
Mereka berdua bekerja keras untuk menerjemahkan tulisan kuno nya meskipun pada akhirnya mereka hanya bisa menerjemahkan dua resep saja.
Kebanyakan kendala yang mereka hadapi adalah nama dari tumbuhan dan bahan lain nya yang sulit karena merupakan spesies kuno.
Mereka mencoba menebak dan membandingkan nya dengan tumbuhan dan bahan lain namun tetap saja tidak ada yang cocok.
Meskipun begitu, mereka tidak kecewa karena mereka masih memiliki banyak waktu dan mereka juga bersemangat untuk menerjemahkan tulisan kuno.
Karena tidak banyak orang yang memiliki buku yang berisi tulisan kuno dan sangat sedikit juga orang yang bisa menerjemahkan tulisan kuno.
Lein bisa menerjemahkan sedikit tulisan kuno karena Analysis Eye. Octiorb bisa menerjemahkan sedikit tulisan kuno karena pengetahuan nya.
...----------------...
Keesokan harinya.
Di Kantor Presiden Brynn.
"Ada apa Pres?" Lein duduk di sofa kantor.
"Ada misi untuk mu." Ucap Presiden Brynn.
"Misi? Akan aku terima." Lein bersemangat saat mendengar kata 'misi'.
"...Padahal belum aku sebutkan misi apa itu." Ucap Presiden Brynn.
"Haha, karena itu diberikan untukku maka itu adalah misi pertarungan atau membunuh monster bukan?" Lein sudah bisa menebak nya.
"Sayang sekali, kamu salah." Presiden Brynn senang bahwa Lein salah menebak.
"Eh, salah!?" Lein mengedipkan mata nya.
"Hahaha." Presiden Brynn tertawa melihat reaksi Lein.
"Yah kamu tidak sepenuhnya salah. Memang akan ada pertarungan saat kamu menjalankan misi nya namun bukan itu tujuan misi nya." Ucap Presiden Brynn.
"Apakah itu misi pengawalan? Atau pencarian?" Tanya Lein.
"Yang kedua, pencarian." Jawab Presiden Brynn.
"Pencarian kah. Jadi, apa misi yang akan aku terima?" Ucap Lein.
"Mencari tuan muda, maksudnya anak dari pemilik Kamar Dagang Myrant." Jawab Presiden mengeluarkan sebuah gulungan perkamen.
"Perkamen? Mengapa mereka menggunakan ini." Ucap Lein.
"Entahlah. Mungkin hanya karena ingin." Presiden Brynn juga tidak tahu.
"Bacalah perkamen ini." Presiden Brynn menyerahkan gulungan perkamen itu.
"Ya." Lein menerima gulungan perkamen itu dan membaca nya.
"Hm, jadi tuan muda yang bernama Daerol Myrant ini hilang tanpa kabar saat menjalankan misi yang diberikan oleh pemilik Kamar Dagang Myrant yang merupakan ayah nya." Ucap Lein.
"Ya, seperti itulah." Angguk Presiden Brynn.
"Apakah ada informasi mengenai Daerol ini?" Tanya Lein.
"Ada. Kertas di atas meja depan mu itu." Presiden Brynn menunjuk ke arah kertas putih diatas meja.
"Oh ini." Lein mengambil kertas itu dan membaca nya.
"Daerol Myrant, 23 tahun, level 91, kemampuan tidak diketahui, sifat tenang dan berpikir dingin..."
__ADS_1
"Misi yang ia terima yaitu untuk menyelamatkan sebuah desa dari perkumpulan bandit yang meresahkan di timur benua."
"Daerol tidak ada kabar sejak tiga hari yang lalu dan jejak terakhir nya berada di hutan di dekat yang ia selamatkan."
"Tiga hari yang lalu misinya sudah selesai dan ia akan kembali ke Kota Laville dimana itu merupakan tempat tinggal pemilik Kamar Dagang."
"Berarti ada kemungkinan bahwa ia diculik atau hilang karena ulah bandit. Namun karena aku membenci Anarchy Order maka bisa juga mereka terlibat."
Lein membaca semua informasi mengenai Daerol Myrant di kertas itu.
"Benar, meskipun tidak ada bukti, tetapi Anarchy Order bisa jadi terlibat." Presiden Brynn mengangguk.
"Tapi mengapa pemilik Kamar Dagang Myrant meminta misi ke Universitas Dragon Heart?" Tanya Lein.
"Itu karena ia tertarik dengan mu saat melihat kompetisi sebelumnya. Tapi, mereka juga meminta bantuan SID untuk mencari Daerol." Jawab Presiden Brynn.
"SID?" Lein menyipitkan matanya.
"Ya. Aku tahu kamu membenci SID. Apakah kamu akan menerima misi ini? Tidak apa-apa jika kamu menolak." Ucap Presiden Brynn.
"Aku menerima misi ini." Lein menyimpan gulungan perkamen itu ke dalam inventory nya
"Alasan nya?" Tanya Presiden Brynn.
"Alasan? Kekeke, aku ingin memamerkan kekuatan ku ini dihadapan orang-orang dari SID."
