
Hari ketujuh dimulai yang mana adalah hari terakhir kompetisi.
*BOOM!
Lein, Enzo, dan Eira terbangun seketika saat mendengar ledakan yang sangat besar. Mereka bertiga kemudian memanjat Pohon Oxtara.
"Disana!" Teriak Enzo.
"Jarak yang jauh, itu berarti ledakan barusan sangat keras sampai kita bahkan bisa mendengar nya." Ucap Lein.
"Apakah kita akan memeriksa kesana?" Tanya Eira.
"Tentu saja, daripada melanjutkan perjalanan yang tidak pasti lebih baik kita kesana." Jawab Lein.
"Baiklah, kalau begitu ayo pergi." Balas Eira.
Tanpa basa-basi, mereka bertiga pergi menuju arah ledakan dengan kecepatan tinggi karena mereka penasaran bagaimana ledakan itu bisa terjadi.
Apakah itu ledakan yang dihasilkan karena pertarungan antar monster? atau malah pertarungan antar peserta kompetisi?
15 menit berlalu, mereka semakin mendekati area terjadinya ledakan.
"Tidak ku sangka malah menemukan mereka disini!" Lein melebarkan matanya.
"Ada apa? Apakah kamu mengenal mereka?" Tanya Eira.
"Empat orang yang sedang bertahan adalah rekan-rekan ku, lima orang yang menyerang adalah mahasiswa dari Universitas Black Turtle." Lein menyeringai.
"Beruntung kita tidak memutuskan untuk melanjutkan perjalanan kita tadi." Ucap Eira.
"Benar." Angguk Lein.
"Hm, aku tahu rekan-rekan Lein karena sudah diberitahu. Namun apakah kamu tahu mahasiswa dari Universitas Black Turtle siapa saja?" Tanya Enzo kepada Lein.
"Sebentar. Analisa." Ucap Lein.
[ analisa berlangsung ]
[ Daniel Simpson
level : 83
kemampuan : ?? ]
[ Elbert Wilkins
level : 82
kemampuan : ?? ]
[ Olson Wilkins
level : 80
kemampuan : ?? ]
[ Effie Coward
level : 81
kemampuan : ?? ]
[ Jessie Carey
level : 81
__ADS_1
kemampuan : ?? ]
"Pria paling tampan yang memegang rapier putih bernama Daniel Simpson, dilihat dari penampilan nya sepertinya dia adalah pemimpin nya."
"Pria bertubuh besar yang memegang gada berduri bernama Elbert Wilkins, pria yang memegang busur dan anak panah bernama Olson Wilkins, mereka bersaudara."
"Wanita berambut pendek yang memegang cambuk bernama Effie Coward dan satunya yang memegang rosario bernama Jessie Carey."
Lein memberitahu nama mahasiswa Universitas Black Turtle kepada Enzo dan Eira.
"Mereka terlihat kuat, tapi mengapa aku merasa tidak yakin?" Enzo mengerutkan keningnya.
"Ada kemungkinan mereka kuat karena bantuan artefak atau sebuah obat yang memberikan mereka kekuatan secara instan." Ucap Eira.
"Jika memang benar, bukankah mereka ini kecurangan?" Tanya Enzo.
"Bukan. Selama mereka tidak menggunakan artefak atau obat yang mengandung kekuatan iblis, mereka tidaklah curang." Jawab Eira.
"Kekuatan yang bukan berasal dari bakat maupun usaha ya... Sudah bisa dipastikan aku tidak bisa akrab dengan mereka." Ucap Enzo.
"Yah mereka juga merupakan musuh Lein, bahkan jika bisa, kita tidak akan mendekati mereka." Balas Eira.
"Hahaha, kamu benar." Enzo tertawa mendengar ucapan Eira.
"Jadi bagaimana? Apakah kita akan langsung turun?" Tanya Enzo.
"Enzo, jangan mengganggu Lein dan rekan-rekan nya. Mari kita lihat saja dari sini, bahkan jika kita tidak ikut, Lein bisa menang" Ucap Eira kepada Enzo.
"Baiklah..." Meskipun enggan, Enzo tetap menuruti ucapan Eira.
"Pergilah Lein, kami akan melihatmu dari sini." Ucap Eira kepada Lein yang masih mengamati.
"Ah ya, terimakasih." Lein mengeluarkan kedua katana nya.
Lein melompat tinggi, memegang kedua katana nya dengan erat dan mengangkat nya tinggi-tinggi.
Gelombang mana yang sangat dahsyat muncul dari tebasan Lein dan turun mengincar orang-orang Universitas Black Turtle.
"Semuanya menghindar!" Daniel berteriak.
*Boom
Gelombang mana Lein menyentuh tanah dan menghasilkan ledakan yang lumayan dan banyak asap muncul karena dampak nya.
