
Keesokan pagi
Arya bangun kesiangan ,ia melihat jam dan langsung buru-buru mandi
"Selamat pagi Bu"
"Wah anak ibu sudah bangun ya, lihatlah istri mu sudah masak yang banyak sekali "
"Nantilah Aku mau ganti pakaian dulu Bu"
Ia mengeringkan rambutnya dengan handuk lalu nampak bercak merah di atas kasur
Arya memeriksa tubuh nya namun ia sama sekali tak menemukan ada luka di tubuh nya
"Tak ada yang luka ,lalu darah apa itu ?"
Ia mencoba mengingat kejadian malam tadi ,
tak sampai sepuluh menit ia langsung berlari keluar mengambil mobilnya dan pergi meninggalkan rumah
"Arya..kau mau kemana ?"
"Nanti saja aku jelaskan ibu "
Arya pergi ketempat kerja Alena lalu ia melihat di depan matanya Alena sedang duduk berduaan dengan Tuan Romeo yang tua Bangka itu , Arya menarik tangan Alena
"Kemarilah ,aku ingin menanyakan sesuatu padamu , cepat kau katakan padaku apa yang terjadi semalam "
Alena menarik tangan nya "Lepaskan kau tak bisa seenaknya menarik tangan ku ,lepaskan ..."
"Alena jawab aku ,aku ingin tau apa yang terjadi semalam !"
Alena menarik nafas nya dalam-dalam ,nampak ia seperti sedang menahan bulir-bulir air mata jatuh dari matanya
"Tidak ada yang terjadi , memang nya apa yan terjadi ?"
Alena menantang balik Arya , rasa sakit semalam masih terasa tapi yang lebih terasa adalah rasa sakit hati akibat Arya yang menggaulinya namun menyebutkan nama Siska
Mendengar ucapan dari Alena ,Arya langsung naik pitam ,di tambah lagi Alena sangat akrab sekali dengan Tuan Romeo hingga mengabaikan nya akhir-akhir ini
"Ya sudahlah kalau begitu ,kau temui saja sugar Daddy mu itu !"
Arya langsung pergi meninggalkan Alena dengan rasa kecewa karena merasa terabaikan oleh perempuan itu
__ADS_1
Alena menatap mobil Arya yang pergi
"Tak ada yang perlu di jelaskan namun semua ini pasti ada ujungnya "
Arya langsung tancap gas dan langsung bergegas menuju tempat meeting bersama klien mewakili perusahaan Aditya ,namun pikiran nya masih menerka-nerka apa yang terjadi semalam , seingatnya ia bermimpi Tentang Siska , namun bercak darah di atas alas kasur milik nya tersebut memberi tanda yang tak biasa itu bukan bercak darah biasa
"Menurut ku suamimu itu sama sekali tak memperdulikan mu ,Nona Alena"
Alena tersenyum "He , bagaimana kau tau jika ia tak memperdulikanku Tuan "
Alena menjawab nya dengan perasaan gugup sekali namun ia berusaha tetap menjaga nama baik Arya di depan lelaki tua itu
"Aku sudah banyak makan asam garam kehidupan ,namun semenjak istri ku meninggal dunia aku belum pernah bertemu dengan perempuan yang sangat spesial seperti mu itu
aku ingin menawarkan padamu sebuah kebahagiaan " Tuan Romeo menarik nafas nya dalam-dalam
Alena berusaha tenang "Hidup yang paling bahagia itu adalah jika kita di cintai seseorang namun akan lebih bahagia lagi jika saling mencintai , yang menyakitkan itu adalah saat kita mencintai orang yang sama sekali tidak mencintai kita "
Ucapan Tuan Romeo membuat Alena terdiam
"Sejak awal aku sudah tertarik padamu, aku memberimu waktu satu Minggu , Karena Minggu depan aku akan berangkat ke Belanda dan tak tau kapan akan kembali, aku ingin kau tinggalkan suamimu dan hidup lah bersama ku , terhitung mulai hari ini pikirkan semua nya baik-baik , kesempatan tak datang dua kali ,pergi bersama orang yang akan membahagiakan mu atau tinggal dengan rasa sakit seumur hidup "
Tuan Romeo berdiri "Terhitung mulai hari ini ,dan tepat satu Minggu setelah hari ini aku akan menunggu mu di sini di tempat yang jika kau memenuhi tawaran ku"
Siang telah berganti malam ,Alena pun berjalan pulang kerumah dengan wajah yang lesu, Seperti biasa ibu mertua nya selalu menyambut nya dengan ramah dan menenangkan hati, namun saat bersamaan Arya pulang ia sama sekali tak menemukan rasa nyaman dan penghargaan sebagai manusia di mata Arya
"Kau sudah pulang "Tanya Arya pada Alena
"Ya Kak, baru saja"
"Apa kau di antar oleh tua Bangka itu ?"
