
Satu jam kemudian, petugas SID dan petugas polisi datang ke lokasi Lein. Mereka mencari-cari keberadaan Lein dan Hagas dengan mana mereka.
"Aku menemukan ada tanda-tanda kehidupan di depan sana!" Salah satu petugas SID berteriak.
Petugas SID itu segera memimpin jalan menuju ke arah yang ditentukan oleh mana nya lalu petugas yang lain mengikuti nya.
...----------------...
"Akhirnya mereka datang, karena mereka terlalu lama, aku sampai harus memancing mereka dengan mana ku." Lein menghela napas panjang.
Benar, Lein sengaja memancing mereka dengan mana nya karena mereka tidak kunjung datang padahal lokasi yang Lein pilih tidak terlalu jauh dari tembok kota.
"Itu dia." Sekitar 10 menit kemudian, petugas SID dan polisi menemukan Lein.
Lein sedang duduk di atas batu besar di sebelah pohon. Dia tidak perlu berpura-pura terluka atau semacamnya karena itu tidak akan bisa menipu para petugas SID dan polisi.
Dan karena Lein juga memiliki dua rekaman suara sebagai bukti yang konkret, Lein bersikap biasa saja tanpa kepura-puraan.
"Halo, namaku Rids apakah kamu Lein Sanzio?" Seorang petugas SID senior bertanya.
"Halo Petugas Rids, benar, namaku Lein Sanzio." Lein mengangguk dan berjabat tangan dengan Rids.
"Aku tidak melihat Tuan Hagas disekitar sini, apakah kamu tahu dimana dia berada?" Rids bertanya.
"Dibalik pohon itu." Lein menunjuk ke arah pohon besar di belakang nya.
"..." Rids menganggukkan kepala nya kepada petugas lain.
Beberapa petugas SID dan polisi membalas anggukan Rids, mereka berjalan ke arah pohon itu dan menemukan kalau Hagas sedang bersandar disana.
Salah satu petugas polisi mengenakan sarung tangan khusus lalu memegang tangan Hagas dan menekan di bagian nadi nya.
"Bagaimana?" Salah satu rekan nya bertanya.
"..." Dia tidak menjawab nya dan hanya menggeleng-gelengkan kepala nya.
Mereka semua terdiam, lalu salah satu petugas berjalan menuju Rids dan membisikkan kalau Hagas ada di balik pohon itu namun ia telah mati.
"Lein Sanzio." Rids memanggil nama nya.
"Ada apa?" Lein menoleh.
"Apakah kamu yang membunuh Tuan Hagas?" Rids menyipitkan matanya.
__ADS_1
"Ya, itu aku." Lein langsung menjawabnya dengan jujur.
"Mengapa kamu membunuh Tuan Hagas? Jika kamu menjawab dengan jujur, aku, tidak, kami disini bisa membantu mu untuk meringankan hukuman." Rids mengeluarkan aura nya.
"...Petugas Rids, apakah saat menginterogasi, petugas interogasi nya harus mengeluarkan aura untuk menekan orang yang sedang diinterogasi?" Lein mengeluarkan aura yang lebih besar.
"!!" Semua orang di sekitar bisa merasakan bagaimana kengerian dari aura yang Lein keluarkan
"... Maafkan aku." Rids meminta maaf dan menarik kembali aura nya.
"Baguslah kalau kamu paham." Lein juga menarik kembali aura nya.
"Aku memiliki alasan dan bukti yang cukup logis mengapa aku membunuh Hagas." Lein menyerahkan alat perekam suara dan ponsel nya.
Rids mengambil nya dan memutar rekaman yang berada di ponsel Lein dan alat perekam suara satu persatu dan mendengarkan nya dengan seksama.
Semua orang melebarkan mata mereka saat mengetahui apa yang dilakukan oleh Hagas dan alasan mengapa Hagas ingin membunuh Lein.
"Bagaimana? Bukankah dua rekaman itu sudah cukup bagiku?" Lein mengambil kembali ponsel dan alat perekam suara nya.
"Memang, itu sudah cukup. Namun kami tidak bisa memutuskan nya, semua akan diputuskan oleh atasan kami karena masalah ini terkait dengan salah satu petinggi SID." Rids menghela napas panjang.
