
"Sekarang sudah jam empat, berarti ada waktu tiga jam lagi, ayo cepat kita mandi dulu"
Ucap Ana dengan semangat sekali, karena ini adalah makan malam pertama mereka semua dengan pasangannya masing-masing.
"Ya kita akan melakukan makan malam perdana dengan pasangan yang lengkap, tentunya pasangan halal yang saling mencintai uhuk... uhuk"
ucap Ana menggoda Siska
"Hahah, ya saling mencintai satu sama lain, baiklah berendam air panas adalah hal yang tepat saat ini untuk menghilangkan rasa penat" mematahkan lehernya dengan gerakan kekiri dan kekanan
"Ehemm... aku paham jika kau memang sedang butuh tenaga ekstra dalam beberapa hari ini, jadi sebaiknya banyak-banyak minum vitamin untuk menjaga stamina agar tetap fit"
Siska tertawa "Kalian bikin malu saja, menangnya aku ini terlihat begitu tua apa ya?"
"Nggak kelihatan tuanya Sis, tapi itu lebih baik, usia tua tapi tenaga anak muda"
Tiga orang sahabat karib itu dari tadi saling menggoda satu sama lainnya
"Ya sudahlah, sebaiknya jangan buang-buang waktu lagi ayo, cepat kita mandi dan berpakaian yang paling cantik untuk malam spesial merayakan kebahagiaan Siska dan Arya"
Dalam hitungan ketiga semuanya kembali kedalam kamar mereka masing-masing.
Teng ...
sudah jam tujuh, mereka semua pun langsung turun kebawah untuk mulai makan malam,
Saat turun kebawah mereka semua saling berpandangan satu sama lainnya,tapi Arya sudah tak marah lagi dengan Aditya dan Dimas. setelah amarahnya diredam oleh Siska dengan jurus goyangan maut miliknya yang Sangat fantastis begitu.
Setelah sampai dibawah mereka semua tampak ,duduk di meja yang sama. dan saling berpandangan satu sama lainnya, nampak wajah Arya benar-benar Ceria, dengan rambutnya yang basah membahana, ia juga melemparkan senyuman kepada Aditya dan Dimas
"Halo semuanya, bagaimana tidur siangnya?apa kalian bisa tidur dengan nyenyak?"
Arya tertawa geli melihat kedua temannya yang sudah cemberut begitu memandangnya,
"Kau lihat Dit, wajahnya Arya benar-benar sangat ceria sekali matanya terlihat berbinar-binar dengan senyuman yang terkembang lebar"
bisik Dimas ditelinganya Arya
"Iya aku juga melihat jika senyumannya benar-benar terlihat sangat manis sekali"
Arya tau jika keduanya sedang membicarakan dirinya,tapi ia sama sekali tak ambil pusing karena keduanya sudah kena stempel cap tangan milik Siska
"Oh ya apa kabar kalian berdua?"
tanya Arya basa-basi pada mereka
Bagaimana rasanya kalian berdua saat merasakan satu hantaman keras tangan istriku
yang cantik itu, heh
Arya benar-benar merasa memiliki body guard secara gratis, karena Siska akan menghajar siapapun yang menganggunya
Mereka yang asik mengobrol membuat Siska tak nyaman, karena bergabung dengan tim laki-laki ujung-ujungnya nanti malah akan terjadi keributan yang sangat panjang sekali
pasti itu akan membuat ketegangan otot dan otak terjadi.
