
Valeri dan yang lain nya menghela napas dengan lega karena Lein dan Liza menarik kembali aura mengerikan mereka.
"Gila, monster macam apa mereka!?" Batin Daerol.
Daerol sangat terkejut, ia memang tahu kalau Lein dan Liza itu kuat, namun ia tidak menyangka bahwa kekuatan yang mereka tunjukkan masih setetes air.
"Bahkan aku yang dianggap jenius dan hidup dalam sumber daya yang melimpah merasa lemah dihadapan mereka berdua."
"Aku tidak bisa membayangkan seberapa menakutkan nya kemampuan mereka sampai bisa membawa mereka di tingkat kekuatan yang tidak masuk akal." Batin Daerol.
Jika Lein dan Liza tahu apa yang Daerol pikirkan sekarang, mereka berdua pasti akan tertawa terbahak-bahak.
Karena Daerol salah, Lein dan Liza tidak memiliki bakat yang menakutkan, bahkan rank kemampuan mereka sangat rendah.
Mereka berdua bisa menjadi kuat seperti sekarang adalah karena keinginan mereka untuk menjadi kuat dan tekad mereka yang tidak pernah padam.
Liza dengan berani nya membuat kontrak dengan Leviarves. Jika Liza tidak melakukan hal itu, mungkin dirinya sekarang akan jauh lebih lemah.
Analysis Eye milik Lein bisa dikatakan serbaguna, dan dengan dibantu oleh Octiorb, Lein bisa memanfaatkan Analysis Eye dengan baik.
Namun bukan itu yang membuat Lein kuat, bahkan dengan Analysis Eye miliknya, Lein tetap kalah dan hampir mati saat melawan Kiva dan bawahan nya.
Apa yang bisa membuat Lein menjadi kuat sampai sekarang adalah keinginan untuk hidup dan sifat yang tidak kenal menyerah.
Mereka berdua bisa sekuat sekarang bukan karena sumber daya yang melimpah seperti keluarga kaya, tetapi karena usaha dan keinginan mereka untuk menjadi kuat.
...----------------...
"Baiklah, akan aku beritahu." Angguk Joris.
"Tentu, silakan." Angguk Lein.
"Sebenarnya, Istri Walikota Collin, Yaitu Nyonya Abelia memberikan kami sebuah tugas."
"Tugas nya adalah untuk mengawal orang-orang yang akan mengirimkan Kayu Pohon Oxtara ke Benua Dwarf yang akan dikirimkan lewat laut."
"Misi ini sangatlah berbahaya karena melewati laut, dan kami saat ini sedang berusaha untuk mencari orang-orang kuat untuk mengikuti misi ini."
Joris menjelaskan alasan mengapa ia memberikan Lein dan Liza kartu keanggotaan yang keuntungan nya lebih tinggi dibandingkan perbuatan yang mereka lakukan.
"Oh, Nyonya Abelia dan Tuan Bovug sudah memulai kerja sama mereka ya." Batin Lein.
"Jadi, anda ingin kami mengikuti misi itu?" Tanya Lein.
"Benar." Angguk Joris.
"Tentu saja setelah misi akan mendapat hadiah yang berbeda. Anggap saja kalau kartu keanggotaan itu sebagai uang muka." Tambah Joris.
"Jadi begitu, kalau begitu aku tolak." Lein menolak dengan wajah tersenyum.
__ADS_1
"Kalau Lein menolak, maka aku juga." Liza juga tersenyum.
"Baiklah... Aku juga tidak bisa memaksa kalian." Ucap Joris dengan ekspresi pahit.
Karena Lein dan Liza menolak nya, Joris memberikan mereka berdua uang yang sangat banyak sebagai hadiah misi.
Setelah itu Lein dan Liza segera pergi meninggalkan kantor karena sudah tidak ada urusan yang perlu dibicarakan lagi.
"Hah... Sepertinya aku mengacaukan nya..." Joris melemaskan tubuh nya.
"Mau bagaimana lagi, mereka ternyata bukan seperti orang yang kita kira..." Ucap Valeri.
"Benar, kurasa mulai sekarang kita jangan melihat seseorang dari usia nya." Balas Joris.
Daerol dan Shana saling memandang, kemudian mereka berdua pamit undur diri dan pergi keluar dari kantor.
...----------------...
"Mengapa kamu menolak nya?' Tanya Liza.