"Aku kira masalah ini akan mudah karena ada seorang remaja yang terlibat, tetapi aku tidak menyangka kalau remaja ini malah lebih berbahaya dari semua orang yang pernah kutemui." Batin Rids.
"...Bawa tubuh Tuan Hagas! Kita kembali ke kota!" Teriak Rids kepada yang lain.
"Baik!" Semua orang menjawab.
Kantung mayat dikeluarkan, lalu tubuh Hagas dimasukkan kedalam nya. Setelah itu mereka semua membawa tubuh Hagas dan menaruh nya di mobil yang dipakai mereka.
Lein sebenarnya ingin terbang saja ke Gedung SID namun tidak diizinkan oleh Rids karena Lein adalah orang yang terlibat dalam masalah ini.
Akan jadi masalah jika Lein menghilang saat ini karena mereka akan memulai proses penanganan kasus yang menggemparkan satu negara.
Mereka sampai di Gedung SID, tubuh hagas di bawa ke dokter forensik dan Lein dibawa ke ruang interogasi.
Ruang interogasi sangatlah sempit, didalam nya hanya ada satu meja, satu kursi di sisi kanan dan dia kursi di sisi kiri yang dekat dengan pintu.
Meskipun tersembunyi, Lein bisa merasakan kalau ada banyak sekali kamera yang diletakkan di sudut-sudut ruangan.
"Uh, mengapa aku harus menggunakan borgol anti mana ini." Lein melihat kedua tangan nya yah sedang diborgol.
"Yah, meskipun aku bisa menghancurkan borgol ini dengan mudah hanya dengan kekuatan fisik ku saja." Batin Lein.
__ADS_1
Pintu terbuka dan masuk lah dua orang pria, salah satu nya adalah Rids yang Lein kenal dan satu nya lagi, Lein tidak mengenali nya.
"Aku Kylan, dan dia Rids, kamu pasti sudah mengenal nya." Kylan memperkenalkan diri nya.
"..." Lein tidak menjawab dan hanya menganggukkan kepala nya.
"Nama." Kylan memulai interogasi nya dan Rids melihat dokumen yang ia pegang.
"Lein, Lein Sanzio." Lein menjawab dengan nada malas.
"...Umur." Kylan mengerutkan kening nya melihat Lein yang malas.
"Hah...18 tahun." Lein menghela napas.
"Bisakah kamu bersikap lebih serius?" Kylan mulai kesal.
"Bisakah kamu menyelesaikannya nya dengan cepat? Bukankah Rids sudah mengatakan kalau aku memiliki alasan dan bukti mengapa aku membunuh Hagas."
"Kenapa jika orang berstatus tinggi kalian menangani nya dengan baik, sedangkan saat kasus ku kalian menutup mata kalian."
"Dasar petugas busuk." Lein menyeringai dan berkata dengan nada menghina.
"Sialan..." Kylan berdiri dan akan melakukan sesuatu.
"Berhenti." Sebuah suara terdengar.
"Oh? Suara yang familiar, Pak Tua Gran, apakah kamu masih berada di Kota Elm?" Lein mengenali suara itu.
"...Nanti saja bicara nya, sekarang keluarkan bukti yang kamu maksud. Aku tidak ingin kamu membuat masalah lagi." Ucap Gran.
"Baiklah-baiklah..." Lein menggunakan kekuatan nya untuk menghancurkan borgol.
"!!" Semua orang kecuali Gran terkejut dengan itu.
"Aku penasaran mengapa dia bisa bersikap seperti biasa, ternyata karena dia bisa dengan mudah melepaskan diri ya..." Batin Gran.
Lein kemudian mengeluarkan ponsel dan alat perekam suara lalu ia menaruh nya di atas meja.
"Silakan." Lein tersenyum.
Karena Rids takut kalau Kylan akan membuat masalah, kali ini ia yang bertindak. Rids menyalakan ponsel Lein terlebih dahulu lalu alat perekam suara nya.
Semua orang lalu mendengarkan rekaman suara dari ponsel milik Lein dan alat perekam suara, mereka bahkan mengerutkan kening mereka saat tahu kalau Hagas menyewa pembunuh.
__ADS_1