arena 2.
John akan bertarung di arena 2 ini. John mengeluarkan Joe si Burn Lizard yang sudah mendapatkan kekuatan baru yaitu racun.
John masih belum bisa menyerang dengan mengeluarkan racun dari tubuh nya. Paling-paling ia hanya menyimpan racun di botol dan melemparkannya.
__ADS_1
Oleh karena itu John menggunakan strategi yang dulu, yaitu Joe akan menjadi penyerang utama dan John akan menjadi pendukung.
Pertandingan dimulai, John melempar beberapa botol racun ke segala arah. Kemudian Joe menyerang lawan terdekat.
Lantai arena terkena racun yang John lempar, lawan-lawannya hanya bisa bergerak di ruang terbatas karena mereka takut terkena racun.
Akan sangat mudah menyerang john jika John hanya mengandalkan racun. Namun John adalah seorang Summoner.
Joe yang memiliki elemen racun dan ia merupakan makhluk summon milik John menjadi kebal terhadap racun yang John keluarkan.
Oleh karena itu pertarungan di arena 2 dengan mudah John menangkan. Bahkan ini adalah pertarungan sepihak yang hanya John sebagai penyerang.
John dinyatakan sebagai pemenang arena 2 dan seorang pria satu nya dianggap menang karena ia beruntung ia yang paling jauh dari John
...----------------...
Di kursi penonton, tempat Lein dan Enya.
"Seperti nya mereka bertambah kuat ya..." Lein melihat pertarungan Anna dan John.
"Teman mu?" Enya bertanya.
"Ya, yang perempuan teman satu sekolah dan yang laki-laki teman baru." Lein menjelaskan.
"Mereka juga kelas S?" Enya mengangguk dan bertanya lagi.
"Ya, bisa dilihat dari kemampuan mereka yang hebat." Lein mengangguk.
"Ya, yang perempuan melatih tubuh nya juga, bukan hanya kemampuan nya." Enya melihat Anna.
"Lalu yang laki-laki memanfaatkan makhluk summon nya sebagai penyerang dan ia sebagai pendukung." Enya melihat John.
"Kelas S tidak bisa dimasuki jika kamu hanya kuat. Kamu juga harus pintar memanfaatkan kekuatan mu untuk bisa masuk ke kelas S." Enya mengatakan sesuatu tentang kelas S.
"Jadi begitu, memang jika hanya kekuatan saja tidak akan berguna di medan tempur." Lein setuju dengan ucapan Enya.
"Benar, kekuatan tanpa kecerdasan akan menjadi monster yang akan dikendalikan oleh orang lain yang cerdas." Ucap Enya.
"Ya, dan kecerdasan tanpa kekuatan akan sia-sia karena tidak bisa melindungi dirinya sendiri dan sewaktu-waktu akan dibunuh oleh lawan." Lein mengatakan sesuatu yang mirip.
"Tepat sekali. Nampaknya kamu lebih berpikir dewasa ya.." Enya melihat ke arah Lein.
"Haha, terimakasih atas pujiannya." Lein tersenyum.
"Baiklah, selanjutnya aku akan bertarung." Lein beranjak dari tempat duduk nya.
"Semoga beruntung." Enya menyemangati Lein.
"Terimakasih." Lein mengangguk.
__ADS_1