
Setelah memilihkan diri sebentar, Lein segera berdiri dan berjalan menuju tubuh-tubuh Horn Wolf dan memasukan nya kedalam tas penyimpanan.
Luka yang didapat karena cakar Pemimpin Horn Wolf sudah sembuh berkat kemampuan regenerasi yang diberikan oleh Dewi Ariel.
"Sudah kuduga kemampuan regenerasi akan sangat berguna." Lein merenggangkan tubuh nya.
"Hm, karena aku sudah membunuh monster, aku akan berkeliling sebentar untuk melihat situasi." Gumam Lein.
Lein kemudian memanjat Pohon Oxtara yang tinggi dan menggunakan teknik gerakan kaki nya untuk berpindah dari satu pohon ke pohon lainnya.
"Hm?" Lein berhenti.
"Seperti nya ada peserta yang sedang berkonflik." Lein segera bergerak menuju sumber suara.
Kemudian Lein melihat di bawah, di dekat danau kecil ada dua peserta pria sedang bertarung.
"Mari kita analisa keduanya terlebih dahulu..." Pikir Lein.
[ analisa berlangsung ]
[ Alby
level : 78
kemampuan : ?? ]
[ Cazim
level : 75
kemampuan : ?? ]
"Aku tidak bisa menganalisa kemampuan mereka karena perbedaan level kami yang lumayan jauh ya..." Pikir Lein.
Lein memutuskan untuk berdiam diri di pohon dan melihat Alby dan Cazim bertarung di bawah sana.
...----------------...
"Sialan kamu Cazim!" Alby mengumpat.
Senjata Alby adalah dua kapak satu tangan yang ia pegang di kedua tangan nya saat ini.
"Aku duluan yang menemukan nya!" Jawab Cazim.
Senjata Cazim adalah sebuah tombak dua mata yang panjang tombaknya melebihi tubuh nya.
"Jangan banyak omong! Aku akan menghabisi mu lalu aku akan mengambil nya!" Alby berteriak dan berlari menuju Cazim.
"Tidak akan kubiarkan!" Cazim juga menuju Alby.
...----------------...
"Menemukan? Mengambil? Apakah mereka berdua bertarung karena sesuatu?" Pikir Lein.
Lein lalu melihat ke sekeliling mereka berdua mencoba mencari apakah ada sesuatu yang membuat mereka berdua bertarung.
"Ah, apakah itu?" Lein menemukan sesuatu di tengah-tengah danau kecil.
Itu adalah sebuah bunga mawar berwarna merah muda yang memiliki warna cerah dan berkilau.
"Sial, mengapa harus mawar lagi!?" Lein kesal.
Karena sebelumnya Enya mengontrak Fiama karena mawar dan Reika terkena Icy Illness karena mawar juga yang membuat Lein sedikit kesal dengan mawar.
__ADS_1
"Analisa!" Meskipun Lein kesal ia tetap menganalisa bunga mawar itu.
[ analisa berlangsung ]
[ Eglis Rose
rank : S
Bunga mawar yang setelah diolah memiliki efek memperkuat tubuh ]
"Rank S!?" Lein melebarkan matanya karena terkejut.
"Dan setelah diolah memiliki efek untuk memperkuat tubuh..." Gumam Lein.
"Hm, sepertinya kekesalan ku terhadap bunga mawar berkurang."
"Kalau begitu, aku akan mendapatkan bunga mawar itu!" Lein menyeringai.
Lein mengeluarkan kedua katana nya dan ia melompat dari dahan Pohon Oxtara.
"Gaya ketiga : Tebasan Gelombang Tsunami!" Ucap Lein.
Lein mengangkat kedua katana nya tinggi-tinggi dan mengayunkan nya secara vertikal.
Gelombang mana yang membentuk seperti tsunami muncul dan turun kebawah tepatnya ke arah Alby dan Cazim yang sedang bertarung.
"!!" Alby dan Cazim menghentikan pergerakan mereka dan segera melihat ke atas.
"Sial!" Alby mengumpat dan tanpa pikir panjang ia mengangkat tubuh Cazim dan melemparkannya ke atas.
"Kamu!!?" Cazim tidak menyangka bahwa ia akan dikorbankan.
"Ho? Sungguh keputusan yang kejam, namun tepat." Pikir Lein melihat tindakan Alby.
Cazim yang terlempar jelas tidak bis menghindari gelombang mana dan ia terkena serangan Lein sampai membentur tanah dan membuat sebuah lubang besar.
"Aku tidak bisa membayangkan jika aku yang berada di posisi Cazim." Alby mengeluarkan keringat dingin.
"Cough...Cough...." Cazim berusaha untuk berdiri.