"Aku akan membiarkan mereka melihat, anak kecil yang dulu tidak berdaya karena menjadi korban telah memiliki kekuatan yang luar biasa."
"Aku ingin mereka merasakan semacam penyesalan karena telah berbuat semaunya terhadap korban gara-gara kesalahan salah satu anak dari petinggi mereka."
"Aku ingin mereka mengetahui bahwa perbuatan mereka salah dan sudah terlambat untuk mengubah semuanya." Lein tertawa keras seperti seorang penjahat.
"....Apapun alasan mu. Aku tidak akan menghalangi mu." Ucap Presiden Brynn.
"Terimakasih Pres." Lein tersenyum.
"Bagus. Apakah ada sesuatu yang kamu perlukan?" Tanya Presiden Brynn.
"Tidak a-" Ucapan Lein terpotong.
"Tunggu dulu..!!" Liza mendobrak pintu kantor.
"Liza!" Teriak Presiden Brynn.
"Hehe, maaf Brynn." Liza menggaruk-garuk kepala nya.
"Mengapa kamu kesini?" Tanya Presiden Brynn kepada Liza.
"Aku ingin ikut dengan Lein..!" Jawab Liza bersemangat.
"Mengapa?" Presiden Brynn menanyakan alasan Liza.
"Bosan!" Liza menjawab dengan ringan.
"...Hah..." Presiden Brynn sudah pasrah dengan sifat Liza.
"Lein, bagaimana dengan mu?" Presiden Brynn meminta pendapat Lein.
"Tidak apa-apa, aku tidak keberatan kalau Liza ikut." Lein mengangguk menyetujui nya.
"Yah, kalau Lein tidak keberatan maka aku juga tidak bisa berbuat apapun. Baiklah, aku izinkan kamu untuk ikut dengan Lein." Presiden Brynn mengizinkan Liza ikut.
"Hore..!" Liza melompat kegirangan.
__ADS_1
...----------------...
Di taman.
"Besok akan menjadi petualangan kedua kita." Ucap Lein.
"Kedua? Ah benar, yang pertama adalah saat kita bertemu." Jawab Liza tersenyum mengingat pertemuan nya dengan Lein.
"Ngomong-ngomong Liza, aku selama ini penasaran mengenai sesuatu..." Lein ingin mengetahui sesuatu.
"Penasaran mengenai apa itu?" Tanya Liza.
"Level Presiden Brynn, karena kamu dekat dengan nya maka seharusnya kamu tahu." Jawab Lein.
Lein memang sangat penasaran dengan level Presiden Brynn yang bisa menjadi Presiden Universitas Dragon Heart.
"Hm, level Brynn kah... Aku kurang tahu." Liza menggeleng-gelengkan kepala nya.
"Tetapi yang pasti dia level nya lebih tinggi dari level ku." Lanjut Liza.
"Lebih tinggi!?" Lein kurang percaya.
"Iya!" Liza mengangguk.
"Brynn itu sangat jenius dan berbakat oleh karena itu ia bisa memiliki level yang tinggi diumur yang bisa dibilang muda." Ucap Liza.
"Oh, berapa umur Presiden Brynn? Ah, maaf seharusnya aku tidak menanyakan hal itu." Lein membuat kesalahan karena tidak sopan menanyakan usia wanita.
"Hahaha, tidak apa-apa, akan aku beritahu." Liza tertawa.
"Umur Brynn itu masih 33 tahun." Jawab Liza.
"33 Tahun!?" Lein melebarkan matanya karena terkejut.
33 tahun dengan level yang lebih tinggi dari Liza, seorang elf berlevel 154. Tidak bisa dibayangkan betapa menakutkan kejeniusan dan bakat nya.
"Benar. Sudah kukatakan bukan? Dia jenius, tidak seperti aku." Liza berkata dengan nada sedih.
"..." Lein tahu bagaimana kehidupan Liza.
Lein kemudian memegang tangan kiri Liza dan menggenggam nya.
"Lein?" Liza menoleh.
"Jangan seperti itu, kamu sudah kuat. Kamu bisa melihat ku, aku ini memiliki kemampuan F rank namun bisa menjadi kuat sampai sekarang."
"Meskipun aku termasuk beruntung karena kemampuan ku ada kaitan nya dengan dewa." Ucap Lein.
"Benar juga ya.." Liza kembali mendapatkan keceriaan nya.
"Ngomong-ngomong, aku belum memberitahu mu kemampuan ku ya?" Tanya Liza.
"Eh... Kalau diingat-ingat, memang, kamu belum memberitahu ku kemampuan ku." Angguk Lein.
"Baiklah, kamu pasti merasa aneh karena baru saja aku mengatakan bahwa aku tidak jenius namun dulu saat bercerita aku mengatakan aku ini jenius." Ucap Liza.
"Iya, aku baru saja ingin bertanya mengenai hal itu." Balas Lein.
"Kalau begitu dengarkan aku, aku akan memberitahu kemampuan ku dan alasan mengapa aku disebut jenius dulu padahal aku ini tidak." Ucap Liza.
"Tentu, akan aku dengarkan bahkan sampai malam." Ucap Lein bercanda.
"Fufufu, aku merasa tersanjung." Liza tertawa kecil.
__ADS_1