Arya meneguk segelas air
"Tidak aku pulang sendiri dengan naik taksi "
Menyiapkan makanan
"Oh aku pikir kau bersama nya, aku lupa jika kau itu sangat suka uang , tentu lah kau akan suka mendekati laki-laki yang memiliki banyak uang "
Alena mencoba tak menjawab apa yang di tuduhkan Arya padanya , pantang sekali bagi seorang perempuan yang bergelar isteri untuk menyanggah ucapan suaminya
"Ibu malam ini aku akan tidur dengan ibu "
__ADS_1
Arya kaget kecurigaan nya semakin menjadi-jadi,namun Ibunya langsung menjawab nya
"Baiklah sayang ibu sangat senang kau menemani ibu malam ini namun mintalah izin dengan suamimu apa dia mengizinkan nya atau tidak"
Tanpa bertanya Arya langsung menjawab
", Tentu saja , dengan sangat ikhlas dan senang hati "Langsung masuk kedalam kamar nya dan mengunci pintu kamarnya
Cletak..
Wajah Ibu Arya menjadi tidak enak
"Nak apa kalian bertengkar ?"
"Tidak ibu "
Tersenyum sambil memegang tangan ibu mertua nya , Alena tau jika sedang bersama ibu mertua nya perasaan nya menjadi tenang dan nyaman , hanya ibu mertua nya itu lah yang bisa membuat hatinya menjadi sangat tenang sekali
" Aku sungguh tenang jika sedang memeluk ibu"
"Ibu juga nak ibu sangat bersyukur karena kau telah di kirimkan Tuhan menjadi bagian dari keluarga ini ,ibu sangat bahagia sekali "
"Ibu boleh kah aku bertanya sesuatu padamu ibu "
"Apapun itu Nak , ibu akan menjawab nya "
mengusap kepala Alena
"Bu , jika aku bukan di takdirkan tidak menjadi menantu ibu, apa kah ibu akan tetap menyayangi ku seperti ini ?"
"Kenapa kau bertanya seperti itu Nak ?"
Ibunya menjadi heran
"He tidak ada apa-apa Bu, aku hanya ingin tau saja bagaimana perasaan ibu jika aku ini bukan menantu ibu, apa ibu akan tetap menyayangi ku seperti ini ,atau tidak "
"Sejak awal ibu berjumpa dengan mu,ibu sudah jatuh hati padamu Nak, Tentu saja , menjadi menantu ku atau tidak, kau tetap lah putri kesayangan ku "
Ibu mertua nya memeluk tubuh Alena
Malam itu mereka berdua tidur dengan berpelukan kehangatan sosok ibu tak pernah hilang bagi Alena, Karena mendapatkan ibu mertua Seperti ibu kandung adalah anugerah terindah yang di hadiahkan Tuhan untuk nya
"Terimakasih ibu, aku sangat menyayangimu "
__ADS_1
Malam itu bergulir dengan rasa tenang antara mereka berdua