
Setelah sekitar satu jam Lein berolahraga, ia kembali ke kamar nya untuk mandi menghilangkan keringat dan berpakaian..
Setelah bermain ponsel sebentar Lein merasa sedikit lapar. Ia kemudian berpikir untuk memakan sesuatu untuk mengisi perut nya.
Lein kemudian turun ke bawah lagi menuju restoran hotel. Lein berjalan dan menghampiri salah satu pelayan restoran yang ada di sana.
"Permisi.." Ucap Lein kepada pelayan itu.
"Ah iya, halo tuan. Apakah ada yang bisa saya bantu?" Tanya pelayan itu dengan sopan.
"Apakah restoran nya sudah buka? Aku ingin memesan sesuatu." Ucap Lein yang ingin memesan.
"Sudah tuan. Namun kami hanya bisa menyediakan makanan dan minuman yang sederhana karena bahan dan alat nya masih banyak yang belum siap." Jawab Pelayan itu.
"Tidak apa-apa, aku hanya ingin memesan secangkir kopi panas dan suatu camilan pendamping kopi." Balas Lein.
"Baik tuan kami bisa menyediakan nya. Silakan duduk dan tolong ditunggu tuan." Ucap pelayan dengan tersenyum.
"Tentu, terimakasih." Lein berterima kasih.
"Sama-sama tuan." Balas pelayan kemudian ia pergi ke dapur restoran.
Lein kemudian berjalan dan duduk di kursi dekat jendela sambil mengagumi pemandangan. Restoran ada di lantai 3 dan jendela nya menghadap ke arah taman.
Lein mengeluarkan sebuah buku novel acak dari inventory nya kemudian ia membaca nya dengan tenang.
Kemudian setelah beberapa menit pelayan yang tadi datang sambil membawa nampan yang di atas nya terdapat pesanan milik Lein.
"Terimakasih telah menunggu. Ini adalah pesanan anda yaitu kopi panas dan camilan pendamping berupa biskuit." Pelayan menaruh pesanan Lein di atas meja.
"Terimakasih." Ucap Lein menganggukkan kepala nya.
"Sama-sama tuan, silakan dinikmati." Pelayan membungkukkan badan nya sedikit dan undur diri.
"Ya." Angguk Lein.
Lein membaca novel sambil menikmati kopi dan biskuit nya dan juga sambil mengagumi pemandangan taman hotel yang hijau dan asri.
Restoran terasa sangat sepi karena hanya ada karyawan restoran yang sedang menyiapkan alat dan bahan dan hanya ada satu pengunjung yaitu Lein seorang.
Namun suasana sepi itu terasa menyenangkan karena udara pagi yang dingin dan ketegangan nya menambah kenyamanan.
Kemudian waktu sarapan telah tiba, banyak pengunjung yang mengunjungi restoran saat ini dan restoran menjadi ramai.
Lein sudah menghasilkan kopi dan biskuit nya, ia berdiri dan membawa cangkir dan peralatan lain nya ke tempat yang disediakan.
Kemudian Lein datang ke pelayan yang tadi dan membayar pesanan nya karena yang Lein makan bukan lah sarapan yang disediakan oleh pihak hotel.
Oleh karena itu Lein harus membayar nya, meskipun ia seharusnya membayar sebelum pesanan nya datang bukan setelah ia menghabiskan pesanan nya.
...----------------...
Kamar hotel Presiden Brynn.
Lein saat ini sedang duduk di sofa menunggu Presiden Brynn dan Liza yang sedang sarapan bersama di dalam kamar.
"Kamu sudah makan Lein?" Tanya Liza melihat Lein yang sedang bermain ponsel.
"Belum. Tapi perutku sudah kenyang." Jawab Lein tanpa mengangkat kepala nya.
"Kenyang? Memangnya kamu makan apa tadi?" Liza penasaran.
"Tidak banyak, hanya kopi dan beberapa biskuit." Jawab Lein.
"Mana bisa yang seperti itu bisa membuat mu kenyang!" Liza cemberut kesal.
"Bisa, aku kenyang juga karena makan angin." Balas Lein.
"Terserah!" Liza mendengus.
__ADS_1
Disisi lain Presiden Brynn dengan tenang memakan hidangan nya tanpa ikut campur dalam pertengkaran Lein dan Liza.
