
Karena Albir adalah seorang pembunuh dari Anarchy Order, dia tidak membawa barang apapun di dalam inventory nya pada saat menjalankan misi.
Albir hanya membawa banyak sekali pisau yang berukuran kecil di dalam beberapa tas di kaki dan pinggang nya untuk membunuh target.
Lein berjalan menghampiri Albir yang sudah mati dan memasukan nya kedalam jantung mayat, lalu Lein kembali ke tempat di mana ia menyiksa bawahan Albir.
Setelah tiba dan memasukan semua bawahan Albir ke dalam kantung mayat satu per satu, Lein menyimpan nya ke dalam inventory dan kembali ke Desa Nadir.
...----------------...
"Sepertinya sudah selesai ya..." Lein berada di atas atap rumah dan melihat kalau warga desa saat ini sedang bergotong royong untuk memperbaiki fasilitas yang rusak.
"Sedang apa kamu disana? Turun." Terus Octiorb.
"Oh, Oct!" Lein melompat turun dari atap dan mendarat di samping Octiorb.
"Bagaimana dengan Anarchy Order?" Tanya Octiorb.
"Beres." Jawab Lein sambil tersenyum.
"Baguslah, kita akan menyerahkan nya ke SID saat perbaikan di desa ini sudah selesai." Ucap Octiorb.
"Baiklah." Angguk Lein.
"Oh, Tuan Lein!" Darom melihat Lein ada di desa dan segera menghampiri nya.
"Kepala desa." Lein menyapa Darom.
"Apakah... Apakah kamu sudah menyelesaikan musuh yang menyerang warga desa?" Darom bertanya dengan ragu-ragu.
"Selesai, mereka semua telah berpindah alam." Lein mengacungkan jempol nya dan menjawab dengan senyuman.
"Berpindah alam ya.." Darom sedikit terhibur dengan apa yang Lein ucapkan.
"Ngomong-ngomong, apakah aku perlu membantu memperbaiki fasilitas nya seperti sebelumnya?" Lein ingin membantu Desa Nadir.
"Ah tidak perlu! Tuan Lein dan Tuan Octiorb sudah banyak membantu kami para warga Desa Nadir. Biarkan kami yang mengurus sisa nya." Ucap Darom.
"Eh...Baiklah..." Lein mengangkat bahu nya.
Karena tidak diperbolehkan untuk membantu, Lein dan Octiorb duduk di pinggir sambil membahas mengenai penyerangan Desa Nadir.
__ADS_1
"50 katamu? " Octiorb melebarkan matanya karena ia tidak menyangka kalau Anarchy Order akan mengerahkan banyak anggota nya untuk menyerang Desa Nadir.
"Ya. Ketua tim nya juga berlevel 143." Angguk Lein.
"Hm, itu jumlah yang banyak. Apakah mereka ingin membantai Desa Nadir ini?" Octiorb menyentuh dagunya.
"Begitulah, tujuan mereka adalah membuatku kehilangan kendali karena termakan emosi saat tahu kalau warga desa mati." Lein memberitahu tujuan Albir dan bawahan nya.
"Jadi begitu. Kali ini mereka murni untuk menyelesaikan mu ya..." Octiorb paham dengan penjelasan Lein.
"Benar, tidak seperti sebelumnya, mereka datang atau menyerang dengan tujuan yang ada hubungannya dengan Jareth. Namun penyerangan kali ini murni untuk membunuh ku saja." Angguk Lein.
Warga Desa Nadir bergotong royong untuk memperbaiki fasilitas yang rusak. Para pria yang memperbaiki dan membangun ulang jika perlu.
Para wanita bertugas untuk menyiapkan makanan dan minuman untuk semua orang. Dan anak-anak bertugas untuk menyemangati yang sedang bekerja.
Karena tidak diperbolehkan untuk membantu, Lein memutuskan untuk mengajarkan warga desa beberapa resep makanan yang bisa menggunakan bahan sedikit namun orang yang memakan nya pasti kenyang.
Octiorb juga mengajarkan petugas medis di Desa Nadir beberapa resep racikan obat yang bisa menyembuhkan beberapa penyakit kecil.
Karena penyakit di desa paling-paling hanyalah demam, atau mungkin luka karena diserang hewan di hutan saat berburu.
