
Di sisi Lein.
Lein yang terbang segera melempar lich dengan sekuat tenaga. Lich terlempar namun ia segera menggunakan sihir untuk membuat nya melayang.
"Seperti yang diharapkan dari lich..." Ucap Lein mendarat.
"Aku tahu kamu bisa berkomunikasi, katakan.. Siapa yang menyuruh mu?" Tanya Lein.
Lich memang monster dengan kecerdasan tinggi, oleh karena itu lich memiliki kesadaran dan bisa berkomunikasi dan berbicara.
"...Yang tidak terlibat... Tidak perlu tahu..." Jawab lich.
"Yah apapun itu, lagipula aku sudah tahu mengapa kamu, tidak, kalian menyerang Kota Els." Ucap Lein menyeringai.
"Kamu sudah ta-" Ucapan lich terpotong karena Lein langsung menyerang lich.
Lein mundur beberapa langkah lalu menyerang dengan katana nya dan menggunakan gaya kedua teknik tebasan air.
"Lich Magic : Bone Wall." Lich menciptakan dinding tulang yang muncul dari bawah tanah.
Serangan tebasan Lein ditangkis, namun sudah mengantisipasinya. Lein berlari ke depan dan melompati Bone Wall.
"Dragon Dance : Gravity Slash." Lein menyerang lich secara vertikal dari atas menggunakan serangan tebasan gravitasi.
"Lich Magic : Bone Shield." Lich mengangkat tangan kiri dan mengubah tulang di tangan kirinya menjadi sebuah perisai tulang.
"!!" Lein mundur dan menjaga jarak dari lich.
"Analisa!" Lein segera menganalisa lich.
[ analisa berlangsung ]
[ Lich (ditingkatkan)
level : 130
Lich yang sudah ditingkatkan dengan suatu kemampuan yang asing ]
"Sudah kuduga ada yang aneh..." Lein menyipitkan matanya.
Lich biasa hanya bisa menciptakan dan mengendalikan tulang. Namun lich yang Lein lawan bisa mengubah tulang nya menjadi perisai.
Untuk membuat perisai, lich biasa hanya menggabungkan tulang-tulang yang membentuk seperti perisai, bukan mengubah nya.
"Dan level 130?" Lein ingin mengumpat.
"Dragon Dance : Gravity Slash." Lein menyerang dengan tebasan gravitasi lalu ia berlari ke arah kanan dan menghampiri lich dari samping.
"Dragon Dance : Gravity Blast." Lein menebas namun bukan tebasan yang muncul, tetapi hempasan gravitasi.
"Lich Magic : Bone Wall." Lich mengeluarkan Bone Wall lagi, bedanya kali ini ia menaruh Bone Wall di sekeliling nya.
"Sial." Lein mendekati lich dengan cepat dan menghancurkan Bone Wall milik lich.
"Dragon Dance : Gravity Puncture." Lein menusuk Bone Wall.
Namun saat ia berhasil melubangi Bone Wall, sebuah cahaya yang amat terang namun berwarna hitam keluar dari lubang tersebut.
"Lich Magic : Dark Bolt." Sebuah bola listrik berwarna hitam menyerang.
"!!" Lein terlambat menghindar dan terkena serangan nya.
Lein terhempas mundur dan punggungnya menabrak pohon di belakang nya sampai pohon itu tumbang saking kerasnya hempasan yang dihasilkan.
__ADS_1
Lein batuk dan mengeluarkan darah dari mulutnya. Lein mengelap darah di mulutnya dan menyeringai.
"Padahal hanya satu mantra, tapi sudah sekuat itu." Ucap Lein.
Lein menyimpan katana nya di inventory, kali ini Lein akan menggunakan sihir daripada menggunakan pedang.
"Dragon Language : Ultimate Demonic Power." Lein langsung mengerahkan semua kemampuan nya.
"Ha!!" Lein berteriak.
Lein menggunakan teknik gerakan kakinya untuk bergerak secepat cahaya dan berpindah-pindah tempat agar lich bingung.
"Dragon Language : Gravity Bullet." Lein menembakan sebuah peluru gravitasi dari segala arah.
"Manusia yang merepotkan..." Ucap lich.
"Lich Magic : Field of Death." Lich mengubah lingkungan sekitar nya menjadi gelap dan suram.
"Lich Magic : Death Strike." Lich menyerang Lein yang bergerak sangat cepat menggunakan energi kematian.
Serangan ini seperti misil yang mengincar target nya dan tidak akan berhenti sampai serangan ini mengenai Lein.
"Sial, yang paling merepotkan dari lich adalah dia bisa mengendalikan kematian, termasuk energi ini." Lein mengumpat.
Meskipun Lein bergerak sangat cepat, serangan Kematian dari lich juga tidak kalah cepat. Death Strike milik lich terus mengikuti pergerakan Lein.
Lein sedikit ceroboh dan pada akhirnya Death Strike mengenai Lein.