Siska cuek saja dengan Aditya dan Dimas yang masih berusia dihadapan mereka.
karena memang salah mereka sendiri hingga membuat Siska memberikan satu pukulan Indah yang mendarat di pipinya
",Sebaiknya kita duduk disebelah sana saja ya, biarkanlah mereka bertiga disini, bukankah kita memiliki obrolan sendiri"
ucap Ana dengan sangat bersemangat sekali
"Ayo Siska, kita akan membahas pernikahan anak- anak kita"
Rima langsung menggandeng tangan Siska untuk pergi dari meja tempat mereka duduk itu
Ana pun juga ikut menarik tangan Siska, mereka sengaja memisahkan tempat duduk mereka, menjadi dua tim laki-laki dan perempuan, agar lebih enak ngobrolnya,
apa lagi Siska sedang kesal dengan Dimas dan Aditya. Takutnya nanti khilaf dan terjadilah kembali cap stempel tahap kedua, yang akan membahayakan Dimas dan Aditya
"Oh ya, kalian sebaiknya duduk terpisah saja dari kita bertiga, karena kalau para lelaki sudah berkumpul biasanya akan menceritakan sesuatu yang istimewa sekali untuk masa depan"
Aditya dan Dimas langsung menatap Arya dengan sinis
"Tertawa bahagia atas kemenangannya Dit,"
"Kau salah Dim, dia sedang menertawakan bagaimana kita yang kena hajar oleh Siska,itu yang membuat ia bahagia aku rasa"
Dimas mengangguk "Aku rasa kau benar, apa lagi Arya paling senang sekali kalau sudah melihat kita menderita hadeh, sungguh aku benar-benar tak habis pikir lagi dengannya"
....
Sementara itu obrolan ibu-ibu pada umumnya adalah tentang anak-anak mereka dan juga pencapaian masing-masing, tapi kali ini mereka semuanya sepakat untuk membicarakan pernikahan anak-anak mereka semua
"Baiklah mumpung kita semua sedang berkumpul, maka aku akan mengatakan pada Siska, jika aku ingin hubungan pertemanan kita ini semakin erat dengan menikahkan segera Bian dan Arika, mengingat dan menimbang tak ada lagi yang harus dipikirkan, mereka semuanya sudah memiliki fasilitas masing-masing lagi pula kalian semua juga bisa melihat kan, bagaimana kuatnya agama Bian, dan juga ia benar-benar sudah siap sekali untuk menjadi imam untuk keluarga kecil mereka"
__ADS_1
Siska tertawa"Jadi Ana akan melamar putriku Arika dan kau Rima akan melamar putriku yang bernama Alea, well aku sangat bangga sekali menjadi ibu dari dua orang putri yang sedang di tunggu-tunggu keputusannya, baiklah. karena kalian berdua ingin menikahkan anak-anak kita, kita harus mengambil keputusan bijak, yang pertama siapa yang akan menikah duluan?"
Mereka semua sedang berpikir, karena pada dasarnya mereka semua ingin pernikahan ini segera terlaksana saat ini juga.
"Jadi bagaimana? apa kita akan menikahkan Alea dulu atau Arika dulu?"
tanya Rima yang sudah tidak sabar lagi ingin segera menimang seorang cucu
"Tunggu dulu, kita harus berpikir matang-matang karena kalau soal finansial anak-anak kita tidak akan kekurangan satu sama lainnya, namun yang jadi masalah adalah siapa yang duluan untuk menikah karena soal cintaa aku yakin jika anak-anak kita saling tertarik satu sama lainnya, apa lagi Bian dan Arika, yang jadi Masalah saat ini aku ingin kau dan Ana sama -sama berpikir siapa yang akan menikah lebih dulu, aku tidak mau persahabatan kita ini renggang hanya karena tak menemukan keputusan yang tepat, sedangkan tujuan kita sama -sama baik untuk masa depan anak-anak kita masing-masing"
"Sepakat, berikan aku dan Ana berpikir sejenak"
Terdiam semuanya
Lima menit kemudian Rima langsung bersuara,
"Baiklah Ana, jika kau tak berbicara. aku saja yang akan mengambil keputusan, bagaimana kalau Alea dan Raja saja dulu" celetuk Rima dengan sangat bersemangat sekali