"Tidak akan kubiarkan!" Lein muncul di belakang Cazim dan menendang punggung nya.
Cazim tidak bisa bereaksi dan ia terlempar jauh sampai menabrak Pohon Oxtara.
"Ah aku ambil senjata mu ya." Lein mengambil tombak dua mata milik Cazim.
"Analisa." Lein menganalisa.
[ analisa berlangsung ]
[ Tombak dua mata
rank : A ]
"Hm bukan tombak khusus ya. Tapi tidak apa-apa, ini akan bernilai banyak." Lein menyimpan tombak itu kedalam inventory nya.
...****************...
"Itu disebut pencurian bukan?"
"Pencurian apanya, dia hanya mengambil jarahan!"
"Benar, tidak ada salahnya mengambil jarahan dari musuh yang telah kamu kalahkan!"
__ADS_1
...****************...
"Hm? Tangguh juga kamu..." Lein mengangkat alis nya saat ia melihat Cazim yang masih berusaha untuk berdiri.
"Kalau begitu maaf, kamu akan merasakan sakit lagi." Lein tiba-tiba muncul didepan Cazim dan akan memukul nya.
Namun saat tinju Lein berada tepat di depan wajah Cazim, Cazim menghilang.
"Ah, token nya aktif ya." Ucap Lein menurunkan tangan nya.
...----------------...
Di alun-alun Kota Laville.
Cazim tiba-tiba muncul di tengah alun-alun dengan tubuh penuh luka dan pakaian yang compang-camping.
"!!" Orang-orang yang berada di sana terkejut dengan kemunculan Cazim.
"Petugas medis! Cepat rawat anak ini!" Innas merespon denga cepat dan memerintahkan petugas medis untuk merawat Cazim.
Petugas medis segera berlari menuju Cazim dan melakukan pertolongan pertama terlebih dahulu. Kemudian mereka mengangkat Cazim dengan tandu dan membawanya menuju ruang medis.
"Cazim!!" Seorang pria tua berteriak.
Sepertinya pria tua itu adalah guru universitas tempat cazim berada.
Pria tua itu terkejut karena yang muncul adalah Cazim dan ia segera menuju ke ruang medis bersama dengan petugas medis.
"Padahal baru beberapa jam, tapi sudah ada peserta yang tersingkir..." Pikir Innas.
"Lein Sanzio..." Innas melihat layar hologram yang menampilkan Lein dan alby saat ini.
...----------------...
"Sekarang, giliran mu!" Lein melihat ke tempat dimana Alby bersembunyi.
"!! - sial, aku ketahuan." Pikir Alby.
Tentu saja Lein bisa langsung tahu dimana tempat alby bersembunyi karena alby bahkan tidak menyembunyikan hawa keberadaan nya.
"Apa yang kamu mau?" Tanya Alby berusaha untuk bernegosiasi dengan Lein.
"Apa yang aku mau? Hm... aku mau bunga mawar itu..." Jawab Lein menunjuk ke arah Eglis Rose yang berada di dengan danau.
"Tidak bisa! Apapun selain itu!?" Alby langsung menolak nya tanpa ragu-ragu.
"Kalau begitu aku minta maaf, kamu harus aku singkirkan!" Lein menatap Alby dengan tatapan mengerikan.
"!!" Alby mundur satu langkah karena ia takut dengan tatapan Lein.
Tanpa basa-basi lebih lanjut, Lein mengangkat tangan kanan nya sejajar dengan dada dan mengarahkan nya ke arah Alby.
"Dragon Dance : Gravity Room." Lein membentuk sebuah kubus gravitasi yang mengurung Alby didalam nya.
"!! - apa ini!" Alby memukul-mukul kubus gravitasi itu.
"Selamat tinggal..." Lein melambaikan tangan nya ke arah Alby.
Kubus gravitasi itu segera mengeluarkan gravitasi yang sangat besar. Alby yang berada didalamnya merasakan tubuhnya sangat berat.
Alby sedang panik saat ini, ia merasakan pusing dan perlahan-lahan ia kehilangan kesadaran nya dan menghilang dari tempatnya.
"Itu bukanlah sihir yang kuat, kamu bisa saja merusak kubis gravitasi ku dengan mudah. Namun kamu terlalu panik dan akhirnya tidak bisa berbuat apa-apa." Ucap Lein.
__ADS_1
Lein lalu pergi ke tengah danau dengan sihir terbang dan mengambil Eglis Rose lalu menyimpan nya ke dalam inventory nya.
Setelah itu Lein berkeliling lagi dan membunuh beberapa monster, dan saat malam tiba, Lein membuat api unggun dan beristirahat diatas dahan Pohon Oxtara.