
"...Sial, apakah aku melakukan itu?" Lein terbangun dari tidurnya dan melihat kalau ia tidak berada di sofa.
Ia ingat kalau tadi malam setelah pulang dari tempat pembukaan dungeon, ia datang ke rumah milik Brynn dan langsung tidur di sofa.
Namun apa yang ia lihat saat ini adalah atap yang ia kenal dan disebelah nya juga ada wanita cantik yang sedang tidur dengan pulas.
"Analisa apa yang terjadi semalam." Karena tidak ingat, Lein menggunakan Analysis Eye untuk menganalisa nya.
[ analisa berlangsung ]
[ tidak ditemukan tanda-tanda melakukan hubungan ]
"Jadi, aku tidak melakukannya? Lalu bagaimana bisa aku ada disini. Kurasa aku tahu mengapa aku ada disini." Lein ingat seseorang yang jahil.
Lein bangkit dari kasur dengan diam-diam agar tidak membangunkan Brynn karena sekarang sedang berada di situasi yang canggung.
"Um.." Suara Brynn terdengar.
"Sial..." Lein menoleh dan matanya bertemu dengan tatapan mata Brynn.
"Mengapa kamu ada disini?" Brynn bertanya dengan nada tenang.
Lein cukup terkejut kalau reaksi Brynn sangat tenang dalam situasi ini seolah-olah kejadian ini tidak mengejutkan dirinya.
"Haha, itu..." Lein tidak tahu bagus menjawab apa dan hanya bisa tersenyum kaku.
"Tunggu, mengapa kamu ada disini!" Brynn melebarkan matanya dan berteriak dengan keras.
"Jadi, yang tadi itu kamu masih belum sadar?" Pikir Lein.
Brynn segera melihat ke arah pakaian nya dan menghela napas lega saat ia melihat kalau pakaian nya masih utuh di tubuh nya.
"Apakah kita tidak melakukan hal itu?" Brynn sudah tenang saat ini dan bertanya kepada Lein.
"Tidak." Lein menggeleng-gelengkan kepala nya.
"Lalu aku hanya sekali lagi, mengapa kamu ada disini?" Brynn menatap Lein dengan serius.
"Aku langsung tidur di sofa saat kita pulang kemarin. Aku berasumsi kalau ini adalah perbuatan seseorang..." Lein menggaruk-garuk bagian belakang kepala nya.
"...Liza!!!" Brynn keluar dari kamar nya dan mengetuk-ngetuk pintu kamar Liza.
"Uh.. ada apa??" Liza membuka pintu dengan kondisi acak-acakan.
"Apa yang kamu lakukan semalam!?" Brynn menggoyang-goyang tubuh Liza.
"Semalam..?? Ah!" Seketika Liza tersadar.
"Bagaimana? Apakah kamu menikmati nya?" Liza bertanya dengan nada menggoda.
"Ugh! Jadi itu benar-benar kamu!?" Brynn memegangi kepala nya.
__ADS_1
"Kami tidak melakukan apa yang kamu pikirkan." Lein keluar dari kamar Brynn.
"Eh???" Liza tampak kecewa.
"Mengapa kamu terlihat kecewa? Ah sudahlah." Brynn duduk di sofa ruang keluarga.
"Tidak apa-apa bukan? Lagipula kamu ini sudah sendirian terlalu lama! Aku jadi kasihan denganmu!" Liza duduk di sebelah Brynn.
Lein pergi ke kamar mandi untuk membasuh muka nya kemudian ia pergi ke dapur untuk membuat sarapan dan teh hangat.
"Lihatlah dirimu sendiri, kamu sudah hidup lebih lama dibandingkan aku." Brynn memutar matanya.
"Fufufu, santai saja. Aku tidak akan sendirian lagi." Liza membusungkan dada nya dengan bangga.
"Apa maksudmu?" Brynn tidak mengerti apa yang Liza ucapkan.
"Sebenarnya..." Liza memberitahu mengenai dirinya dan Lein.
"Apa!?" Brynn membelalakkan matanya karena sangat terkejut dengan ucapan Liza.
"Fufu, itulah mengapa aku membawa Lein ke kamar mu semalam." Liza tertawa licik.
"Astaga..." Brynn mengenal napas panjang.
"Tidak apa-apa, kita ini sahabat. Aku tidak keberatan jika berbagi dengan mu." Ucap Liza dengan nada menggoda.
"Bukan masalah itu, kami ini tidak memiliki hubungan spesial kamu tahu..." Brynn mengamuk remote dan menyalakan televisi.
"..." Brynn tidak membalas ucapan Liza.
Saat Liza akan berbicara lagi, ia mendengar suara Lein yang menyuruh mereka berdua untuk datang ke ruang makan karena sarapan sudah siap.
Sebelum ke ruang makan, mereka berdua pergi ke kamar mandi untuk membasuh muka dan menggosok gigi terlebih dahulu.
