Analysis Eye

Analysis Eye
Pembicaraan


__ADS_3

"Duduklah Lein, ada yang aku ingin bicarakan dengan mu." Presiden Brynn mempersilakan Lein untuk duduk.


"Ah, baiklah Pres." Lein mengangguk dan duduk di sebelah Liza


Presiden Brynn lalu bangkit dari kursi Presiden nya dan ia duduk di sofa di depan Lein dan Liza.


"Apa yang ingin Presiden bicarakan dengan ku?" Len bertanya dengan hati-hati karena takut menyinggung presiden.


"Sebelum kita bicara..." Presiden Brynn melepas jubah nya dan memperlihatkan wajah yang sangat menawan dan aura wanita dewasa yang mempesona.


"???" Hanya ada tanda tanya di kepala Lein


Dan untuk kedua kalinya Lein terpesona hari ini. Pertama karena senyuman Liza, dan sekarang karena wajah dan aura presiden Brynn.


"Hey hey, berkedip lah." Liza menyodok pinggang Lein dan berbicara dengan nada menggoda


"Ah, maafkan aku presiden." Lein menundukkan kepala nya


"Yah tidak apa-apa. Aku menebak bahwa kamu menganggap presiden universitas adalah seorang pria tua kan?" Presiden Brynn bertanya dengan nada bertanya


"Eh..." Sejujurnya Lein memang berpikir seperti itu.


Karena tidak ada yang pernah melihat sosok presiden Brynn yang sebenarnya kecuali para petinggi terdahulu yang sekarang sudah tidak ada.


Presiden Brynn juga selalu menggunakan jubah di universitas maupun di luar universitas. Jubah nya juga unik karena tidak bisa melihat wajahnya.


Dan presiden Brynn bersuara layaknya seorang pria paruh baya. Karena hal-hal tersebut, bukan hanya Lein, namun semua orang menganggap bahwa presiden Brynn adalah seorang pria paruh baya.


...----------------...


Setelah situasi tenang dan semua kesalahpahaman terselesaikan, mereka akhirnya memulai pembicaraan mereka.


"Baiklah, aku tahu kamu punya banyak pertanyaan, silakan bertanya." Presiden Brynn menuangkan minuman dengan kontrol mana.


"Pertama-tama, bagaimana anda dan Liza berteman?" Lein menanyakan hal yang paling ia ingin tahu.


"Hm yah.. ceritanya panjang. Namun aku dan Liza bertemu saat kami ada di kerajaan dwarf." Presiden Brynn mempersingkat jawaban nya


"Baiklah, lalu mengapa anda menyembunyikan identitas anda?" Lein menanyakan pertanyaan kedua


"Karena aku tidak ingin diremehkan. Dan bukannya sosok misterius lebih mengintimidasi musuh?" Presiden Brynn menjawab dengan jawaban yang meyakinkan.


"... Apa yang anda katakan ada benarnya." Lein setuju dengan jawaban presiden Brynn

__ADS_1


"Baiklah, kalau begitu bisakah kita mulai pembicaraan nya?" Presiden menepuk tangan nya dan berkata dengan tersenyum.


*gulp (suara menelan ludah)


"Tentu saja, Pres." Lein menelan ludahnya


"Ceritakan kejadian saat penghitungan poin dengan jujur, Lein." Mata presiden Brynn menjadi tenang dan memberi tekanan.


Lein terdiam dengan perkataan presiden Brynn. Lein bersandar dan menutup matanya sebentar.


Presiden Brynn juga tidak menggangu Lein karena ia tahu ini pasti berat untuk Lein yang mengalami kejadian seperti itu.


*huft (suara hembusan napas)


Lein membuka matanya dan duduk dengan tegap. Ia menatap mata presiden Brynn dengan tenang.


"Baiklah, aku akan menceritakan nya. Jadi seperti ini..." Lein lalu menceritakan kejadian yang menimpa nya dengan detail tanpa menyembunyikan sesuatu.


Setela Lein selesai menceritakan nya, suasana di ruang presiden menjadi suram. Itu dikarenakan Presiden Brynn dan Liza mengeluarkan aura membunuh yang kuat.


Lein mengerutkan keningnya menahan aura membunuh mereka berdua. Meskipun tidak diarahkan kepada Lein, namun tetap saja aura membunuh mereka sangat mengerikan.