Tapi sepertinya Siska tak setuju
"Hmm, jadi begini Rima. sebelumnya mengenai Alea aku tak bisa mengambil keputusan sendiri, karena kau tau sendirilah bagaimana Kak Arya, ia benar-benar mau semuanya berjalan dengan sangat baik, jadi sebaiknya malam ini aku mengambil keputusan jika lebih baik Arika saja yang duluan menikah karena Bian juga sebentar lagi mau wisuda, kalau Raja dan Alea kan masih panjang jalannya ia sama-sama baru masuk kuliah, jadi sebaiknya mereka bertunangan saja lebih dulu untuk mengikat hubungan mereka satu sama lainnya"
Rima mengangguk setuju, walaupun ia sebenarnya sedikit kecewa, tapi apa yang dikatakan oleh Siska itu masih bisa diterima dengan akal sehatnya
"Ia memang benar juga, hmm tapi Raja juga sudah aman untuk memberikan nafkah untuk Alea, jangan khawatir pasti Alea tak akan kekurangan apapun dari putraku itu, akan baik-baik saja semuanya"
Ana langsung menjawab "ia aku tau Rima, warisan Papanya Raja banyak sekali kan, atau begini saja kita nikahkan saja mereka semuanya bersama-sama itu akan lebih seru lagj, nanti cucu kita bisa seumuran, wah ini bakal asik sekali"
Ana benar-benar bersemangat sekali
Siska langsung pusing, karena statusnya adalah mereka sedang memperebutkan kedua putrinya, yaitu Arika dan Alea
tapi ia juga tak bisa seenaknya untuk mengambil keputusan sendiri
"Nah, itu ide bagus Ana, aku rasa Siska tak ada alasan lagi untuk menolak permintaan kita ini,ya kan Siska, apa lagi yang kita tunggu,dari pada anak-anak kita nanti jatuh cinta dengan orang lain diluaran sana"
Siska menarik nafasnya dalam-dalam
"Untuk hal itu jangan khawatir, karena putrimu Arika sudah menyerahkan semua keputusan tentang jodohnya padaku, apa lagi ia sama sekali tak pernah menjalin cinta dengan laki-laki manapun, aku bisa menjamin bahwa Arika hatinya itu masih sangat steril sekali"
"Ehemmmm,.masih tak menemukan titik temu, ya sudah. aku rasa kita harus meminta pendapat kepada anak-anak kita semua, jangan sampai mereka menikah karena terpaksa, contohnya saja kita semua, korban dari perjodohan itu"
Ana dan Rima langsung tertawa
"Hei kita berbeda dengan anak-anak kita, Siska, kau tenang saja, aku melihat dengan mata kepalaku jika Raja dan Alea itu sama-sama memiliki rasa, dan aku yakin mereka akan bahagia, apa lagi yang harus dipikirkan, lagi pula untuk apa juga berlama-lama, sudah menjadi kewajiban kita sebagai orang tua kan?"
"Yes aku setuju, Bian dan Arika pun juga sama, mereka sama-sama saling tertarik dengan satu yang lainnya, jadi kita tinggal mengatur waktunya saja selesai, sekarang ini semuanya ada ditanganmu, dan aku yakin juga soal Alea, Arya pasti akan sangat mudah kau taklukkan
Siska terdiam, tapi apa yang dikatakan oleh Ana dan Rima itu memang benar adanya, apa lagi Arika memiliki sikap yang sangat dewasa sekali, ia juga tau jika Bian adalah laki-laki yang baik dan juga bertanggung jawab pastinya, terlihat dari kedua orang tuanya, Arika pasti akan merasakan hidup bahagia
"Hmm, baiklah, tapi tetap aku akan memutuskan semuanya saat Arika pulang dari Jogja, kalau soal Alea sebaiknya kau sendiri dan Dimas mengajaknya untuk mengobrol bersama,kalau aku takutnya nanti mendahului hak Arya, ia adalah ayah dari semua anakku sekarang, kalian tolonglah mengerti ya keputusanku ini, ini semuanya demi kebaikan bersama juga ,apa lagi kalian harus tau jika Papanya Arika baru saja pergi"
"Maksudnya mantan suamimu Arjuna?"
