Analysis Eye

Analysis Eye
Lein vs Barqi (6)


__ADS_3

"Aku memang tidak bisa menggunakan mantra sihir yang mengandung elemen. Namun aku bisa menggunakan sihir yang hanya menggunakan mana." Lein bergumam.


"Hey kalian... Orang-orang mengatakan bahwa potensi mu akan bangkit jika menghadapi situasi hidup dan mati. Apakah kalian percaya?" Lein bertanya kepada kedua tetua.


"..." Jayme dan Jayma tidak menjawab.


"Aku percaya!" Lein mengabaikan mereka dan menjawab pertanyaan nya sendiri.


"Mana bom!" Lein mengangkat tangan nya dan memunculkan sebuah mana yang berbentuk bola.


Lein memunculkan sekitar 5 mana bom. Kemudian Lein melepaskan 5 mana bom itu kearah Jayme dan Jayma.


"Sial! Bocah itu bertambah kuat!" Jayma menghindari sambil mengumpat.


Jayme dan Jayma menghindari serangan Lein. Meskipun mereka sudah menaikkan kekuatan dengan paksa, mereka masih kesulitan melawan Lein.


"Aku masih ingat pelajaran ku saat sekolah, membahas tentang gaya tarikan dan dorongan." Lein berbicara sendiri.


Lein kemudian melancarkan serangan beberapa bom mana lagi kearah Jayma. Saat Jayma ingin menghindari nya, tiba-tiba ia tidak bisa menggerakkan tubuh nya.


"Ada apa dengan tubuh ku!" Jayma berusaha untuk bergerak.


"Apa yang kamu lakukan Jayma! Menghindar!" Jayme berteriak menyuruh Jayma menghindar.


"Aku tidak bi-"


*Boom (suara ledakan)


Jayma tidak sempat menyelesaikan ucapan nya ketika bom mana yang Lein tembakkan mengenai Jayma.


"Jayma!!" Jayme berteriak dan bergegas menuju lokasi Jayma.


Saat asap menghilang, yang terlihat adalah sebuah lubang yang besar dengan diisi oleh barang-barang berharga. Yang artinya, Jayma telah mati dan tidak meninggalkan mayat nya.


"Apa yang telah kamu perbuat!!" Jayme meneriaki Lein yang diam tidak bergerak.


"Apa lagi? aku menggunakan gaya tarikan agar bumi ini menarik Jayma dan ia menjadi tidak bisa bergerak." Lein berbicara dengan nada santai.


"Bagaimana itu mungkin! kamu bukanlah penyihir!" Jayme tidak percaya dengan ucapan Lein.


"Yah, aku pun juga tidak percaya." Lein mengabaikan reaksi Jayme.


Lein mengangkat tangan dan puing-puing bangunan di belakang nya bergerak lalu terbang ke arah Jayme.


Jayme tidak punya waktu untuk memikirkan bagaimana cara Lein melakukan hal itu. Sekarang yang lebih penting adalah menghindari serangan Lein.


Jayme berhasil menghindari puing-puing bangunan nya, dan ia saat ini bergegas menuju ke arah Lein dengan sangat cepat.


Lein yang melihat Jayme hanya tersenyum dan menurunkan tangan nya sejajar dengan dada.


Jayme yang sedang berlari tiba-tiba merasakan dorongan yang kuat di tubuh nya. Ia lalu terbang ke arah belakang dengan kecepatan tinggi.


Jayme merasakan bahaya yang kuat dari arah belakang nya. Jayme menoleh dengan sekuat tenaga dan yang ia lihat adalah tiang-tiang besi yang runcing.

__ADS_1


"Sial! Lepaskan aku!" Jayme meronta-ronta meskipun itu tidak berguna.


*Jleb (suara tertusuk benda tajam)


Tubuh Jayme tertusuk tiang-tiang besi runcing itu. Jayme tidak mati secara langsung, ia sempat berteriak sebentar sebelum akhirnya diam.


Setelah itu cahaya bersinar dari tubuh Jayme. Kemudian banyak barang yang keluar dari tubuh Jayme.


Lein mengangkat tangan nya kearah tubuh Jayme dan tubuh Jayma. Kedua tubuh itu serta barang-barang yang keluar dari mereka melayang dan terbang ke arah Lein.


"Dilihat dari penampilan nya saja sudah menggiurkan." Lein melihat barang-barang mahal yang dikeluarkan dari tubuh kedua tetua itu.


Kemudian Lein memasukan semua barang ke dalam inventory nya. Lein lalu pergi mencari Isolda di hutan dekat kediaman.


Lein menoleh kebelakang dan melihat bahwa matahari akan segera terbit. Cahaya keemasan yang dipancarkan oleh matahari menyinari kekacauan di kediaman keluarga Barqi ini.


Lein menggeleng-gelengkan kepala nya dan tersenyum. Ia lalu menggunakan mana nya untuk mengobservasi lingkungan sekitar.