"Keluarga Barqi..." Presiden Brynn mengucapkan kata itu lalu ia menarik kembali aura membunuh nya


Liza juga menarik kembali aura membunuh nya dan akhirnya ruangan presiden kembali menjadi tenang.


"Ya, itu benar. Keluarga Barqi menjalankan bisnis pengawal dan sudah sangat terkenal akan kehebatan para pengawal itu." Presiden Brynn menjelaskan tentang keluarga Barqi


"Sudah berapa lama keluarga Barqi ada?" Liza bertanya lagi.


"Sekitar dua abad." Presiden Brynn memperkirakan sekitar dua abad lamanya sejak keluarga Barqi ada.


"Cukup sebentar untuk sekelas keluarga di kota Dragon Tide yang notabene nya adalah ibukota negara Easthold." Liza berpikir


"Bagaimana langkah mu untuk selanjutnya Lein?" Liza bertanya kepada Lein yang dari tadi diam.


"Apa lagi? Tentu saja melawan." Lein menjawab nya dengan tegas.


"Apa kamu yakin?" kali ini presiden Brynn yang bertanya


"Ya, aku sudah memutuskan." Lein membalas dengan senyuman.


"Baiklah jika itu keputusan mu. Universitas juga akan menyelidiki lebih lanjut dan akan melakukan tindakan yang sesuai." Presiden Brynn bangkit, ia berjalan ke arah jendela

__ADS_1


"Jangan lupakan aku." Liza mengangkat tangan dengan semangat.


Sepertinya Liza sudah kembali ke sifat awalnya yang periang.


"Terimakasih" Lein berdiri dan membungkuk sedikit.


...----------------...


Universitas dragon heart, di taman


"Aku masih tidak menyangka teman yang kamu bicarakan itu adalah presiden universitas dragon heart." Lein melihat kearah langit


"Haha, apakah kamu terkejut?" Liza bercanda


"Tentu saja, siapa yang tidak akan terkejut setelah mengetahui hal seperti itu." Lein menjawab


"Mengapa kita tidak berjalan-jalan?" Liza menawarkan Lein untuk berjalan-jalan


"Ayo, mumpung kita sedang bersama." Lein menerima tawaran Liza


Mereka keluar dari universitas.


Karena masih siang, mereka mengunjungi mall terbesar di kota Dragon Tide. Mereka melihat-lihat, membeli beberapa pakaian dan barang.


Mereka lalu mengunjungi zona permainan di dalam mall. Liza sampai kesal karena tidak bisa mendapatkan boneka di mesin capit karena tidak boleh menggunakan mana ataupun kemampuan.


Lein tertawa karena Liza tidak mendapatkan apa-apa, Liza yang kesal lalu menantang Lein untuk mendapatkan boneka itu. Lein menerima tantangannya dan berhasil dalam sekali coba.


Saat jam makan siang, mereka makan di restoran didekat mall. Mereka makan dengan lahap dan seperti biasa Liza memesan porsi yang sangat banyak sampai orang-orang melihat kearah meja Lein dan Liza.


Lalu saat sore, mereka pergi ke pasar malam yang sedang diadakan di suatu tempat di kota. Mereka memainkan hampir semua wahana yang ada.


Saat memasuki rumah hantu, Liza juga berteriak histeris karena ketakutan. Liza hampir saja menggunakan api Leviarves untuk menyerang staf saat ia ketakutan.


Lalu saat malam hari, mereka membeli beberapa cemilan di kios-kios pasar malam dan mereka menaiki wahana bianglala.


Mereka menikmati cemilan mereka sambil melihat pemandangan kota saat malam hari. Lampu-lampu kota bersinar, bintang-bintang di langit juga sangat indah, dan ada kembang api yang menghiasi langit malam


Mereka mengagumi semua pemandangan yang mereka lihat. Mereka juga menikmati momen bermain dan bersantai mereka.


Mereka menganggap bahwa ini adalah momen yang sungguh bahagia. Bisa bersantai dan tertawa lepas, bermain sepuasnya, dan menikmati keindahan malam.


Setelah itu mereka berdua kembali ke hotel yang Lein tinggali. Liza memesan kamar yang letaknya persis di sebelah kamar Lein.

__ADS_1


Setelah mengucapkan selamat malam, mereka kembali ke kamar masing-masing dan tertidur dengan pulas dan nyenyak.


Bahkan Liza tersenyum dalam tidur nya.


__ADS_2