"Iya, Arjuna"
"Astaga, kau serius kan Siska, Arjuna kenapa? sampai bisa sakit keras begitu?"
"Please tolong bantu aku untuk tidak mengingatnya kembali, jika kalian ingin bertanya lebih banyak pada Arika saja, karena ia adalah anak kandungnya, sedangkan aku tak memiliki hak apapun lagi atasnya"
"Maafkan kami Siska, kami tidak tau keadaan Arjuna, kami turut berdukacita ya,"
"Seharusnya kalian mengucapkan pada Arika, karena itu adalah papanya, aku bukan siapa-siapanya lagi, dan aku juga tak mau lagi mengingat ia terlalu dalam untuk menghargai perasaan Arya terutama"
Mereka pun langsung mengangguk mengerti
"Baiklah aku yakin mereka semua akan setuju,
Rima aku harap kau harus bersabar untuk menikahkan Alea, karena aku tak yakin Arya akan semudah itu memberikan restu pada Alea kau tau Arya menjaga putrinya bagaikan berlian ia bahkan tak membiarkan Alea memiliki teman laki-laki, tapi aku yakin jika dengan Raja ia akan setuju, karena tau ayah ibunya siapa ya kan "
"Ya aku sepemikiran denganmu aku sangat yakin, Arya pasti setuju dengan putraku, kau tau sendiri Raja memiliki pesona yang luar biasa, Alea akan terjamin hidupnya, bukan itu saja ia juga berasal dari keluarga yang tak sembarangan juga apa lagi.Raja wajahnya sangat tampan sekali tak kalah dengan Bian juga " puji Rima sebagai ibunya Raja
Tentu saja Rima, semua ibu didunia ini akan mengatakan jika putranya sangatlah tampan sekali, tak ada satupun ibu didunia ini yang mengatakan kejelekan anaknya, meski aku tau jika Raja memiliki sifat tau jauh seperti Arya Muda, aku makanya tak berani mengambil keputusan terlalu berani soal Alea, takutnya salah nanti
"Hmm aaaminnn semoga saja, aku berharap kita akan sama-sama menjadi kakek dan nenek yang bahagia dengan kelahiran cucu yang bisa berbarengan,aku sangat tak sabar ada anak kecil yang memanggilku Oma...Oma.., lucu sekali ya kan"
Rima terlihat benar-benar sudah berkhayal terlalu tinggi sekali
"Aku juga sudah tak sabar, Rima. apa lagi Karin lahir kedunia ini sudah lama sekali aku sangat merindukan tangisan bayi kecil di rumah kami, aku ingin Arika melahirkan setiap tahun Kalau bisa" tertawa
"Kau kira Arika itu ibu kucing, hadeh Ana ada-ada saja"
"Biar rame kan seru, jadi rumah besar itu bisa langsung ditempatkan oleh mereka dan juga semua cucuku yang banyak itu "
Mereka semua sibuk berkhayal satu sama lainnya tapi tak menyadari jika apa yang mereka pikirkan itu bertolak belakang dengan apa yang ada di otak anak-anak mereka, Bian dan Arika yang saling bermusuhan tapi direstui dua belah pihak, sedangkan Raja dan Alea yang saling mencintai tapi, ia akan mengalami banyak rintangan untuk bisa meminang Alea dengan segala kelebihannya, karena Raja dan belum pernah bertemu dengan Arya dan juga ia belum tau jika suami Tantenya adalah laki -laki yang pernah berurusan dengan nya.