"Ketemu." Lein segera pergi menuju lokasi.


...----------------...


"Isolda... Kamu sudah bekerja keras." Lein menggunakan mana nya untuk mengubah Isolda menjadi kalung.


Kemudian Lein juga menyimpan barang-barang Mathis ke dalam inventory. Lein mencari tempat yang nyaman dan ia duduk bersandar di batang pohon.


"Kerja bagus untukmu." Octiorb muncul dan tersenyum kepada Lein.


"Terimakasih Oct." Lein juga tersenyum.


Lein batuk dan memuntahkan banyak darah dari mulutnya. Napas Lein terengah-engah, tubuh nya lemas, dan matanya mulai kabur.


"Aku... masih... lemah." ucap Lein sebelum akhirnya ia pingsan.


"Lein!" Octiorb berteriak.


"!!" Octiorb merasa ada sesuatu yang akan muncul namun itu tidak berbahaya.


"Halo Oct! Kita bertemu lagi!" Sebuah suara terdengar di belakang Octiorb.


"Kamu.... Liza!" Octiorb menoleh dan terkejut dengan siapa yang datang.


"Lama tidak berjumpa!" Ternyata yang datang adalah Liza.


"Bisakah kamu menceritakan kejadian nya?" Liza bertanya.


"....Tentu." Octiorb pasrah dan menceritakan seluruh kejadian.


"Jadi begitu...." Liza hanya tersenyum dengan tenang.


Liza kemudian menghampiri Lein yang sedang pingsan. Liza mengelus-elus rambut Lein dengan senyuman indah nya.


"Kerja bagus, Lein." Liza mencium kening Lein.

__ADS_1


Liza mengangkat tubuh Lein dan menggendong nya di punggung nya. Kemudian Liza mengucapkan beberapa kata yang sepertinya itu adalah sebuah mantra sihir.


Setelah Liza mengucapkan mantra, mereka menghilang dari hutan dan muncul di sebuah kamar tidur dengan dekorasi mewah.


Liza lalu menurunkan Lein di tempat tidur dan membaringkannya. Liza melihat Lein sebentar, lalu ia keluar dari ruangan.


...----------------...


"Bagaimana keadaan nya?" Brynn bertanya kepada Liza


Ternyata Liza membawa Lein ke rumah presiden Brynn di universitas dragon heart.


"Tubuh luar nya tidak terlalu parah namun luka di organ dalam nya sangat parah, ia juga kehilangan tangan kanan nya." Liza menjawab dengan tenang.


"Mengapa tidak disembuhkan?" Brynn bertanya dengan bingung.


"Aku ingin, tapi sekarang Lein sedang di masa yang penting. Aku tidak boleh mengganggu nya." Liza mengutarakan alasan nya.


"Ah, begitu." Brynn lalu membaca buku nya kembali.


Liza juga duduk di seberang Brynn dan mengambil buah yang ada diatas meja lalu memakan nya.


Suasana ruangan menjadi hening dan sepi karena keduanya tidak berbicara.


...----------------...


Pusat Kota Dragon Tide, Di sebuah gedung pencakar langit.


Nolan sedang mengurus dokumen di kantor nya. Namun asisten nya membuka pintu dan berteriak. Nolan ingin memarahi asisten itu namun ia tunda karena melihat ekspresi nya.


"Ga-gawat ketua!" asisten Nolan berteriak.


"Katakan dengan cepat apa yang terjadi." Nolan berbicara dengan tenang.


Asisten Nolan mengangguk dan mengatur napas nya agar bisa berbicara dengan baik.


"Ketua, saya mendapatkan laporan bahwa Lein masih hidup dan situasi kediaman sangat buruk." Asisten itu melaporkan kepada Nolan


"Apa katamu!?" Nolan terlihat marah.


"Pasukan utama dan assassin yang kita sewa semua terbunuh di kediaman keluarga beserta penjaga kediaman." Asisten itu melanjutkan laporan nya.


"Tunggu...." Nolan sedang berusaha menenangkan emosi nya.


"Bagaimana dengan Mathis dan kedua tetua?" Nolan bertanya.


"Kami menemukan mayat tuan jayme dan namun tidak menemukan mayat tuan Mathis dan tuan Jayma. Kami berasumsi bahwa mereka berdua juga telah mati." Asisten itu menjawab pertanyaan Nolan.


"Siapkan mobil. Aku ingin melihat secara langsung." Nolan berdiri dan memberi perintah.


"Ya, ketua." Asisten itu mengangguk dan keluar dari ruangan.


Nolan berjalan menuju jendela kantor dan melihat pemandangan gedung-gedung tinggi Kota Dragon Tide.

__ADS_1


"Lein Sanzio...." Nolan mengucapkan nama Lein dengan menahan emosi nya.


__ADS_2