
Alena berjalan menjauh dari Arya perasaannya mulai tak karuan , berbeda sekali dengan sikap nya yang seperti biasa yang selalu melompat-lompat saat bertemu dengan nya
Ternyata mudah sekali untuk mematikan kartu As nya ,aku pikir dia ini tak akan sulit di hilangkan , lihatlah semua nya akan aku balas dan kau Dimas ,kau mungkin bermaksud baik untuk adikmu tapi kau sungguh terlalu sampai mengorbankan perasaan ku , terlalu sekali
walaupun kau tau bagaimana brengse* aku huhuhu
Arya teringat kejadian beberapa tahun silam
saat itu ada seorang gadis yang sangat polos jatuh cinta padanya ia berjanji untuk menikahi nya ,teriming-iming janji dan bujuk rayu maka ia pun berhasil merenggut kesucian gadis itu ia mengejar Arya sampai kekampus menemui dan menemui Dimas dan Aditya , agar Arya mau bertanggung jawab atas diri nya yang telah ternoda
"Alah gadis kampung, baru seperti itu saja menangis ,dia tidak tau jika hal seperti itu sudah biasa terjadi "
Arya tertawa dengan botol wiski di tangannya
Dimas sempat memarahi Arya namun mau bagaimana lagi Arya Memang Seperti itu berganti-ganti wanita seperti memakai baju
Ia terus menerus mengejar Arya , hingga akhirnya gadis itu hilang lenyap bak di telan bumi
Semenjak gadis itu menghilang bertubi-tubi cobaan menghampiri nya , benar kata Arya itu bukan salah dia salah wanita itu sendiri kenapa terlalu mudah menyerahkan mahkota nya pada lelaki yang belum menjadi suami nya ,karena semua nya tak akan terjadi jika tak ada kemauan dari kedua belah pihak
"Dia yang menyerahkan nya secara gratis , mengejar-ngejar ku setiap hari , awalnya aku tak mau tapi ia membuka semua pakaiannya di hadapan ku , kau tau lah kucing kalau di beri ikan asin ya di makan lah , apa lagi ini gratis ,
tentu saja karena suka sama suka tak ada unsur paksaan "
Arya tertawa ,bahkan sampai ia tak perduli dengan perempuan itu ia sama sekali tak mengetahui siapa namanya , bukan hanya dia saja tapi banyak perempuan-perempuan lain di luar sana yang menangis ingin di nikahi Arya.tapi saat ia pertama kali bertemu Siska ia merasakan sesuatu yang berbeda ,Siska tak sama dengan semua perempuan yang pernah ia temui
Seolah sikap Alena padanya Seperti membuka memori lama akan gadis lugu yang mengejar-ngejar nya dahulu
"Apa kau bisa berjalan "
"Bisa "
Ucap Alena meski sebenarnya bekas operasi itu masih sangat sakit sekali,tapi untungnya dokter telah memberikan obat paling ampuh untuk lukanya ,yang di dalam langsung bisa mengering
Alena menundukkan wajahnya ,dan mereka sampai di tempat ibu Arya ,
setelah menikah maka seorang perempuan harus mengikuti kemana suami nya pergi ,apa lagi masalah orang tua ,mertua suami adalah prioritas utama kita juga mulai saat ini
"Ibu ..."
Arya mengembangkan kedua tangannya
Alena langsung muncul dari balik punggungnya
__ADS_1
"Nak Alena"
Ibunya tampak sungguh bahagia sekali melihat Alena yang berdiri
"Ibu ..aku kangen pada ibu "
Namun sikap Alena pada ibu Arya sama sekali tak berubah ia masih sama seperti kemarin-kemarin , bersikap ramah dan lembut sekali
Heh kau sedang berpura-pura baik terhadap ibuku bukan , ya..ya.. akting mu benar-benar totalitas sekali mengorbankan ginjal dan semuanya , tapi kau jangan sampai lupa
jika aku pasti akan membalas mu ,kau yang memilih jalan ini ,dan kau juga harus bertanggungjawab atas semua permainan mu
"Ibu aku ingin mengatakan pada ibu jika aku dan Alena telah menikah tadi malam"
Arya tersenyum penuh dengan kepalsuan padahal hatinya seperti monster yang siap mencakar-cakar wajah Alena
"Menikah ? kau ini sedang bercanda apa ? kau pikir pernikahan itu bisa di permainkan apa ?"
Ibunya marah pada Arya , matanya langsung melotot
"Ibu tenang kan diri ibu ,jangan emosi ibu habis operasi "
mengelus dada ibu mertua nya itu
Alena semakin pucat saja ,ia tak biasa membohongi orang tua jika bukan karena terpaksa , wajahnya pucat ,ia tau ia salah dan keterlaluan namun ini tak seburuk Seperti yang Arya pikirkan meski Alena sendiri merasa ketakutan dengan sikap Arya yang tak seperti biasa itu
"Nak apa benar ?"
Alena mengangguk "Benar ibu "
Ibunya terdiam , dengan wajah melotot lalu ia langsung duduk dari tempat tidur nya
"Alhamdulillah syukurlah jika itu benar maka ini adalah hal yang sangat membahagiakan nak, ibu akhir nya bisa memiliki menantu "
Sudah jelas ibunya langsung bahagia sekali karena ia memang menyukai Alena ntah apa yang membuat ibunya menyukai gadis itu
Oh ibu kau bahagia ya? aku tidak !
lihat saja aku akan membuat nya menyesali nya !
" Mana orang tua mu nak ,ibu ingin berkenalan dengan besan ibu "
Namun Arya langsung menjawab nya
__ADS_1
"Sayang sekali ibu. ayah mertuaku meninggal malam tadi dan sekarang ibu mertua ku sedang di rawat di dalam ruangan sebelah "
"Benarkah itu nak lalu bagaimana siapa yang mengurus nya nak "
"Ibu jangan khawatir Arya sudah menyuruh Suster untuk menemani nya "
"Ya ampun putra ku kau benar-benar baik sekali "
Sayang nya ibunya tak bertanya kenapa ia bisa menikah malam tadi
"Ibu apa ibu tak merasa heran dengan pernikahan ku malam tadi ,apa ibu tak ingin tau bagaimana proses nya bisa terjadi pernikahan itu ?"
"Ibu rasa itu tidak penting yang ibu tau kau sekarang memiliki istri dan ibu akan segera menjadi seorang nenek sama seperti ibu nya Aditya "
Wajah ibunya berbinar-binar
"Ibu ayo kita pulang ,karena ibu sudah boleh pulang "
"Ayo nak "
mendadak ibunya langsung bisa berdiri
"ibu jangan bergerak dulu , infus ibu belum di buka ,biar aku panggil kan dokter dulu "
"Nak kau memikirkan ibu tapi infus di tangan mu sendiri saja tak kau pikirkan kah ?"
Ia memandangi wajah menantunya dengan ketulusan sekali
"Oh iya aku lupa ,tak perlu khawatir Bu aku masih muda dan tenaga ku masih kuat biar aku saja "
Biar aku saja , ya..ya.. kau hebat sekali mengambil hati ibuku , tapi sayangnya kau memakai topeng ..
buka dulu topeng mu ..!
"Ehhem tak usah bergerak cukup duduk dengan manis ,biar aku saja yang memanggil Dokter untuk melepaskan nya ibu , sekalian juga untuk melepaskan nyawa mu !"
"Nyawa mu ?"
Ucap ibunya kaget
"Nyawa mu ? apa lah ibu ini , pendengaran nya sudah kena , sembarangan saja "
Alena tak berani menatap Arya ia sekarang hanya bisa berdoa saja
__ADS_1