Saat mereka asik bercerita dan membahas masalah anak-anak mereka,tak terasa waktu cepat sekali berlalu
__ADS_1
"Lihatlah sudah jam sembilan tak terasa saja ya kalau kita sudah mengobrol lama begini, tak terasa waktu cepat sekali berlalu, lihatkan "
"Untunglah anak-anak sudah besar semua,coba saja kalau mereka masih kecil dijamin tak akan bisa pergi kemana-mana"
"Aku ingat sekali waktu Ana mengambil keputusan untuk menikah, apa lagi saat Bian lahir ya ampun ia langsung meninggalkan semua kesibukan agar bisa turun tangan langsung untuk mengurus Bian"
"Ya, tentu saja.setiap ibu pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya.bahkan dalam segala hal, termasuk soal jodoh, aku ingin cucu ku lahir dari rahim perempuan yang sangat istimewa, seperti Arika, yah semoga saja semuanya akan berjalan dengan lancar, Karena aku beberapa kali mendengar Bian menelpon Arika, mungkin itu lah pertanda jika mereka harus segera di halalkan".
Wajah Ana langsung merah
"Ehem... maunya Ana emang punya menantu buru-buru, Ana pikirkan aku juga. aku juga ingin menimang cucu, apa lagi anakku cuma Raja aja"
Siska tertawa "Aku yakin anak Raja nanti bakal sangat beruntung memiliki kakek nenek seperti kak Dimas dan Rima, pasti dia akan jadi anak yang sangat manja sekali "
"Hahah tidak aku tak mau, aku akan meminta Alea dan Raja untuk melahirkan anak yang banyak, Karena papanya anak tunggal kan. harus memiliki saudara yang banyak, biar enak kalau ngumpul jadi keluarga besar"
"sabar ya calon besan, kita pakai proses dulu. atau kau dan kak Dimas besok langsung saja, melamar Alea itu orannya udah disana, pergi sana minta anak gadisnya langsung"
"Setelah ini, kau dan kak Arya akan menjadi selebritis dikejar-kejar oleh kita semua,ya kan Na"
"Jelas itu, aku juga tak sabar lagi. Ya Tuhan Arika masih beberapa hari lagi baru pulang ya Siska"
"Iya, memang aku yang menyuruhnya untuk tinggal di sana, ya kalian harus tau jika anakku bukan hanya Arika saja, tapi aku juga punya anak lain"
"Jadi maksudnya apa Siska?"
"Yang jelas kalian harus tau jika Arika itu punya saudara laki-laki, itu saja".
Siska tak mau melanjutkan hal yang lebih panjang lagi, karena ada privasi yang tak semuanya harus diceritakan pada sahabat sendiri, yang terpenting clue nya mereka tau Arika bukan anak tunggal"
"Ya sudah, yang kita tau nanti Arika akan mengurus anaknya.seperti Ana mengurus Bian ya, kan Ana?" ucap Rima
"Iya itu yang harus ditekankan, karena aku tak mau melewatkan kesempatan emas untuk mendampingi Bian dalam setiap perkembangannya, seorang ibu yang ingin selalu melakukan hal terbaik untuk anak-anaknya, namun bukan berarti ibu-ibu yang di luaran sana yang tak bisa turun langsung bekerja mengurusi anak itu ibu yang tak baik, kita kan tak tau kebutuhan hidup manusia, jadi bersyukurlah dengan apa yang sudah digariskan Tuhan dalam kehidupan kita, menjadi seorang ibu adalah anugerah yang istimewa dan sangat luar biasa"
Mereka semua kalau berkumpul memang begitu, selalu membicarakan hal-hal yang berkualitas dan tak ada satupun hal yang tidak penting yang mereka bahas.
karena circle pertemanan itu juga menunjukkan kualitas siap diri kita.
bergaul dengan orang-orang yang positif. maka secara tidak langsung akan mempengaruhi pola pikir kita tentang hidup, begitu juga sebaliknya, bergaul dengan orang-orang yang berada dilingkungan negatif.akan membawa kita kembali pada hal yang negatif.
siapa kita? berpengaruh pada kumpulan orang-orang disekitar kita, baik buruk kita memang tergantung pada diri kita.
namun sebaiknya kita harus ingat pepatah yang mengatakan, bergaul dengan penjual parfum, maka kita akan kecipratan wanginya, sedangkan bergaul dengan pandai besi kita akan kecipratan apinya.