"Argh!!" Lein berteriak kesakitan.
Serangan yang menggunakan energi kematian adalah salah satu serangan yang paling berbahaya. Karena serangan ini menyerang jiwa target bukan tubuh nya.
Oleh karena itu saat ini Lein sedang merasakan sakit yang sangat amat parah. Jiwanya seolah-olah sedang terbakar di api penyucian di neraka.
"Manusia memang lemah..." Ucap lich.
"Mau kemana kamu!?" Lein berkata dengan nada suram.
"....Kamu tidak mati?" Lich berhenti dan menoleh.
"Hanya aku yang bisa menentukan kapan aku akan mati." Ucap Lein dengan nada arogan.
"Dasar manusia sombong!" Kali ini lich marah.
"Lich Magic : Bone Spike."
"Lich Magic : Bone Arrow."
"Lich Magic : Bone Spear."
Lich mengeluarkan tiga mantra sihir serangan berturut-turut. Paku tulang yang muncul dari tanah, anak panah tulang dan tombak tulang yang melayang.
Ketiga serangan itu segera menyerang Lein yang sedang sekarat. Karena Death Strike menyerang jiwa, otomatis divine power dan mana nya berkurang drastis.
Dan kemampuan regenerasi yang baru saja ia terima tidak berguna, karena regenerasi hanya memulihkan tubuh bukan jiwa.
Lein melihat bahwa serangan lich akan datang mengenai nya. Namun Lein tidak gentar, ia tetap menatap lich tanpa rasa takut sedikitpun.
Justru Lein menyeringai saat ia menghadapi serangan yang mungkin akan membunuh nya.
Lich terkejut dengan reaksi Lein. Bahkan sebagai monster yang menguasai kematian, ia kagum dengan Lein yang tidak takut mati.
"Namun sayang sekali, kamu harus melawan ku ..." Lich menggeleng-gelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Matilah dengan tenang, manusia..." Ucap lich.
"Tidak akan kubiarkan." Sebuah suara wanita yang indah terdengar.
Bersamaan dengan itu, api yang berwarna hitam muncul dari udara dan menghancurkan semua serangan lich yang diarahkan kepada Lein.
"Siapa!?" Lich marah dan bingung dengan kemunculan api yang tiba-tiba.
"Suara ini...." Lein tahu pemilik suara ini..
"Apakah aku terlambat?" Muncul sosok wanita di antara api hitam.
"Kamu datang disaat waktu yang tepat, Liza." Ucap Lein tersenyum melihat elf di depan nya.
Ya, Liza adalah pemilik suara barusan. Dan api hitam yang muncul adalah api hitam milik Naga Jahat Leviarves.
"Bagaimana kamu datang?" Tanya Lein.
"Aku melihat berita bahwa Kota Els tidak bisa dihubungi."
"Lalu di berita juga dikatakan bahwa kota Els saat ini diselimuti oleh tirai pelindung berwarna hitam mirip seperti saat kamu melawa Kiva."
"Bedanya tirai pelindung ini memantulkan semua serangan bahkan serangan ku."
"Aku sudah menaruh rune koordinat di tubuh mu."
"Jadi aku tahu bahwa kamu ada di kota Els, dan segera membuat rune teleportasi untuk ke sini." Ucap Liza menjelaskan.
"Hah... Terimakasih...." Lein menghela napas lega.
"Kalau begitu bagaimana dengan satu permintaan untuk berterima kasih?" Ucap Liza tersenyum.
"Silakan." Lein mengangguk.
"Berkencan lah dengan ku." Liza mengatakan itu dengan wajah tenang namun telinga nya memerah.
"Tidak..." Namun Lein menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Ah... Begitu..." Raut wajah Liza seketika berubah menjadi kecewa.
"Apakah aku terlalu berharap?" Pikir Liza.
"Ganti permintaan mu, karena aku memang berencana mengajakmu kencan jika aku keluar hidup-hidup dari sini." Ucap Lein tersenyum.
"Ah..." Liza yang mendengar ucapan Lein segera membuang wajah kecewa nya dan berubah bahagia.
"Baiklah!" Ucap Liza bersemangat.
"Elf sialan...!!" Lich marah karena elf yang menghancurkan serangan nya malah berbicara dengan manusia di depannya.
"Oh iya, kita harus mengalahkan tengkorak disana." Liza menoleh.
"Bukan kita, kamu..." Lein mengoreksi.
"Apakah kamu tidak bisa bertarung? Tapi tubuhmu baik-baik saja..." Liza bingung.
"Jiwa ku terserang." Lein menghela napas.
"!!" Liza terkejut.
"Baiklah. Beristirahat dan lihatlah aku." Liza menjadi marah.
"Tentu.." Lein mundur menjauhi medan tempur.
__ADS_1
"Elf dan Manusia sialan...!" Lagi dan lagi lich mengumpat.
"Diam kau tengkorak.!" Teriak Liza.