Kemudian mereka bertiga sarapan bersama. Lein membuat nasi goreng dicampur dengan daging ayam dan teh hangat untuk Brynn dan Liza sedangkan dirinya adalah kopi hitam.
"..." Brynn makan sambil melamunkan apa yang Liza ucapkan tadi.
Liza melihat Brynn yang melamun dan membiarkan nya untuk berpikir karena ia tahu kalau ini keputusan yang penting baik Brynn.
"Dibandingkan dengan sendiri selamanya atau dengan pria lain, aku lebih memilih untuk membiarkan dirimu dengan Lein, sama seperti ku." Batin Liza.
"..." Lein bisa merasakan kalau suasana diantara Brynn dan Liza sedikit berbeda namun ia tidak mengatakan apapun karena ia juga tahu kalau itu pasti sedikit pribadi.
"Jadi... Kalian ada kegiatan apa hari ini?" Lein bertanya untuk memecahkan suasana yang hening.
"Seperti biasa, bersantai di rumah dan berlatih." Liza mengangkat bahu nya.
"Mengurus Dungeon Tundra Desert." Brynn menjawab dengan nada tenang.
Kemudian setelah sarapan selesai, Lein pulang ke rumah nya untuk mandi dan berganti pakaian kemudian ia kembali lagi ke rumah milik Brynn.
__ADS_1
"Apakah sudah siap?" Tanya Lein kepada Brynn yang sedang mengenakan jubah nya.
"Ya, ayo." Brynn mengangguk kemudian ia menggunakan kemampuan nya untuk memindahkan dirinya dan Lein ke lokasi gerbang dungeon.
Kali ini Lein sendirian yang akan memasuki Dungeon Tundra Desert dan melakukan penjelasan untuk orang-orang bersama dengan para Ras Gias.
Sedangkan Brynn akan mengurus urusan diatas kertas seperti mengurus dokumen-dokumen, kerja sama, persetujuan, dan yang lain nya.
Hari ini mereka berdua bekerja dengan sangat keras dan dengan bersungguh-sungguh sama seperti hari sebelumnya.
Saat siang hari, Lein kembali dari Dungeon dan pergi menuju kantor milik Brynn di gedung utama sambil membawa makan siang yang ia beli dari penjual di dalam dungeon.
Mereka berdua makan siang bersama kemudian setelah itu Lein membantu Brynn mengurusi dokumen-dokumen sama seperti sebelumnya.
Lein akan memeriksa dan memberikan nya kepada Brynn untuk ditandatangani jika dokumen nya memiliki keuntungan.
Lalu saat malam hari, mereka berdua pulang ke ruma Brynn dan di sambut oleh Liza yang baru selesai membuat makan malam.
"Sudah jam segini... Aku tidur duluan... Selamat malam.." Liza menguap dan kembali ke kamar nya untuk tidur.
"Benar juga, kalau begitu aku akan pulang Pres." Lein melihat jam lalu ia berdiri.
"Ya." Brynn mengangguk.
"Selamat malam!" Lein mengucapakan selamat malam kemudian ia membuka pintu namun langkah nya berhenti karena Brynn memanggil nya.
Lein menoleh dan melihat kalau Brynn sudah tidak ada di ruang keluarga dan ia melihat kalau pintu kamar Brynn terbuka.
"Bukankah dewa dan dewi tidak menyukai ku? Lalu mengapa saat ini mereka memberkati diriku?" Lein paham apa yang Brynn maksudkan.
Pikiran di hatinya hanyalah sebuah perumpamaan saja karena ia tidak menyangka kalau akan mendapatkan dua wanita yang sangat cantik di dalam hidup nya.
Lein menutup pintu rumah dan berjalan memasuki kamar Brynn. Ia melihat kala Brynn tidak ada di dalam tapi ia mendengar suara air dari kamar mandi.
"..." Lein menelan ludah nya karena gugup.
Pintu kamar mandi terbuka dan terlihatlah Brynn yang tubuh nya dililit handuk putih yang membuat nya lebih mempesona.
"Jangan melihat ku seperti itu." Brynn memalingkan wajah nya.
Lein menutup pintu kamar dan mengunci nya. Kemudian ia mendekati Brynn secara perlahan-lahan dengan tatapan intens.
Brynn mundur saat melihat kalau Lein mendekat namun ia sudah tidak bisa mundur lagi karena di belakang nya adalah tembok.
Lein menatap mata Brynn dengan intens yang membuat Brynn menutup matanya karena terlalu malu dilihat oleh Lein.
Lein menyentuh wajah Brynn dengan tangan kanan nya, ia mendekati wajah nya secara perlahan kemudian ia mencium bibir nya.
"Um..." Brynn segera membuka matanya karena terkejut.
Kemudian, di dalam kamar yang gelap gulita, sedang terjadi pertempuran yang sangat dahsyat antara dua orang yang dimana si pria yang mendominasi pertarungan nya.
__ADS_1