
"Kekeke, bagaimana? Aku tahu ada petinggi SID di luar ruangan ini. Aku juga tahu kalau ada beberapa dari kalian yang mengetahui mengenai Hagas yang korupsi."
"Aku tidak terlalu peduli dengan kalian asalkan kalian juga jangan mengganggu ku. Bagaimana? Apakah kalian akan membebaskan ku atau memenjarakan ku?"
"Pikirkan lah baik-baik mana yang akan menguntungkan dan mana yang akan merugikan." Lein berkata dengan nada dingin.
"!!" Semua petugas SID terkejut dengan Lein yang berani berkata-kata seperti itu kepada atasan mereka.
"Yah, ini memang sifat nya. Aku juga tidak bisa ikut campur dalam masalah ini karena bukan wilayah kekuasaan ku." Batin Gran.
"Kami akan membebaskan mu. Kamu boleh keluar sekarang, namun bisakah kamu janji kalau kamu tidak akan mengganggu kami?" Salah satu petinggi berbicara.
"Meskipun kita tidak saling mengenal, namun kalian juga bisa tahu sifat ku bagaimana. Aku tidak akan mengganggu kalian jika kalian juga tidak mengganggu ku."
"Intinya, kita jangan saling mengganggu satu sama lain." Jawab Lein dengan nada serius.
"Baiklah, dan jika ada orang yang mengganggu mu, tolong urus dia dan sebisanya jangan membawa nama SID." Ucap salah satu petinggi lain.
"Tentu saja, kalian bisa memegang ucapan ku." Lein keluar dari ruangan interogasi.
Setelah menyala Gran, Lein segera keluar dari gedung. Namun ia melihat kalau di depan gedung masih ada banyak orang yang sedang berdemo jadi Lein kembali masuk ke dalam gedung.
"Hm? Ada apa? Apakah kamu ketinggalan sesuatu?" Tanya Gran yang melihat Lein masuk lagi.
"Tidak ada. Dimana pintu belakang nya?" Lein melihat ke sekeliling.
"Itu, ada di sana." Meskipun bingung mengapa Lein bertanya itu, Gran tetap menunjukkan nya.
"Oh itu, baiklah, terimakasih." Lein berterima kasih lalu ia berjalan ke pintu belakang.
Lein keluar dari gedung dan langsung menggunakan sihir tidak terlihat dan sihir terbang. Lein lalu pergi ke rumah nya di daerah kumuh.
"Ah.. Aku tahu mengapa dia menanyakan dimana pintu belakang.." Gran berjalan dan melihat ke luar jendela.
...----------------...
"Oh, kamu sudah kembali?" Octiorb keluar dari kamar saat mendengar pintu rumah terbuka.
__ADS_1
"Ya, aku kembali." Lein melepas sepatu nya dan memasuki rumah.
"Bagaimana dengan hukuman mu? Meskipun aku tahu, tapi aku ingin mendengar nya langsung dari dirimu." Octiorb duduk di sofa.
"Hm, mereka menjadi terdiam saat mendengar rekaman suara nya. Lalu mereka membebaskan ku dan membuat janji kalau kami tidak akan saling mengganggu satu sama lain di masa depan." Lein menuangkan air minum dan meminum nya.
"Itu bagus..." Octiorb menganggukkan kepala nya.
"Lalu, bagaimana dengan dirimu?" Lein duduk di sofa seberang Octiorb.
"Haha, kamu tahu, masalah nya saat ini sudah diketahui ke satu negara, aku meminta bantuan Presiden Brynn dan dia menggunakan Dragon Tide News untuk menyebarkan nya." Octiorb tertawa.
"Oh~ itu ide bagus. Jika sudah satu negara sudah mengetahui masalah ini, maka bisa dipastikan kalau SID tidak akan membuat masalah lebih dengan ku." Lein tersenyum kecil.
"Ya, seperti itu. Sekarang karena Hagas telah terbunuh, mungkin Elin dan Elwin akan segera memasuki penjara dan menetap disana dengan berapa lama."
"Mereka tidak melakukan kejahatan yang membuat mereka harus dihukum mati. Namun bukan berarti kalau mereka tidak jahat." Ucap Octiorb.
