
Lein dan Octiorb mengikuti Abelia yang entah kemana. Abelia berjalan menuju area belakang mansion yang pencahayaan nya kurang.
Area belakang mansion adalah taman belakang dan beberapa fasilitas. Namun ada suatu area di paling belakang yang gelap.
Mereka bertiga berjalan tanpa berbicara yang membuat suasana sunyi ditambah lingkungan yang gelap membuat nya terkesan mencekam.
"Kita sampai." Abelia berhenti di depan pintu bangunan tua.
Bangunan itu adalah rumah tua dua lantai yang terbuat dari kayu. Dinding kayu yang sudah tua, banyak tanaman liar, dan gagak beterbangan.
"Hm, apakah bangunan ini sudah tidak terawat sangat lama, nyonya?" Tanya Lein kepada Abelia.
"Ya." Abelia hanya mengangguk.
"Ayo masuk." Abelia membuka pintu dan masuk.
"...." Lein mengikuti Abelia.
Abelia berjalan menuju ke suatu ruangan kecil, ia membuka pintu dan ternyata yang ada di dalam adalah tangga lurus menuju bawah tanah.
Mereka menuruni tangga kayu yang membuat suara mencicit saat di injak. Mereka sampai di suatu ruangan namun ternyata ada tangga lagi.
Kali ini adalah tangga memutar menuju bawah tanah yang lebih dalam lagi. Lein hanya mengedipkan mata nya tidak bertanya apapun kepada Abelia.
Setelah beberapa saat menuruni tangga memutar, mereka sampai. Mereka melihat sebuah pintu batu yang memiliki ukuran yang tidak bisa dimengerti.
Abelia menaruh telapak tangan kanan nya di pintu itu dan mengucapkan sebuah bahasa yang familiar, itu adalah bahasa naga.
Pintu batu terbuka, dan terlihat lah sebuah kolam yang sangat jernih. Kolam itu memiliki air yang tidak berwarna namun dan mengeluarkan uap yang membuat nya indah.
Lein dan Octiorb bahkan sampai terpukau dengan keindahan kolam yang ada di depa mereka itu. Mereka masuk ke dalam dan berdiri di sebelah kolam.
"Lein, keluarkan Isolda." Ucap Abelia.
"Ya. Isolda berubah lah..." Ucap Lein kepada Isolda.
"Baik, Lein!" Isolda mengubah wujud nya menjadi naga.
"Kamu berendam lah di dalam kolam itu." Abelia menunjuk ke arah kolam.
"Baik!" Isolda menuruti ucapan Abelia tanpa bertanya lebih lanjut.
Isolda bergerak menuju kolam dan merendamkan tubuh nya di dalam kolam itu dan hanya menampakan kepala nya di atas permukaan.
"Bagaimana rasanya?" Tanya Abelia.
__ADS_1
"Ini... Aku merasa kekuatan ku meningkat drastis..." Jawab Isolda.
"Benar." Abelia menganggukkan kepala nya.
"Jadi, bisakah aku tahu apa fungsi kolam itu?" Tanya Lein.
"Kolam yang berisi cairan naga, berfungsi untuk meningkatkan kekuatan milik naga." Abelia menjelaskan nya secara singkat.
"Hm, itu sungguh hebat karena bisa meningkatkan kekuatan naga." Lein menyentuh dagunya.
"Benar, naga adalah makhluk yang kuat. Untuk meningkatkan kekuatan naga, berarti kolam ini memiliki tingkat yang sangat tinggi." Tambah Octiorb.
"Ya... tidak, tunggu dulu." Lein menyadari sesuatu yang salah.
"Apa maksudmu cairan naga?" Lein menatap Abelia.
"Seperti yang aku katakan." Abelia membalas tatapan Lein.
"...Cairan naga sungguhan?" Lein bertanya sekali lagi untuk memastikan.
"Ya." Angguk Abelia dengan tenang.
"..." Lein tidak tahu harus bereaksi bagaimana.
Cairan naga, jika memikirkan nya lebih dalam maka akan terkesan menjijikan dan aneh.
"Karena bisa meningkatkan kekuatan naga, maka aku termasuk bukan? Karena aku memiliki jantung naga." Pikir Lein.