Liza tidak masalah dengan Lein yang menolak tawaran Joris, ia hanya ingin tahu apa alasan yang membuat Lein menolak nya.
"Hm, aku akan mengikuti misi pengawalan, tetapi bukan sebagai bagian dari Kamar Dagang Myrant." Jawab Lein.
"Apa maksudmu?' Liza tidak paham.
"Jadi begini..." Lein menceritakan kalau Abelia dan Bovug bekerja sama.
"Ya, benar." Angguk Lein.
"Jika kita datang sebagai orang dari Nyonya Abelia, maka kita akan bisa bertindak secara bebas tanpa harus mengikuti komando Kamar Dagang Myrant." Tambah Lein.
"Benar juga. Aku pun juga tidak mau berada di bawah komando seseorang yang lebih lemah." Ucap Liza dengan nada meremehkan.
"Haha! Bagus!" Lein tertawa.
...----------------...
"Boleh." Angguk Abelia.
Lein dan Liza saat ini sedang berada di taman belakang mansion walikota bertemu dengan Abelia yang sedang mengerjakan sesuatu.
Lein juga mengenalkan Liza kepada Abelia dan sebaliknya. Respon Abelia seperti biasa, yaitu datar, saat melihat Liza yang seorang Elf.
"Terimakasih, Nyonya Abelia." Lein dan Liza berterima kasih.
"Tapi ada satu syarat." Ucap Abelia tiba-tiba.
"Syarat? Tentu, apapun itu selama berada dalam kemampuan kami." Angguk Lein.
__ADS_1
"Bagus. Sekarang duduk dan bantu aku mengerjakan dokumen yang menumpuk ini." Abelia mengeluarkan banyak dokumen dari inventory nya.
"..." Lein dan Liza saling memandang.
"Kenapa? Apakah kalian berdua tidak ingin mengikuti misi pengawalan?" Tanya Abelia.
"Mau." Lein dan Liza menganggukkan kepala mereka.
"Lalu bantu aku." Ucap Abelia dengan ekspresi wajah datar.
"Baiklah..." Lein dan Liza hanya bisa pasrah.
Lein dan Liza duduk, mereka mengambil dokumen dan membacanya. Kemudian mereka menolak atau menyetujui dokumen tersebut.
Terkadang mereka berdua juga bertanya kepada Abelia jika ada sesuatu yang kurang mereka pahami atau jika dokumen nya berada di luar kendali mereka.
"Hm, ini lebih baik. Aku akan menyuruh mereka untuk membantu ku di lain waktu." Batin Abelia.
Disaat yang bersamaan, Lein dan Liza merasa kedinginan dengan mengapa padahal masih siang hari dan udaranya panas.
"Sial, apakah aku demam?" Batin Lein.
"Mengapa aku merasa kedinginan?" Batin Liza.
Mereka bertiga menyelesaikan semua dokumen nya sampai sore menjelang malam.
"Makan malam lah bersama kami." Ucap Abelia berjalan menuju ke dalam mansion.
"Sepertinya itu bukan tawaran, tetapi perintah." Ucap Liza.
"Yah, kurasa kita menerima nya? Makanan di sini kan enak-enak." Tanya Lein.
"Siapa yang akan menolak makanan gratis?" Liza segera berjalan mengikuti Abelia.
"Tunggu aku!" Teriak Lein.
Setelah itu mereka makan bersama, namun Walikota Collin tidak hadir karena ia ada makan malam bersama keluarga lain.
Jadi yang makan malam bersama adalah Abelia, Britta, Lein, dan Liza.
Seperti yang dikatakan Lein, makanan dan minuman yang disediakan oleh kediaman walikota sangat enak dan berkualitas.
Awalnya Lein dan Liza makan dengan tenang namun lama-kelamaan mereka menunjukkan sifat asli mereka dan makan dengan ribut dan berebut makanan satu sama lain.
Pelayan akan menghentikan mereka karena itu tidak sopan namun dihentikan oleh Abelia dan ia mengatakan untuk membiarkan nya.
Justru Abelia merasa senang melihat Lein dan Liza yang makan seperti anak kecil karena keluarga nya selalu makan dalam diam.
Meskipun ragu-ragu, Britta juga sesekali ikut berebut makanan dengan Lein dan Liza.
__ADS_1
Abelia juga senang melihat putrinya bisa akrab dan bersenang-senang dengan Lein dan Liza karena Britta tidak memiliki teman karena sifatnya yang seperti dirinya.