"Teknik ini..." Jonas mengenali teknik itu.
"Bos!" Jonas mendongak ke atas dan melihat Lein turun ke bawah.
"Yo!" Lein mengapa Jonas dan yang lain kemudian menyarungkan kembali kedua katana nya.
"Lein!" Enya, Anna, dan John juga menyapa Lein.
"Sebenarnya aku sudah mencari kalian dari lama tapi tidak ketemu, saat aku menuju ledakan tadi aku malah menemukan kalian." Ucap Lein.
"Haha, kebetulan yang tidak terduga ya." Jonas tertawa.
"Benar-" Ucapan Lein terpotong.
"Awas bos!" Jonas mengulurkan tangan kanan nya ke samping kepala Lein untuk menangkis sebuah anak panah.
"Insting mu semakin tajam, Jonas..." Ucap Lein dengan nada biasa tanpa panik sedikitpun.
"Terimakasih bos!" Jonas juga tahu bahwa serangan barusan tidak mungkin akan mengenai Lein.
Jonas mengulurkan tangan kanan nya untuk menangkis anak panah karena ia reflek saja.
__ADS_1
"Kamu ternyata!" Saat asap menghilang, Daniel berteriak kepada Lein.
"Apakah kalian saling mengenal?" Enya bertanya kepada Lein.
"Ah tidak. Tapi dia adalah orang yang takut dengan niat membunuh ku." Lein menyeringai dan mengenal Daniel.
"..." Enya dan Jonas tidak tahu merespon apa.
Karena Enya dan Jonas sudah tahu betapa mengerikannya niat membunuh milik Lein, jadi wajar saja jika Daniel merasa takut.
"Diam! Kamu pasti menggunakan semacam trik kan!?" Daniel berteriak menunjuk Lein.
"Trik? Orang yang mengatakan orang lain menggunakan trik biasanya adalah orang yang lemah." Lein mengangkat kedua bahu nya.
"Sialan...!!" Daniel menggertakkan gigi nya karena sangat marah dengan Lein.
"Daniel, tenanglah." Jessie si pemegang rosario berkata.
"Dengarkan teman mu. Seorang pemimpin tidak seharusnya termakan oleh emosi, oh iya, apakah kamu pemimpin nya??" Lein berkata dengan nada mengejek kepada Daniel.
"Biarkan aku saja!" Elbert tidak tahan dengan ejekan Lein
"Tunggu elbert!" Jessie berteriak kepada elbert namun tidak di hiraukan oleh nya.
Elbert berlari menuju Lein sambil mengangkat gada berduri nya tinggi-tinggi, dan saat mendekati Lein, ia menyerang Lein secara vertikal.
"Matilah!" Teriak Elbert
Lein hanya berdiri diam sambil memasang wajah tersenyum karena ia tahu bahwa Jonas akan maju ke depan Lein dan menggunakan Diamond Rhino untuk menangkis nya.
Gada berduri milik Elbert bergesekan dengan Diamond Rhino milik Jonas sampai-sampai mengeluarkan percikan api.
"Kamu!!" Elbert melebarkan matanya.
"Heh.." Jonas menyeringai.
Saat menangkis gada berduri milik Elbert, Jonas menggerakkan kaki kanan nya dan menendang perut Elbert dengan kuat.
"Ugh!" Elbert terkena tendangan Jonas dan mundur beberapa langkah.
"Jangan gegabah!" Jessie meneriaki Elbert.
"Mau bagaimana lagi! Dia sudah menghina kita! Apakah kita akan diam saja!" Balas Elbert.
"Memang benar, tapi bukan berarti kamu harus menyerang nya secara langsung tanpa rencana!" Jessie marah.
"Lein, sepertinya kamu berhasil membuat mereka bertengkar." Ucap Enya.
"Ini adalah keahlian bos." Balas Jonas.
"Sial! Keahlian apanya!" Teriak Lein membalas Jonas.
"Apakah dia selalu seperti ini?" Tanya Anna kepada John.
"Entahlah, aku juga tidak pernah bertarung bersama Lein." John menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Baiklah semuanya..." Lein merenggangkan tubuh nya.
"Karena kita sudah berkumpul, haruskah kita melawan mereka? Universitas mereka adalah juara di kompetisi sebelumnya." Ucap Lein.
"Tidak perlu kamu tanya Lein!" Enya bersiap-siap.
"Hahaha." Jonas menyeringai.
Anna dan John juga tersenyum dan melakukan kuda-kuda bersiap untuk aba-aba dari Lein.
__ADS_1
"Mereka sudah bersiap! Hentikan pertengkaran kalian dan bersiap juga!" Teriak Daniel.
Kemudian Daniel dan yang lain nya juga melakukan kuda-kuda bersiap untuk menyerang.