Setelah beberapa menit mereka berdua sudah menyelesaikan sarapan mereka dan sekarang sedang menonton televisi.
"Awas." Ucap Liza kepada Lein yang sedang berbaring di sofa panjang.
"...." Lein menatap mata Liza dan kemudian ia mengubah posisi nya menjadi duduk.
"Bagus." Liza duduk bersandar di dan meluruskan kakinya di atas kaki Lein.
"Ugh..." Lein hanya bisa pasrah.
"Jadi, mengapa kamu datang kesini?" Presiden Brynn duduk di sofa satu nya.
"Ah iya, aku ingin meminta buku skill itu." Jawab Lein.
"Baiklah katakan padaku buku skill apa yang kamu inginkan." Ucap Presiden Brynn.
"Buku skill elemen kegelapan, skill yang bisa menyerap sesuatu." Jawab Lein.
"Menyerap sesuatu... Baiklah aku akan meminta nya kepada Walikota Collin." Balas Presiden Brynn mengangguk.
"Terimakasih Pres."Angguk Lein.
...----------------...
Setelah Jonas dan yang lain sudah mengatakan buku skill yang mereka inginkan, Presiden Brynn segera pergi menuju ke Kediaman Walikota.
Lalu setelah menunggu satu jam Presiden Brynn sudah menyerahkan semua buku skill yang mereka inginkan.
Lein sekarang sedang duduk bersila melihat buku skill berwarna hitam yang terkesan menyeramkan yang ada di tangan nya.
"Analisa." Ucap Lein.
[ analisa berlangsung ]
rank : atas
Sebuah skill yang membuat pengguna bisa menyerap mana dari apa yang disentuh nya ]
"Hm bagus, dengan ini aku bisa menyerap mana makhluk hidup dan bisa membunuh nya jika menguras mana yang ada di tubuh mereka." Lein menyeringai.
"Dan aku sudah memiliki sebuah kombinasi menarik, Mana Absorb dapat dipakai namun harus menyentuh target nya."
"Jika aku menggunakan teknik gravitasi maka aku bisa menarik makhluk hidup yang ada di sekitar ku dan langsung menyerap mana mereka."
"Jadi aku tidak perlu bersusah payah untuk menghampiri makhluk hidup di sekitar ku untuk menggunakan skill Mana Absorb."
"Tidak tunggu, deskripsi skill hanya menjelaskan apa yang disentuh oleh pengguna, yang berarti aku bisa menyerap mana dari apapun kan?"
"Itu berarti aku bisa menyerap mana dari benda mati atau dari makhluk hidup."
"Haha, dengan jantung naga yang bisa menyerap mana di sekitar dan Mana Absorb yang bisa menyerap mana benda mati dan makhluk hidup..."
"Aku akan memiliki mana yang hampir tidak terbatas dan akan sangat berguna dalam pertarungan, Hahaha!!" Lein tertawa keras.
"Selamat Lein, kamu bertambah kuat." Ucap Isolda.
"Haha, terimakasih Isolda!" Balas Lein.
"Oh iya, sekarang tubuh ku sudah setara dengan level 100, kalau level ku bagaimana..." Ucap Lein memeriksa level nya.
"Sistem, status." Ucap Lein.
Nama : Lein Sanzio
Usia : 18 tahun
__ADS_1
Level : 70
STR : 50
AGL : 50
VIT : 50
INT : 59
poin kosong: 21
Kemampuan : Analysis Eye
Deskripsi kemampuan :
Analysis Eye, sebuah mata yang bisa menganalisa segala sesuatu yang ada
skill : ...
"Eh, level 70? Bukankah aku harusnya level 68?" Lein menyentuh dagunya.
"Apakah karena efek kolam itu?" Pikir Lein.
"Ah sudahlah, sudah bagus aku naik level." Lein kemudian menambah poin kosong nya.
Nama : Lein Sanzio
Usia : 18 tahun
Level : 70
STR : 55
AGL : 55
VIT : 55
INT : 65
poin kosong: -
Kemampuan : Analysis Eye
Deskripsi kemampuan :
Analysis Eye, sebuah mata yang bisa menganalisa segala sesuatu yang ada
skill : ...
"Bagus, aku merasa tubuh ku semakin kuat." Lein menyeringai.
__ADS_1