Tapi perlu ditekankan bergaullah, dengan siapapun.tanpa memandang status sosial mereka. karena pada dasarnya manusia diciptakan sama Dimata Tuhan, namun memilih itu wajib, karena hidup di dunia ini adalah pilihan.
Rima, Ana dan Siska adalah contoh pergaulan yang positif,Ana dan Rima bukanlah orang kaya. tapi nasib yang membawa mereka pada titik perjuangan hidup,salah satunya menjadi anak yang berbakti pada orang tua.
Apapun keputusan orang tua demi kebaikan mereka, mereka turuti. walaupun Siska harus kehilangan cintanya.tapi banyak pengalaman hidup yang ia rasakan, salah satunya mengubah Siska yang keras, menjadi pribadi yang sangat lembut tutur katanya, dan juga menjadikan ia perempuan paling sabar, dan akhirnya selain Arika ia juga di berikan kembali hadiah cinta sejatinya dalam bentuk yang sudah menjadi manusia lebih baik lagi,
bersabarlah dalam setiap ujian, meski sakit. tapi kita harus tau berbakti pada orang tua selagi tidak melanggar hukum,agama dan hal negatif. ikutilah. bagaimana dahsyatnya doa orang tua mengetuk pintu langit, anak-anak yang berbakti tak akan pernah sia-sia hidupnya.
boleh dilihat contohnya disekitar kita.
"Oh ya, ngomong-ngomong apa yang dibicarakan mereka bertiga ya?"
Menunjuk kearah Aditya cs yang sedang tertawa cekikikan dari tadi
"Iya aku heran sekali,dari tadi mereka tertawa serius,apa tak ada obrolan yang serius ya kalau kaum bapak-bapak itu sedang kumpul, membicarakan apa itu yang bisa membuat hati bahagia kan"
"Rima, dengar dulu, mereka itu mau membicarakan apa lagi, uang? aku rasa itu bukan hal yang penting lagi bagi mereka,apa lagi kak Aditya tinggal tunjuk apapun saja, kak Dimas ia juga tak perlu bekerja keras, dompetnya tebal, kak Arya, sebentar lagi akan lebih kaya karena akan menerima dua menantu nah itu lebih kaya lagi kan"
Ana tersenyum-senyum saja, mendengar ucapan Siska
"Kalian itu tak usah heran, kalau para lelaki kita sedang kumpul begitu, coba tebak dari wajah mereka saja kita juga sudah tau kemana obrolan mereka itu, apa lagi ada yang baru saja menikah kan, ehemmmm....."
melirik Siska
"Pasri ujung-ujungnya aku yang kena lagu, hadeh... tapi aku setuju dengan Ana,
biasalah laki-laki, aku sudah tau kemana arah, pembicaraan mereka"
Saling berpandangan satu sama lainnya
"ya aku tau, pasti sekitaran selang*angan kan.."
Tertawa keras
"Laki-laki kan memang begitu, aku yakin topik pembicaraan ini lebih kepada Arya dan Siska, ya Tuhan mereka"
Ana menutup wajahnya
"Iya kau benar, lihat saja wajah mereka, benar-benar ceria sekali"
"Hadeh ...".
Untunglah aku dan kak Arya tadi sudah menyiapkan semuanya, jikalau mereka akan membahas kita, maka kita akan membuat mereka semua bergidik ngeri tidak jadi mendengarnya, aku sangat tau otaknya kak Aditya dan Dimas, jika mereka belum puas mengerjai kak Arya .maka harus sampai Arya menyerah baru dilepaskan.
__ADS_1
"Apa mau gabung sama mereka kita?"
"Hii, tak usah. mereka lagi nostalgia itu, biarkanlah mereka bercerita sepanjang perjalanan cinta mereka, nanti juga berhenti sendiri"