"Benar, dengan melakukan hal ini aku menjadi lebih lega. Seolah-olah batu yang mengganjal di hati ku telah jatuh." Lein mengangguk.
Mereka berdua memutuskan untuk memesan makanan saja karena mereka juga sudah lelah dengan melakukan banyak hal.
Lein menyalakan ponsel nya dan mulai memilih restoran yang terdekat namun karena ini adalah daerah kumuh, tidak ada restoran yang menyediakan layanan antar.
Jadi Lein harus memilih restoran yang berada di luar daerah kumuh. Lalu setelah memesan pesanan yang diinginkan, Lein juga harus membayar lebih karena pengantar makanan tidak ingin pergi ke daerah kumuh.
Karena Lein memiliki banyak uang, ia tidak terlalu peduli akan hal ini dan langsung membayar nya dengan jumlah yang banyak.
"Daerah kumuh benar-benar membuat masalah ya.." Ucap Octiorb.
"Benar, disini sangat merepotkan ku." Lein menghela napas panjang.
"Lalu mengapa kamu tidak pindah rumah saja? Tentu saja rumah ini jangan dijual karena ini adalah rumah kakek dan nenek mu." Tanya Octiorb.
"Aku juga ingin pindah namun tidak bisa karena kemungkinan besar aku tidak akan tinggal di kota ini." Jawab Lein.
Karena kemungkinan besar Lein akan tinggal di ibukota karena Lein membutuhkan fasilitas yang tersedia disana yang sangat lengkap.
__ADS_1
Di ibukota juga ada banyak sekali orang kuat, Lein bisa saja belajar beberapa sesuatu yang berguna dari orang-orang kuat itu.
Juga, karena Lein tidak mengenal siapapun di Kota Elm. Semasa sekolah Lein juga tidak memiliki teman karena ia selalu bekerja dan tidak memiliki waktu untuk bermain dengan yang lain.
Oleh karena itu Lein akan tinggal di Ibukota dan sesekali ia akan pergi ke Kota Elm untuk memperingati kematian kakek dan nenek nya.
"Benar juga..." Octiorb menganggukkan kepala nya.
Setelah setengah jam menunggu, pintu rumah diketuk. Octiorb beranjak dari sofa dan berjalan untuk membukakan pintu.
"Oi bocah! Bantu aku!" Octiorb berteriak.
"Hm? Ada apa?" Lein beranjak dari sofa dan melihat ke pintu kalau Octiorb membawa banyak sekali kemasan.
"Hahaha..." Lein tertawa.
"Jangan tertawa bodoh! Cepat bantu aku!" Octiorb kesal karena Lein malah tertawa bukannya membantu nya.
"Hahaha, baiklah..." Lein membantu Octiorb namun ia masih tertawa.
Mereka berdua membawa kemasan makanan yang sangat banyak ini ke ruang keluarga dan membuka semua kemasan nya.
Setelah itu mereka langsung memakan nya dengan lahap sambil menonton berita atau beberapa tayangan lain nya di televisi.
"Um! Ini sangat enak! Kamu memesan makanan di restoran yang bagus bocah!" Mata Octiorb berbinar-binar saat memakan ayam goreng dengan saus keju.
"Kekeke, tentu saja. Meskipun dulu aku tidak bisa membeli makanan luar, aku selalu menganalisa restoran apa saja yang memiliki makanan lezat." Ucap Lein dengan nada bangga.
"Bagus!" Octiorb memakan ayam dengan cepat sampai mulutnya penuh.
"Selesai makan mu terlebih dahulu bodoh." Ucap Lein yang melihat Octiorb mencoba berbicara saat mulut nya penuh.
Lein juga mencoba ikan bakar yang ia pesan. Ikan bakar nya memiliki daging yang menggiurkan dan aroma nya yang harum.
"Sudah lama sejak aku memakan makanan restoran di Kota Elm." Batin Lein.
Kemudian Lein memakan ikan bakar nya dengan lahap juga, ia juga memakan nya dengan nasi yang masih ada di penanak nasi rumah nya.
__ADS_1