"Kemungkinan bisa bocah, namun kolam itu akan meningkat kekuatan jantung naga mu, bukan kekuatan mu sendiri." Balas Octiorb menggunakan transmisi suara.
"Hm masuk akal. Baiklah, aku akan masuk juga." Lein melepas baju nya.
"Mengapa kamu melepaskan baju mu? Apakah kamu akan melakukan sesuatu terhadap tubu ku?" Abelia bertanya sesuatu yang sensitif namun dengan wajah datar.
"...Tidak." Lein sudah pasrah dengan sifat Abelia.
"Lalu?" Abelia memiringkan kepala nya dan bertanya.
"Aku akan berendam juga." Jawab Lein.
"Mengapa?" Abelia tidak paham.
"Oct, jelaskan mengenai itu kepada Nyonya Abelia." Lein masuk ke dalam kolam.
"Ya, silakan." Angguk Octiorb.
__ADS_1
Octiorb kemudian memberitahu kan kepada Abelia bahwa Lein memiliki jantung naga pemberian dari dewa sebelumnya.
Lein memutuskan untuk memberitahu Abelia bahwa ia memiliki jantung naga karena Abelia adalah naga dan Lein berpikir untuk memberitahu nya.
"Jadi begitu..." Dan seperti yang diharapkan oleh Lein, Abelia tidak mengubah ekspresi nya setelah ia mendengar Lein memiliki jantung naga.
Lein menutup matanya mencoba merasakan apakah ada perubahan di jantung naga nya saat ia merendamkan tubuh nya sampai leher.
"Hm, apakah tidak ada yang berubah?" Pikir Lein karena ia tidak merasakan perubahan apapun di dalam jantung naga nya.
"!!" Lein membuka dan melebarkan matanya karena ia merasakan sakit yang parah di jantung nya.
Lein ingin berteriak namun ia tahan karena ia perlu tenang dan mengendalikan kekuatan jantung naga nya yang meningkat agar tidak diluar kendali.
Lein menutup mata nya kembali dan berusaha mengendalikan kekuatan yang masuk ke dalam jantung naga nya.
"Dia hebat." Ucap Abelia saat ia melihat Lein tidak berteriak.
"Mengapa?" Tanya Octiorb.
"Dia bisa menahan rasa sakit yang ia terima." Jawab Abelia.
"Ah itu. Yah, itu karena dia sudah pernah merasakan rasa sakit yang lebih menyakitkan dari pada yang sekarang." Balas Octiorb santai.
"Rasa sakit yang lebih menyakitkan dari ini? Aku tidak bisa membayangkan nya." Pikir Abelia.
Karena saat Abelia terluka parah, ia pernah berendam di kolam ini. Ia merasakan sakit yang sangat parah saat memulihkan tubuh nya.
Abelia tidak bisa membayangkan bagaimana Lein yang seorang manusia biasa merasakan sakit yang parah daripada berendam di kolam.
Bahkan Abelia yang notabene nya adalah seekor naga berteriak keras saat berdiam di kolam itu saat memulihkan tubuh nya yang terluka.
"Sudah kuduga dia adalah manusia yang menarik. Bisa diakui oleh seekor naga dan didampingi oleh roh yang seperti nya tingkat atas." Pikir Abelia.
Ternyata Abelia bisa merasakan bahwa Octiorb adalah roh, bahkan bisa merasakan Octiorb adalah roh tingkat atas atau lebih tinggi.
Octiorb mengeluarkan ponsel nya dan membaca komik karena ia bosan menunggu Lein dan Isolda menyelesaikan nya.
Tidak seperti Lein, Octiorb tidak bisa berbicara dengan Abelia karena Octiorb adalah orang yang banyak bicara dan Abelia sedikit, tidak, lebih tepatnya bicara seperlu nya.
Abelia juga duduk dan melakukan meditasi karena ia tidak tahu harus melakukan hal apa di dalam ruang bawah tanah ini.
Lalu sekitar tiga jam telah berlalu, Lein membuka matanya dan menghembuskan napas panjang setelah ia menyelesaikan peningkatan nya.
Lein berdiri dan berjalan keluar dari kolam. Abelia menghentikan meditasi nya karena ia merasakan Lein datang.
__ADS_1
Octiorb malah sudah tertidur tidak jelas sambil memegang ponsel nya di sudut ruangan karena ia ketiduran saat membaca komik.