Darom menjawab nya dengan mudah, itu karena pendidikan warga di Desa Nadir kurang. Kata Darom, orang yang paling tinggi pendidikan nya hanya sebatas SMA saja.
Jadi, bahkan jika mereka bekerja di kota, mereka hanya akan mendapatkan pekerjaan serabutan dan pastinya gaji nya akan kurang.
Oleh karena itu warga desa terus berburu hewan untuk mereka makan dan menjual nya di toko sistem untuk mendapatkan uang.
Namun, setelah Lein merekonstruksi Desa Nadir setelah menyelamatkan Daerol dan pasukan nya, warga desa memutuskan untuk berubah.
Mereka akan membeli buku pengetahuan yang mereka minati dan mempelajari nya agar mereka bisa melakukan hal yang berguna.
Kegiatan berburu masih mereka lakukan namun tidak sesering sebelumnya. Saat ini mereka sedang fokus untuk meningkatkan pengetahuan mereka.
...----------------...
"Kalau begitu, sampai jumpa semuanya!" Lein melambai-lambaikan tangannya ke arah warga desa.
Warga desa juga melambai-lambaikan tangan mereka dengan bahagia bahkan ada beberapa warga yang menangis.
Lein dan Octiorb saat ini sedang berdiri di pintu gerbang Desa Nadir karena mereka akan pergi dari sana untuk melanjutkan perjalanan mereka.
__ADS_1
"Saatnya mendapatkan uang dari SID." Ucap Lein saat mereka berdua terbang menuju kota terdekat.
"Hahaha, kamu benar. SID mungkin akan sakit tak berdarah karena harus mengeluarkan uang yang sangat banyak untuk juga." Octiorb tertawa dengan puas.
"Tapi aku tidak tahu apakah kota yang kita tuju akan memiliki uang sebanyak itu, semoga saja mereka punya." Ucap Lein yang sedikit khawatir.
"Santai saja, mereka itu SID. Bahkan jika mereka tidak memiliki uang di kantor mereka, mereka bisa meminta nya ke kantor pusat." Ucap Octiorb dengan nada santai.
"Benar juga. Kalau mereka tidak bisa memberikan kita uang sebagai imbalan maka citra mereka akan rusak di mata masyarakat ya, hahaha." Lein tertawa kecil.
"Ya, itulah hal yang merepotkan mu saat menjadi pahlawan. Kamu tidak bisa berbuat apa yang kamu inginkan dan selalu memperhatikan opini publik." Ucap Octiorb.
"Dan itulah mengapa aku tidak mau menjadi seorang pahlawan." Balas Lein.
Mereka berdua terbang dengan kecepatan normal karena mereka juga menikmati pemandangan alam yang sangat indah.
Daerah di sekitar Desa Nadir merupakan hutan dan bukit. Jadi sejauh mata memandang, semuanya berwarna hijau asri yang membuat udara sejuk.
...----------------...
Sore hari.
"Oh, mengapa harus mengantre." Ucap Octiorb dengan nada kesal saat melihat ada banyak orang di depan gerbang kota.
Lein dan Octiorb saat ini sudah sampai di kota terdekat. Kota yang mereka datangi merupakan sebuah kota kecil biasa.
"Sabar, mungkin karena ini adalah kota kecil, jadi tenaga kerja atau teknologi mereka kurang memadai." Ucap Lein.
"Yah, kamu ada benarnya." Balas Octiorb.
Lalu setelah mengantre selama setengah jam, mereka menunjukkan kartu identitas mereka dan dikonfirmasi oleh petugas.
Saat sudah memasuki kota, mereka berdua langsung pergi menuju gedung SID yang letaknya berada di pusat kota sebelah gedung walikota.
Saat Lein menunjukkan semua anggota Anarchy Order yang ia bunuh, semua petugas SID di sana membelalakkan mata mereka karena sangat terkejut.
Setelah mengonfirmasi identitas para anggota Anarchy Order, petugas SID langsung mentransfer uang ke rekening bank milik Lein.
Lein mendapatkan imbalan sebesar 19 kita FEZ dari membunuh sekitar 50 anggota Anarchy Order.
Yang paling mahal adalah Albir, dia dihargai sekitar 10 juta FEZ oleh SID. 9 juga sisanya adalah gabungan harga seluruh bawahan nya.
__ADS_1